17. SURAT AL-ISRA

Riwayat sejumlah sahabat yang telah disebutkan di atas dan lain-lainnya. Al-Hafiz Al-Baihaqi mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Abdullah (yakni Al-Hakim), telah menceritakan kepada kami Abdullah ibnu Yazid ibnu Ya’qub Ad-Daqqaq Al-Hamdani, telah menceritakan kepada kami Ibrahim ibnul Husain Al-Hamdani, telah menceriatakan kepada kami Abu Muhammad (yaitu Ismail ibnu Musa Al-Fazzari), telah menceritakan kepada kami Umar ibnu Sa’d An-Nadri dari Bani Nadrah ibnu Mu’in, telah menceritakan kepadaku Abdul Aziz, Lais ibnu Sulaim, dan Sulaiman Al-A’masy serta Ata ibnus Sa-ib, sebagian dari mereka ada yang lebih panjang riwayat hadisnya daripada sebagian yang lain, mereka menerimanya dari Ali ibnu Abu Talib dan Abdullah ibnu Abbas. Juga dari Muhammad ibnu Ishaq ibnu Yasar, dari orang yang menceritakannya kepada dia, dari Ibnu Abbas. Juga dari Salim ibnu Muslim Al-Uqaili, dari Amir Asy-Sya’bi, dari Abdullah ibnu Mas’ud. Dan dari Juwaibir dari Ad-Dahhak ibnu Muzahim; semuanya mengatakan bahwa Rasulullah Saw. ketika berada di rumah Ummu Hani’ sedang tidur seusai beliau mengerjakan salat Isya. Abu Abdullah Al-Hakim mengatakan, telah menceritakan kepada kami guru kami, lalu ia menyebutkan hadis yang dimaksud, dan saya menulis teks hadis itu yang saya salin dari catatan yang berasal dari ucapannya. Selanjutnya Al-Hafiz Imam Baihaqi menuturkan sebuah hadis yang cukup panjang, di dalamnya disebutkan tentang bilangan tangga, para malaikat, dan lain sebagainya yang tidak diingkari lagi sesuatu pun darinya bagi kekuasaan Allah, jika riwayat ini sahih.

Imam Baihaqi mengatakan bahwa kisah yang telah kami sebutkan sebelumnya—yaitu dalam hadis Abu Harun Al-Abdi yang mengukuhkan peristiwa Isra dan Mi’raj — merupakan hal yang cukup memuaskan.

Menurut kami, hadis ini telah diriwayatkan secara mursal oleh bukan seorang saja dari kalangan para tabi’in dan para imam ahli tafsir. Semoga rahmat Allah terlimpahkan kepada mereka semua.

Riwayat Siti Aisyah Ummul Mu’minin r.a. Imam Baihaqi mengata­kan, telah menceritakan kepada kami Abu Abdullah Al-Hafiz, telah men­ceritakan kepadaku Makram ibnu Ahmad Al-Qadi, telah menceritakan kepadaku Ibrahim ibnu Haisam Al-Bakri, telah menceritakan kepadaku Muhammad ibnu Kasir As-San’ani, telah menceritakan kepada kami Ma’mar ibnu Rasyid, dari Az-Zuhri, dari Urwah, dari Siti Aisyah yang telah menceritakan bahwa ketika Rasulullah Saw. menjalani Isra-nya ke Masjidil Aqsa, pagi harinya beliau Saw. menceritakan hal tersebut kepada orang-orang. Maka murtadlah sebagian dari orang yang tadinya mereka beriman dan percaya kepada Nabi Saw. Kemudian mereka me­ngadukan hal tersebut kepada Abu Bakar. Mereka mengatakan kepada Abu Bakar, “Bagaimanakah pendapatmu tentang temanmu ini? Dia men­duga bahwa dirinya telah menjalani Isra tadi malam ke Baitul Maqdis.” Abu Bakar balik bertanya, “Apakah benar dia mengatakan hal itu?” Mereka menjawab, “Ya.” Abu Bakar berkata, “Jika dia memang menga­takannya, sesungguhnya dia benar.” Mereka berkata, “Apakah kamu percaya kepadanya bahwa dia menjalani Isra (perjalanan di malam hari) tadi malam ke Baitul Maqdis, lalu kembali sebelum pagi hari?” Abu Bakat menjawab, “Ya.” Sesungguhnya saya benar-benar percaya kepadanya lebih jauh dari itu. Saya percaya kepadanya tentang berita langit (wahyu) yang datang kepadanya, baik di pagi hari atau di petang hari.” Sejak saat itu sahabat Abu Bakar r.a. dijuluki dengan gelar “As-Siddiq.”

Riwayat Ummu Hani’ binti Abu Talib. Muhammad ibnu Ishaq, telah menceritakan kepadaku Muhammad ibnu Muhammad As-Sa-ib Al-Ka!bi dari Abu Saleh Badzan dari Ummu Hani’ binti Abu Talib tentang perja­lanan Isra Rasulullah Saw., bahwa Ummu Hani’ pernah mengatakan, “Tiadalah Rasulullah Saw. melakukan perjalanan Isra-nya melainkan ketika berada di dalam rumahku. Malam itu beliau berada di dalam rumahku. Sesudah mengerjakan salat Isya, beliau tidur, dan kamipun tidur pula. Sebelum waktu subuh tiba Rasulullah Saw. membangunkan kami, dan setelah kami salat Subuh bersamanya ia bersabda, ‘Hai Ummu Hani’, sesungguhnya saya telah mengerjakan salat Isya bersama kalian di lembah (tempat tinggal kalian) ini. Kemudian saya datang ke Baitul Maqdis dan melakukan salat di dalamnya, setelah itu saya salat Subuh bersama kalian sekarang ini seperti apa yang kamu lihat’.” Akan tetapi, dalam sanad hadis ini terdapat Al-Kalbi, dia orangnya berpredikan matruk (tidak terpakai hadisnya) sama sekali. Tetapi Abu Ya’la di dalam kitab musnadnya telah meriwayatkan dari Muhammad ibnu Ismail Al-Ansari, dari Damrah ibnu Rabi’ah, dari Yahya ibnu Abu Amr Asy-Syaibani, dari Abu Saleh, dari Ummu Hani’ sebuah hadis yang lebih panjang daripada teks hadis di atas.

Al-Hafiz Abdul Qasim At-Tabrani telah meriwayatkan melalui hadis Abdul A’la ibnu Abul Musawir dari Ikrimah, dari Ummu Hani’ yang mengatakan bahwa Rasulullah Saw. menginap di rumahnya saat beliau menjalani Isra-nya. Di suatu saat pada malam itu saya merasa kehilangan beliau, perasaan inilah yang membuat saya tidak dapat tidur karena takut bila ada sebagian orang Quraisy yang mencelakakannya. Rasulullah Saw. bersabda, “Sesungguhnya Jibril a.s. datang kepadaku, lalu memegang tanganku dan mengajakku keluar, tiba-tiba di depan pintu rumah terdapat seekor hewan lebih kecil daripada begal, tetapi lebih besar dari keledai. Jibril menaikkan aku ke atas punggungnya, lalu membawaku pergi sehingga sampailah aku di Baitul Maqdis. Jibril mengenalkan Ibrahim a.s. kepadaku; orang yang paling mirip bentuk dan akhlaknya dengan dia adalah aku sendiri. Jibril memperkenalkan Musa kepadaku, dia adalah orang yang hitam manis, bertubuh tinggi, berambut keriting; saya melihatnya mirip dengan seorang lelaki dari kalangan kabilah Azd Sanu-ah. Lalu Jibril memperkenalkan Isa putra Maryam kepadaku. dia adalah seorang yang berperawakan sedang, berkulit putih kemerah-merahan; saya melihatnya mirip dengan Urwah ibnu Mas’ud As-Saqafi. Dan Jibril memperlihatkan Dajjal kepadaku, dia adalah orang yang mata kanannya buta; saya melihatnya mirip dengan Qatn ibnu Abdul Uzza. Sekarang aku akan keluar menuju kepada orang-orang Quraisy untuk menyampaikan apa yang saya alami tadi malam.” Ummu Hani’ mengatakan bahwa ia mengambil baju Nabi Saw. dan berkata, “Saya ingatkan engkau, bahwa sesungguhnya engkau akan men­jumpai suatu kaum yang tidak percaya kepadamu dan ingkar terhadap ucapanmu, maka saya merasa khawatir bila mereka mencelakakanmu.” Ummu Hani’ melanjutkan kisahnya, “Rasulullah Saw. mengambil bajunya dari tanganku, lalu ia keluar menuju kepada mereka. Ketika Nabi Saw. sampai kepada mereka, mereka sedang duduk-duduk, lalu Nabi Saw. menceritakan kepada mereka seperti apa yang telah diceritakan kepadaku.” Jubair ibnu Mufim bangkit dan berkata, “Hai Muhammad, jikalau engkau ingin tetap mempunyai kedudukan seperti keadaanmu sebelum ini, tentulah engkau tidak akan mengatakan hal-hal seperti itu di hadapan kami.” Seorang lelaki dari kalangan hadirin yang ada bangkit dan bertanya, “Hai Muhammad, apakah engkau bersua dengan kafilah kami di tempat anu dan anu?” Nabi Saw. menjawab, “Ya, demi Allah, saya bersua dengan mereka di saat mereka kehilangan seekor untanya dan mereka sibuk mencari­nya.” Lelaki itu bertanya lagi, “Apakah engkau bersua pula dengan kafilah Bani Fulan?” Nabi Saw. menjawab, “Ya, saya jumpai mereka di tempat anu sedangkan seekor unta merah mereka patah kakinya. Mereka mem­punyai semangkuk air, lalu unta itu meminumnya sampai habis.” Mereka berkata, “Kalau demikian, ceritakanlah kepada kami per­lengkapannya dan berapa orang penggembalakah yang ada padanya?” Nabi Saw. berkata (kepada dirinya sendiri), “Saya tidak sempat menghitungnya dengan teliti.” Nabi Saw. berdiri, lalu kafilah itu ditampakkan di hadapan Nabi Saw. dan Nabi Saw. menghitungnya sehingga beliau mengetahui jumlah penggembala yang ada padanya. Sesudah itu Nabi Saw. datang kepada orang-orang Quraisy dan bersabda kepada mereka, “Kalian telah menanyakan kepadaku tentang unta milik Bani Fulan? Unta itu berciri khas anu dan anu, padanya ada penggembalanya, yaitu si Fulan dan si Anu. Dan kalian menanyakan kepadaku tentang unta Bani Fulan? Ciri khasnya ialah anu dan anu, penggembalanya ialah Ibnu Abu Quhafah, si Fulan dan si Anu; kafilah tersebut akan sampai kepada kalian besok pada siang hari di celah Saniyyah.” Maka mereka menunggu di celah Saniyyah untuk membuktikan kebenaran dari apa yang dikatakan oleh Nabi Saw. kepada mereka. Ternyata kafilah itu datang dan mereka menanyakan kepada orang-orang yang ada dalam kafilah itu, “Apakah unta kalian ada yang hilang (lari)?” Orang-orang kafilah menjawab, “Ya.” Mereka menanyakan kepada kafilah lainnya, “Apakah unta merah kalian ada yang patah kakinya?” Mereka menjawab, “Ya.” Mereka bertanya, “Apakah kalian mempunyai mangkuk besar?” Abu Bakar (Abu Quhafah) berkata, “Saya, demi Allah, telah menaruhnya dan tiada seorang pun yang meminum air yang ada padanya, dan tiada seorang pun yang menumpahkannya ke tanah.” Maka Abu Bakar percaya pada kisah Nabi Saw. dan beriman kepadanya. Sejak saat itu Abu Bakar diberi julukan “As-Siddiq”.

Tulisan ini dimuat dalam Tafsir Ibnu Katsir.