Jalur lain, Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Hisyam ibnu Ammar, telah menceritakan kepada kami Khalid ibnu Yazid ibnu Abu Malik, dari ayahnya dari Anas ibnu Malik r.a. yang menceritakan bahwa di malam Rasulullah Saw. menjalani Isra ke Baitul Maqdis, Malaikat Jibril datang kepadanya dengan membawa seekor hewan yang lebih besar dari keledai, tetapi lebih kecil dari begal, lalu Malaikat Jibril menaikkan Nabi Saw. ke atas hewan itu. Kedua kaki depan hewan itu melangkah sejauh pandangan matanya. Setelah sampai di Baitul Maqdis dan tiba di suatu tempat yang diberi nama Bab Muhammad (Pintu Muhammad), lalu menuju ke sebuah batu yang ada di tempat itu, maka Jibril menusuknya dengan jari telunjuknya hingga berlubang, dan hewan itu ditambatkan di tempat tersebut. Setelah itu Nabi Saw. menaiki tangga masjid. Ketika keduanya telah beradadi serambi masjid, Malaikat Jibril berkata, “Hai Muhammad, tidakkah engkau meminta kepada Tuhanmu agar Dia memperlihatkan kepadamu bidadari-bidadari yang bermata jelita?” Nabi Saw. menjawab, “Ya, saya akan memohon itu kepada-Nya.” Malaikat Jibril berkata, “Kalau begitu, berangkatlah dan temuilah wanita-wanita itu serta ucapkanlah salam kepada mereka.” Saat itu para bidadari sedang duduk-duduk di sebelah kiri Sakhrah. Maka saya datang menemui mereka serta mengucapkan salam kepada mereka, dan mereka membalas salamku. Lalu saya bertanya, “Siapakah kalian ini?” Mereka menjawab, “Kami adalah bidadari-bidadari yang baik-baik lagi cantik-cantik, istri-istri kaum yang bertakwa, yang bersih dari noda-noda dosa; mereka bermukim (di dalam surga) dan tidak akan pergi (darinya), dan mereka hidup kekal dan tidak akan mati (selama-lamanya).” Kemudian saya pergi. Tidak lama kemudian saya melihat banyak orang telah berkumpul, lalu diserukanlah azan dan sesudahnya diserukan iqamah untuk salat. Maka kami berdiri dalam keadaan bersaf, menunggu orang yang akan mengimami kami. Ternyata Jibril a.s. memegang tanganku, lalu mengajukanku ke depan menjadi imam. Maka saya salat bersama mereka. Setelah selesai salat, Jibril bertanya kepadaku, “Hai Muhammad, tahukah kamu siapakah orang-orang yang salat di belakangmu tadi?” Nabi Saw. menjawab, “Tidak tahu.” Jibril berkata, “Orang-orang yang tadi salat di belakangmu adalah semua nabi yang diutus oleh Allah Swt.” Kemudian Jibril memegang tanganku dan membawaku naik ke langit. Setelah sampai di pintu langit, Jibril mengetuk pintunya, dan mereka (para malaikat penjaga langit) berkata, “Siapakah engkau?” Jibril menjawab, “Saya Jibril.” Mereka bertanya, “Siapakah orang yang bersamamu?” Jibril menjawab, “Muhammad.” Mereka bertanya, “Apakah dia telah diperintahkan untuk menghadap kepada-Nya?” Jibril menjawab, “Ya.” Pintu langit dibukakan untuknya, dan mereka berkata, “Marhaban (selamat datang) untukmu dan untuk orang yang bersamamu.” Setelah Nabi Saw. berada di langit yang terdekat, tiba-tiba padanya terdapat Adam. Maka Jibril berkata kepadaku, “Hai Muhammad, tidak kali engkau bersalam kepada ayahmu, Adam?” Nabi Saw. menjawab, “Tentu saja saya mau bersalam kepadanya.” Maka saya datang kepada Adam dan mengucapkan salam kepadanya. Ia pun menjawab salamku dan berkata, “Selamat datang anakku yang saleh, Nabi yang saleh.” Kemudian Jibril membawaku naik ke langit yang kedua. Sesampainya di langit kedua itu Jibril meminta izin untuk masuk, maka para penjaganya berkata, “Siapakah kamu?” Jibril menjawab, “Jibril.” Mereka bertanya, “Siapakah orang yang bersamamu?” Jibril menjawab, “Muhammad.” Mereka bertanya, “Apakah dia telah diperintahkan untuk menghadap kepada-Nya?” Jibril menjawab, “Ya.” Maka dibukakanlah pintu langit yang kedua untuknya, dan mereka menyambutnya dengan ucapan, “Selamat datang untukmu dan untuk orang yang bersamamu.” Tiba-tiba pada langit yang kedua terdapat Isa dan anak bibinya, yaitu Yahya a.s. Jibril membawaku naik ke langit yang ketiga, lalu ia meminta izin untuk masuk. Mereka bertanya, “Siapakah kamu?” Jibril menjawab, “Jibril.” Mereka bertanya, “Siapakah orang yang bersamamu?” Jibril menjawab, “Muhammad.” Mereka bertanya, “Apakah dia telah diperintahkan untuk menghadap kepada-Nya” Jibril menjawab, “Ya.” Maka mereka membukakan pintu langit yang ketiga untuknya dan berkata, “Selamat datang untukmu dan untuk orang yang bersamamu.” Dan tiba-tiba di langit yang ketiga terdapat Yusuf a.s: Kemudian Jibril membawaku naik ke langit yang keempat, lalu ia meminta izin untuk masuk. Para penjaganya bertanya, “Siapakah kamu?” Ia menjawab, “Saya Jibril.” Mereka bertanya, “Siapakah orang yang bersamamu?” Ia menjawab, “Muhammad.” Mereka bertanya, “Apakah dia telah diperintahkan untuk menghadap kepada-Nya?” Jibril menjawab, “Ya.” Maka mereka membukakan pintu langit yang keempat untuknya, lalu mengatakan, “Selamat datang untukmu dan untuk orang yang bersamamu.” Tiba-tiba di langit yang keempat terdapat Nabi Idris a.s. Jibril membawaku naik ke langit yang kelima, dan ia mengetuk pintunya, maka para penjaganya bertanya, “Siapakah kamu?” Ia menjawab, “Saya Jibril.” Mereka bertanya, “Siapakah orang yang bersamamu?” Ia menjawab, “Muhammad.” Mereka bertanya, “Apakah dia telah diutus untuk menghadap kepada-Nya?” Jibril menjawab, “Ya.” Lalu mereka membukakan pintu langit yang kelima untuknya, dan mereka mengatakan, “Selamat datang untukmu dan untuk orang yang bersamamu.” Dan ternyata di langit yang kelima terdapat Nabi Harun a.s. Jibril membawaku naik ke langit yang keenam, lalu ia meminta izin untuk masuk, maka para penjaganya bertanya, “Siapakah kamu?” Jibril menjawab, “Saya Jibril.” Mereka bertanya, “Siapakah orang yang bersamamu?” Jibril menjawab, “Muhammad.” Mereka bertanya, “Apakah dia telah diutus untuk menghadap kepada-Nya?” Jibril menjawab, “Ya.” Maka mereka membukakan pintu langit yang keenam untuknya dan mengatakan, “Selamat datang untukmu dan untuk orang yang bersamamu.” Dan ternyata di langit yang keenam terdapat Nabi Musa a.s. Jibril membawaku naik ke langit yang ketujuh, lalu ia meminta izin untuk masuk. Maka para penjaganya bertanya, “Siapakah kamu?” Jibril menjawab, “Saya J ibril.” Mereka bertanya, “Siapakah orang yang bersamamu?” Jibril menjawab, “Muhammad.” Mereka bertanya, “Apakah dia telah diutus untuk menghadap kepada-Nya?” Jibril menjawab.”Ya.” Maka mereka membukakan langit yang ketujuh untuknya, dan mengatakan, “Selamat datang untukmu dan untuk orang yang bersamamu.” Tiba-tiba di dalamnya terdapat Nabi Ibrahim a.s. Maka Jibril berkata, “Hai Muhammad, tidakkah engkau ucapkan salam kepada ayahmu Ibrahim?” Nabi Saw. menjawab, “Ya, saya akan mengucapkan salam kepadanya.” Maka saya datang kepadanya dan mengucapkan salam kepadanya. Dia pun menjawab salamku seraya berkata, “Selamat datang anakku yang saleh, Nabi yang saleh.” Selanjutnya Jibril membawaku pergi ke atas permukaan langit yang ketujuh, hingga sampailah kami ke suatu sungai yang di tepinya terdapat kemah dari mutiara, yaqut serta zabarjad, dan di atasnya terdapat burung-burung hijau yang bentuknya beium pernah saya melihat burung seindah itu. Lalu saya bertanya, “Hai Jibril, sesungguhnya burung ini benar-benar sangat indah.” Jibril menjawab, “Orang yang memakannya jauh lebih indah dari itu.” Kemudian Jibril berkata, “Hai Muhammad, tahukan kamu sungai apakah ini?” Saya menjawab, “Tidak tahu.” Jibril mengatakan, “Ini adalah Sungai Kausar yang diberikan Allah kepadamu.” Dan ternyata di sungai itu terdapat banyak wadah yang terbuat dari emas dan perak. Sungai itu mengalir di lembah yang terdiri dari yaqut dan zamrud, airnya lebih putih daripada air susu. Lalu saya mengambil sebuah wadah dari wadah emas yang ada, dan saya mengambil air sungai itu, lalu saya meminumnya. Tiba-tiba terasa olehku airnya lebih manis daripada madu, dan baunya lebih harum daripada minyak kesturi. Kemudian Jibril membawaku pergi hingga sampai di sebuah pohon, lalu diriku diselimuti oleh awan yang padanya terdapat semua warna. Maka Malikat Jibril mendorongku, dan aku tersungkur bersujud kepada Allah Swt. Allah berfirman kepadaku, “Hai Muhammad, sesungguhnya sejak Aku menciptakan langit dan bumi, Aku telah memfardukan atas kamu dan umatmu lima puluh kali salat. Maka kerjakanlah lima puluh kali salat itu olehmu dan umatmu.” Setelah awan itu lenyap dariku, maka Jibril menarik tanganku dan membawaku dengan cepat hingga sampai ke tempat Nabi Ibrahim, tetapi Ibrahim tidak mengucapkan sepatah kata pun kepadaku. Dan ketika sampai di tempat Musa a.s., ia bertanya, “Hai Muhammad, apakah yang telah engkau lakukan?” Saya menjawab, “Telah difardukan atas diriku dan umatku lima puluh kali salat.” Musa menjawab, “Engkau tidak akan mampu mengerjakannya, begitu pula umatmu. Sekarang kembalilah kepada Tuhanmu dan mintalah kepada-Nya agar memberikan keringanan bagimu.” Maka saya kembali dengan cepat hingga sampailah di sebuah pohon (Sidratul Muntaha), lalu awan menyelimutiku, dan Jibril mendorongku. Lalu aku tersungkur bersujud dan berkata, “Wahai Tuhanku, sesungguhnya Engkau telah memfardukan atas diriku dan umatku lima puluh kali salat, sedangkan aku tidak akan mampu mengerjakannya, begitu pula umatku. Maka berikanlah keringanan bagi kami.” Allah berfirman, “Aku berikan keringanan sepuluhnya dari kalian.” Setelah awan itu lenyap dariku, Jibril menarik tanganku dan membawaku pergi dengan cepat hingga sampailah aku di tempat Nabi Ibrahim; ia tidak mengatakan sepatah kata pun kepadaku. Kemudian sampailah aku di tempat Musa a.s., dan ia berkata, “Apakah yang telah dilakukan terhadapmu, hai Muhammad?” Saya menjawab, “Tuhanku telah meringankan sepuluhnya dariku.” Musa berkata, “Empat puluh kali salat itu tidak akan kuat kamu lakukan, begitu pula umatmu. Maka kembalilah kamu kepada Tuhanmu dan mintalah keringanan dari-Nya buat kalian.” Perawi melanjutkan kisahnya dalam hadis ini hingga sampai pada pembahasan salat lima waktu. Yakni salat lima waktu sama pahalanya dengan salat lima puluh kali. Kemudian Musa memerintahkan kepada Nabi Saw. agar kembali menghadap kepada Allah Swt. untuk meminta keringanan dari-Nya lebih dari itu. Maka saya (Nabi Saw.) bersabda, “Sesungguhnya saya telah merasa malu kepada-Nya.” Kemudian Nabi Saw. turun, dan beliau Saw. bertanya kepada Malaikat Jibril, “Mengapa saya tidak sekali-kali bersua dengan penghuni langit melainkan mereka mengucapkan selamat kepadaku seraya tersenyum selain seorang lelaki. Ketika saya mengucapkan salam kepadanya, ia menjawab salamku, tetapi tidak tersenyum kepadaku?” Malaikat Jibril menjawab, “Hai Muhammad, dia adalah penjaga neraka Jahannam. Dia tidak pernah tertawa sejak diciptakan. Seandainya dia pernah tertawa kepada seseorang, tentulah dia akan tertawa (tersenyum) kepadamu.” Kemudian Nabi Saw. pergi menaiki kendaraannya. Ketika berada di tengah jalan, Nabi Saw. bersua dengan kafilah orang-orang Quraisy yang membawa bahan makanan pokok. Dalam iringan kafilah itu terdapat seekor unta jantan yang membawa dua peti barang, yang satu berwarna hitam, sedangkan yang lainnya berwarna putih. Ketika Nabi Saw. berada lurus di atas unta itu, maka unta tersebut menjadi larat dan menjauh darinya seraya berbalik hingga unta itu terjatuh dan patah kakinya. Nabi Saw. melanjutkan perjalanannya, dan pada keesokan harinya, beliau menceritakan semuanya (kepada semua orang). Ketika kaum musyrik mendengar kisahnya, maka mereka datang kepada Abu Bakar dan berkata kepadanya, “Hai Abu Bakar, bagaimanakah pendapatmu tentang temanmu (yakni Nabi Saw.)? Dia menceritakan bahwa tadi malam dia mendatangi suatu tempat yang jauhnya selama perjalanan satu bulan, lalu ia kembali darinya di malam yang sama.” Abu Bakar r.a. menjawab, “Jika dia mengatakannya, sesungguhnya dia benar, dan sesungguhnya kami benar-benar percaya kepadanya lebih jauh dari itu, sesungguhnya kami percaya kepadanya akan berita langit (yang dibawanya).” Orang-orang musyrik berkata kepada Rasulullah Saw., “Apakah bukti kebenaran dari apa yang kamu katakan itu?” Nabi Saw. menjawab, “Saya melewati kafilah orang-orang Quraisy yang sedang berada di tempat anu dan anu, lalu ada seekor unta milik mereka yang larat dan berbalik; dan dalam iringan kafilah itu terdapat seekor unta yang membawa dua buah peti barang, yang satunya berwarna hitam, sedangkan yang lainnya berwarna putih; lalu unta itu jatuh dan patah kakinya.” Ketika iringan kafilah itu datang, mereka bertanya kepada iringan kafilah tersebut. Lalu iringan kafilah tersebut menceritakan kepada mereka kejadian yang dialaminya, persis seperti apa yang diceritakan oleh Rasulullah Saw. kepada mereka. Sejak saat itu Abu Bakar dijuluki dengan gelar “A§-Siddiq”. Mereka kembali bertanya kepada Nabi Saw., “Apakah di antara orang-orang yang kamu jumpai terdapat Musa dan Isa?” Nabi Saw. menjawab, “Ya.” Mereka berkata, “Kalau demikian, gambarkanlah rupa mereka kepada kami.” Nabi Saw. menjawab: Ya. Musa adalah orang yang berkulit hitam manis, seakan-akan bentuknya seperti seorang lelaki dari kalangan kabilah Azd Amman. Adapun Isa, dia adalah seorang lelaki yang tingginya sedang, berambut ikal, sedangkan warna kulitnya semu kemerah-merahan, seakan-akan mutiara berjatuhan dari rambutnya.