Hal yang sama telah diriwayatkan oleh Imam Abu Ja’far ibnu Jarir dengan panjang lebar melalui Muhammad ibnu Abdul A’la, dari Muhammad ibnu Saur, dari Ma’mar, dari Abu Harun Al-Abdi. Juga dari Al-Hasan ibnu Yahya, dari Abdur Razzaq, dari Ma’mar, dari Abu Harun Al-Abdi dengan sanad yang sama.
Ibnu Jarir telah meriwayatkannya pula melalui ha’dis Ibnu Ishaq, bahwa telah menceritakan kepadanya Rauh ibnu! Qasim, dari Abu Harun dengan sanad yang serupa dan lafaz yang semisal dengan hadis di atas.
Ibnu Abu Hatim meriwayatkannya dari ayahnya, dari Ahmad ibnu Abdah, dari Abu Abdus Samad Abdul Aziz ibnu Abdus Samad, dari Abu Harun Al-Abdi, dari Abu Sa’id Al-Khudri. Lalu ia menceritakan hadis ini dengan teks yang panjang, indah, dan jauh lebih baik daripada apa yang diketengahkan oleh yang lain, sekalipun di dalamnya terdapat hal-hal yang garib dan munkar.
Kemudian Imam Baihaqi menuturkannya pula melalui riwayat Rauh ibnu Qais Al-Hadda-i dan Hasyim serta Ma’mar, dari Abu Harun Al-Abdi yang nama aslinya Imarah ibnu Juwain yang menurut para imam ahli hadis dinilai daif.
Sesungguhnya kami sengaja mengetengahkan hadisnya, mengingat di dalamnya terkandung banyak syawahid (bukti) yang memperkuat hadis lainnya. Dan karena ada hadis yang diriwayatkan oleh Imam Baihaqi yang menyebutkan bahwa telah menceritakan kepada kami Abu Usman Ismal ibnu Abdur Rahman, telah menceritakan kepada kami Abu Na’im Ahmad ibnu Muhammad ibnu Ibrahim Al-Bazzar, telah menceritakan kepada kami Abu Hamid ibnu Bilal, telah menceritakan kepada kami Abul Azhar, telah menceritakan kepada kami Yazid ibnu Abu Hakim yang mengatakan bahwa dalam tidurnya ia melihat Rasulullah Saw. lalu ia bertanya, “Wahai Rasulullah, ada seorang lelaki dari kalangan umatmu yang dikenal dengan nama Sufyan As-Sauri, dia berpredikat tidak tercela.” Maka Rasulullah Saw. bersabda, “Dia tidak tercela.” Dia telah menceritakan kepada kami, dari Abu Harun Al-Abdi, dari Abu Sa’id Al-Khudri, dan dari engkau, wahai Rasulullah, dalam kisah Isra-mu, engkau mengatakan, “Bahwasanya ketika engkau berada di langit melihat,” hingga akhir hadis, Ia menceritakan hadis hingga akhirnya. Maka Rasulullah Saw. bersabda, “Ya, benar.” Maka saya berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya ada sejumlah orang dari kalangan umatmu yang menceritakan hadis darimu tentang Isra yang di dalamnya disebutkan kisah-kisah yang ajaib.” Maka Rasulullah Saw. bersabda kepadanya, “Hal itu merupakan kisah tukang dongeng.”
Riwayat Syaddad ibnu Aus diketengahkan oleh Imam Abu Ismail Muhammad ibnu Ismail At-Turmuzi. Disebutkan bahwa telah menceritakan kepada kami Ishaq ibnu Ibrahim ibnul Ala ibnud Dahhak Az-Zubaidi, telah menceritakan kepada kami Amr ibnul Haris dari Abdullah ibnu Sa-lim Al-Asy’ari, dari Muhammad ibnul Walid ibnu Amir Az-Zubaidi, telah menceritakan kepada kami Abul Walid ibnu Abdur Rahman, dari Jubair ibnu Nafir, telah menceritakan kepada kami Syaddad ibnu Aus yang mengatakan bahwa kami pernah bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimanakah kisah tentang Isra-mu?” Rasulullah Saw. menjawab, bahwa seusai aku mengerjakan salat (berdoa) di petang hari di Mekah buat sahabat-sahabatku, maka datanglah Malaikat Jibril a.s. kepadaku dengan membawa seekor hewan putih yang bentuknya lebih besar dari keledai, tetapi di bawah begal. Lalu Jibril berkata, “Naiklah!” Tetapi pada mulanya Buraq sulit untuk kukendarai, maka Jibril menjewer telinganya, Akhirnya Buraq mau membawaku. Maka Buraq melaju dengan pesat, sekali langkah sampai ke jangkauan batas matanya memandang membawa kami, hingga sampailah kami di suatu tempat yang penuh dengan pohon korma. Lalu Jibril menyuruhku turun. Maka saya turun dan Jibril berkata, “Salatlah!” Maka saya mengerjakan salat. Sesudah itu saya mengendarai Buraq lagi, dan Jibril bertanya, tahukah kamu di manakah tadi kamu salat?” Saya menjawab, “Allah lebih mengetahui.” Jibril menjawab, “Kamu salat di Yasrib, alias Taibah.” Maka Buraq melanjutkan perjalanannya membawa kami dengan melangkahkan kaki depannya sejauh mata memandang, hingga sampailah kami di suatu tempat, lalu Jibril berkata, “Turunlah!” Kemudian Jibril berkata lagi, “Salatlah!” Maka saya salat di tempat itu. Kemudian kami menaiki Buraq lagi, dan Jibril bertanya, “Tahukah kamu, di manakah tadi kamu salat?” Saya menjawab, “Allah lebih mengetahui.” Jibril berkata, “Kamu tadi salat di Madyan, di dekat pohon Musa.” Sesudah itu Buraq melanjutkan perjalanannya membawa kami dengan meletakkan kedua kaki depannya sejauh mata memandang, hingga sampailah kami di suatu tempat yang padanya kelihatan banyak gedung. Maka Malaikat Jibril berkata, “Turunlah!” Lalu saya turun, dan Jibril berkata lagi, “Salatlah!” Maka saya salat. Kemudian kami menaiki Buraq lagi, dan Jibril bertanya, “Tahukah kamu di manakah kamu tadi mengerjakan salat?” Aku meujawab, “Allah lebih mengetahui.” Jibril berkata, “Tadi kamu salat di Baitul Lahm, tempat kelahiran Isa putra Maryam.” Selanjutnya Jibril melanjutkan perjalanan dengan membawaku hingga masuklah kami ke suatu kota dari pintunya yang sebelah kanan, lalu Jibril mendatangi kiblat masjid dan menambatkan hewannya di tempat itu. Kemudian kami memasuki masjid itu dari arah pintu yang matahari dan bulan kelihatan dari pintu itu bila condong. Dan saya mengerjakan salat di dalam masjid itu sebanyak apa yang dikehendaki oleh Allah Swt. Sesudah itu saya merasa sangat kehausan. Kemudian didatangkan dua buah wadah kepadaku, salah satunya, berisikan air susu, sedangkan yang lainnya berisi madu. Allah telah mengirimkan keduanya kepadaku, maka saya memilih salah satu di antara keduanya. Dan Allah memberikan petunjuk-Nya kepadaku, maka saya memilih wadah yang berisikan air susu dan langsung meminumnya hingga keningku berkeringat karenanya. Saat itu di hadapanku terdapat seorang tua yang sedang bersandar di tempat duduknya, lalu orangtua itu berkata, “Temanmu ini telah memilih fitrah, sesungguhnya dia telah mendapat petunjuk.” Jibril melanjutkan perjalanannya bersamaku, hingga sampailah aku ke sebuah lembah yang padanya terdapat sebuah kota. Tiba-tiba neraka Jahannam diperlihatkan kepadaku yang kelihatan seperti bukit-bukit. Saya (perawi) bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaiifianakah engkau jumpai keadaan neraka Jahannam?” Rasulullah Saw. menjawab, “Saya jumpai Jahannam, sangat panas seperti air yang mendidih.” Kemudian Jibril membawaku pergi dan kami bersua dengan kafilah orang-orang Quraisy di tempat anu dan anu, sedangkan seekor unta mereka telah tersesat, lalu berhasil ditemukan si Fulan. Saya mengucapkan kata salam kepada mereka, dan sebagian mereka ada yang mengatakan, “Ini suara Muhammad.” Sebelum subuh saya kembali kepada sahabat-sahabatku di Mekah, maka Abu Bakar datang kepadaku seraya bertanya, “Wahai Rasulullah, kemanakah engkau tadi malam? Saya merasa kehilangan engkau dan saya mencarimu di tempat engkau biasa tidur.” Rasulullah Saw. menjawab, “Tahukah kamu bahwa tadi malam saya telah ke Baitul Maqdis?” Abu Bakar r.a. bertanya, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya Baitul Maqdis itu ditempuh dengan jarak satu bulan lamanya, maka gambarkanlah Baitul Maqdis kepadaku.” Maka ditampakkanlah kepadaku suatu gambar sehingga aku dapat memandangnya dengan jelas. Tiada sesuatu pun tentang Baitul Maqdis yang ditanyakan kepadaku melainkan aku jawab dia (Abu Bakar). Lalu Abu Bakar berkata, “Saya bersaksi bahwa engkau adalah utusan Allah.” Orang-orang musyrik berkata, “Lihatlah oleh kalian Ibnu Abu Kabsyah, dia menduga bahwa dirinya telah pergi ke Baitul Maqdis tadi malam.” Rasulullah Saw. menjawab, “Sesungguhnya bukti dari apa yang aku ucapkan ialah saya bersua dengan kafilah kalian di tempat anu dan anu, sedangkan mereka kehilangan seekor untanya, lalu berhasil diketemukan oleh si Fulan. Dan sesungguhnya mereka masih dalam perjalanannya berada di tempat anu, kemudian mereka akan datang kepada kalian pada hari anu. Yang berada paling depan adalah unta yang berwarna hitam dengan memakai pelana hitam membawa dua buah peti barang yang kedua-duanya berwarna hitam.” Pada hari yang dimaksud orang-orang berkumpul menunggu kedatangan kafilah mereka. Dan ketika tengah hari telah dekat, kelihatanlah oleh mereka kafilah itu sedang menuju ke arah mereka. Di depan kafilah itu terdapat unta yang disebutkan ciri khasnya oleh Rasulullah Saw.