Imam Muslim meriwayatkannya dari Syaiban ibnu Farrukh, dari Hammad ibnu Salamah dengan lafaz ini. Lafaz hadis ini lebih sahih daripada lafaz yang diriwayatkan oleh Syarik tadi.
Imam Baihaqi mengatakan bahwa di dalam hadis ini terkandung dalil yang menunjukkan bahwa Mi’raj dilakukan pada malam Nabi Saw. di-Isra-kan dari Mekah ke Baitul Muqaddas.
Apa yang dikatakan oleh Imam Baihaqi ini adalah benar dan tidak diragukan lagi kebenarannya.
وَقَالَ الْإِمَامُ أَحْمَدُ: حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ، حَدَّثَنَا مَعْمَرٌ، عَنْ قَتَادَةُ، عَنْ أَنَسٍ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أُتِيَ بِالْبُرَاقِ لَيْلَةَ أُسْرِيَ بِهِ مُسْرَجًا مُلْجَمًا لِيَرْكَبَهُ، فَاسْتَصْعَبَ عَلَيْهِ، فَقَالَ لَهُ جِبْرِيلُ: مَا يَحْمِلُكَ عَلَى هَذَا؟ فَوَاللَّهِ مَا رَكِبَكَ قَطُّ أَكْرَمُ عَلَى اللَّهِ مِنْهُ. قَالَ: فارفضَّ عَرَقًا.
Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abdul Razzaq, telah menceritakan kepada kami Ma’mar, dari Qatadah, dari Anas, bahwa didatangkan kepada Nabi Saw. hewan Buraq di malam beliau melakukan Isra. Buraq itu telah diberi pelana dan tali kendali untuk dinaiki Nabi Saw., tetapi Buraq sulit untuk dinaiki. Maka Jibril berkata kepadanya, “Apakah yang mendorongmu bersikap demikian? Demi Allah, tiada seorang pun yang menaikimu lebih dimuliakan oleh Allah Swt. daripada orang ini.” Setelah itu Buraq mengucurkan keringatnya.
Imam Turmuzi meriwayatkannya dari Ishaq ibnu Mansur, dari Abdur Razzaq; dan imam Turmuzi mengatakan bahwa hadis ini berpredikat garib kami tidak mengenal hadis ini kecuali melalui jalurnya (Ishaq ibnu Mansur).
قَالَ أَحْمَدُ أَيْضًا: حَدَّثَنَا أَبُو الْمُغِيرَةِ، حَدَّثَنَا صَفْوَانُ، حَدَّثَنِي رَاشِدُ بْنُ سَعْدٍ وَعَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ جُبَيْرٍ، عَنْ أَنَسٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “لَمَّا عَرَجَ بِي رَبِّي، عَزَّ وَجَلَّ، مَرَرْتُ بِقَوْمٍ لَهُمْ أَظْفَارٌ مِنْ نُحَاسٍ، يَخْمُشُونَ وُجُوهَهُمْ وَصُدُورَهُمْ، فَقُلْتُ: مَنْ هَؤُلَاءِ يَا جِبْرِيلُ؟ قَالَ: هَؤُلَاءِ الذين يأكلون لُحُومَ النَّاسِ، وَيَقَعُونَ فِي أَعْرَاضِهِمْ”.
Imam Ahmad mengatakan pula bahwa telah menceritakan kepada kami Abul Mugirah, telah menceritakan kepada kami Safwan, telah menceritakan kepadaku Rasyid ibnu Sa’id dan Abdur Rahman ibnu Jubair, dari Anas yang mengatakan bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda mengemukakan hadis berikut, yaitu: Ketika saya dinaikkan menghadap kepada Tuhanku, saya bersua dengan suatu kaum yang memiliki kuku tembaga, mereka mencakari muka dan dada mereka dengan kuku tembaga itu. Maka saya bertanya, “Hai Jibril, siapakah mereka itu? ” Jibril menjawab, “Mereka adalah orang-orang yang suka memakan daging manusia (mengumpat orang lain) dan mempergunjingkan kehormatan mereka.”
Imam Abu Daud mengetengahkannya melalui hadis Safwan ibnu Amr dengan sanad yang sama; juga dari jalur yang lain, tetapi tidak disebutkan nama Anas.
قَالَ أَيْضًا: حَدَّثَنَا وَكِيعٌ، حَدَّثَنَا سُفْيَانُ، عَنْ سُلَيْمَانَ التّيْمِي، عَنْ أَنَسٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “مَرَرْتُ لَيْلَةَ أُسْرِيَ بِي عَلَى مُوسَى، عَلَيْهِ السَّلَامُ، قَائِمًا يُصَلِّي فِي قَبْرِهِ”
Imam Abu Daud mengatakan pula, menceritakan kepada kami Waki’, telah menceritakan kepada kami Sufyan, dari Sulaiman At-Taimi, dari Anas yang mengatakan bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda: Di malam aku menjalani Isra bersua dengan Musa a. s. sedang berdiri mengerjakan salat di dalam kuburnya.
Imam Muslim meriwayatkannya melalui hadis Hammad ibnu Salamah, dari Sulaiman Ibnu Tarkhan At-Taimi dan Sabit Al-Bannani, keduanya menerima hadis ini dari Anas. Menurut An-Nasa-i, riwayat ini lebih sahih daripada riwayat yang menyebutkan dari Sulaiman dari Sabit dari Anas.
Al-Hafiz Abu Ya’la Al-Mausuli di dalam kitab Musnad-nya mengatakan, telah menceritakan kepada kami Wahb ibnu Baqiyyah, telah menceritakan kepada kami Khalid, dari At-Taimi, dari Anas yang mengatakan, “Salah seorang sahabat Nabi Saw. telah menceritakan kepadaku bahwa ketika beliau Saw. melakukan Isra, beliau bersua dengan Musa sedang melakukan salat di dalam kuburnya.”
Abu Ya’la mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ibrahim ibnu Muhammad ibnu Ur’urah telah menceritakan kepada kami Mu’tamir, dari ayahnya yang mengatakan bahwa ia telah mendengar sahabat Anas mengatakan, “Ketika Nabi Saw. menjalani Isra-nya, beliau bersua dengan Musa sedang mengerjakan salat di dalam kuburnya.” Anas mengatakan Nabi Saw. menceritakan bahwa ia mengendarai Buraq, lalu ia menambatkan hewan itu, atau kuda itu. Abu Bakar bertanya, “Gambarkanlah kepadaku Buraq itu.” Rasulullah Saw. bersabda, “Buraq bentuknya seperti anu dan anu.” Maka Abu Bakar berkata, “Saya bersaksi bahwa engkau adalah utusan Allah.” Dan Abu Bakar r.a. pernah melihatnya.
قَالَ الْحَافِظُ أَبُو بَكْرٍ أَحْمَدُ بْنُ عَمْرٍو الْبَزَّارُ فِي مُسْنَدِهِ: حَدَّثَنَا سَلَمَةُ بْنُ شَبِيبٍ، حَدَّثَنَا سَعِيدُ بْنُ مَنْصُورٍ، حَدَّثَنَا الْحَارِثُ بْنُ عُبَيْدٍ، عَنْ أَبِي عِمْرَانَ الْجَوْنَيِّ، عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “بَيْنَا أَنَا قَاعِدٌ إِذْ جَاءَ جِبْرِيلُ عَلَيْهِ السَّلَامُ، فَوَكَزَ بَيْنَ كَتِفِي، فَقُمْتُ إِلَى شَجَرَةٍ فِيهَا كَوَكْرَيِ الطَّيْرِ، فَقَعَدَ فِي أَحَدِهِمَا وَقَعَدْتُ فِي الْآخَرِ فَسَمَتْ وَارْتَفَعَتْ حَتَّى سَدَّتِ الْخَافِقَيْنِ وَأَنَا أُقَلِّبُ طَرْفِي، وَلَوْ شِئْتُ أَنَّ أَمَسَّ السَّمَاءَ لَمَسِسْتُ، فَالْتَفَتُّ إِلَى جِبْرِيلَ، عَلَيْهِ السَّلَامُ، كَأَنَّهُ حِلْس لَاطَ فَعَرَفْتُ فَضْلَ عِلْمِهِ بِاللَّهِ عَلَيَّ، وَفُتِحَ لِي بَابٌ مِنْ أَبْوَابِ السَّمَاءِ فَرَأَيْتُ النُّورَ الأعظمَ، وَإِذَا دُونَ الْحِجَابِ رَفْرَفُ الدُّرِّ وَالْيَاقُوتِ، وَأُوحِيَ إليَّ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ يُوحِي”
Al-Hafiz Abu Bakar Ahmad ibnu Amr Al-Bazzar mengatakan dalam kitab Musnad-nya, telah menceritakan kepada kami Salamah ibnu Syabib, telah menceritakan kepada kami Sa’id ibnu Mansur, telah menceritakan kepada kami Al-Haris ibnu Ubaid, dari Abu Imran Al-Juni, dari Anas ibnu Malik r.a. yang mengatakan bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda: Ketika aku sedang tidur, tiba-tiba datanglah Malaikat Jibril a.s. lalu Jibril menotok bagian antara kedua tulang belikatku, maka aku bangkit menuju ke sebuah pohon yang padanya terdapat seperti dua buah sarang burung. Maka Jibril duduk pada salah satunya, dan aku duduk di sisi yang lainnya. Maka pohon itu meninggi ke langit sehingga menutupi cakrawala timur dan barat, sedangkan aku membolak-balikkan pandangan mataku. Seandainya aku sentuh langit itu, niscaya aku dapat menyentuhnya. Dan aku menoleh ke arah Malaikat Jibril yang saat itu seperti pelana yang terhampar (karena pingsan), maka aku mengetahui akan keutamaannya yang lebih dariku mengenai Allah. Lalu dibukakan untukku sebuah pintu langit, maka aku melihat cahaya yang Mahabesar. Dan tiba-tiba di balik hijab terdapat bantal-bantal dari permata dan yagut. Lalu Allah menurunkan wahyu-Nya kepadaku menurut apa yang Dia kehendaki untuk mewahyukannya (kepadaku).
Selanjutnya Al-Bazzar mengatakan, “Kami tidak mengetahui ada seseorang meriwayatkan hadis ini kecuali hanya Anas. Dan kami tidak mengetahui ada seseorang meriwayatkannya dari Abu Imran Al-Juni kecuali Al-Haris ibnu Ubaid, dia adalah seorang yang terkenal di kalangan ulama penduduk Basrah.”
Al-Hafiz Imam Baihaqi meriwayatkannya di dalam kitab Dalail-nya, dari Abu Bakar Al-Qadi, dari Abu Ja’far Muhammad ibnu Ali ibnu Dahim, dari Muhammad ibnul Husain ibnu Abul Husain, dari Sa’id ibnu Mansur, lalu ia menceritakan hadis ini berikut sanadnya dengan lafaz yang semisal. Lalu ia mengatakan bahwa selainnya mengatakan dalam hadis ini —yakni di bagian akhirnya— bahwa Malaikat Jibril terkapar di bawahku, atau di bawah hijab terdapat bantal-bantal permata dan yaqut. Kemudian Imam Baihaqi mengatakan bahwa demikian pula menurut apa yang diriwayatkan oleh Al-Haris ibnu Ubaid. Hammad ibnu Salamah meriwayatkannya dari Abu Imrari Al-Juni, dari Muhammad ibnu Umair ibnu Utarid bahwa Nabi Saw, berada di tengah sekumpulan sahabatnya. Tiba-tiba Malaikat Jibril datang kepadanya lalu menotok punggungnya, dan membawanya ke sebuah pohon yang padanya terdapat sesuatu semisal dengan dua buah sarang burung. Lalu Nabi Saw. didudukkan pada salah satunya, sedangkan Malaikat Jibril duduk di sisi yang lainnya. Lalu pohon itu tumbuh meninggi membawa kami, hingga mencapai cakrawala langit. Seandainya saya julurkan kedua tanganku ke langit, tentulah saya dapat menyentuhnya.