Lalu dijulurkan sebuah tangga dan turunlah Nur (cahaya) kepadaku, maka Malaikat Jibril jatuh pingsan dan tak sadarkan diri, lemas seakan-akan seperti pelana. Maka saya mengetahui keutamaan rasa takutnya kepada Allah yang melebihi ketakutanku kepada-Nya. Maka Allah mewahyukan kepadaku, “Hai nabi malaikat atau nabi manusia!”, dan juga kepada surga, “Apakah keinginanmu?” Maka Jibril yang dalam keadaan terbaring mengisyaratkan kepadaku supaya aku berendah diri, dan saya menjawab, “Bukan, bahwa saya adalah seorang nabi manusia biasa.”
Menurut kami, jika hadis ini sahih, maka pengertiannya menunjukkan bahwa peristiwa ini terjadi bukan pada malam Isra. Karena sesungguhnya di dalamnya tidak disebutkan Baitul Muqaddas, tidak pula naik ke langit, sehingga dapat disimpulkan bahwa peristiwa ini terjadi di luar apa yang sedang kita bicarakan.
Al-Bazzar mengatakan pula, telah menceritakan kepada kami Amr ibnu Isa, telah menceritakan kepada kami Abu Bahr, telah menceritakan kepada kami Syu’bah, dari Qatadah, dari Anas, bahwaNabi Muhammad pernah melihat Tuhannya. Hadis ini berpredikat garib.
Abu Ja’far ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Yunus, telah menceritakan kepada kami Abdullah Ibnu Wahb, telah menceritakan kepada kami Ya’qub ibnu Abdur Rahman Az-Zuhri. dari ayahnya, dari Abdur Rahman ibnu Hasyim ibnu Atabah ibnti Abu Waqqas, dari Anas ibnu Malik yang mengatakan bahwa ketika Malaikat Jibril datang kepada Rasulullah Saw. dengan membawa Buraq, maka Buraq seakan-akan menggerak-gerakkan ekornya. Lalu Malaikat Jibril berkata kepadanya, “Diamlah, hai Buraq. Demi Allah, tiada seorang pun yang menaikimu semisal dengan dia!” Rasulullah Saw. berangkat dengan mengendarai Buraq, tiba-tiba beliau bersua dengan nenek-nenek di sisi jalan (yang dilaluinya), maka Nabi Saw. bertanya, “Siapakah nenek-nenek ini, hai Jibril?” Jibril berkata, “Hai Muhammad, lanjutkanlah perjalananmu.” Nabi Saw. melanjutkan perjalanannya menurut apa yang dikehendaki oleh Allah, dan tiba-tiba ada sesuatu yang memanggilnya seraya menjauh dari jalan. Suara itu berseru, “Kemarilah Muhammad.” Maka Jibril berkata kepada Nabi Saw., “Hai Muhammad, lanjutkanlah perjalananmu!” Maka Nabi Saw. melanjutkan perjalanannya seperti apa yang dikehendaki oleh Allah Swt. Maka Nabi Saw. bersua dengan banyak orang dari kalangan makhluk Allah. Mereka mengucapkan, “Semoga kesejahteraan terlimpahkan kepadamu, hai orang yang pertama; semoga kesejahteraan terlimpahkan kepadamu, hai orang yang terakhir; semoga keselamatan terlimpahkan kepadamu, hai orang yang menghimpunkan (manusia).” Lalu Malaikat Jibril berkata kepadanya, “Hai Muhammad, jawablah salam itu.” Maka Nabi Saw. menjawab salam mereka. Kemudian Nabi Saw. bersua dengan sejumlah orang untuk yang kedua kalinya, dan mereka mengatakan hal yang sama seperti apa yang dikatakan oleh golongan yang pertama. Demikianlah pula ketika bersua dengan golongan yang ketiga, hingga sampai di Baitul Maqdis. Kemudian ditawarkan kepada Nabi Saw. arak, air, dan susu, maka Rasulullah Saw. mengambil air susu (dan meminumnya). Dan Malaikat Jibril berkata kepadanya, “Engkau telah memilih fitrah. Seandainya kamu memilih air, niscaya kamu tenggelam dan umatmu akan tenggelam pula. Dan seandainya kamu memilih arak (khamr), tentulah kamu sesat dan sesat pula umatmu.” Kemudian dibangkitkanlah untuk Nabi Saw. Nabi Adam dan nabi-nabi lain yang sesudahnya, maka Rasulullah Saw. menjadi imam mereka di malam itu. Setelah itu Jibril berkata kepada Nabi Saw., “Adapun nenek-nenek tadi yang kamu lihat ada di pinggir jalan, maka tiada yang tersisa dari usia dunia ini selain usia yang tersisa dari si nenek-nenek itu. Sedangkan orang yang memanggilmu agar kamu mendekat kepadanya, dia adalah musuh Allah iblis, dia bermaksud agar kamu cenderung kepadanya. Adapun orang-orang yang mengucapkan salam kepadamu, mereka adalah Ibrahim dan Musa a.s.”
Demikian’pula riwayat Al-Hafiz Imam Baihaqi di dalam kitab Dala-ilun Nubuwwah-nya melalui hadis Ibnu Wahb, tetapi pada sebagian lafaznya terdapat hal-hal yang berpredikat munkar dan garib.
Jalur yang lain diriwayatkan melalui Anas ibnu Malik, tetapi di dalamnya terdapat hal yang garib dan munkar sekali. Riwayat ini pada Imam Nasai terdapat di dalam kitab Al-Mujtaba, tetapi saya tidak menjumpainya dalam kitab Al-Kabir.
Imam Nasai mengatakan, telah menceritakan kepada kami Amr ibnu Hisyam, telah menceritakan kepada kami Makhlad (yaitu Ibnu Husain), dari Sa’id ibnu Abdul Aziz, telah menceritakan kepada kami Yazid ibnu Abu Malik, telah menceritakan kepada kami Anas ibnu Malik, bahwa Rasulullah Saw. telah bersabda menceritakan hadis berikut: Didatangkan kepada saya seekor hewan yang tingginya di atas keledai, di bawah begal; langkahnya sampai sejauh matanya memandang. Maka saya kendarai dengan ditemani oleh Malaikat Jibril a.s., lalu saya berangkat. Jibril berkata, “Turunlah dan salatlah!” Maka saya (turun dan) salat. Jibril berkata, “Tahukah kamu di manakah tadi kamu salat? Engkau salat di Taibah, tempat hijrahmu kemudian.” Kemudian Jibril berkata lagi, ‘Turunlah dan salatlah!” Maka saya salat. Jibril berkata, “Tahukah kamu di manakah kamu salat tadi? Kamu salat di Bukit Thur Sina, tempat Al lah mengajak bicara langsung kepada Musa.” Jibril berkata lagi, “Turunlah dan salatlah!” Maka saya turun dan mengerjakan salat, lalu Jibril berkata, “Tahukah kamu di manakah kamu salat tadi? Kamu Salat di Baitul Lahm, tempat Isa a.s. dilahirkan.” Kemudian saya masuk ke Baitul Maqdis, dan semua nabi dikumpulkan bersamaku, lalu Malaikat Jibril a.s. memajukan diriku hingga aku menjadi imam mereka. Sesudah itu Jibril membawaku naik ke langit yang paling dekat, tiba-tiba saya bersua dengan Adam a.s. Jibril membawaku naik ke langit yang kedua, tiba-tiba di dalamnya saya besua dengan kedua orang putra bibi, yaitu Isa dan Yahya a.s. Jibril membawaku naik ke langit yang ketiga, dan tiba-tiba di dalamnya saya bersua dengan Yusuf a.s. Jibril membawaku naik ke langit yang keempat, tiba-tiba di dalamnya saya bersua dengan Harun a.s. Jibril membawaku naik ke langit yang kelima, tiba-tiba di dalamnya saya bersua dengan Nabi Idris a.s. Jibril membawaku naik ke langit yang keenam, tiba-tiba di dalamnya saya bersua dengan Musa a.s. Jibril membawaku naik ke langit yang ketujuh, tiba-tiba saya bersua dengan Nabi Ibrahim a.s. Jibril membawaku naik ke atas langit yang ketujuh, hingga sampailah aku ke Sidratul Muntaha. Kemudian diriku ditutupi oleh awan, maka aku menyungkur bersujud, lalu dikatakan kepadaku, “Sesungguhnya Aku sejak hari Kuciptakan langit dan bumi telah memfardukan atas kamu dan umatmu lima puluh kali salat, maka kerjakanlah olehmu dan umatmu!” Maka saya pulang dengan membawa perintah itu hingga sampai di tempat Musa a.s. Musa bertanya, “Apakah yang telah difardukan Tuhanmu atas umatmu?” Saya menjawab, “Lima puluh salat.” Musa berkata, “Sesungguhnya engkau tidak akan mampu mengerjakannya, begitu pula umatmu, maka kembalilah kepada Tuhanmu dan mintalah keringanan dari-Nya.” Saya kembali menghadap kepada Tuhanku, dan Dia memberikan keringanan kepadaku sebanyak sepuluh kali salat. Kemudian saya datang kepada Musa, dan Musa memerintahkan kepadaku supaya kembali, maka saya kembali menghadap Tuhanku, dan Dia memberikan keringanan kepadaku sebanyak sepuluh kali salat. Kemudian fardu salat ditetapkan lima kali. Dan Musa berkata, “Kembalilah kepada Tuhanmu dan mintalah keringanan dari-Nya, karena sesungguhnya Dia pernah memfardukan atas kaum Bani Israil dua kali salat, dan ternyata mereka tidak mampu mengerjakannya.” Maka saya kembali kepada Tuhanku dan saya meminta keringanan lagi kepada-Nya, tetapi Allah Swt. berfirman, “Sesungguhnya sejak Aku menciptakan langit daabumi, Aku telah memfardukan salat lima waktu atas kamu dan umatmu. Salat lima waktu sama pahalanya dengan salat lima puluh waktu, maka kerjakanlah salat lima waktu itu olehmu dan umatmu.” Setelah itu saya (Nabi Saw.) mengetahui bahwa keputusan dari Allah Swt. yang menetapkan salat lima waktu itu merupakan suatu keharusan. Lalu saya kembali kepada Musa a.s., dan Musa berkata, “Kembalilah kamu.” Tetapi saya mengetahui bahwa salat lima waktu adalah suatu keharusan, maka saya tidak mau kembali meminta keringanan.