Sebuah Pasal:
Setelah kita meneliti semua hadis-hadis ini, yang sahih, yang hasan, dan yang daif-nya, maka dapat disimpulkan bahwa peristiwa Isra yang dijalani oleh Rasulullah Saw. dari Mekah sampai ke Baitul Maqdis adalah hal yang telah disepakati kebenarannya; dan bahwa perjalanan Isra ini dilakukannya sekali, sekalipun ungkapan hadis yang dikemukakan oleh para perawinya berbeda-beda, sebagian di antaranya ada yang lebih panjang, dan sebagian yang lainnya ada yang singkat. Karena sesungguhnya kekeliruan itu boleh saja terjadi pada diri selain para nabi.
Pendapat orang yang mengatakan bahwa semua riwayat, sebagian darinya berbeda dengan sebagian yang lain, adakalanya perbedaannya sangat mencolok. Lalu ia menyimpulkan adanya berkali-kali perjalanan Isra, maka sesungguhnya pendapat ini keliru dan jauh dari kebenaran. Sebagian di antara ulama mutaakhkhirin mengatakan bahwa Nabi Saw. menjalani Isra dari Mekah ke Baitul Maqdis sekali, lalu dari Mekah ke langit sekali, dan sekali lagi ke Baitul Maqdis lalu ke langit.
Yang mengherankan orang yang berpendapat seperti ini merasa puas dengan kesimpulan yang didapatkannya. Dia merasa bahwa dirinya telah menyelesaikan semua kesulitan sehubungan dengan masalah Isra ini. Padahal kenyataannya pendapatnya ini tiada seorang pun yang menukilnya dari ulama Salaf selain dia sendiri. Seandainya perjalanan Isra yang dilakukan oleh Nabi Saw. berbilang, tentulah Nabi Saw. menceritakannya kepada umatnya, dan tentulah orang-orang menukilnya dan menyatakan bahwa perjalanan Isra Nabi Saw. dilakukan berkali-kali.
Musa ibnu Uqbah telah meriwayatkan dari Az-Zuhri bahwa perjalanan Isra dilakukan setahun sebelum hijrah. Hal yang sama telah dikatakan oleh Urwah. Lain pula dengan As-Saddi, ia mengatakan bahwa perjalanan Isra dilakukan enam belas bulan sebelum hijrah.
Pendapat yang benar mengatakan bahwa Rasulullah Saw. menjalani Isra-nya dalam keadaan terjaga, buka dalam keadaan tidur (mimpi), yaitu dari Mekah ke Baitul Maqdis dengan mengendarai Buraq. Disebutkan bahwa setelah Nabi Saw. di depan pintu Masjidil Aqsa, ia menambatkan hewan kendaraannya di dekat pintu masjid, lalu memasukinya dan mengerjakan salat menghadap ke arah kiblat sebanyak dua rakaat, yaitu salat tahiyyatul masjid (penghormatan pada masjid).
Kemudian didatangkan Mi’raj, sebuah alat seperti tangga bentuknya, memiliki undagan-undagan untuk naik ke atas. Lalu Nabi Saw. menaikinya menuju ke langit yang terdekat, kemudian ke langit-langit selanjutnya sampai ke langit yang ketujuh.
Di setiap lapisan langit Nabi Saw. disambut oleh penghuni langit yang selanjutnya. Nabi Saw. mengucapkan salam kepada nabi-nabi yang ada di setiap langit sesuai dengan kedudukan dan tingkatan mereka. Sehingga bersualah Nabi Saw. dengan Musa yang pernah diajak bicara langsung oleh Allah di langit yang keenam, dan beliau bersua dengan Nabi Ibrahim di langit yang ketujuh.
Kemudian Nabi Saw. melampaui kedudukan kedua nabi itu dan nabi nabi lain yang sebelumnya, hingga sampailah Nabi Saw. pada suatu tingkatan yang dari tempat itu beliau dapat mendengar geretan kalam, yakni kalam yang mencatat takdir terhadap segala sesuatu yang telah ada.
Nabi Saw. melihat Sidratul Muntaha, lalu Sidratul Muntaha diliputi oleh perintah Allah Swt,, yaitu oleh sejumlah yang sangat besar dari kupu-kupu emas dan berbagai macam warna-warni, para malaikat meliputinya pula. Di tempat itulah Nabi Saw. melihat bentuk dan rupa asli Malaikat Jibril yang memiliki enam ratus sayap. Dan Nabi Saw. melihat rafraf (bantal-bantal) hijau yang menutupi semua cakrawala pandangan.
Nabi Saw. melihat Baitul Ma’mur dan Nabi Ibrahim Al-Khalil pembangun Ka’bah bumi sedang menyandarkan punggungnya ke Baitul Ma’mur, karena Baitul Ma’mur adalah Ka’bah penghuni langit. Setiap hari Baitul Ma’mur dimasuki oleh tujuh puluh ribu malaikat yang melakukan ibadah di dalamnya, kemudian mereka tidak kembali lagi kepadanya sampai hari kiamat.
Nabi Saw. melihat surga dan neraka serta difardukan kepada Nabi Saw, salat lima puluh kali di tempat itu, kemudian diberikan keringanan oleh Allah Swt. sampai menjadi lima kali salat (salat lima waktu) sebagai rahmat dari Allah dan kasih sayang Allah kepada hamba-hamba-Nya. Dalam hal ini terkandung perhatian yang besar terhadap kemuliaan dan kebesaran salat.
Lalu Nabi Saw. turun ke Baitul Maqdis dengan ditemani oleh semua nabi, kemudian Nabi Saw. salat bersama mereka di dalam Baitul Maqdis setelah waktu salat tiba. Barangkali salat yang dimaksud salat Subuh hari itu.
Di antara ulama ada yang menduga bahwa Nabi Saw. mengimami salat mereka di langit. Tetapi berdasarkan riwayat yang banyak menyebutkan, hal itu terjadi di Baitul Maqdis. Hanya dalam sebagian riwayat tersebut ada yang menyebutkan bahwa salat itu dilakukan ketika pertama kali Nabi Saw. memasukinya.
Menurut lahiriah makna hadis menunjukkan bahwa hal itu terjadi setelah Nabi Saw. pulang menuju ke Baitul Maqdis. Dikatakan demikian karena ketika Nabi Saw. melewati mereka di tempatnya masing-masing, Nabi Saw. bertanya kepada Jibril a.s. tentang masing-masing orang dari mereka, lalu Malaikat Jibril memberitahukan kepada Nabi Saw.
Kesimpuan inilah yang layak dipegang, karena pada awalnya Nabi Saw. diperintahkan untuk menghadap kepada Allah Swt. yang Mahatinggi untuk difardukan atasnya dan atas umatnya perintah yang dikehendaki-Nya.
Setelah selesai menerima perintah yang dimaksudkan oleh Allah, maka barulah Nabi Saw. berkumpul bersama saudara-saudaranya dari kalangan para nabi. Kemudian ditampakkan keutamaan dan kemuliaan Nabi Saw. atas mereka karena Nabi Saw. diajukan untuk menjadi imam salat mereka, Jibrillah yang mengisyaratkan hal tersebut kepada Nabi Saw.
Setelah itu Nabi Saw. keluar dari Baitul Maqdis, lalu mengendarai Buraqnya dan kembali ke Mekah sebelum pagi hari.
Adapun mengenai penyuguhan beberapa jenis minuman kepadanya, yaitu minuman susu dan minuman madu atau minuman khamr, atau minuman susu dan air atau semuanya; menurut sebagian riwayat, hal itu terjadi di Baitul Maqdis, sedangkan menurut riwayat yang lain terjadi di langit. Barangkali hal ini terjadi di Baitul Maqdis dan juga di langit, mengingat suguhan ini termasuk ke dalam Bab “Menyediakan Sajian buat Tamu yang Baru Datang”.
Kemudian para ulama berbeda pendapat apakah Isra yang dilakukan oleh Nabi Saw. ini dilakukan oleh tubuh dan rohnya, ataukah hanya dengan rohnya saja? Ada dua pendapat mengenai masalah ini. Tetapi menurut kebanyakan ulama, Nabi Saw. menjalani Isra-nya dengan tubuh dan rohnya lagi dalam keadaan terjaga, bukan sedang dalam keadaan tidur (mimpi).
Tetapi mereka tidak menyangkal bila Rasulullah Saw. telah melihat hal tersebut dalam mimpinya, kemudian sesudah itu beliau Saw. melihatnya langsung dalam keadaan jaga. Karena sesungguhnya tidak sekali-kali Nabi Saw. melihat suatu mimpi melainkan mimpi itu datang seperti cahaya pagi hari.
Bukti yang menunjukkan bahwa Nabi Saw. menjalani Isra-nya dengan badan dan rohnya adalah firman Allah Swt. yang menyebutkan: Mahasuci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa yang telah kami berkahi sekelilingnya. (Al-Isra: 1)