Konteks hadis ini penuh dengan hal-hal yang garib (aneh) dan ajaib.
Menurut riwayat Anas ibnu Malik, dari Malik ibnu Sa’sa’ah, disebutkan oleh Imam Ahmad, telah menceritakan kepada kami Affan, telah menceritakan kepada kami Hammam; ia pernah mendengar Qatadah menceritakan dari Anas ibnu Malik, bahwa Malik ibnu Sa’sa’ah pernah menceritakan hadis berikut. Nabi Saw. menceritakan kepada mereka kejadian malam Isra’yang dialaminya seperti berikut: Ketika saya berada di Hatim (Ka’bah) —dan adakalanya Qatadah (perawi hadis) mengatakan di Hijir Ismail— sedang merebahkan diri, tiba-tiba datanglah seseorang kepadaku bersama dua orang temannya. Lalu ia mengatakan sesuatu kepada temannya yang berada di tengah-tengah ketiga orang itu. Lalu orang itu membelah —saya mendengar Qatadah mengatakan membedah— antara bagian ini sampai dengan bagian ini. Qatadah mengatakan bahwa ia berkata kepada Al-Jarud yang duduk di«ampingnya seraya menerangkan apa yang dimaksud; yang dimaksud ialah dari bagian bawah lehernya sampai dengan bagian tumbuhnya rambut (kemaluannya. Al-Jarud mengatakan, “Saya mendengarnya mengatakan bagian tumbuhnya rambut kemaluannya (yakni bagian bawah perutnya)” dalam kisah yang diriwayatkannya. Kemudian lelaki itu mengeluarkan hatiku, dan disuguhkan kepadaku sebuah piala emas yang dipenuhi dengan iman dan hikmah. Lalu ia mencuci hatiku dan memenuhinya dengan (iman dan hikmah), kemudian dikembalikan ke tempat semula. Kemudian didatangkan kepadaku seekor hewan yang lebih besar dari keledai, tetapi lebih kecil dari begal, warna bulunya putih. Al-Jarud bertanya (kepada Qatadah), “Apakah hewan itu Buraq, hai Abu Hamzah?” Qatadah menjawab, “Ya, Buraq meletakkan kaki depannya sejauh matanya memandang.” Nabi Saw. melanjutkan kisahnya: Lalu aku dinaikkan ke atas hewan itu, dan Jibril a.s. membawaku pergi hingga sampailah Jibril bersamaku ke langit yang paling dekat. Lalu ia mengetuk pintunya, maka dikatakan, “Siapakah kamu?” Jibril menjawab, “Saya Jibril.” Dikatakan lagi, “Siapakah orang yang bersamamu?” Jibril menjawab, “Muhammad.” Dikatakan lagi, “Apakah dia telah diperintahkan untuk menghadap kepada-Nya?” Jibril menjawab, “Ya.” Maka dikatakanlah, “Selamat datang untuknya, sesungguhnya orang yang paling baik kini telah datang.” Lalu dibukakanlah pintu langit pertama bagi kami. Dan ketika aku telah memasukinya, tiba-tiba aku bersua dengan Adam a.s. Jibril berkata, “Ini adalah ayahmu, Adam. Ucapkanlah salam kepadanya.” Lalu saya mengucapkan salam kepadanya. Dia menjawab salamku, kemudian berkata, “Selamat datang anak yang saleh, Nabi yang saleh.” Malaikat Jibril membawaku naik ke langit yang kedua. Ketika sampai di langit yang kedua, Jibril meminta izin untuk masuk, maka dikatakan, “Siapakah kamu?” Jibril menjawab, “Saya Jibril.” Dikatakan, “Siapakah orang yang bersamamu?” Jibril menjawab, “Muhammad.” Dikatakan, “Apakah dia telah diperintahkan untuk menghadap kepada-Nya?” Jibril menjawab, “Ya.” Maka dikatakan, “Selamat datang untuknya, sesungguhnya orang yang paling baik kini telah datang.” Maka dibukakanlah pintu langit yang kedua bagi kami. Ketika saya telah memasukinya, tiba-tiba saya bersua dengan Isa dan Yahya, keduanya adalah anak bibi. Jibril berkata, “Dua orang ini adalah Yahya dan Isa, ucapkanlah salam kepada keduanya.” Saya mengucapkan salam, dan keduanya menjawab salamku seraya berkata, “Selamat datang saudara yang saleh, Nabi yang saleh.” Jibril membawaku naik hingga sampai di langit yang ketiga, lalu Jibril meminta izin untuk masuk. Maka dikatakan, “Siapakah orang ini?” Jibril menjawab.”Saya Jibril.” Dikatakan, “Siapakah orang yang bersamamu?” Jibril menjawab, “Muhammad.” Dikatakan, “Apakah dia telah diperintahkan untuk menghadap kepada-Nya?” Jibril menjawab, “Ya.” Maka dikatakan, “Selamat datang untuknya, orang yang paling baik kini telah datang.” Maka dibukakanlah pintu langit yang ketiga bagi kami. Ketika telah berada di dalamnya, tiba-tiba aku bersua dengan Yusuf a.s. Jibril berkata, “Inilah Yusuf.” Saya mengucapkan salam kepadanya, dan ia menjawab salamku seraya berkata, “Selamat datang saudara yang saleh, Nabi yang saleh.” Kemudian Jibril membawaku naik hingga sampai ke langit yang keempat, lalu Jibril meminta izin untuk masuk. Maka dikatakan, “Siapakah ini?” Jibril menjawab, “Saya Jibril.” Dikatakan, “Siapakah orang yang bersamamu?” Jibril menjawab.”Muhammad.” Dikatakan, “Apakah dia telah diperintahkan untuk menghadap kepada-Nya?” Jibril menjawab, “Ya.” Maka dikatakan, “Selamat datang untuknya, sesungguhnya orang yang paling baik kini telah datang.” Maka dibukakanlah pintu langit yang keempat bagi kami. Dan ketika aku telah memasukinya, tiba-tiba aku bersua dengan Idris a.s. Jibril berkata, “Inilah Idris, ucapkanlah salam kepadanya.” Maka saya mengucapkan salam kepadanya, dan dia menjawab salamku seraya berkata, “Selamat datang saudara yang saleh, Nabi yang saleh.” Malaikat Jibril membawaku naik hingga sampai ke langityangkelima, lalu ia meminta izin untuk masuk. Maka dikatakan, “Siapakah orang ini?” Jibril menjawab, “Saya Jibril.” Dikatakan, “Siapakah orang yang bersamamu?” Jibril menjawab, “Muhammad.” Dikatakan, “Apakah dia telah diperintah untuk menghadap kepada-Nya?” Jibril menjawab, “Ya.” Maka dikatakan, “Selamat datang untuknya, sesungguhnya orang yang paling baik kini telah datang.” Maka dibukakanlah pintu langit yang kelima bagi kami. Setelah memasukinya, tiba-tiba aku bersua dengan Harun a.s. Jibril berkata, “Inilah Harun, ucapkanlah salam kepadanya.” Maka aku mengucapkan salam kepadanya, dan dia menjawab salamku seraya berkata, “Selamat datang saudara yang saleh, Nabi yang saleh.” Malaikat Jibril membawaku naik ke langit yang keenam, lalu ia meminta izin untuk masuk. Maka dikatakanlah, “Siapakah ini?” Jibril menjawab, “Saya Jibril.” Dikatakan, “Siapakah orang yang bersamamu?” Jibril menjawab, “Muhammad.” Dikatakan, “Apakah dia telah diperintahkan untuk menghadap kepada-Nya?” Jibril menjawab, “Ya.” Dikatakan, “Selamat datang untuknya, sesungguhnya orang yang paling baik kini telah datang.” Maka dibukakanlah pintu langit yang keenam bagi kami. Dan ketika aku telah memasukinya, tiba-tiba aku bersua dengan Musa a.s. Jibril berkata, “Inilah Musa a.s., ucapkanlah salam kepadanya.” Maka saya mengucapkan salam kepadanya. Dia menjawab salamku seraya berkata, “Selamat datang saudara yang saleh, Nabi yang saleh.” Ketika saya melewatinya, ia menangis, dan ketika dikatakan kepadanya, “Apakah yang menyebabkan kamu menangis?” Ia (Musa a.s.) menjawab, “Saya menangis karena seorang pemuda yang diutus sesudahku dapat memasuki surga dengan membawa umatnya yang jumlahnya jauh lebih banyak daripada umatku yang memasukinya.” Kemudian Jibril membawaku naik ke atas hingga sampai ke langit yang ketujuh, lalu ia meminta izin untuk masuk. Maka dikatakan, “Siapakah ini?” Jibril menjawab, “Saya Jibril.” Dikatakan, “Siapakah orang yang bersamamu?” Jibril menjawab, “Muhammad.” Dikatakan, “Apakah dia telah diperintahkan untuk menghadap kepada-Nya?” Jibril menjawab, “Ya.” Dikatakan, “Selamat datang untuknya, sesungguhnya orang yang paling baik kini telah datang.” Kemudian dibukakanlah pintu langit yang ketujuh bagi kami. Ketika memasukinya, tiba-tiba aku bersua dengan Ibrahim a.s. Maka Jibril berkata, “Inilah Ibrahim a.s., ucapkanlah salam kepadanya.” Maka saya mengucapkan salam kepadanya, dan dia menjawab salamku seraya berkata, “Selamat datang anak yang saleh, Nabi yang saleh.” Selanjutnya saya dinaikkan ke Sidratul Muntaha. Tiba-tiba ternyata buahnya sebesar-besar gentong buatan tanah Hajar, dan daun-daunannya lebar-lebar seperti telinga gajah. Maka Jibril berkata, “Inilah Sidratul Muntaha.” Tiba-tiba terdapat empat buah sungai, yang dua berada di bagian dalam, sedangkan yang duanya lagi berada di bagian luar. Maka saya bertanya, “Hai Jibril, sungai apakah ini?” Jibril menjawab, “Adapun sungai yang berada di bagian dalam, maka keduanya itu adalah dua sungai surga. Sedangkan dua buah sungai yang berada di bagian luar adalah (sumber) Sungai Nil dan Sungai Eufrat.” Kemudian saya diangkat ke Baitul Ma’mur. Qatadah mengatakan, telah menceritakan pula kepada kami Al-Hasan, dari Abu Hurairah, dari Nabi Saw. yang bersabda bahwa beliau telah melihat Baitul Ma’mur yang setiap harinya dimasuki oleh tujuh puluh ribu malaikat, kemudian mereka tidak kembali lagi kepadanya. Kemudian Qatadah kembali kepada hadis Anas yang mengatakan bahwa kemudian disuguhkan kepadaku (Nabi Saw.) sebuah wadah yang berisikan khamr, sebuah wadah yang berisikan susu, dan sebuah wadah lagi yang berisikan madu. Maka saya mengambil wadah yang berisikan air susu (lalu meminumnya). Maka Jibril berkata, “Inilah fitrah yang engkau pilihkan buat dirimu dan umatmu.” Kemudian difardukan atas diriku lima puluh kali salat setiap harinya. Lalu saya turun hingga sampai ke tempat Musa a.s. berada. Dia bertanya, “Apakah yang telah difardukan oleh Tuhanmu atas dirimu dan umatmu?” Saya menjawab, “Lima puluh kali salat setiap hari.” Musa berkata, “Sesungguhnya umatmu tidak akan mampu mengerjakan lima puluh kali salat. Sesungguhnya saya pernah mencoba orang-orang yang sebelummu, dan saya telah mengobati kaum Bani Israil dengan pengobatan yang berat. Sekarang kembalilah kamu kepada Tuhanmu, dan mintalah keringanan kepada-Nya buat umatmu.” Maka saya kembali menghadap kepada-Nya, dan Dia memberikan keringanan untukku sebanyak sepuluh salat. Lalu saya kembali lagi kepada Musa. Ia bertanya, “Apakah yang diperintahkan kepadamu?” Saya menjawab, “Empat puluh kali salat setiap hari.” Musa berkata, “Sesungguhnya umatmu tidak akan kuat mengerjakan empat puluh kali salat setiap harinya, karena sesungguhnya saya pernah menguji orang-orang yang sebelum kamu dan saya telah mengobati kaum Bani Israil dengan pengobatan yang berat. Sekarang kembalilah kamu kepada Tuhanmu dan mintalah keringanan dari-Nya buat umatmu.” Maka saya menghadap kembali kepada-Nya dan Dia memberikan keringanan sepuluh kali salat lagi buatku. Lalu saya kembali kepadaMusa dan dia bertanya, “Apakah yang telah diperintahkan kepadamu?” Saya menjawab, “Aku diperintahkan untuk mengerjakan tiga puluh kali salat.” Musa a.s. berkata, “Sesungguhnya umatmu tidak akan kuat mengerjakan tiga puluh kali salat setiap harinya; karena sesungguhnya saya telah mencoba orang-orang yang sebelum kamu, dan saya telah mengobati kaum Bani Israil dengan pengobatan yang berat. Sekarang kembalilah kepada Tuhanmu dan mintalah keringanan dari-Nya buat umatmu.” Lalu saya kembali menghadap kepada Tuhanku, dan Dia memberikan keringanan sepuluh kali salat lagi bagiku. Setelah itu aku kembali kepada Musa. Ia bertanya, “Apakah yang diperintahkan kepadamu?” Aku menjawab, “Saya diperintah dua puluh kali salat setiap hari.” Musa berkata, “Sesungguhnya umatmu tidak akan kuat mengerjakan dua puluh kali salat setiap harinya; karena sesungguhnya saya telah mencoba orang-orang sebelum kamu, dan saya telah mengobati kaum Bani Israil dengan pengobatan yang berat. Sekarang kembalilah kepada Tuhanmu dan mintalah keringanan dari-Nya buat umatmu.” Maka saya kembali menghadap kepada-Nya, dan Dia meringankan sepuluh kali salat lagi bagiku, lalu saya kembali kepada Musa a.s. Musa bertanya, “Apakah yang diperintahkan kepadamu?” Aku menjawab, “Saya diperintahkan mengerjakan sepuluh kali .salat setiap hari.” Musa berkata, “Sesungguhnya umatmu tidak akan kuat mengerjakan sepuluh kali salat setiap harinya; karena sesungguhnya saya telah menguji orang-orang yang sebelum kamu, dan saya telah mengobati kaum Bani Israil dengan pengobatan yang berat. Sekarang kembalilah kepada Tuhanmu dan mintalah keringanan dari-Nya buat umatmu.” Maka saya kembali menghadap kepada-Nya dan saya diperintahkan mengerjakan salat lima waktu setiap hari, lalu aku kembali kepada Musa a.s. Musa bertanya, “Apakah yang telah diperintahkan kepadamu?” Saya menjawab, “Saya diperintahkan untuk mengerjakan salat lima waktu setiap hari.” Musa berkata, “Sesungguhnya umatmu tidak akan kuat mengerjakan salat lima waktu setiap harinya; karena sesungguhnya saya telah mencoba orang-orang yang sebelum kamu, dan saya telah mengobati kaum Bani Israil dengan pengobatan yang berat. Sekarang kembalilah kepada Tuhanmu dan mintalah keringanan dari-Nya buat umatmu.” Saya berkata, “Sesungguhnya saya telah meminta keringanan kepada Tuhanku hingga saya merasa malu kepada-Nya, tetapi sekarang saya rela dan pasrali untuk melaksanakannya.” Maka terdengarlah suara yang berseru mengatakan, “Sesungguhnya Aku telah menetapkan apa yang Kufardukan (atas hamba-hamba-Ku) dan Aku telah memberikan keringanan kepada hamba-hamba-Ku.”