Imam Baihaqi mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ahmad ibnu Hasan Al-Qadi, telah menceritakan kepada kami Abul Abbas Al-Asam, telah menceritakan kepada kami Al-Abbas ibnu Muhammad Ad-Dauri, telah menceritakan kepada kami Ya’qub ibnu Ibrahim, telah menceritakan kepada kami ayahku, dari Saleh ibnu Kaisan, dari Ibnu Syihab yang mengatakan bahwa ia pernah mendengar Sa’id ibnul Musayyab mengatakan, “Sesungguhnya ketika Rasulullah Saw. sampai di Baitul Maqdis, beliau bersua dengan Nabi Ibrahim, Nabi Musa, dan Nabi Isa di dalamnya. Dan sesungguhnya didatangkan kepada Nabi Saw. dua buah wadah, yang satu berisikan air susu, sedangkan yang lainnya berisikan khamr; lalu Nabi Saw. memandang kedua wadah itu dan mengambil wadah yang berisikan air susu. Maka Malaikat Jibril berkata, ‘Engkau benar, engkau mendapat petunjuk memilih fitrah, seandainya engkau memilih khamf, tentulah umatmu akan sesat’.” Kemudian Rasulullah Saw. kembali ke Mekah dan menceritakan kepada orang-orang bahwa ia baru saja menjalani Isra, maka banyak orang yang tadinya ikut salat bersama beliau mendapat ujian berat.
Ibnu Syihab mengatakan, Abu Salamah ibnu Abdur Rahman mengatakan bahwa sejumlah orang-orang Quraisy bersiap-siap menuju ke rumah Abu Bakar—atau ia mengatakan kalimat yang serupa—. Lalu mereka bertanya, “Bagaimanakah pendapatmu tentang temanmu (yakni Nabi Saw.)? Dia menduga bahwa dirinya telah mengunjungi Baitul Maqdis dan kembali ke Mekah dalam satu malam saja.”
Sahabat Abu Bakar balik bertanya, “Apakah dia telah mengatakan hal itu?” Mereka menjawab, “Ya, benar.” Maka Abu Bakar berkata, “Saya bersaksi bahwa sesungguhnya jika dia benar-benar mengatakan hal itu, sungguh dia adalah benar.” Mereka bertanya, “Apakah kamu percaya, sekalipun dia mengatakan bahwa dirinya datang ke negeri Syam, lalu kembali ke Mekah dalam satu malam sebelum pagi hari tiba?” Sahabat Abu Bakar menjawab, “Ya, saya percaya kepadanya lebih jauh dari itu. Saya percaya kepadanya akan berita dari langit.”
Abu Salamah mengatakan bahwa karena peristiwa tersebut, maka Abu Bakar dijuluki dengan panggilan ” As-Siddiq”.
Abu Salamah mengatakan bahwa ia pernah mendengar Jabir ibnu Abdullah r.a. menceritakan hadis berikut, bahwa ia pernah mendengar Rasulullah Saw. bersabda: Ketika orang-orang Ouraisy mendustakan aku sehubungan dengan peristiwa Israku ke Baitul Maqdis. aku berdiri di Hijir (Ismail) dan Allah menampakkan kepadaku Baitul Maqdis, maka aku ceritakan kepada mereka (orang-orang puraisy) ciri-ciri khas Baitul Maqdis seraya memandang ke arah gambaran yang ditampilkan itu.
Riwayat Huzaifah ibnul Yaman r.a. diketengahkan oleh Imam Ahmad; telah menceritakan kepada kami Abun Nadr. telah menceritakan kepada kami Sulaiman, dari Syaiban, dari Asim, dari Zur ibnu Hubaisy yang mengatakan bahwa ia datang kepada Huzaifah ibnul Yaman r.a. yang sedang menceritakan hadis tentang Isra yang dilakukan oleh Nabi Muhammad Saw. seperti berikut. Maka keduanya berangkat hingga sampai di Baitul Maqdis, tetapi keduanya tidak memasukinya. Saya (Zur ibnu Hubaisy) menyangkal, “Tidak, bahkan Rasulullah Saw. memasukinya di malam itu dan melakukan salat di dalamnya.” Huzaifah ibnul Yaman r.a. bertanya, “Siapakah namamu, hai orang botak?” Saya kenal roman mukamu, tetapi saya tidak tahu namamu.” Saya jawab, “Aku adalah Zur ibnu Hubaisy.” Huzaifah r.a. berkata, “Apakah alasanmu hingga mengatakan bahwa Rasulullah Saw. melakukan salat di Baitul Maqdis pada malam itu?” Saya menjawab, “Al-Qur’an-lah yang mengatakannya kepadaku.” Huzaifah r.a. berkata, “Barang siapa yang berbicara dengan memakai dalil Al-Qur’an, berarti dia orang yang menang. Bacakanlah ayat itu!” Maka saya membaca firman Allah Swt.: Mahasuci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa. (Al-Isra: 1) Huzaifah bertanya, “Hai orang yang botak, apakah kamu menjumpai di dalam ayat itu keterangan yang menyebutkan bahwa Rasulullah Saw. mengerjakan salat di dalamnya?” Saya menjawab, ‘Tidak.” Huzaifah berkata, “Demi Allah, Rasulullah Saw. sama sekali tidak melakukan salat di dalamnya malam itu. Seandainya beliau mengerjakan salat di dalamnya, tentulah di wajibkan atas kalian melakukan salat di dalamnya, sebagaimana di wajibkan atas kalian melakukan salat di Baitul’ Atiq (Masjidil Haram). Demi Allah, keduanya tidak beranjak dari hewan Buraq hingga dibukakan bagi keduanya semua pintu langit, maka keduanya dapat melihat surga dan neraka serta semua yang dijanjikan di akhirat. Sesudah itu keduanya kembali ke tempat semula mereka berangkat.” Sesudah itu Huzaifah tertawa sehingga kelihatan gigi serinya. Huzaifah berkata, “Kalian menceritakan kepadaku bahwa Jibril menambatkan Buraq agar tidak lari, padahal sesungguhnya Buraq telah ditundukkan buat Nabi Saw. oleh Tuhan Yang Maha Mengetahui yang gaib dan yang nyata.” Saya bertanya, “Hai Abu Abdullah, seperti apakah hewan Buraq itu?” Huzaifah menjawab, “Hewan yang berwarna putih tingginya sekian, sekali langkah menempuh jarak sejauh mata memandang.”
Hadis ini diriwayatkan pula oleh Abu Daud At-Tayalisi, dari Hammad ibnu Salamah, dari Asim dengan sanad yang sama.
Imam Turmuzi dan Imam Nasai telah meriwayatkannya di dalam kitab tafsir melalui hadis Asim (Ibnu Abun Nujud) dengan sanad yang sama. Imam Turmuzi selanjutnya mengatakan bahwa hadis ini hasan.
Pendapat yang dikemukakan oleh Huzaifah r.a. ini bertentangan dengan apa yang dikatakan oleh lainnya dari Rasulullah Saw. yang mengatakan bahwa Buraq ditambatkan di halqah (tempat yang berbentuk lingkaran), dan bahwa Rasulullah Saw. melakukan salat di Baitul Maqdis, seperti yang telah di sebutkan sebelumnya. Keterangan yang telah disebutkan sebelumnya lebih didahulukan daripada pendapat Huzaifah ini.
Riwayat Abu Sa’id ibnu Malik ibnu Sinan Al-Khudri diketengahkan oleh Al-Hafiz Abu Bakar Al-Baihaqi di dalam kitab Dalailun Nubuwwah-nya. Disebutkan bahwa telah menceritakan kepada kami Abu Abdullah Muhammad ibnu Abdullah Al-Hafiz, telah menceritakan kepada kami Abul Abbas Muhammad ibnu Ya’qub, telah menceritakan kepada kami Abu Bakar Yahya ibnu Abu Talib, telah menceritakan kepada kami Abdul Wahhab ibnu ‘Ata, telah menceritakan kepada kami Abu Muhammad Rasyid Al-Hammani, dari Abu Harun Al-Abdi (yang berpredikat daif, menurut pendapat yang lain dicap pendusta), dari Abu Sa’id Al-Khudri r.a., dari “Nabi Saw. Disebutkan bahwa para sahabat berkata kepada beliau Saw., “Wahai Rasulullah, ceritakanlah kepada kami tentang perjalanan Isra yang telah engkau alami itu.” Yang dimaksudkan adalah perincian dari apa yang disebutkan oleh firman-Nya: Mahasuci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam. (Al-Isra: 1), hingga akhir ayat. Maka Nabi saw. menceritakan kepada mereka, bahwa ketika saya sedang tidur pada suatu malam di Masjidil Haram, tiba-tiba ada seseorang datang kepadaku dan membangunkanku, tetapi saya tidak melihat apa-apa. Dan tiba-tiba saya melihat sesosok bayangan, maka bayangan itu saya ikuti hingga saya keluar dari Masjidil Haram. Tiba-tiba saya melihat seekor hewan yang bentuk dan rupanya mirip dengan hewan kendaraan kalian ini, yakni hewan begal kalian. Hanya, hewan tersebut selalu menggerak-gerakkan kedua daun telinganya; hewan itu disebut Buraq. Dahulu hewan Buraq itu merupakan tunggangan para nabi sebelumku. Keistimewaan Buraq ialah sekali langkah dapat menempuh jarak sejauh matanya memandang. Lalu saya mengendarainya. Ketika saya sedang berjalan mengendarainya tiba-tiba ada suara yang memanggilku dari sebelah kanan, “Hai Muhammad, tunggulah saya, saya akan bertanya kepadamu. Hai Muhammad, tunggulah saya, saya akan bertanya kepadamu. Hai Muhammad, tunggulah saya, saya akan bertanya kepadamu.” Tetapi saya tidak menyahutnya, tidak pula mempedulikannya. Ketika saya sedang berjalan mengendarainya, tiba-tiba terdengar suara yang memanggilku dari sebelah kiriku mengatakan, “Hai Muhammad, tunggulah saya, saya akan bertanya kepadamu.” Tetapi saya tidak menyahutnya, tidak pula mempedulikannya. Ketika saya sedang mengendarainya, tiba-tiba saya bersua dengan seorang wanita yang lengannya terbuka memakai segala macam -perhiasan yang diciptakan oleh Allah. Lalu wanita itu berseru, “Hai Muhammad, tunggulah saya, saya akan bertanya kepadamu.” Saya tidak menyahutnya, juga tidak mempedulikannya. Akhirnya sampailah saya di Baitul Maqdis, lalu saya tambatkan hewan kendaraanku di suatu halqah yang para nabi dahulu biasa menambatkan kendaraannya di tempat itu. Lalu Malaikat jibril datang kepadaku dengan membawa dua buah wadah yang salah satunya berisikan khamr, sedangkan yang lainnya berisikan air susu. Maka saya memilih wadah yang berisikan air susu, lalu meminumnya; saya menolak wadah yang berisikan khamr. Maka Jibril berkata, “Engkau telah memilih fitrah. Ingatlah, sesungguhnya jika kamu mengambil wadah yang berisikan khamr, maka tentulah umatmu akan sesat.” Maka saya berkata, “Allahu Akbar, Allahu Akbar.” Jibril berkata, “Saya belum pernah melihat roman mukamu seperti ini.” Dan ketika saya sedang berjalan, tiba-tiba ada suara menyeruku dari sebelah kananku, “Hai Muhammad, tunggulah saya, saya akan bertanya kepadamu.” Tetapi saya tidak menyahutnya, tidak pula mempedulikannya. Jibril berkata,.”Itulah seruan orang Yahudi. Seandainya kamu memenuhi seruannya atau kamu berhenti untuk meladeninya, tentulah umatmu akan menjadi orang-orang Yahudi.” Ketika saya sedang berjalan (dengan mengendarai Buraq), tiba-tiba terdengarlah seruan yang memanggilku dari arah sebelah kiri mengatakan, “Hai Muhammad, tunggulah saya, saya akan bertanya kepadamu.” Tetapi saya tidak menoleh, tidak pula mempedulikannya. Jibril berkata, “Itulah seruan orang-orang Nasrani. Ingatlah, seandainya kamu memenuhi seman itu, tentulah umatmu akan menjadi orang-orang Nasrani.” Ketika saya sedang berjalan (mengendarai Buraq), tiba-tiba saya melihat seorang wanita yang terbuka lengannya memakai segala macam perhiasan yang diciptakan oleh Allah. Wanita itu mengatakan, “Hai Muhammad, tunggulah saya, saya akan bertanya kepadamu.” Tetapi saya tidak menjawabnya, tidak pula mempedulikannya. Jibril berkata, “Itulah dunia. Ingatlah, seandainya kamu memenuhi seruannya atau kamu berhenti meladeninya, tentulah kamu akan memilih dunia daripada akhirat.” Kemudian saya dan Malaikat Jibril masuk ke dalam Baitul Maqdis, lalu masing-masing dari kami mengerjakan salat dua rakaat. Setelah itu didatangkan kepadaku sebuah tangga yang dahulu dipakai naik oleh arwah para nabi. Tiada suatu makhluk pun yang bentuknya lebih indah daripada tangga itu. Tidakkah engkau lihat mayat yang membeliakkan pandangan matanya ke arah langit? Sesungguhnya dia membeliakkan matanya sebelum arwahnya meninggalkannya tiada lain karena ia sangat menginginkan naik ke langit dengan tangga itu. Dia merasa takjub kepada keindahan tangga itu. Lalu saya dan Malaikat Jibril naik ke langit, tiba-tiba saya bersua dengan Malaikat yang dikenal dengan sebutan Ismail, penjaga langit yang terdekat. Di hadapannya terdapat tujuh puluh ribu malaikat, dan tiap-tiap malaikat membawa pasukannya yang terdiri atas seratus ribu malaikat. Allah Swt. telah berfirman: Dan tidak ada yang mengetahui tentara Tuhanmu melainkan Dia sendiri (Al-Muddassir: 31) Kemudian Malaikat Jibril meminta izin masuk dengan mengetuk pintu langit pertama. Maka dikatakan “Siapakah ini?” Jibril menjawab, “Saya Jibril.” Dikatakan, “Siapakah orang yang bersamamu?” Jibril menjawab, “Muhammad.” Dikatakan, “Apakah dia telah diutus untuk menghadap kepada-Nya?” Jibril menjawab, “Ya.” Tiba-tiba saya bersua dengan Adam dalam rupa dan bentuk seperti keadaan semula ketika ia diciptakan oleh Allah Swt. Dan tiba-tiba ditampilkan kepadanya semua arwah anak cucunya yang beriman, maka Adam berkata, “Roh yang baik dan jiwa yang baik, tempatkanlah mereka di ‘Illiyyin (tempat-tempat yang tertinggi di surga).” Kemudian ditampilkan di hadapannya semua arwah keturunannya yang durhaka. Maka Adam berkata, “Roh yang buruk dan jiwa yang buruk, tempatkanlah mereka di Sijjin (tempat yang paling bawah di dasar bumi).” Kemudian saya melanjutkan perjalanan sebentar, tiba-tiba saya melihat banyak piring besar yang padanya terdapat daging segar yang telah dipotong-potong, tetapi tidak ada seorang manusia pun yang mendekatinya. Dan tiba-tiba saya melihat banyak piring besar yang padanya terdapat daging yang sudah basi dan berbau busuk, ternyata banyak orang yang memakannya. Saya bertanya, “Hai Jibril, siapakah mereka itu ?” Jibril menjawab, “Mereka adalah orang-orang dari kalangan umatmu yang suka mengerjakan hal yang haram dan meninggalkan hal yang dihalalkan.” Selanjutnya saya meneruskan perjalanan sebentar, tiba-tiba saya melihat banyak kaum yang memiliki bibir seperti bibir unta. Lalu dibukakan mulut mereka, dan bara api itu dimasukkan ke dalam mulut mereka bingga keluar dari lubang bawah mereka. Saya dengar mereka menjerit meminta tolong kepada Allah Swt. Lalu saya bertanya, “Hai Jibril, siapakah orang-orang itu?” Jibril menjawab bahwa mereka adalah sebagian orang dari kalangan umatku yang disebutkan oleh firman-Nya: Sesungguhnya orang-orang yang memakan harta anak yatim secara aniaya, sebenarnya mereka itu menelan api sepenuh perutnya dan mereka akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala (neraka). (An-Nisa: 10) Kemudian saya melanjutkan perjalanan dalam waktu yang tidak lama, tiba-tiba saya melihat banyak wanita yang digantungkan dengan susunya. Saya mendengar jeritan mereka meminta toiong kepada Allah Swt. Saya bertanya, “Hai Jibril, siapakah wanita-wanita itu?” Jibril menjawab, “Mereka adalah wanita-wanita pezina dari kalangan umatmu.” Kemudian saya melanjutkan perjalanan sebentar, tiba-tiba saya melihat banyak kaum yang perut mereka sebesar-besar rumah, setiap kali seseorang dari mereka hendak bangkit, ia jatuh terjungkal seraya berkata, “‘Ya Allah, janganlah Engkau jadikan hari kiamat.” Mereka berada di jalan yang biasa dilalui oieh keluarga Fir’aun, kemudiandatanglah para pemakai jalan itu, lalu para pejalan menginjak-injak mereka. Saya mendengar mereka merintih meminta tolong kepada Allah. Saya bertanya, “Hai Jibril, siapakah mereka itu?” Jibril menjawab bahwa mereka adalah segolongan dari umatmu yang disebutkan oleh firman-Nya: Orang-orang memakan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan setan lantaran (tekanan) penyakit gila. (Al-Baqarah: 275) Kemudian saya melanjutkan perjalanan sebentar. Tiba-tiba saya melihat banyak kaum yang daging lambung mereka dipotongi, lalu mereka memakannya, seraya dikatakan, “Makanlah olehmu daging ini sebagaimana kamu pernah memakan daging saudaramu!” Saya bertanya, “Hai Jibril, siapakah mereka itu?” Jibril menjawab, “Mereka adalah orang-orang yang suka mengumpat dan mencela dari kalangan umatmu.” Kemudian kami naik ke langit yang kedua, tiba-tiba saya bersua dengan seorang lelaki paling tampan di antara semua makhluk Allah. Ia memiliki ketampanan yang lebih dari semua manusia, rupanya seperti bulan di malam purnama yang sinarnya lebih cerah mengalahkan semua bintang. Saya bertanya, “Hai Jibril, siapakah orang ini?” Jibril menjawab, “Orang ini adalah saudaramu Yusuf a.s.” Ia ditemani oleh sejumlah orang dari kalangan kaumnya. Maka saya mengucapkan salam kepadanya, dan dia menjawab salamku. Lalu kami naik ke langit yang ketiga. Malaikat Jibril mengetuk (pintu)nya. Setelah dibuka, tiba-tiba saya bersua dengan Yahya dan Isa a.s.; keduanya ditemani oleh sejumlah orang dari kalangan kaumnya masing-masing. Maka saya ucapkan salam kepada keduanya, dan keduanya menjawab salamku. Kemudian kami naik ke langit yang keempat, dan tiba-tiba saya bersua dengan Idris a.s. yang telah diangkat oleh Allah di tempat yang tinggi. Maka saya mengucapkan salam kepadanya, dan dia menjawab salamku. Selanjutnya kami naik ke langit yang kelima. Tiba-tiba saya bersua dengan Harun; separo dari jenggotnya berwarna putih, dan separo lainnya berwarna hitam yang panjangnya sampai ke pusarnya. Saya bertanya, “Hai Jibril, siapakah orang ini?” Jibril menjawab, “Orang ini adalah Harun ibnu Imran yang dicintai di kalangan kaumnya.” Ia ditemani oleh sejumlah orang dari kalangan kaumnya, maka saya mengucapkan salam kepadanya, dan dia menjawab salamku. Kemudian kami naik ke langit yang keenam, tiba-tiba saya bersua dengan Musa ibnu Imran, seorang lelaki yang berkulit hitam manis dan berambut lebat. Seandainya dia memakai dua lapis baju gamis, tentulah rambutnya itu dapat menembus sampai ke balik baju gamisnya. Dan tiba-tiba ia berkata.”Orang-orang menduga bahwa saya adalah orangyang lebih dimuliakan oleh Allah lebih dari orang ini, padahal orang ini jauh lebih dimuliakan oleh Allah daripada aku.” Saya bertanya, “Hai Jibril, Siapakah orang ini?” Jibril menjawab, “Orang ini adalah saudaramu Musa ibnu Imran a.s,” Ia ditemani oleh sejumlah besar dari kalangan kaumnya. Saya mengucapkan salam kepadanya, dan dia menjawab salamku. Kemudian kami naik ke langit yang ketujuh, tiba-tiba saya bersua dengan ayah kami (yaitu Nabi Ibrahim, kekasih Allah Yang Maha Pemurah) sedang menyandarkan punggungnya ke Baitul Ma’mur dalam rupa seorang lelaki yang sangat tampan. Saya bertanya, “Hai Jibril, siapakah orang ini?” Jibril menjawab, “Orang ini adalah ayahmu Ibrahim, kekasih Tuhan Yang Maha Pemurah.” Ia ditemani oleh sejumlah orang dari kalangan kaumnya. Maka saya mengucapkan salam kepadanya, dan dia menjawab salamku. Tiba-tiba saya bersua dengan kaumku yang terbagi menjadi dua bagian; sebagian dari mereka memakai pakaian putih seperti putihnya kertas, sedangkan sebagian yang lainnya memakai pakaian kelabu. Lalu saya memasuki Baitul Ma’mur, dan ikut masuk pula bersamaku orang-orang dari kalangan umatku yang berpakaian putih; sedangkan mereka yang berpakaian kelabu dilarang masuk, tetapi mereka dalam keadaan baik-baik saja. Lalu saya dan orang-orang yafig bersamaku melakukan salat di Baitul Ma’mur, sesudah itu saya keluar bersama dengan orang-orang yang mengikutiku. Baitul Ma’mur setiap harinya dimasuki oleh tujuh puluh ribu Malaikat yang mengerjakan salat di dalamnya, mereka tidak kembali lagi kepadanya sampai hari kiamat. Selanjutnya saya diangkat ke Sidratul Muntaha, tiba-tiba semua dedaunannya hampir menutupi umat ini. Dan tiba-tiba padanya terdapat mata air yang mengalir—disebut dengan nama Salsabil—dan mengalirlah darinya dua buah sungai, salah satunya bernama Al-Kausar, sedangkan yang lainnya bernama Sungai Rahmat. Maka saya mandi di dalam sungai itu, dan diampunilah bagiku semua dosaku yang terdahulu dan yang kemudian. Setelah itu saya diangkat naik ke surga, dan saya disambut oleh seorang bidadari pelayan surga. Saya bertanya, “Hai pelayan, milik siapakah kamu?” Ia menjawab, “Saya milik Zaid ibnu Harisah.” Ternyata di dalam surga terdapat banyak sungai dari air yang tiada berubah rasa dan baunya, sungai-sungai dari air susu yang tiada berubah rasanya, sungai-sungai dari khamr yang lezat rasanya bagi peminumnya, dan sungai-sungai dari madu yang disaring. Dan ternyata buah delima surga besarnya bagaikan timba. Tiba-tiba saya melihat burung-burungnya besar-besar seperti unta kalian ini. Ketika kisah Nabi Saw. sampai pada bagian ini, beliau Saw. bersabda: Sesungguhnya Allah Swt. telah menyediakan bagi hamba-ham-ba-Nya yang saleh apa (pahala) yang belum pernah terlihat oleh mata, belum pernah terdengar oleh telinga, dan belum pernah terdetik oleh hati seorang manusia pun. Kemudian saya di bawa ke neraka, tiba-tiba di dalamnya terdapat murka Allah, bentakan, dan pembalasan-Nya. Seandainya dilemparkan batu dan besi ke dalamnya, niscaya api neraka memakan (melebur)nya. Kemudian neraka ditutup dari pandanganku. Kemudian saya diangkat menuju ke Sidratul Muntaha, maka Sidratul Muntaha menyelimutiku; dan jarak antara aku dan Dia seperti jarak antara dua ujung busur panah atau lebih dekat daripada itu. Pada tiap daun dari pohon Sidratul Muntaha di tempati oleh seorang Malaikat. Dan difardukan atas diriku lima puluh kali salat, serta Allah berfirman kepadaku: Bagimu dalam setiap amal kebaikan pahala sepuluh amal kebaikan. Apabila kamu berniat akan mengerjakan amal kebaikan, lalu kamu tidak mengerjakannya, maka dicatatkan bagimu pahala satu kebaikan. Dan jika kamu mengerjakannya, maka dicatatkan bagimu pahala sepuluh kebaikan. Apabila kamu berniat akan mengerjakan keburukan, lalu kamu tidak melaksanakannya, maka tidak dicatatkan sesuatu pun atas dirimu. Dan jika kamu mengerjakan keburukan itu, maka di catatkan atas dirimu satu amal keburukan. Kemudian saya kembali kepada Musa, dan dia bertanya, “Apakah yang telah diperintahkan oleh Tuhanmu buat kamu?” Saya menjawab, “Lima puluh kali salat.” Musa berkata, “Kembalilah kepada Tuhanmu dan mintalah keringanan dari-Nya buat umatmu, karena sesungguhnya umatmu tidak akan kuat mengerjakannya; dan bilamana mereka tidak kuat mengerjakannya, berarti kafirlah mereka.” Maka saya kembali menghadap kepada Tuhanku, dan saya berkata memohon, “Wahai Tuhanku, berikanlah keringanan buatmmatku, karena sesungguhnya umatku adalah umat yang paling lemah.”Maka Allah, menghapuskan sepuluh salat buatku, dan menjadikannya empat puluh salat. Saya terus-menerus bolak-balik antara Musa dan Tuhanku. Setiap kali saya datang kepada Musa, maka Musa mengatakan kepadaku kata-kata yang semisal dengan kata-kata sebelumnya. Hingga akhirnya saya datang menemui Musa, lalu Musa berkata, “Apakah yang diperintahkan kepadamu?” Saya menjawab, “Saya diperintahkan untuk mengerjakan salat sepuluh kali.” Musa berkata, “Kembalilah kepada Tuhanmu, dan mintalah keringanan dari-Nya buat umatmu.”Maka saya kembali menghadap kepada Tuhanku, dan saya memohon kepada-Nya, “Wahai Tuhanku, berilah keringanan bagi umatku, karena sesungguhnya umatku adalah umat yang paling lemah.” Maka Allah menghapuskan yang limanya dan menetapkan yang limanya lagi buatku. Maka di saat itu ada malaikat di Sidratul Muntaha yang menyeruku dengan ucapan, “Kini telah lengkaplah hal yang difardukan oleh-Ku. Aku telah memberikan keringanan kepada hamba-hamba-Ku, dan pada setiap amal kebaikan Aku beri mereka pahala sepuluh kali lipat amal kebaikannya.” Kemudian saya kembali kepada Musa, dan Musa bertanya, “Apakah yang telah diperintahkan oleh Tuhanmu?” Saya menjawab, “Salat lima waktu.” Musa berkata, “Kembalilah kepada Tuhanmu, karena sesungguhnya tiada sesuatu pun yang merepotkan-Nya, dan mintalah keringanan dari-Nya buat umatmu.” Maka saya menjawab, “Aku telah bolal-balik kepada Tuhanku hingga aku merasa malu kepada-Nya.” Kemudian pada keesokan harinya di Mekah, Nabi Saw. menceritakan kepada mereka semua keajaiban yang pernah dilihatnya, “Sesungguhnya tadi malam saya pergi ke Baitul Maqdis dan saya dinaikkan ke langit, lalu saya melihat anu dan anu.” Abu Jahal (yakni Ibnu Hisyam) berkata, “Tidakkah kalian heran terhadap apa yang dikatakan oleh Muhammad ini? Dia menduga bahwa dirinya tadi malam pergi ke Baitul Maqdis, kemudian pada pagi harinya ia ada bersama kita, padahal seseorang dari kita bila memacu kendaraannya pergi ke Baitul Maqdis memerlukaan waktu satu bulan dan perjalanan pulangnya satu bulan. Ini berarti perjalanan dua bulan, tetapi dia mengakuinya dapat menempuhnya dalam satu malam saja.” Maka saya ceritakan kepada mereka tentang kafilah dagang orang-orang Quraisy yang kujumpai saat aku pergi, kulihat mereka sedang di tempat anu dan anu. Kuceritakan pula bahwa ada seekor untanya yang larat. Dan ketika saya dalam perjalanan pulang, kujumpai mereka berada di Al-Aqabah. Maka saya ceritakan kepada mereka bawaan yang dibawa oleh setiap orang dari mereka berikut untanya, bahwa yang dibawanya adalah anu dan anu, sedangkan ciri untanya anu dan anu. Abu Jahal berkata, “Dia memberitakan kepada kita banyak hal.” Seorang lelaki dari kalangan Quraisy berkata, “Saya adalah orang yang paling mengenal Baitul Maqdis tentang ciri khas bangunannya, bentuknya, dan letak jaraknya dari bukit. Jika Muhammad benar, tentu aku akan menceritakan kepada kalian; dan jika dia bohong, maka saya akan menceritakannya pula kepada kalian.” Kemudian lelaki musyrik itu datang dan berkata, “Hai Muhammad, aku adalah orang yang paling mengetahui tentang Baitul Maqdis, maka sebutkanlah kepadaku bagaimanakah ciri bangunan dan bentuknya, dan seberapa jauh letaknya dari bukit!” Maka ditampakkanlah kepada Rasulullah Saw. Baitul Maqdis di tempat beliau berada, lalu beliau memandang ke arahnya sebagaimana seseorang di antara kita memandang rumahnya sendiri dari jarak yang dekat. Lalu Nabi Saw. menjawab si penanya, bahwa bangunan dan bentuk Baitul Maqdis adalah anu dan anu, sedangkan letak jaraknya dari bukit adalah sekian anu. Lelaki itu berkata, “Kamu benar.” Lalu ia kembali menemui teman-temannya dan berkata kepada mereka bahwa Muhammad memang benar dalam ucapannya. Atau ia mengatakan hal yang semakna.