17. SURAT AL-ISRA

Begitu pula bunyi hadis yang diriwayatkan oleh Al-Baihaqi melalui dua jalur dari Abu Ismail At-Turmuzi dengan sanad yang sama. Kemudian sesudah selesai mengutarakan hadis ia mengatakan bahwa sanad hadis ini berpredikat sahih. Ia telah meriwayatkan pula secara terpisah-pisah melalui hadis-hadis lainnya, yang sebagian darinya akan kami sebutkan. Kemudian ia menceritakan banyak hadis mengenai Isra yang berkedu­dukan sebagai syahid bagi hadis ini.

Imam Abu Muhammad Abdur Rahman ibnu Abu Hatim di dalam kitab tafsir telah meriwayatkan hadis ini dari ayahnya, dari Ishaq ibnu Ibrahim ibnul Ala Az-Zubaidi dengan sanad yang sama.

Tidak diragukan lagi bahwa hadis ini—yang diriwayatkan dari Syad­dad ibnu Aus — mengandung banyak hal, antara lain ada yang sahih, seperti apa yang disebutkan oleh Imam Baihaqi tadi; dan yang lainnya berpredikat munkar, seperti hadis yang menyebutkan bahwa Nabi Saw. melakukan salat di Baitul Lahm. Demikian juga pertanyaan Abu Bakar As-Siddiq tentang ciri khas Baitul Maqdis serta lain-lainnya.

Riwayat Abdullah ibnu Abbas r.a. Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Usman ibnu Muhammad, telah menceritakan kepada kami Jarir, dari Qabus, dari ayahnya yang mengatakan bahwa telah menceritakan kepada kami ibnu Abbas tentang perjalanan Isra di malam hari yang dilakukan oleh Rasulullah Saw. Disebutkan di dalamnya bahwa Rasulullah Saw. masuk ke dalam surga, lalu beliau mendengar suara langkah ditepi surga, maka Rasulullah Saw. bertanya, “Hai Jibril, suara apakah ini?” Jibril menjawab, “Ini adalah suara Bilal, juru azan.” Ketika Rasulullah Saw. menghadapi orang banyak, beliau bersabda, “Beruntunglah si Bilal, saya menyaksikan anu dan anu miliknya.” Selanjutnya Nabi Saw. bersua dengan Musa a.s. Musa mengucapkan selamat datang kepadanya seraya berkata, “Selamat datang Nabi yang ummi.” Nabi Saw. bersabda bahwa Musa adalah seorang lelaki yang berkulit hitam manis, bertubuh tinggi, dan berambut ikal sampai ke daun telinganya atau kurang dari itu. Nabi saw. bertanya, “Hai Jibril, siapakah orang ini?” Jibril menjawab bahwa orang itu adalah Musa. Kemudian Rasulullah Saw. melanjutkan perjalanannya, tiba-tiba beliau bersua dengan seorang tua yang kelihatan sangat agung dan berwibawa. Lalu orang tua itu mengucapkan selamat datang dan salam kepada Nabi Saw. Semua orang yang bersua dengan Nabi Saw. mengucapkan salam kepada beliau. Nabi Saw. bertanya, “Hai Jibril, siapakah orang ini?” Jibril menjawab, “Dia adalah ayahmu Nabi Ibrahim.” Nabi Saw. melihat neraka tiba-tiba di dalamnya terdapat suatu kaum yang sedang memakan bangkai. Maka Nabi saw. bertanya, “Hai Jibril, siapakah mereka itu?” Jibril menjawab, “Mereka adalah orang-orang yang suka memakan daging orang lain (suka mengumpat).” Dan Nabi Saw. melihat seorang lelaki yang berkulit merah dan bermata biru sekali. Nabi Saw. bertanya, “Hai Jibril, siapakah orang ini?” Jibril menjawab, “Ini adalah penyembelih unta Nabi Saleh.” Ketika Rasulullah Saw. sampai di Masjidil Aqsa berdiri mengerjakan salat, ternyata semua nabi ikut salat bersamanya. Setelah mengerjakan salat, disuguhkan kepada Nabi Saw. dua buah wadah; yang satunya dari sebelah kanan, dan yang lain dari sebelah kiri. Pada salah satunya terdapat air susu, sedangkan pada yang lainnya terdapat madu. Maka Nabi Saw. mengambil wadah yang berisikan air susu dan meminumnya. Dan orang yang bersamanya mengatakan, “Engkau telah memilih fitrah.” Sanad hadis ini sahih, tetapi Imam Bukhari dan Imam Muslim tidak mengete­ngahkannya.

Jalur lain. Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Hasan, telah menceritakan kepada kami Sabit Abu Zaid, telah men­ceritakan kepada kami Ikrimah, dari Ibnu Abbas yang menceritakan bahwa Rasulullah Saw. menjalani Isra ke Baitul Maqdis dan kembali pulang di malam yang sama. Lalu beliau menceritakan kepada mereka tentang perjalanan Isra yang dialaminya dan menceritakan kepada mere­ka (orang-orang Quraisy) tentang kafilah mereka (yang masih ada dalam perjalanannya). Di antara orang-orang yang mengatakan, “Kami tidak percaya kepa­da Muhammad tentang apa yang dikatakannya.” Maka murtadlah mereka berbalik menjadi kafir, dan Allah menghinakan mereka bersama pemimpin mereka, yaitu Abu Jahal. Abu Jahal berkata, “Muhammad menakut-nakuti kita dengan buah zaqqum, maka datangkanlah oleh kalian buah kurma dan zubdah, marilah kita buat makanan zaqqum (yakni campuran kurma dan zubdah).” Dan Nabi Saw. melihat Dajjal dengan penglihatan yang nyata, bukan dalam mimpi. Beliau juga bersua dengan Isa, Musa, dan Ibrahim. Ketika Nabi Saw. ditanya tentang ciri khas Dajjal, maka beliau Saw. menjawab, “Dajjal bertubuh besar, dengan warna kulit yang putih, salah satu matanya menonjol seakan-akan seperti bintang yang bercahaya, sedangkan rambutnya seakan-akan mirip dengan ranting pohon (yang lebat). Saya juga melihat Isa a.s. Dia orang yang berkulit putih, berambut keriting, tajam pandangan matanya, dan bertubuh padat. Dan saya melihat Musa a.s., orang yang berkulit hitam manis, berambut lebat, lagi bertubuh kuat. Saya pun melihat Ibrahim a.s., maka saya tidak memandang kepada salah satu anggotanya melainkan seakan-akan saya memandang kearah diriku sendiri. Seakan-akan dia adalah teman kalian ini (yakni Nabi Saw. sendiri).” Jibril berkata, “Ucapkanlah salam kepada bapakmu.” Maka saya mengucapkan salam kepada Nabi Ibrahim a.s.

Imam Nasai meriwayatkannya melalui Hadid Abu Yazid Sabit ibnu Zaid, dari Hilal (yaitu Ibnu Hibban) dengan sanad yang sama. Sanad ha­dis ini berpredikat sahih.

Jalur lain. Imam Baihaqi mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Abdullah Al-Hafiz, telah menceritakan kepada kami Abu Ba­kar Asy-Syafii, telah menceritakan kepada kami Ishaq ibnul Hasan, telah menceritakan kepada kami Al-Husain ibnu Muhammad, telah mencerita­kan kepada kami Syaiban, dari Qatadah, dari Abul Aliyah yang mengata­kan, telah menceritakan kepada kami Ibnu Abbas (anak paman Rasulullah Saw.) yang mengatakan bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda: Pada malam aku menjalani Isra, bersua dengan Musa ibnu Imran, seorang lelaki yang tinggi, berambut keriting, seakan-akan dia adalah seorang lelaki dari kalangan Azd Syami-ah. Dan saya melihat Isa a.s. putra Maryam, seorang lelaki yang bertubuh sedang berkulit putih kemerah-merahan, berambut ikal. Saya juga melihat Malaikat Malik—penjaga neraka Jahannam — serta Dajjal berikut dengan ciri-ciri khasnya tersendiri yang diperlihatkan oleh Allah kepadaku. Allah Swt. berfirman: maka janganlah kamu ragu-ragu dalam bersua dengannya. (As-Sajdah: 23)

Qatadah menafsirkan ayat ini dengan penafsiran bahwa Nabi Saw. telah bersua dengan Musa a.s. dan Kami jadikan Musa petunjuk bagi Bani Israil. (As-Sajdah: 23) Yakni Allah menjadikan Musa a.s. sebagai petunjuk bagi kaum Bani Is­rail.

Imam Muslim meriwayatkan hadis ini dalam kitab sahihnya dari Abdu ibnu Humaid, dari Yunus ibnu Muhammad, dari Syaiban. Imam Bukhari dan Imam Muslim mengetengahkannya melalui hadis Syu’bah, dari Qatadah secara ringkas.

Jalur lain, Imam Baihaqi mengatakan bahwa telah menceritakan kepada kami Ali ibnu Ahmad ibnu Abdullah, bahwa Ahmad ibnu Ubaid As-Sattar telah mengatakan, telah menceritakan kepada kami Dabis Al-Mu’addal, telah menceritakan kepada kami Affan, telah menceritakan kepada kami Hammad ibnu Salamah, dari Ata ibnus Saib, dari Sa’id ib­nu Jubair, dari Ibnu Abbas yang mengatakan bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda bahwa ketika Nabi Saw. menjalani Isra melewati suatu tempat yang baunya sangat harum. Maka Rasulullah Saw. bertanya, “Bau harum apakah ini?” Jibril menjawab, “Masyitah binti Fir’aun dan anak-anaknya.” Jibril melanjutkan kisahnya, bahwa pada suatu hari terjatuhlah sisir dari tangannya, maka Masyitah berkata, “Dengan menyebut asma Allah.” Anak perempuan Fir’aun bertanya, “Sebutlah nama ayahku.” Masyitah berkata, “Tuhanku, Tuhanmu, dan Tuhan ayahmu adalah Dia.” Anak perempuan Fir’aun bertanya, “Apakah ada Tuhan selain ayahku?” Masyitah berkata, “Benar. Tuhanku, Tuhanmu dan Tuhan ayahmu adalah Allah.” Maka Fir’aun memanggilnya dan berkata, “Apakah engkau mem­punyai Tuhan lain selain diriku?” Masyitah berkata, “Ya, Tuhanku dan Tuhanmu adalah Allah Swt.” Fir’aun memerintahkan agar dipersiapkan sebuah belanga besar, lalu belanga itu dipanaskan (dengan api). Kemudian dia memerintahkan Masyitah agar menceburkan diri ke dalam belanga itu. Masyitah berkata, “Saya mempunyai sebuah permintaan kepada­mu.” Fir’aun berkata, “Sebutlah permintaanmu.” Masyitah berkata, “Ka­mu kumpulkan tulang-tulangku dengan tulang-tulang anakku di suatu tempat.” Fir’aun menjawab, “Baiklah, saya turuti permintaanmu, meng­ingat kamu mempunyai hak pada kami.” Fir’aun memerintahkan agar Masyitah sekeluarga dilemparkan ke dalamnya. Mereka dilemparkan seorang demi seorang hingga sampailah giliran anak Masyitah yang masih menyusu padanya. Anehnya anak Masyitah ini dapat berbicara. Ia mengatakan, “Hai ibuku, ceburkanlah dirimu ke dalamnya. Janganlah takut, karena sesungguhnya engkau berada dalam jalan yang benar.” Nabi Saw. bersabda, “Ada empat orang bayi yang masih dalam buaian dapat berbicara, yaitu anak Masyitah, saksi Nabi Yusuf, teman Juraij dan Isa putra Maryam a.s.”

Tulisan ini dimuat dalam Tafsir Ibnu Katsir.