17. SURAT AL-ISRA

Sanad hadis ini tidak bercela, tetapi mereka (para ahli hadis) tidak mengetengahkan nya.

Jalur lain. Imam Ahmad mengatakan pula, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Ja’far dan Rauh ibnul Mu’in; keduanya mengata­kan, telah menceritakan kepada kami Auf, dari Zurarah ibnu Aufa, dari Ibnu Abbas yang mengatakan bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda bahwa setelah beliau menjalani Isra pada malam hari, maka pada pagi harinya beliau berada di Mekah dengan perasaan bahwa orang-orang pasti akan mendustakannya. Rasulullah Saw. duduk sendirian memisahkan diri dalam keadaan sedih. Lalu lewatlah kepadanya musuh Allah, Abu Jahal. Abu Jahal meng­hampirinya dan duduk bersamanya. Lalu ia berkata dengan sinis, “Apa­kah ada berita baru?” Rasulullah Saw. menjawab, “Ya.” Abu Jahal berta­nya, “Apakah berita itu?” Nabi Saw. menjawab, “Tadi malam saya baru melakukan Isra (perja­lanan di malam hari).” Abu Jahal bertanya, “Kemana?” Nabi Saw. men­jawab, “Ke Baitul Maqdis.” Kemudian Abu Jahal bertanya, “Lalu pagi harinya engkau berada di antara kami?” Nabi Saw. menjawab, “Ya.” Abu Jahal tidak menanggapi langsung ucapan Nabi Saw., juga tidak langsung mendustakannya; karena ia merasa khawatir bila hal itu dicerita­kan kepada kaumnya, mereka tidak akan percaya. Maka ia berkata, “Bagaimanakah pendapatmu jika saya panggil kaummu? Apakah kamu akan menceritakan juga kepada mereka apa yang baru kamu ceritakan kepadaku?” Nabi Saw. menjawab, “Ya.” Abu Jahal berkata, “Hai seluruh orang-orang Bani Ka’b ibnu Luay!” Tidak lama kemudian orang-orang berdatangan ke majelis Nabi Saw. Mereka datang dan langsung duduk di majelis itu, tempat Nabi dan Abu Jahal. Abu Jahal berkata, “Berceritalah kepada kaummu seperti cerita kamu kepadaku tadi.” Rasulullah Saw. bersabda, “Sesungguhnya tadi malam saya menjalani Isra.” Mereka bertanya, “Menuju ke mana?” Nabi Saw. menjawab, “Ke Baitul Maqdis.” Mereka bertanya, “Kemudian pagi harinya kamu berada di antara kami?” Nabi Saw. menjawab, “Ya.” Maka di antara mereka ada yang bertepuk tangan, ada pula yang meletakkan tangannya di atas kepala karena merasa heran mendengar kisah yang mereka anggap dusta itu. Mereka bertanya.”Dapatkah kamu menyebutkan ciri khas Masjidil Aqsa kepada kami.” Di antara mereka ada orang yang pernah bepergian ke negeri itu dan melihat Baitul Maqdis. Rasulullah Saw. bersabda, bahwa ia terus menerus menceritakan kepada mereka ciri khas masjid tersebut, hingga ada sebagian ciri khasnya yang terlupakan oleh Nabi Saw. Lalu Masjidil Aqsa ditampakkan kepada Nabi Saw., dan Nabi Saw. memandangnya, hingga gambar Masjidil Aqsa diletakkan di dekat rumah Aqil, atau Iqal. Maka Nabi Saw. menyebutkan ciri-ciri khasnya seraya melihat ke arah gambar tersebut. Perawi mengatakan bahwa ada suatu ciri khas yang terlupakan olehnya. Orang-orang Quraisy berkata, “Demi Allah, ciri khas yang disebut­kannya mengenai Baitul Maqdis adalah benar.”

Imam Nasai menceritakan hadis melalui Auf ibnu Abu Jamilah (yakni Al-A’rabi) dengan sanad yang sama.

Imam Baihaqi meriwayatkannya melalui hadis An-Nadr ibnu Syumail dan Hauzah, dari Auf, yaitu dari Ibnu Abu Jamilah Al-A’rabi, salah seorang imam yang berpredikat siqah (dapat dipercaya).

Riwayat Abdullah ibnu Mas’ud r.a. diketengahkan oleh Al-Hafiz Abu Bakar Al-Baihaqi. Disebutkan bahwa telah menceritakan kepada kami Abu Abdullah Al-Hafiz, telah menceritakan kepada kami Abu Ab­dullah Muhammad ibnu Ya’qub, telah menceritakan kepada kami As-Sirri ibnu Khuzaimah, telah menceritakan kepada kami Yusuf ibnu Bahlul, telah menceritakan kepada kami Abdullah ibnu Namir, dari Malik ibnu Magul, dari Az-Zubair ibnu Addi, dari Talhah ibnu Masraf, dari Murrah Al-Hamdani, dari Abdullah ibnu Mas’ud yang menceritakan bahwa ketika Rasulullah menjalani Isra dan sampai di Sidratul Muntaha yang berada di langit keenam. Hanya sampai kepadanya segala sesuatu naik, lalu diambil darinya; dan hanya sampai kepadanya segala sesuatu yang turun dari atasnya, lalu diambil. Ketika Sidratul Muntaha diliputi oleh sesuatu yang meliputinya. (An-Najm: 16); Ibnu Mas’ud mengatakan bahwa Sidratul Muntaha diliputi oleh kupu-kupu emas. Dan di situlah Rasulullah Saw. diberi perintah untuk mengerja­kan salat lima waktu, ayat-ayat yang mengakhiri surat Al-Baqarah, dan diberikan ampunan bagi orang yang tidak mempersekutukan Allah dengan sesuatu pun (dari kalangan umatnya), serta dosa-dosa besar.

Imam Muslim meriwayatkan hadis ini di dalam kitab sahihnya dari Muhammad ibnu Abdullah ibnu Namir dan Zuhair ibnu Harb, kedua-duanya menerima hadis dari Abdullah ibnu Namir dengan sanad yang sama.

Kemudian Imam Baihaqi mengatakan bahwa hadis yang diceritakan oleh Ibnu Mas’ud ini merupakan bagian dari hadis Mi’raj.

Sahabat Anas telah meriwayatkan hadis ini dari Malik ibnu Sa’sa’ah, dari Nabi Saw., kemudian dari Abu Zar, dari Nabi Saw. selanjutnya Imam Baihaqi meriwayatkan pula hadis ini secara mursal tanpa menyebutkan keduanya, lalu ia menyebutkan ketiga hadis tersebut, seperti yang disebut­kan di atas.

Menurut kami, sahabat Ibnu Mas’ud telah meriwayatkan hadis ini pula dengan lafaz yang lebih panjang daripada hadis di atas, tetapi di da­lamnya terkandung hal yang garib. Hadis ini diriwayatkan oleh Al-Hasan ibnu Arafah di dalam kitab Juz-nya yang terkenal itu.

Disebutkan bahwa telah menceritakan kepada kami Marwan ibnu Mu’awiyyah, dari Qatadah ibnu Abdullah At-Taimi, telah menceritakan kepada kami Abu Zabyan Al-Janabi yang mengatakan bahwa ketika kami sedang duduk di dalam majelis Abu Ubaidah ibnu Abdullah ibnu Mas’ud dan Muhammad ibnu Sa’d ibnu Waqqas, yang saat itu keduanya ada dalam majelis tersebut. Muhammad ibnu Sa’d berkata kepada Abu Ubaidah, “Ceritakanlah kepada kami sebuah hadis dari ayahmu yang menceritakan tentang perja­lanan Isra yang dilakukan oleh Nabi Saw.” Abu Ubaidah berkata, “Tidak, tetapi engkaulah yang harus menceritakan kepada kami sebuah hadis dari ayahmu.” Muhammad menjawab, “Seandainya kamu meminta kepa­daku sebelum aku meminta kepadamu, tentu aku mau menceritakannya.” Maka Abu Ubaidah menceritakan hadis tersebut dari ayahnya sesuai dengan apa yang diminta, bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda bahwa Malaikat Jibril datang kepadanya dengan membawa seekor hewan putih yang lebih besar dari keledai, tetapi lebih kecil dari begal; lalu Malaikat Jibril menaikkan Nabi Saw. ke atas punggung hewan itu. Kemudian hewan itu membawa kami berangkat. Manakala mendaki tanjakan (jalan yang menaik), maka kedua kaki depan dan kaki belakang­nya lurus; begitu pula bila sampai ke jalan yang menurun, hingga kami bersua dengan seorang lelaki yang tinggi, bertubuh bidang, dan berkulit hitam manis seakan-akan dia adalah seorang lelaki dari kalangan kabilah Azd-Sanu-ah. Maka lelaki itu berkata dengan suara keras, “Engkau telah memuliakan dan mengutamakannya.” Maka kami datang menemuinya dan kami ucapkan salam kepadanya, lalu dia menjawab salam kami. Lelaki itu bertanya, “Hai Jibril, siapakah orang yang bersamamu ini?” Jibril menjawab, “Dia adalah Ahmad.” Lelaki itu berkata, “Selamat datang Nabi yang ummi dari Arab, yang te­lah menyampaikan risalah Tuhannya dan menasihati umatnya.” Kemudian kami melanjutkan perjalanan, dan saya (Nabi Saw.) berta­nya, “Hai Jibril, siapakah orang ini?” Jibril menjawab, “Orang ini adalah Musa ibnu Imran.” Aku bertanya, “Kepada siapakah dia tadi mengeluh?” Jibril menjawab, “Dia mengeluh kepada Tuhannya tentang (kemuliaan dan keutamaan) kamu (yang melebihinya).” Aku bertanya, “Apakah dia mengangkat suaranya keras-keras kepada Tuhannya?”‘Jibril menjawab, “Sesungguhnya Allah telah memberinya watak yang keras.” Kami melanjutkan perjalanan hingga sampailah kami pada suatu pohon yang buahnya besar-besar, di bawahnya terdapat orang tua bersa­ma anak-anaknya. Maka Jibril berkata kepadaku, “Temuilah bapakmu Ibrahim.” Kami menemuinya, lalu mengucapkan salam kepadanya, dan dia menjawab salam kami. Ibrahim a.s. bertanya, “Hai Jibril, siapakah orang yang bersamamu ini?” Jibril menjawab, “Orang ini adalah anakmu Ahmad.” Ibrahim berkata, “Selamat datang Nabi yang ummi yang telah menyampaikan risalah Tuhannya dan menasihati umatnya. Hai anakku, sesungguhnya engkau akan menjumpai Tuhanmu malam ini. Dan sesungguhnya umatmu adalah umat yang paling akhir dan paling lemah. Jika kamu dapat mengajukan kebutuhanmu atau sebagian besar dari keperluanmu mengenai umatmu, maka lakukanlah.” Kemudian kami melanjutkan perjalanan hingga sampailah kami di Masjidil Aqsa. Lalu saya turun dan menambatkan hewan kendaraanku di sebuah halqah yang ada di dekat pintu masjid, yaitu tempat para nabi terdahulu biasa menambatkan kendaraannya. Saya masuk ke dalam masjid dan melihat para nabi berada di dalam­nya: di antara mereka ada yang sedang rukuk, ada pula yang sedang sujud. Selanjutnya diberikan kepadaku dua buah wadah, yang satu berisikan madu, dan yang lain berisikan air susu. Maka saya mengambil yang ber­isikan air susu, lalu meminumnya. Malaikat jibril menepuk pundakku seraya berkata, “Engkau telah memperoleh fitrah, demi Tuhan Muhammad.” Kemudian salat diiqamahkan dan saya mengimami mereka. Setelah salat selesai, kami pulang.

Tulisan ini dimuat dalam Tafsir Ibnu Katsir.