17. SURAT AL-ISRA

Sanad hadis ini garib, dan mereka (para imam ahli hadis) tiada yang mengetengahkannya. Di dalamnya terdapat banyak hal yang garib yaitu pertanyaan para nabi tentang pribadi Nabi Saw. merekalah yang mulai bertanya, kemudian pertanyaan Nabi Saw. tentang mereka sesudah melanjutkan perjalanan. Karena sesungguhnya menurut kitab-kitab sahih—seperti yang telah disebutkan di atas—Jibrillah yang memberitahu Nabi Saw. tentang siapa mereka agar Nabi Saw. mengucapkan salam perkenalannya kepada mereka. Di dalam hadis ini disebutkan bahwa Nabi Saw. bertemu dengan para nabi sebelum memasuki Masjidil Aqsa. Padahal yang benar ialah Nabi Saw. bersua dengan mereka di langit. Kemudian Nabi Saw. turun ke Baitul Maqdis untuk kedua kalinya bersama para nabi, lalu berliau salat mengimami mereka di Baitul Maqdis. Setelah itu Nabi Saw. mengendarai Buraq dan kembali ke Mekah.

Jalur lain diriwayatkan oleh Imam Ahmad. Disebutkan bahwa telah menceritakan kepada kami Hasyim, telah menceritakan kepada kami Al-Awwam, dari Jabalah ibnu Suhaim, dari Marsad ibnu Junadah, dari Ibnu Mas’ud, dari Nabi Saw. yang telah bersabda bahwa di malam men­jalani Isra-nya, beliau bersua dengan Nabi Ibrahim, Nabi Musa, dan Nabi Isa. Lalu mereka berbincang-bincang tentang masalah hari kiamat. Mereka menanyakan kepada Nabi Ibrahim, tetapi Nabi Ibrahim men­jawab, “saya tidak mempunyai pengetahuan tentang hari kiamat.” Mereka menanyakan kepada Nabi Musa, tetapi Nabi Musa berkata, “Saya tidak mempunyai pengetahuan tentang hari kiamat.” Akhirnya mereka mena­nyakan kepada Nabi Isa. Maka Nabi Isa berkata, “Kapan saat hari kia­mat terjadi, “tidak ada seorang pun yang mengetahuinya selain Allah Swt. Tetapi menurut keterangan yang diberikan oleh Tuhanku kepadaku, Dajjal pasti akan muncul.” Nabi Isa melanjutkan kisahnya, “Saat itu saya (Nabi Isa) memegang dua bilah tombak. Manakala Dajjal melihatku, maka leburlah (luluhlah) tubuhnya sebagaimana leburnya timah bila dipanaskan. Allah membinasa­kan Dajjal di saat Dajjal melihatku, sehingga batu-batuan dan pepohonanpun dapat berbicara, ‘Hai Muslim, sesungguhnya di bawahku bersembunyi seorang kafir. Kemarilah, bunuhlah dia.’ Allah membinasakan semua orang kafir sehingga orang-orang (kaum muslim) kembali ke negeri dan tanah airnya masing-masing (dalam keadaan aman). Dan di saat itulah muncul Ya-juj dan Ma-juj mereka datang berbon­dong-bondong dari daerah yang tinggi, falu menginjak-injak negeri manu­sia. Tiada sesuatu daerah pun yang didatanginya melainkan mereka menghancurkannya, dan tiada suatu mata air pun yang mereka lalui me­lainkan airnya habis mereka minum. Kemudian manusia kembali mengadu kepadaku tentang ulah yang dilakukan oleh Ya-juj dan Ma-juj. Maka saya berdoa kepada Allah untuk membinasakan Ya-juj dan Ma-juj. Lalu Allah membinasakan mereka semua dengan mematikan mereka semuanya, sehingga bumi ini berbau busuk karena penuh dengan bangkai mereka. Lalu Allah menurunkan hujan lebat, maka terhanyutlah bangkai me­reka dan terbuang ke laut. Menurut keterangan yang diberikan oleh Allah kepadaku, apabila hal tersebut telah terjadi, maka saat kiamat ibarat se­orang wanita hamil yang sudah saatnya untuk melahirkan. Tiada seorang pun dari kalangan keluarganya yang tahu bilakah dia akan membuat ke­jutan akan kelahiran anaknya, di malam hari ataukah di siang hari.”

Ibnu Majah mengetengahkan hadis ini dari Bandar, dari Yazid ibnu Harun, dari Al-Awwam ibnu Hausyab melalui riwayat Abdur Rahman ibnu Qart (saudara Abdullah ibnu Qart As-Samali). Sa’id ibnu mansur mengatakan, telah menceritakan kepada kami Miskin ibnu Maimun (juru azan masjid Ar-Ramlah), telah menceritakan kepadaku Urwah ibnu Ruwayyim, dari Abdur Rahman ibnu Qart, bahwa Rasulullah Saw. dimalam beliau menjalani Isra-nya dari Masjidil Haram sampai ke Masjidil Aqsa berada di antara Zamzam dan Maqam Ibrahim. Malaikat Jibril berada di sebelah kanannya, dan Malaikat Mikail berada di sebelah kirinya. Kemudian keduanya membawa Nabi Saw. terbang hingga sampai di langit yang tertinggi. Dan dalam per jalanan pulangnya Nabi Saw. men­dengar suara tasbih di langit yang tertinggi bersamaan dengan bacaan tasbih lainnya yang banyak. Langit yang tertinggi bertasbih kepada Tuhan Yang memiliki wibawa karena merasa takut kepada Tuhan yang memiliki kekuasaan Yang Mahatinggi. Mahasuci Tuhan Yang Mahatinggi, tiada yang menandingi-Nya. Mahasuci Dia lagi Mahatinggi.

Dan sehubungan dengan hal ini, nanti kami akan ketengahkan sebuah hadis, yaitu dalam tafsir surat ini pada firman-Nya: Langit yang tujuh bertasbih kepada Allah. (Al-Isra : 44), hing­ga akhir ayat.

Riwayat Umar ibnul Khattab r.a. Iman Ahmad mengatakan, telah men­ceritakan kepada kami Aswad ibnu Amir, telah menceritakan kepada kami Hammad ibnu Salamah, dari Ibnu Sinan, dari Ubaid ibnu Adam Abu Maryam, dan Abu Syu’aib, bahwa ketika Khalifah Umar ibnul Khat­tab r.a. berada di Jabiyah menceritakan tentang kemenangan atas Baitul Maqdis. Hammad ibnu Salamah mengatakan, Abu Salamah telah menga­takan bahwa telah menceritakan kepadaku Abu Sinan, dari Ubaid ibnu Adam yang mengatakan bahwa ia pernah mendengar Umar ibnul Khattab berkata kepada Ka’b, “Utarakanlah pendapatmu, di manakah saya harus mengerjakan salat?” Ka’b menjawab, “Seandainya aku menjadi engkau, tentulah saya akan salat di belakang Sakhrah, maka semua kawa­san Baitul Maqdis berada di hadapanmu.” Umar ibnul Khattab r.a. berkata, “Kalau demikian, berarti saya sama dengan orang-orang Yahudi. Tetapi saya akan melakukan salat di tempat yang pernah Rasulullah Saw. mengerjakan salat padanya.” Lalu Umar maju ke arah kiblat, kemudian salat. Setelah itu ia datang dan menggelarkan kain selendangnya, sebelumnya ia menyapu terlebih dahulu tempat itu dengan selendangnya dan orang-orang meniru perbuatannya. Umar tidak mengagungkan Sakhrah dengan melakukan salat di belakangnya, sedang­kan Sakhrah berada di hadapannya, seperti yang diisyaratkan oleh Ka’b Al-Habar yang berasal dari kaum yang mengagungkannya hingga mereka menjadikan sebagai arah kiblatnya. Tetapi Allah memberinya petunjuk berkat Islam, maka ditunjukkanlah kepada cara yang benar. Karena itulah ketika Ka’b memberikan saran kepadanya, ia berkata, “Kalau begitu, saya seperti orang-orang Yahudi.” Dan Umar tidak menghina tempat itu sebagaimana orang-orang Nasrani menghinanya. Mereka menjadikannya tempat pembuangan sampah, sebab tempat itu adalah kiblat orang-orang Yahudi. Akan tetapi, Khalifah Umar justru membersihkan kotorannya dengan kain selendangnya.

Apa yang dilakukan oleh Umar r.a. ini mirip dengan apa yang disebutkan di dalam kitab Sahih Muslim melalui Abu Marsad Al-Ganawi yang mengatakan bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda: Janganlah kalian duduk di atas kuburan, jangan pula kalian salat dengan menghadap kepadanya.

Riwayat Abu Hurairah sangat panjang, dan di dalamnya terdapat hal yang garib. Imam Abu Ja’far ibnu Jarir mengatakan di dalam tafsir su­rat Subhana (Al-Isra), bahwa telah menceritakan kepada kami Ali ibnu Sahl, telah menceritakan kepada kami Hajjaj, telah menceritakan kepada kami Abu Ja’far Ar-Razi, dari Ar-Rabi’ ibnu Anas, dari Abul Aliyah Ar-Rayyahi, dari Abu Hurairah atau lainnya — di sini Abu Ja’far ragu — sehubungan dengan tafsir firman-Nya: Mahasuci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam. (Al-Isra: 1), hingga akhir ayat. Bahwa Jibril datang kepada Nabi Saw. bersama Mikail. Lalu Jibril berka­ta kepada Mikail, “Berikanlah kepadaku piala berisikan air zamzam untuk membersihkan hatinya dan membedah dadanya.” Maka Malaikat Jibril membelah dadanya dan mencucinya sebanyak tiga kali, sedangkan Malaikat Mikail bolak-balik kepadanya sebanyak tiga kali membawa tiga piala berisikan air zamzam. Jibril membelah dada Nabi Saw. dan membuang bagian yang berisikan kedengkian, lalu meme­nuhinya dengan ilmu, kesabaran, iman, keyakinan, dan Islam. Kemudian membuat cap di antara kedua tulang belikat Nabi Saw, yaitu cap kenabian. Setelah itu diberikan seekor kuda kepada Nabi Saw., dan Nabi Saw. dinaikkan ke atas hewan itu setiap melangkah dapat sampai ke jarak jangkauan matanya memandang, atau lebih jauh dari itu. Nabi Saw. berjalan mengendarainya diiringi oleh Malaikat Jibril. Nabi Saw. sampai di tempat suatu kaum yang bercocok tanam dalam waktu satu hari, kemudian menuainya di hari yang lain. Setiap kali mereka me­nuainya, maka tanaman mereka kembali seperti sediakala. Lalu Nabi Saw. bertanya, “Hai Jibril, siapakah orang ini?” Malaikat Jibril menjawab: Mereka adalah orang-orang yang berjihad di jalan Allah. Amal kebaikan mereka dilipatgandakan menjadi tujuh ratus kali lipat, dan segala sesuatu yang mereka belanjakan Allah mengganti-nya.Allah adalah sebaik-baik pemberi rezeki. Kemudian sampailah Nabi saw. di tempat suatu kaum yang kepala mereka dipecahkan oleh batu-batu besar; setiap kali kepala mereka hancur, maka akan kembali seperti semula. Hal itu dilakukan terhadap mereka tanpa henti-hentinya: Nabi saw. bertanya, “Hai Jibril, siapakah mereka itu?” Malaikat jibril menjawab: Mereka adalah orang-orang yang berat kepala (malas) dalam mengerjakan salat fardu. Lalu sampailah Nabi Saw. ke tempat suatu kaum yang di bagian muka mereka terdapat tandanya, mereka digiring bagaikan unta dan binatang ternak. Mereka makan pohon berduri, pohon Zaqqum, dan batu-batu neraka Jahannam. Maka Nabi Saw. bertanya, “Hai Jibril, siapakah manusia itu?” Jibril menjawab: Mereka adalah orang-orang yang tidak menunaikan zakat harta bendanya. Allah sama sekali tidak menganiaya mereka barang sedikitpun. Dan tiadalah Allah berbuat aniaya terhadap hamba-hamba-Nya. Kemudian sampailah Nabi Saw. ke tempat suatu kaum yang di depannya mereka terdapat daging masak yang ada di dalam kuali, sedangkan di dalam kuali yang lain terdapat daging mentah yang buruk.Tetapi mereka memakan daging mentah yang buruk itu dan membiarkan daging masak yang baik. Nabi Saw. bertanya, “Hai Jibril, siapakah mereka itu?” Malaikat jibril menjawab: Lelaki ini adalah seorang dari kalangan umatmu yang mempu­nyai seorang istri yang halal lagi baik, tetapi ia mendatangi wanita lain yang buruk lalu ia tidur bersamanya hingga pagi hari. Dan (dia adalah) seorang wanita yang mempunyai suami yang halal lagi baik tetapi ia mendatangi lelaki lain yang buruk lalu tidur bersamanya hingga pagi hari. Lalu sampailah Nabi Saw. di suatu tempat yang ada kayunya di tengah jalannya; tiada seorang pun yang melaluinya melainkan bajunya pasti ro­bek, dan tiada sesuatu pun yang melewatinya melainkan pasti menusuk­nya. Nabi Saw. bertanya, “Hai Jibril, apakah ini?” Malaikat Jibril menjawab: Ini adalah perumpamaan sejumlah orang dari kalangan umat­mu yang suka duduk di pinggir jalan, lalu mereka menghalang-halangi (manusia dari)nya (jalan Allah). Kemudian Jibril membacakan firman-Nya: Dan janganlah kalian duduk di tiap-tiap jalan dengan menakut-nakuti dan menghalang-halangi orang yang beriman. (Al-A’raf: 86), hingga akhir ayat. Setelah itu sampailah Nabi Saw. di tempat seorang lelaki yang telah me­ngumpulkan setumpuk besar barang yang tidak mampu diangkatnya, se­dangkan dia terus menambahinya. Maka Nabi Saw. bertanya, “Hai Jibril, apakah ini?” Malaikat Jibril menjawab: Dia adalah seorang lelaki dari kalangan umatmu yang mempu­nyai banyak amanat orang lain yang tidak mampu ditunaikannya sedangkan dia ingin membawanya. Kemudian sampailah Nabi Saw. di tempat suatu kaum yang lisan dan bi­bir mereka dipotong dengan gunting (catut) besi, setiap kali telah digunting, maka lidah itu akan kembali seperti sediakala. Hal itu dilakukan terhadap mereka tanpa henti-hentinya. Nabi Saw. bertanya, “Apakah ini, hai Jibril?” Malaikat Jibril menjawab: Mereka adalah ahli khotbah tukang fitnah. Lalu sampailah Nabi Saw. di suatu tempat yang ada batu kecilnya, yang darinya keluar seekor sapi jantan yang besar. Lalu sapi jantan itu bermak­sud kembali ke tempat ia keluar, tetapi ia tidak mampu. Nabi Saw. berta­nya, “Hai Jibril, apakah ini?” Malaikat jibril menjawab: Ini (perumpamaan) seorang lelaki yang mengucapkan kata-kata besar, kemudian menyesalinya, tetapi ia tidak mampu mencabut kata-katanya itu. Kemudian sampailah Nabi Saw. ke suatu lembah yang beliau jumpai menyebarkan bau harum yang menyegarkan dan bau minyak kesturi, beliau pun mendengar suara. Maka Nabi Saw. bertanya, “Hai Jibril, bau wangi apa yang menyegarkan ini, bau minyak kesturi apa pula ini, dan suara apakah ini?” Malaikat Jibril menjawab: Ini adalah suara surga yang mengatakan, “Wahai Tuhanku, berikanlah kepadaku apa yang telah Engkau janjikan. Sesung­guhnya telah banyak kamar-kamarku, kain sutera halus, tipis, tebal, dan permadani-permadaniku, mutiaraku, marjanku, pe­rakku, emasku, gelas-gelasku, piring-piringku, kendi-kendiku, cangkir-cangkirku, maduku, airku, susuku, dan khamrku, maka berikanlah kepadaku apa yang telah Engkau janjikan.” Maka Allah berfirman, “Bagimu semua orang muslim laki-laki dan perempuan serta orang mukmin laki-laki dan perempuan, serta orang-orang yang beriman kepada-Ku, rasul-rasul-Ku, ber­amal saleh, dan tidak mempersekutukan Aku dengan sesuatu pun. Dan dia tidak menyembah tandingan-tandingan selain Aku. Dan barang siapa yang takut kepada-Ku, dia akan aman; ba­rang siapa yang meminta kepada-Ku, tentu Aku memberinya; barang siapa yang memberi pinjaman kepada-Ku, tentu Aku membalasnya; dan barang siapa yang bertawakal kepada-Ku, tentu Aku memberinya kecukupan. Sesungguhnya Aku adalah Allah, tiada Tuhan selain Aku, Aku tidak akan ingkar janji. Dan sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman. Mahasuci Allah, sebaik-baik Pencipta makhluk semuanya.” Surga berkata, “Saya rela.” Kemudian Nabi Saw. melanjutkan perjalanannya hingga sampailah di ruatu lembah yang padanya beliau mendengar suara gemuruh dan bau yang tidak enak. Maka Nabi Saw. bertanya, “Hai Jibril, bau apakah ini, dan suara apakah ini?” Malaikat Jibril menjawab: Ini adalah suara neraka Jahannam. Ia mengatakan, “Wahai Tuhanku berikanlah kepadaku apa yang telah Engkau janji­kan. Sesungguhnya telah banyak rantai-rantai, belenggu-belengguku, nyala apiku, air panasku, duri-duriku, nanahku, dan azabku. Dan dasarku sangat dalam, serta panas apiku sangat kuat, maka berikanlah apa yang telah Engkau janjikan kepadaku.” Allah berfirman, “Untukmu semua orang musyrik laki-laki dan perempuan, orang kafir laki-laki dan perempuan, semua yang jahat laki-laki dan perempuan, dan semua orang yang sewenang-wenang yang tidak beriman kepada hari hisab.” Neraka menjawab, “Saya rela.” Nabi Saw. melanjutkan perjalanannya hingga sampailah di Baitul Maqdis, lalu turun dan menambatkan kudanya di Sakhrah. Nabi Saw. masuk ke dalam masjid, lalu salat bersama para malaikat. Setelah menjalankan sa­latnya para malaikat bertanya, “Hai Jibril, siapakah orang ini?” Malaikat Jibril menjawab, “Orang ini adalah Muhammad.” Mereka bertanya, “Apakah dia telah diperintahkan untuk menghadap kepada-Nya?” Jibril menjawab, “Ya.” Mereka mengatakan, “Semoga Allah merahmati sauda­ra dan khalifah kita ini. Sebaik-baik saudara dan sebaik-baik khalifah adalah dia, dan sebaik-baik orang yang datang kini telah tiba.” Kemudian Nabi Saw. bersua dengan arwah para nabi. Para nabi itu sedang mengucapkan puji syukur kepada Tuhan mereka. Nabi Ibrahim a.s. mengatakan, “Segala puji bagi Allah yang telah menjadikan aku se­bagai kekasih-Nya dan telah memberiku kerajaan yang besar. Dia telah menjadikan diriku seorang imam yang dijadikan teladan lagi patuh kepada Allah, dan Dia telah menyelamatkan diriku dari api — serta menjadikan api itu dingin — dan keselamatan bagiku.” Kemudian Nabi Musa a.s. memanjatkan puji syukurnya kepada Tuhannya-seraya mengatakan, “Segala puji bagi Allah yang telah mengajak aku berbicara secara langsung, menjadikan kehancuran Fir’aun beserta para pengikutnya dan keselamatan kaum Bani Israil melalui tanganku, serta menjadikan umatku kaum yang memberi petunjuk dengan hak, dan dengan yang hak itu (pula) mereka menjalankan keadilan.” Kemudian Nabi Daud a.s. memanjatkan puji syukurnya kepada Tuhannya seraya mengatakan, “Segala puji bagi Allah yang telah memberikan kepadaku kerajaan yang besar, mengajarkan kepadaku kitab Zabur, melunakkan besi bagiku, menundukkan gunung-gunung hingga dapat bertasbih bersama burung-burung, dan memberikan kepadaku hikmah serta kebijaksanaan dalam menyelesaikan perselisihan.” Kemudian Nabi Sulaiman a.s. memanjatkan puji dan syukurnya kepa­da Tuhannya seraya mengatakan, “Segala puji bagi Allah yang telah menundukkan bagiku angin, menundukkah bagiku setan-setan sehingga mereka mau bekerja untukku menurut apa yang aku kehendaki membuat gedung-gedung yang tinggi, patung-patung, dan piring-piring yang (besar­nya) seperti kolam dan periuk yang tetap (berada di atas tungku); meng­ajarkan kepadaku pengertian bahasa burung, Allah memberiku segala sesuatu sebagai karunia-Nya, menundukkan kepadaku bala tentara setan, manusia, dan burung; memberikan keutamaan kepadaku yang melebihi kebanyakan hamba-hamba-Nya yang mukmin, memberikan kepadaku kerajaan yang besar yang tidak diberikan kepada seorang pun sesudahku, dan menjadikan kerajaanku — kerajaan yang baik—tiada hisab padanya.” Kemudian Nabi Isa a.s. memanjatkan puji dan syukurnya kepada Tuhannya serta mengatakan, “Segala puji bagi Allah yang menjadikan diriku (tercipta) melalui kalimah (perintah)-Nya dan menjadikan perumpa­maanku seperti Adam yang diciptakan-Nya dari tanah liat. Kemudian Allah berfirman kepadanya, ‘jadilah kamu!’ Maka jadilah ia. Dan meng­ajarkan kepadaku Al-Kitab, hikmah, Taurat, dan Injil, serta menjadikan aku dapat membuat dari tanah liat sesuatu berbentuk burung, lalu aku meniupnya, maka jadilah ia seekor burung yang dapat terbang dengan seizin Allah. Allah pun telah menjadikan aku dapat menyembuhkan orang yang buta, berpenyakit supak, dan aku dapat menghidupkan orang-orang yang telah mati dengan seizin Allah. Diatelah mengangkat diriku, menyu­cikan aku serta melindungi diriku dan ibuku dari godaan setan yang terku­tuk, sehingga setan tidak mempunyai jalan untuk menggoda kami.” Selanjutnya Nabi Muhammad Saw. memanjatkan puji dan syukur kepada Tuhannya seraya berkata, “Kalian semua telah memanjatkan puji dan syukur kepada Tuhan, maka saya pun akan memanjatkan puji dan syukurku kepada-Nya, Segala puji bagi Allah yang telah mengutusku menjadi rahmat buat semesta alam, buat seluruh umat manusia sebagai pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan kepada mereka. Dan Allah telah menurunkan kepadaku kitab Al-Qur’an yang di dalamnya terkandung penjelasan segala sesuatu, menjadikan umatku sebagai umat yang terbaik yang dikeluarkan buat umat manusia, dan menjadikan umatku umat yang adil, menjadikan umatku orang-orang yang pertama (masuk surga) dan yang terakhir (munculnya di dunia); melapangkan dadaku serta menghapuskan dariku sernuadosa-dosaku, dan meninggikan sebutan namaku serta menjadikan diriku seorang yang membuka dan menutup.” Maka berkatalah Nabi Ibrahim a.s., “Karena itulah maka Muhammad Saw. mempunyai kelebihan di atas kalian.” Abu Ja’far Ar-Razi mengatakan, yang dimaksud dengan ‘penutup’ ialah penutup kenabian; dan yang dimaksud dengan ‘pembuka’ ialah orang yang mula­mu Ia membuka syafaat di hari kiamat nanti. Kemudian di suguhkan kepada Nabi Saw. tiga buah wadah yang tertutup. Pertama disuguhkan kepada Nabi Saw. wadah yang di dalamnya berisikan air, lalu dikatakan kepadanya, “Minumlah!”Nabi Saw. memi­numnya sedikit. Lalu disuguhkan kepadanya wadah yang berisikan air susu, dan dikatakan kepadanya, “Minumlah!” Maka Nabi Saw. memi­numnya hingga kenyang. Setelah itu disuguhkan kepada Nabi Saw. wadah yang berisikan khamr, lalu dikatakan kepadanya, “Minumlah!” Nabi Saw. menjawab, “Saya tidak menginginkannya karena sudah kenyang.” Maka Malaikat Jibril berkata kepadanya, “Ingatlah, sesungguhnya khamr ini kelak akan diharamkan atas umatmu. Seandainya kamu meminumnya, niscaya tiada orang yang mengikutimu dari kalangan umatmu kecuali hanya sedikit.” Kemudian Malaikat Jibril membawanya naik ke langit, dan Jibril mengetuk pintunya. Maka dikatakan, “Siapakah orang ini, Hai Jibril?” Jibril menjawab, “Muhammad.” Para penjaga langit bertanya, “Apakah dia telah diperintahkan untuk menghadap kepada-Nya?” Jibril menjawab, “Ya.” Mereka berkata, “Semoga Allah memanjangkan usia saudara dan khalifah ini, dia adalah sebaik-baik saudara dan khalifah, sebaik-baik orang kini telah datang.” Maka dibukakanlah pintu langit bagi keduanya. Nabi Saw. memasukinya, dan tiba-tiba ia bersua dengan seorang lelaki yang sempurna bentuknya, tiada sesuatu pun dari bentuknya yang kurang sempurna seperti kurangnya bentuk manusia lain. Di sebelah ka­nannya terdapat sebuah pintu yang keluar darinya bau yang wangi, dan di sebelah kirinya terdapat pintu lain yang keluar darinya bau busuk. Apabila ia melihat ke pintu yang sebelah kanannya, maka tertawa dan gembiralah dia. Tetapi apabila ia memandang ke arah pintu yang di sebelah kirinya, maka menangis dan sedihlah dia. Nabi Saw. bertanya kepada Jibril, “Hai Jibril, siapakah orang tua ini yang bentuknya sempurna; tiada sesuatu pun dari bentuknya yang kurang, dan kedua pintu apakah ini?” Malaikat Jibril menjawab, “Orang ini adalah bapakmu Adam, dan pintu yang ada di sebelah kanannya adalah pintu surga. Apabila ia me­mandang ke arah orang-orang yang masuk surga dari kalangan keturu­nannya, maka tertawa dan gembiralah ia. Sedangkan pintu yang ada di sebelah kirinya adalah pintu neraka Jahannam; apabila ia melihat kepada orang-orang yang memasukinya dari kalangan keturunannya, maka mena­ngis dan bersedihlah dia.” Kemudian Jibril a.s. membawa Nabi Saw. naik ke langit yang kedua, maka Jibril mengetuk pintunya dan mereka (para penjaganya) bertanya, “Siapakah orang yang bersamamu?” Jibril menjawab, “Muhammad utusan Allah.” Mereka bertanya, “Apakah dia telah diperintahkan untuk menghadap kepada-Nya?” Jibril menjawab, “Ya.” Mereka berkata, “Semoga Allah memberi usia panjang kepada saudara dan khalifah ini. Sebaik-baik saudara dan khalifah adalah dia, kini orang yang paling baik telah datang.”‘ Nabi Saw. masuk ke langit yang kedua, tiba-tiba ia bersua dengan dua orang pemuda. Maka ia bertanya, “Siapakah kedua orang pemuda ini?” Jibril menjawab, “ini adalah Isa putra Maryam dan Yahya ibnu Za­karia, keduanya adalah saudara sepupu dari ibu.” Jibril a.s. membawa Nabi Saw. naik ke langit yang ketiga, lalu Jibril mengetuk pintunya dan mereka bertanya, “Siapakah orang ini?” Jibril menjawab, “Saya Jibril.” Mereka bertanya, “‘Siapakah orang yang bersa­mamu?” Jibril menjawab, “Muhammad.” Mereka bertanya, “Apakah dia telah diperintahkan untuk menghadap kepada-Nya?” Jibril menjawab, “Ya.” Mereka berkata, “Semoga Allah memanjangkan usia saudara dan khalifah ini. Sebaik-baik saudara dan khalifah adalah dia. Kini orang yang paling baik telah tiba.” Nabi Saw. masuk ke dalam langit yang ketiga, tiba-iba ia bersua dengan seorang lelaki yang mengungguli manusia dalam hal ketampanannya, sebagaimana lebihnya bulan di malam purnama atas semua bintang-bintang. Nabi Saw. bertanya, “Hai Jibril, siapakah orang yang memiliki ketampanan yang lebih di atas semua manusia ini?” Jibril menjawab, “Orang ini adalah saudaramu Yusuf a.s.” Jibril membawa naik Nabi Saw. ke langit yang keempat, maka Jibril mengetuk pintunya dan dikatakan, “Sapakah ini?” Jibril menjawab, “Saya Jibril.” Mereka (para penjaga langit yang keempat) bertanya, “Siapakah orang yang bersamamu?” Jibril menjawab, “Muhammad.” Mereka berta­nya, “Apakah dia telah diutus untuk menghadap kepada-Nya?” Jibril menjawab, “Ya.” Mereka mengatakan, “Semoga Allah memberinya usia panjang, dia adalah saudara dan khalifah. Sebaik-baik saudara dan khali­fah adalah dia, kini orang yang terbaik telah tiba.” Nabi Saw. masuk ke langit yang keempat, dan tiba-tiba Nabi Saw. bersua dengan seorang lelaki. Maka Nabi Saw. bertanya, “Hai Jibril, siapakah orang ini?” Jibril a.s. menjawab, “Dia adalah Idris a.s. Allah-telah mengangkatnya ke tempa! yang tinggi.” Kemudian Jibril membawa Nabi Saw. naik ke langit yang kelima, ialu Jibril mengetuk pintunya. Para penjaga langit kelima bertanya, “Siapakah ini?” Jibril menjawab, “Saya Jibril.” Mereka bertanya, “Siapakah orang yang bersamamu?” Jibril menjawab, “Muhammad.” Mereka bertanya, “Apakah dia telah diutus untuk menghadap kepada-Nya?” Jibril menjawab, “Ya.” Mereka berkata.”Semoga Allah memberi usia panjang kepada saudara dan khalifah ini. Sebaik-baik saudara dan khalifah adalah dia, dan sebaik-baik orang kini telah datang.” Nabi Saw. masuk ke langit yang kelima. Tiba-tiba beliau bersua de­ngan seorang lelaki yang sedang duduk, di sekelilingnya terdapat suatu kaum, lelaki itu sedang bercerita kepada mereka. Nabi Saw. bertanya, “Hai Jibril, siapakah orang ini, dan siapakah mereka yang berada di seke­lilingnya?” Jibril menjawab, “Dia adalah Harun yang dicintai, sedangkan mereka adalah kaum Bani Israil.” Kemudian Jibril membawa Nabi Saw. naik ke langit yang keenam, dan Jibril mengetuk pintunya. Maka dikatakan, “Siapakah ini?” Jibril menjawab, “Saya Jibril.” Mereka bertanya, “Siapakah orang yang bersa­mamu?” Jibril menjawab, “Muhammad.” Mereka bertanya, “Apakah dia telah diperintahkan untuk menghadap kepada-Nya?” Jibril menjawab, “Ya.” Mereka berkata, “Semoga Allah memberi usia panjang kepada saudara dan khalifah ini. Dialah sebaik-baik saudara dan khalifah, orang yang paling baik kini telah datang.” Maka masuklah Nabi Saw. ke langit yang keenam. Tiba-tiba beliau bersua dengan seorang lelaki yang sedang duduk. Maka Nabi Saw. mele­watinya, dan lelaki itu menangis. Nabi Saw. bertanya, “Hai Jibril, siapakah lelaki ini?” Jibril menjawab, “Lelaki ini adalah Musa.” Nabi Saw. bertanya, “Mengapa dia menangis?” Jibril menjawab, “Bani Israil menduga bahwa sesungguhnya Musa adalah Bani Adam yang paling dimuliakan oleh Allah Swt. Lalu (ia mengatakan setelah melihatmu) ‘Ini seorang lelaki dari kalangan Bani Adam yang telah menggantikan kedudukanku di dunia setelah saya berada di akhirat. Sekiranya dia (lebih utama dariku karena dirinya sendiri), saya tidak peduli, tetapi masing-masing nabi mempunyai umatnya sendiri-sendiri (yakni umat Nabi Saw. jauh lebih banyak daripada umatnya)’. Kemudian Jibril membawanya naik ke langit yang ketujuh. Jibril mengetuk pintunya, maka dikatakan, “Siapakah orang ini?” Jibril menja­wab, “Saya Jibril.” Dikatakan, “Siapakah orang yang bersamamu?” Jibril menjawab, “Muhammad.” Para penjaga langit ketujuh berkata, “Apakah dia telah diperintahkan untuk mengahadap kepada-Nya?” Jibril menjawab, “Ya.” Mereka berkata, “Semoga Allah memberi usia panjang kepada saudara dan khalifah ini. Dia adalah sebaik-baik saudara dan khalifah, kini orang yang terbaik telah datang.” Maka Nabi Saw. masuk ke langit yang ketujuh, tiba-tiba beliau bersua dengan seorang lelaki yang beruban sedang duduk di depan pintu surga di atas sebuah kursi; di hadapannya terdapat suatu kaum yang sedang duduk, mereka memiliki wajah yang putih seputih kertas, dan suatu kaum lagi warna kulit mereka ada nodanya. Maka orang-orang yang ada nodanya itu pergi, lalu masuk ke dalam sebuah sungai dan mandi di dalamnya. Lalu keluar dalam keadaan telah lenyap sebagian dari noda mereka. Kemudian mereka, masuk lagi ke dalam sungai yang lain dan mandi di dalamnya, lalu keluar dalam keadaan telah lenyap sebagian besar dari nodanya. Kemudian mereka masuk lagi ke dalam sungai lainnya dan mandi di dalamnya, lalu keluar dalam keadaan telah bersih dari semua nodanya, sehingga keadaan mereka sama seperti teman-teman mereka yang putih bersih seperti putihnya kertas. Selanjut­nya mereka datang dan duduk bergabung dengan teman-temannya. Nabi Saw. bertanya, “Hai Jibril, siapakah orang yang beruban ini, siapakah mereka yang putih wajahnya serta mereka yang bernoda wajah­nya, dan sungai-sungai apakah yang mereka mandi di dalamnya sehingga wajah mereka menjadi bersih?” Jibril menjawab, “Orang ini adalah ayahmu Nabi Ibrahim, orang yang mula-mula beruban di muka bumi. Adapun mereka yang berwajah putih adalah orang-orang yang tidak mencemari iman mereka dengan perbuatan aniaya (syirik). Sedangkan mereka yang bernoda adalah orang-orang yang mencampuradukkan amal salehnya dengan amal buruk, lalu mereka bertobat, dan Allah menerima tobat mereka. Adapun sungai yang pertama disebut sungai rahmat, sungai yang kedua disebut sungai nikmat Allah, dan yang ketiga Allah memberi mereka minuman yang suci (dari sungai itu).” Kemudian sampailah Nabi Saw. ke Sidratul Muntaha, lalu dikatakan kepada Nabi Saw., “Pohon Sidrah ini merupakan tempat pemberhentian terakhir (bagi amal) setiap orang dari kalangan umatmu yang mati dalam keadaan berpegang kepada sunnahmu.” Dan ternyata Sidratul Muntaha adalah sebuah pohon yang dari akarnya mengalir sungai-sungai yang mengalirkan air yang tidak berubah rasa dan baunya, sungai-sungai yang mengalirkan air susu yang tidak berubah rasanya, sungai-sungai yang mengalirkan khamr yang enak bagi orang-orang yang meminumnya, dan sungai-sungai yang mengalirkan madu yang disaring (dijernihkan). Sidratul Muntaha adalah sebuah pohon yang naungannya tidak dapat ditempuh oleh seorang yang berkendaraan selama tujuh puluh tahun, sebuah daunnya saja dapat menutupi seluruh umat manusia. Maka Sidratul Muntaha diliputi oleh Nur Tuhan Yang Maha Pencipta, dan para malaikat menutupinya pula seperti burung-burung gagak bila hinggap berkerumun pada suatu pohon, karena kecintaan mereka kepada Tuhan Yang Mahasuci lagi Mahatinggi. Di tempat itulah Nabi Saw. diajak berbicara oleh Allah Swt. Allah berfirman, “Mintalah!” Nabi Saw. berkata, “Sesungguhnya Engkau telah menjadikan Ibrahim sebagai kekasih dan Engkau berikan kapadanya kera­jaan yang besar. Dan Engkau telah mengajak Musa berbicara langsung. Dan Engkau telah berikan kepada Daud kerajaan yang besar serta Engkau lunakkan besi baginya dan Engkau tundukkan gunung-gunung baginya. Dan Engkau telah berikan kepada Sulaiman kerajaan, Engkau tundukkan baginya jin, manusia, dan setan. Engkau tundukkan angin baginya, dan Engkau berikan kepadanya sebuah kerajaan yang tidak akan diberikan kepada seorang pun sesudahnya. Engkau telah mengajarkan kepada Isa Taurat dan Injil, dan Engkau jadikan dia dapat menyembuhkan orang yang buta, orang berpenyakit supak, dan dapat menghidupkan orang-orang mati dengan seizin-Mu. Dan Engkau hindarkan dia dan ibunya dari setan yang terkutuk, sehingga setan tidak mempunyai jalan untuk menimpakan mudarat kepada keduanya.” Maka Allah Swt. berfirman kepadanya, “Sesungguhnya Aku pun telah menjadikanmu sebagai kekasih —yaitu tertulis di dalam kitab Taurat, bahwa engkau adalah kekasih Tuhan Yang Maha Pemurah — dan Aku utus engkau kepada segenap umat manusia sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan. Aku telah lapangkan dadamu serta menghapuskan dari dirimu semua dosa-dosamu. Aku telah meninggikan sehutanmu sehingga tidak sekali-kali Aku disebut melainkan engkau ikut disebut pula bersama dengan sebutan-Ku. Aku jadikan umatmu sebaik-baik umat yang dikeluarkan untuk manusia, Aku jadikan umatmu umat yang adil, dan Aku jadikan umatmu adalah orang-orang yang pertama (masuk surga) serta yang terakhir (munculnya di dunia). Aku tetapkan pada umatmu bahwa mereka tidak boleh melakukan suatu khotbah pun tanpa menyebutkan kesaksian bahwa engkau adalah hamba dan rasul­Ku. Aku jadikan umatmu sebagai umat yang hati mereka adalah kitab-kitabnya, dan Aku jadikan engkau Nabi yang mula-mula diciptakan, tetapi paling akhir diutusnya dan paling pertama yang akan diberi keputusan. Aku telah memberikan kepadamu tujuh ayat yang dibaca berulang-ulang yang belum pernah Aku berikan kepada seorang nabi pun sebelummu. Dan Aku berikan kepadamu ayat-ayat yang menutup surat Al-Baqarah dari sebuah perbendaharaan yang ada di bawah ‘Arasy; ayat-ayat tersebut belum pernah diberikan kepada seorang nabi pun sebelummu. Aku telah memberikan kepadamu Al-Kausar serta Aku berikan kepadamu delapan bagian, yaitu Islam, hijrah, jihad, salat, sedekah (zakat), puasa Ramadan, amar ma’ruf dan nahi munkar, dan Aku jadikan engkau sebagai pembuka (syafaat) serta penutup (para nabi).” Untuk itulah Nabi Saw. pernah berkata dalam salah satu sabdanya: Tuhanku memberiku keutamaan enam perkara, Dia memberiku pembukaan-pembukaan kalam dan penutupnya serta himpunan-himpunan hadis. Dia mengutusku kepada segenap umat manusia sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan. Dia menjatuhkan rasa gentar terhadap musuh-musuhku dalam jarak perjalanan satu bulan. Dihalalkan bagiku ganimah yang tidak pernah dihalalkan bagi seorang pun sebelumku. Dan dijadikan bagiku bumi ini seluruhnya suci lagi menyucikan dan sebagai masjid. Lalu difardukan atas Nabi Saw. lima puluh kali salat. Ketika beliau kembali kepada Nabi Musa, Nabi Musa bertanya, “Apakah yang diperintahkan kepadamu, hai Muhammad?”Nabi Saw. menjawab, “Saya diperintahkan untuk mengerjakan salat lima puluh kali.” Musa berkata, “Kembalilah kepada Tuhanmu dan mintalah keringanan dari-Nya, karena sesungguhnya umatmu adalah umat yang paling lemah. Saya telah mengalami kesulitan dari kaum Bani Israil.” Nabi Saw. kembali menghadap kepada Tuhannya dan memohon keringanan dari-Nya, maka Allah menghapuskan sepuluh kali salat untuknya. Kemudian Nabi Saw. kembali kepada Musa, dan Musa bertanya, “Berapa kali salat yang diperintahkan kepadamu?” Nabi Saw. menjawab, “Empat puluh kali salat.” Musa berkata, “Kembalilah kepada Tuhanmu dan mintalah keringanan dari-Nya, karena sesungguhnya umatmu adalah umat yang terlemah. Sesungguhnya saya telah mengalami kesulitan dari kaum Bani Israil.” Nabi Saw kembali menghadap kepada Tuhannya dan memohon keringanan dari-Nya, maka Allah menghapuskan sepuluh kali salat lagi untuknya. Kemudian Nabi Saw. kembali kepada Musa dan Musa bertanya, “Berapa kali salat yang diperintahkan kepadamu?” Nabi Saw. menjawab, “Saya diperintahkan untuk mengerjakan tiga puluh kali salat.” Musa berkata, “Kembalilah kepada Tuhanmu dan mintalah keringanan dari-Nya, karena sesungguhnya umatmu adalah umat yang paling lemah. Sesungguhnya saya telah mengalami kesulitan dari kaum Bani Israil.” Nabi Saw. kembali menghadap kepada Tuhannya dan memohon keringanan dari-Nya, maka Allah menghapuskan sepuluh kali salat lagi untuknya. Kemudian Nabi Saw. kembali kepada Musa, dan Musa bertanya, “Berapakah salat yang diperintahkan kepadamu?” Nabi Saw. menjawab, “Saya diperintahkan mengerjakan dua puluh kali salat.” Musa berkata, “Kembalilah kepada Tuhanmu dan mintalah keringanan dari-Nya, karena sesungguhnya umatmu umat yang terlemah. Sesungguhnya saya telah mengalami kesulitan dari kaum Bani Israil.” Maka Nabi Saw. kembali menghadap kepada Tuhannya dan memohon keringanan dari-Nya, maka Allah menghapuskan baginya sepuluh kali salat lagi. Nabi Saw. kembali menemui Musa, lalu Musa bertanya, “Berapa kali salat yang diperintahkan kepadamu?” Nabi Saw. menjawab, “Saya diperintahkan untuk mengerjakan sepuluh kali salat.” Musa berkata, kembalilah kepada Tuhanmu dan mintalah keringanan dari-Nya, karena sesungguhnya umatmu adalah umat yang terlemah, sesungguhnya saya telah mengalami kesulitan dari kaum Bani Israil.” Nabi Saw. kembali kepada Tuhannya dengan rasa malu, lalu memohon keringanan dari-Nya, maka Allah menghapuskan baginya lima kali salat. Nabi Saw. kembali kepada Musa, dan Musa bertanya, “Berapa kali salat yang diperintahkan kepadamu?” Nabi Saw. menjawab, saya diperintahkan untuk mengerjakan lima kali salat.” Musa berkata, ” Kembalilah kepada Tuhanmu dan mintalah keringanan dari-Nya, karena sesungguhnya umatmu adalah umat yang paling lemah. Sesungguhnya saya telah mengalami kesulitan dari kaum Bani Israil.” Nabi Saw. berkata, “Sesungguhnya saya telah bolak-balik kepada Tuhanku (berkali-kali) hingga aku merasa malu terhadap-Nya, maka aku tidak mau kembali lagi kepada-Nya.” Maka dikatakanlah (saat itu), “Ingatlah, sesungguhnya sebagaimana engkau rela untuk dirimu dengan salat lima waktu, maka sesungguhnya salat lima waktu itu sudah mencukupimu sebagai ganti dari lima puluh kali salat, karena sesungguhnya setiap kebaikan berpahala sepuluh kali lipatnya.” Mendengar suara itu puaslah hati Nabi Muhammad Saw. dengan kepuasan yang melegakan. Dan Musa a.s. adalah nabi yang kelihatan paling keras saat Nabi Saw. bersua dengannya, tetapi dia adalah nabi yang paling baik kepada Nabi Saw. saat kembali kepadanya.

Tulisan ini dimuat dalam Tafsir Ibnu Katsir.