17. SURAT AL-ISRA

Imam Bukhari dan Imam Muslim mengetengahkan hadis ini di dalam kitab sahihnya masing-masing melalui hadis Qatadah dengan sanad yang semisal.

Riwayat Anas, dari Abu Zar, disebutkan oieh Imam Bukhari; telah menceritakan kepada kami Yahya ibnu Bukair, telah menceritakan kepada kami Al-Lais, dari Yunus dari Ibnu Syihab, dari Anas ibnu Malik, yang mengatakan bahwa Abu Zar pernah menceritakan hadis berikut, bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda: Ketika saya berada di Mekah, atap rumahku dibuka, lalu turun­lah Malaikat Jibril, maka ia membedah dadaku dan mencucinya dengan air zamzam. Kemudian ia mendatangkan sebuah piala emas yang penuh berisi hikmah dan iman; ia menuangkannya ke dalam dadaku, lalu menutupnya kembali. Sesudah itu ia me­nuntun tanganku dan membawaku naik ke langit yang terdekat. Setelah sampai di langit. Jibril berkata kepada penjaga langit, “Bukalah!” Penjaga langit berkata, “Siapakah ini?” Jibril menjawab, “Saya Jibril.” Penjaga langit bertanya, “Apakah kamu bersama seseorang?” Jibril menjawab, “Ya, saya bersa­ma dengan Muhammad Saw.” Penjaga langit bertanya, “Apa­kah dia telah diperintahkan untuk menghadap kepada-Nya?” Jibril menjawab, “Ya.” Setelah pintu langit pertama dibuka, lalu kami berada di atasnya, tiba-tiba saya bersua dengan se­orang lelaki yang sedang duduk; sedangkan di sebelah kanan­nya terdapat banyak manusia, dan di sebelah kirinya terdapat banyak manusia. Apabila ia memandang ke sebelah kanannya, maka ia tertawa; dan apabila memandang ke sebelah kirinya, menangislah ia. Lalu lelaki itu berkata, “Selamat datang Nabi yang saleh, anak yang saleh.” Saya bertanya kepada Jibril, “Siapakah orang ini?” Jibril menjawab, “Orang ini adalah Adam, dan manusia yang berada di sebelah kanan dan kirinya adalah semua anak-anaknya. Orang-orang yang berada di se­belah kanannya adalah ahli surga sedangkan orang-orang yang berada di sebelah kirinya adalah ahli neraka. Apabila ia memandang ke sebelah kanannya, maka ia tertawa; dan apabi­la memandang ke arah sebelah kirinya maka ia menangis.” Kemudian Jibril membawaku naik ke langit yang kedua, lalu Jibril berkata kepada penjaganya, “Bukalah!” Penjaga langit kedua mengajukan pertanyaan seperti yang telah diajukan oleh penjaga langit yang pertama, sesudah itu pintu langit ke­dua dibuka.

Sahabat Anas menyebutkan dalam hadisnya bahwa Nabi Saw. ketika berada di langit bersua dengan Nabi Adam, Nabi Idris, Nabi Musa, Nabi Isa, dan Nabi Ibrahim, tanpa disebutkan tempat-tempat kedudukan mere­ka. Hanya saja Anas menyebutkan bahwa Nabi Saw. bersua dengan Nabi Adam di langit yang terdekat, dan dengan Nabi Ibrahim di langit yang keenam. Sahabat Anas melanjutkan kisahnya bahwa ketika Jibril dan Nabi Saw. bersua dengan Nabi Idris,, maka Idris berkata, “Selamat datang Nabi yang saleh, saudara yang saleh.” Maka saya (Nabi Saw.) bertanya, “Siapakah orang ini?” Jibril menjawab, “Orang ini adalah Idris.” Kemudian Nabi Saw. bersua dengan Musa, dan Musa berkata, “Sela­mat datang Nabi yang saleh, saudara yang saleh.” Saya bertanya, “Siapa­kah orang ini?” Jibril menjawab, “Dia adalah Musa.” Kemudian saya bersua dengan Isa. Maka Isa berkata, “Selamat datang Nabi yang saleh, saudara yang saleh.” Aku bertanya, “Siapakah orang ini?” Jibril menjawab, “Orang ini adalah Isa.” Kemudian saya bersua dengan Nabi Ibrahim. Ibrahim a.s. berkata, “Selamat datang Nabi yang saleh, anak yang saleh.” Saya bertanya, “Siapakah orang ini?” Jibril menjawab, “Orang ini adalah Ibrahim.”

Az-Zuhri mengatakan, telah menceritakan kepadaku Ibnu Hazm, bahwa Ibnu Abbas dan Abu Habbah Al-Ansari pernah mengatakan bah­wa Nabi Saw. pernah bersabda: Kemudian Jibril membawaku naik hingga sampai di suatu ting­katan yang dari tempat itu saya dapat mendengar suara gores­an qalam.

Ibnu Hazm dan Anas ibnu Malik mengatakan bahwa Rasulullah Saw. bersabda: Maka Allah memfardukan atas umatku lima puluh kali salat, lalu saya kembali dengan membawa perintah itu hingga bersua dengan Musa a.s. Maka ia bertanya, “Apakah yang telah difar-dukan oleh Allah atas umatmu?” Saya menjawab, “Lima puluh kali salat.” Musa berkata, “Kembalilah kepada Tuhanmu, kare­na sesungguhnya umatmu tidak akan mampu mengerjakannya.” Saya kembali menghadap, dan Allah menghapuskan separonya. Setelah itu saya kembali kepada Musa lalu berkata (kepadanya), “Allah telah menghapuskan separonya.” Musa berkata, “Kem­balilah kepada Tuhanmu karena sesungguhnya umatmu tidak akan kuat mengerjakannya.” Saya kembali menghadap, dan Allah menghapuskan sebagiannya lagi. Lalu saya kembali kepa­da Musa, dan ia berkata, “Kembalilah kepada Tuhanmu, kare­na sesungguhnya umatmu tidak akan kuat mengerjakannya.” Maka saya kembali menghadap dan Allah berfirman, “Fardu salat itu adalah lima kali, ia sama pahalanya dengan lima puluh kali salat. Perintah ini tidak dapat diganti lagi di sisi-Ku.” Saya kembali kepada Musa, dan ia berkata, “Kembalilah kepada Tuhanmu.” Saya menjawab, “Sesungguhnya saya malu kepada Tuhanku.” Kemudian Jibril membawaku hingga sampai di Sid­ratul Muntaha, lalu Sidratul Muntaha ditutupi (diselimuti) oleh berbagai macam warna yang saya tidak ketahui apakah warna-warna itu. Kemudian saya dimasukkan ke daiam surga, dan ternyata di dalamnya terdapat tali-temali dari mutiara, dan ter­nyata tanah surga itu adalah kesturi.

Demikianlah menurut lafaz Imam Bukhari di dalam Kitabus Salat-nya. Ia meriwayatkannya pula dalam kisah Bani Israil serta kisah haji dan ki­sah-kisah para nabi melalui berbagai jalur lain dari Yunus dengan sanad yang sama.

Imam Muslim meriwayatkannya di dalam kitab sahihnya dalam Kitcibul Iman melalui Harmalah, dari Ibnu Wahb, dari Yunus dengan sanad yang sama dan lafaz yang semisal.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Affan, telah menceritakan kepada kami Hammam, dari Qatadah, dari Abdullah ibnu Syaqiq yang mengatakan bahwa ia pernah berkata kepada Abu Zar, “Seandainya saya melihat Rasulullah Saw., tentu saya akan bertanya kepadanya.” Abu Zar bertanya, “Apakah yang akan kamu tanyakan kepadanya?” Saya berkata, “Saya hendak bertanya kepadanya, apakah dia pernah melihat Tuhannya?” Abu Zar menjawab bahwa ia pernah bertanya kepada Nabi Saw. pertanyaan tersebut. Maka beliau Saw. men­jawab melalui sabdanya: Sesungguhnya aku telah melihat-Nya (tertutupi oleh) nur, mana mungkin saya dapat melihat-Nya.

Demikianlah bunyi hadis menurut apa yang ada di dalam riwayat Imam Ahmad.

Imam Muslim di dalam kitab sahihnya telah mengetengahkannya melalui Abu Bakar ibnu Abu Syaibah, dari Waki’, dari Yazid ibnu Ibrahim, dari Qatadah, dari Abdullah ibnu Syaqiq, dari Abu Zar telah mengatakan: Saya pernah bertanya kepada Rasulullah Saw., “Apakah eng­kau telah melihat Tuhanmu?” Rasulullah Saw. menjawab, “Dia (tertutupi oleh) nur, mana mungkin saya dapat melihat-Nya.”

Imam Muslim telah mengetengahkannya pula melalui Muhammad ibnu Basysyar, dari Mu’az ibnu Hisyam; telah menceritakan kepada kami ayahku, dari Qatadah, dari Abdullah ibnu Syaqiq yang mengatakan bahwa* ia pernah berkata kepada Abu Zar, “Seandainya saya sempat melihat Rasulullah Saw., tentulah saya akan bertanya kepadanya.” Abu Zar ber­kata, “Apakah yang kamu tanyakan kepadanya?” Ibnu Syaqiq berkata, “Saya akan bertanya kepadanya, ‘Apakah engkau telah melihat Tuhan­mu?’.” Abu Zar menjawab.”Bahwa ia pernah menanyakan hal itu kepa­da Nabi Saw., dan Nabi Saw. menjawabnya: Aku hanya melihat nur (cahaya).

Tulisan ini dimuat dalam Tafsir Ibnu Katsir.