Barangkali Ali ibnul Husain melarang mereka karena mereka bersikap kurang sopan, sebab mereka mengangkat suaranya melampaui batas etika yang baik, karena itulah maka Ali ibnul Husain melarang mereka.
Telah diriwayatkan pula bahwa ia melihat seorang lelaki yang selalu datang ke kuburan Nabi Saw. setiap harinya, maka Ali ibnul Husain berkata, “Hai kamu, kedudukanmu dan kedudukan seseorang yang ada di Andalusia bagi Nabi Saw. adalah sama saja.”
Dengan kata lain, semua salawat yang dibacakan untuk Nabi Saw. pasti sampai selamanya hingga hari kiamat.
قَالَ الطَّبَرَانِيُّ فِي مُعْجَمِهِ الْكَبِيرِ: حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ رِشْدين الْمِصْرِيُّ، حَدَّثَنَا سَعِيدُ بْنُ أَبِي مَرْيَمَ، حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ، أَخْبَرَنِي حُمَيْدُ بْنُ أَبِي زَيْنَبَ، عَنْ حَسَنِ بْنِ حَسَنِ بْنِ عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ، عَنْ أَبِيهِ؛ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: “صَلُّوا عَلَيَّ حَيْثُمَا كُنْتُمْ، فَإِنَّ صَلَاتَكُمْ تَبْلُغُنِي”
Imam Tabrani mengatakan dalam kitab Mu’jamul Kabir-nya, bahwa telah menceritakan kepada kami Ahmad ibnu Rasyidin Al-Masri, telah menceritakan kepada kami Sa’id ibnu Abu Maryam, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Ja’far, telah menceritakan kepadaku Humaid ibnu Abu Zainab, dari Hasan ibnu Hasan ibnu Ali ibnu Abu Talib, dari ayahnya, bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda: Bacalah salawat untukku di mana pun kalian berada, karena sesungguhnya salawat kalian pasti sampai kepadaku.
ثُمَّ قَالَ الطَّبَرَانِيُّ: حَدَّثَنَا الْعَبَّاسُ بْنُ حِمْدَانَ الْأَصْبَهَانِيُّ، حَدَّثَنَا شُعَيْبُ بْنُ عَبْدِ الْحَمِيدِ الطَّحَّانُ، أَخْبَرَنَا يَزِيدُ بْنُ هَارُونَ عَنْ شَيْبَانَ، عَنِ الْحَكَمِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ خَطَّافٍ، عَنْ أُمِّ أُنَيْسٍ بِنْتِ الْحَسَنِ بْنِ عَلِيٍّ، عَنْ أَبِيهَا قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “أَرَأَيْتَ قَوْلَ اللَّهِ، عَزَّ وَجَلَّ: {إِنَّ اللَّهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِي} ؟ ” فَقَالَ: “إِنَّ هَذَا هُوَ الْمَكْتُومُ، وَلَوْلَا أَنَّكُمْ سَأَلْتُمُونِي عَنْهُ لَمَا أَخْبَرْتُكُمْ، إِنِ اللَّهَ وَكَّلَ بِي مَلِكَيْنِ لَا أُذْكَرُ عِنْدَ عَبْدٍ مُسْلِمٍ فَيُصَلِّي عَلَيَّ إلا قال ذانك الملكان: “غفر الله لك”. وَقَالَ اللَّهُ وَمَلَائِكَتُهُ جَوَابًا لَذَيْنِكَ الْمَلِكَيْنِ: “آمِينَ”. وَلَا يُصَلِّي أَحَدٌ إِلَّا قَالَ ذَانِكَ الْمَلَكَانِ: “غَفَرَ اللَّهُ لَكَ”. وَيَقُولُ اللَّهُ وَمَلَائِكَتُهُ جَوَابًا لِذَيْنِكَ الْمَلِكَيْنِ: “آمِينَ”.
Kemudian Imam Tabrani mengatakan, telah menceritakan kepada kami Al-Abbas ibnu Hamdan Al-Asbahani, telah menceritakan kepada kami Syu’aib ibnu Abdul Hamid At-Tahhan, telah menceritakan kepada kami Yazid ibnu Harun ibnu Abu Syaiban, dari Al-Hakam ibnu Abdullah ibnu Khattab, dari Ummu Unais bintil Hasan ibnu Ali, dari ayahnya yang mengatakan bahwa Rasulullah Saw. pernah ditanya tentang makna firman-Nya: Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bersalawat untuk Nabi. (Al-Ahzab: 56), hingga akhir ayat. Maka Rasulullah Saw. menjawab, “Hal itu termasuk perkara yang dirahasiakan. Seandainya kalian tidak menanyakannya kepadaku, tentulah aku tidak akan menceritakannya kepada kalian. Sesungguhnya Allah Swt. telah menugaskan dua malaikat kepadaku, tidak sekali-kali namaku disebutkan di hadapan seorang hamba yang muslim, lalu ia mengucapkan salawat untukku, melainkan kedua malaikat itu mendoakannya, ‘Semoga Allah memberikan ampunan bagimu.’ Dan Allah serta para malaikat-Nya menjawab doa kedua malaikat itu dengan ucapan, ‘Amin.’ Dan tidak sekali-kali seseorang membaca salawat untukku, melainkan kedua malaikat itu mengucapkan, ‘Semoga Allah memberikan ampunan bagimu,’ lalu Allah dan para malaikat-Nya menjawab kedua malaikat itu dengan ucapan, ‘Amin.’
Hadis ini garib sekali, dan penyandaran ucapan ini kepada Nabi Saw. dinilai sangat lemah.
قَالَ الْإِمَامُ أَحْمَدُ: حَدَّثَنَا وَكِيع، عَنْ سُفْيَانَ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ السَّائِبِ، عَنْ زَاذَانَ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ؛ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: “إِنَّ لِلَّهِ مَلَائِكَةً سَيَّاحِينَ فِي الْأَرْضِ، يُبَلِّغُونِي مِنْ أُمَّتِي السَّلَامَ”.
Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Waki’, dari Sufyan, dari Abdullah ibnus Sa’ib, dari Zazan, dari Abdullah ibnu Mas’ud, bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda: Sesungguhnya Allah mempunyai malaikat-malaikat yang mengembara di muka bumi dengan tugas menyampaikan salam penghormatan dari umatku kepadaku.
Hal yang sama telah diriwayatkan oleh Imam Nasai melalui hadis Sufyan As-Sauri dan Sulaiman ibnu Mahran Al-A’masy, keduanya dari Abdullah ibnus Sa’ib dengan sanad yang sama.
Adapun mengenai hadis lainnya yang mengatakan:
“مَنْ صَلَّى عَلَيّ عِنْدَ قَبْرِي سَمِعْتُهُ، ومَنْ صَلَّى عَلَيَّ مِنْ بَعِيدٍ بُلغته”
Barang siapa yang mengucapkan salawat untukku di dekat kuburanku, aku dapat mendengarnya; dan barang siapa yang mengucapkan salawat untukku dari jauh, maka disampaikan kepadaku.
Di dalam sanadnya terdapat hal yang masih diragukan, diriwayatkan melalui Muhammad ibnu Marwan alias As-Sadiyyus Sagir, sedangkan dia orangnya berpredikat matruk, dari Al-A’masy, dari Abu Saleh- dari Abu Hurairah secara marfu’.
Teman-teman kami mengatakan bahwa orang yang ihram apabila selesai dari tugas ihramnya disunatkan membaca salawat untuk Nabi Saw. Karena berdasarkan riwayat Imam Syafii dan Daruqutni, dari Saleh ibnu Muhammad ibnu Zaidah, dari Al-Qasim ibnu Muhammad ibnu Abu Bakar As-Siddiq yang mengatakan bahwa seseorang apabila telah selesai dari talbiyahnya dianjurkan mengucapkan salawat untuk Nabi Saw. dalam semua keadaan.
Ismail Al-Qadi mengatakan, telah menceritakan kepada kami Arim ibnul Fadl, telah menceritakan kepada kami Abdullah ibnul Mubarak, telah menceritakan kepada kami Zakaria, dari Asy-Sya’bi, dari Wahb ibnul Ajda’ yang mengatakan, bahwa ia pernah mendengar Umar ibnul Khattab r.a. mengatakan, “Apabila kalian tiba, maka lakukanlah tawaf di Baitullah tujuh kali dan salatlah di maqam Ibrahim dua rakaat. Kemudian datangilah Safa dan berdiri di atasnya hingga melihat Baitullah, lalu bertakbirlah sebanyak tujuh kali di antara bacaan pujian, sanjungan kepada Allah dan salawat untuk Nabi Saw. serta doa untuk diri sendiri. Dan pada Bukit Marwah hendaklah dilakukan hal yang semisal.” Sanad asar ini Jayyid, baik, lagi kuat.
Mereka mengatakan bahwa disunatkan membaca salawat untuk Nabi Saw. disertai dengan zikrullah saat menyembelih kurban. Mereka mengatakan demikian berdasarkan takwil dari firman-Nya:
{وَرَفَعْنَا لَكَ ذِكْرَك}
Dan Kami tinggikan bagimu sebutan (nama) mu. (Alam Nasyrah: 4)
Sebagian ahli tafsir mengatakan bahwa makna ayat ialah Allah Swt. berfirman, “Aku tidak sebutkan nama-Ku melainkan Aku sebut pula namamu bersama-Ku,” tetapi jumhur ulama berpendapat berbeda. Jumhur ulama mengatakan bahwa hal tersebut adalah suatu keadaan yang menuntut disebutkan nama Allah sendirian, seperti halnya ketika akan makan, masuk rumah, bersetubuh, dan lain sebagainya yang tidak ada keterangan dari sunnah yang menganjurkan membaca salawat untuk Nabi Saw. padanya.
Hadis lain.
قَالَ إِسْمَاعِيلُ الْقَاضِي: حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ أَبِي بَكْرٍ الْمُقَدِّمِيُّ، حَدَّثَنَا عُمَرُ بْنُ هَارُونَ، عَنْ مُوسَى بْنِ عُبَيْدَةَ، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ ثَابِتٍ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ؛ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: “صَلُّوا عَلَى أَنْبِيَاءِ اللَّهِ وَرُسُلِهِ؛ فَإِنَّ اللَّهَ بَعَثَهُمْ كَمَا بَعَثَنِي”.
Ismail Al-Qadi mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Abu Bakar Al-Miqdami, telah menceritakan kepada kami Amr ibnu Harun, dari Musa ibnu Ubaidah, dari Muhammad ibnu Sabit, dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda: Ucapkanlah salawat untuk para nabi Allah dan para rasulnya, karena sesungguhnya Allah membangkitkan mereka sebagaimana Dia membangkitkanku.