Lelaki itu melanjutkan kisahnya, bahwa ketika ia melanjutkan perjalanannya dengan jalan kaki, tiba-tiba ia mendengar suara yang menyerukan, “Hai Abdullah, sesungguhnya engkau telah bertindak benar, ular-ular tadi adalah jin dari Bani Syu’aiban dan Bani Qais. Mereka berperang, dan di antara yang terbunuh adalah seperti yang kamu lihat sendiri. Salah seekor darinya yang kamu kubur adalah yang mati syahid, dia adalah salah satu jin yang pernah mendengar wahyu dari Rasulullah Saw.”
Maka Usman berkata kepada lelaki itu, “Jika kamu benar dalam kisahmu itu, maka sesungguhnya engkau telah menyaksikan peristiwa yang ajaib. Dan jika engkau dusta, maka kemudaratan dustamu menimpa dirimu.”
*******************
Firman Allah Swt.:
{وَإِذْ صَرَفْنَا إِلَيْكَ نَفَرًا مِنَ الْجِنِّ يَسْتَمِعُونَ الْقُرْآنَ فَلَمَّا حَضَرُوهُ قَالُوا أَنْصِتُوا}
Dan (ingatlah) ketika Kami hadapkan kepadamu serombongan jin yang mendengarkan Al-Qur’an; maka tatkala mereka menghadiri pembacaan (nya), lalu mereka berkata, “Diamlah kamu (untuk mendengarkannya).” (Al-Ahqaf: 29)
Yakni dengarkanlah bacaan ini dengan penuh perhatian, ini menggambarkan etika dan sopan santun mereka kepada apa yang didengarnya.
قَالَ الْحَافِظُ الْبَيْهَقِيُّ: حَدَّثَنَا الْإِمَامُ أَبُو الطَّيِّبِ سَهْلُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ سُلَيْمَانَ، أَخْبَرَنَا أَبُو الْحَسَنِ مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ الدَّقَّاقُ، حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ البُوشَنْجي، حَدَّثَنَا هِشام بْنُ عَمَّارٍ الدِّمَشْقِيُّ، حَدَّثَنَا الْوَلِيدُ بْنُ مُسْلِمٍ، عَنْ زُهَيْرِ بْنِ مُحَمَّدٍ، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ المُنْكَدِر، عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ: قَرَأَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سُورَةَ “الرَّحْمَنِ” حَتَّى خَتَمَهَا، ثُمَّ قَالَ: “مَا لِي أَرَاكُمْ سُكُوتًا، لَلْجِنّ كَانُوا أَحْسَنَ مِنْكُمْ رَدًّا، مَا قَرَأْتُ عَلَيْهِمْ هَذِهِ الْآيَةَ مِنْ مَرَّةٍ: {فَبِأَيِّ آلاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ} إِلَّا قَالُوا: وَلَا بِشَيْءٍ مِنْ آلَائِكَ -أَوْ نِعَمِكَ-رَبَّنَا نُكَذِّبُ، فَلَكَ الْحَمْدُ”.
Al-Hafiz Imam Baihaqi mengatakan, telah menceritakan kepada kami Imam Abut Tayyib Sahl ibnu Muhammad ibnu Sulaiman, telah menceritakan kepada kami Abul Hasan Muhammad ibnu Abdullah Ad-Daqqaq, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Ibrahim Al-Busyanji, telah menceritakan kepada kami Hisyam ibnu Ammar Ad-Dimasyqi, telah menceritakan kepada kami Al-Walid ibnu Muslim, dari Zuhair ibnu Muhammad Al-Munkadir, dari Jabir ibnu Abdullah r.a. yang menceritakan bahwa Rasulullah Saw. membaca surat Ar-Rahman hingga selesai, kemudian beliau bersabda: Mengapa aku lihat kalian diam, sungguh jin lebih baik daripada kalian dalam hal jawabannya, karena tidak sekali-kali aku bacakan kepada mereka ayat ini, yaitu firman-Nya, “Maka nikmat Tuhan yang manakah yang kamu dustakan?” Melainkan mereka menjawab, “Tiada sesuatu pun dari tanda kebesaran atau nikmat-Mu yang kami dustakan, wahai Tuhan kami, segala puji bagi Engkau.
Imam Turmuzi meriwayatkan hadis ini di dalam kitab tafsirnya dari Abu Muslim alias Abdur Rahman ibnu Waqid, dari Al-Walid ibnu Muslim dengan sanad yang sama. Disebutkan bahwa Rasulullah Saw. keluar menemui sahabatnya, lalu membacakan kepada mereka surat Ar-Rahman. Kemudian disebutkan hal yang semisal dengan hadis di atas. Imam Turmuzi mengatakan bahwa hadis ini garib, kami tidak mengenalnya melainkan melalui hadis Al-Walid dari Zuhair. Hal yang sama telah dikatakan oleh Imam Baihaqi melalui hadis Marwan ibnu Muhammad At-Tatari. dari Zuhair ibnu Muhammad dengan sanad yang sama dan lafaz yang semisal.
*******************
Firman Allah Swt.:
{فَلَمَّا قُضِيَ}
Ketika pembacaan telah selesai. (Al-Ahqaf: 29)
Yakni telah rampung dan selesai, semakna dengan pengertian yang terdapat di dalam firman-Nya:
{فَإِذَا قُضِيَتِ الصَّلاةُ}
Apabila telah ditunaikan (diselesaikan) salat itu. (Al-Jumu’ah: 10)
{فَقَضَاهُنَّ سَبْعَ سَمَوَاتٍ فِي يَوْمَيْنِ}
Maka Dia menyelesaikannya menjadi tujuh langit dalam dua masa. (Fushshilat: 12)
Firman Allah Swt:
{فَإِذَا قَضَيْتُمْ مَنَاسِكَكُمْ}
Dan apabila kamu telah menyelesaikan ibadah hajimu. (Al-Baqarah: 200)
*******************
Adapun firman Allah Swt.:
{وَلَّوْا إِلَى قَوْمِهِمْ مُنْذِرِينَ}
mereka kembali kepada kaumnya (untuk) memberi peringatan. (Al-Ahqaf: 29)
Yakni mereka kembali kepada kaumnya dan memberikan peringatan kepada mereka sesuai dengan apa yang mereka dengar dari bacaan Rasulullah Saw.
Pengertian ini semakna dengan apa yang disebutkan di dalam firman-Nya:
{لِيَتَفَقَّهُوا فِي الدِّينِ وَلِيُنْذِرُوا قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُوا إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُونَ}
agar mereka memperdalam pengetahuan agama mereka dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya. (At-Taubah: 122)
Tersimpulkan dari makna surat Al-Ahqaf ayat 29 ini bahwa di kalangan makhluk jin hanya terdapat pemberi peringatan, tetapi tidak ada rasul dari kalangan mereka. Dan memang tidak diragukan bahwa Allah Swt. tidak pernah mengirimkan seorang rasul pun kepada jin dan kalangan mereka sendiri, karena ada firman Allah Swt. yang mengatakan:
{وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ إِلا رِجَالا نُوحِي إِلَيْهِمْ مِنْ أَهْلِ الْقُرَى}
Kami tidak mengutus sebelum kamu, melainkan seorang laki-laki yang Kami berikan wahyu kepadanya di antara penduduk negeri. (Yusuf: 109)
{وَمَا أَرْسَلْنَا قَبْلَكَ مِنَ الْمُرْسَلِينَ إِلا إِنَّهُمْ لَيَأْكُلُونَ الطَّعَامَ وَيَمْشُونَ فِي الأسْوَاقِ}
Dan Kami tidak mengutus rasul-rasul sebelummu, melainkan mereka sungguh memakan makanan dan berjalan di pasar-pasar. (Al-Furqan: 20)
Dan firman Allah Swt. tentang Al-Khalil Nabi Ibrahim a.s.:
{وَجَعَلْنَا فِي ذُرِّيَّتِهِ النُّبُوَّةَ وَالْكِتَابَ}
dan Kami jadikan kenabian dan Al-Kitab pada keturunannya (Al-Ankabut: 27)
Setiap nabi yang diutus oleh Allah Swt. sesudah Ibrahim a.s. adalah dari keturunannya. Adapun mengenai firman Allah Swt. yang disebutkan di dalam surat Al-An’am, yaitu:
{يَا مَعْشَرَ الْجِنِّ وَالإنْسِ أَلَمْ يَأْتِكُمْ رُسُلٌ مِنْكُمْ}
Hai golongan jin dan manusia, apakah belum datang kepadamu rasul-rasul dari golongan kamu sendiri? (Al-An’am: 130)
Makna yang dimaksud ialah keseluruhan dari kedua makhluk itu, yang pengertiannya ditujukan kepada salah satu dari kedua jenis tersebut, yaitu manusia. Seperti yang terdapat di dalam firman-Nya:
{يَخْرُجُ مِنْهُمَا اللُّؤْلُؤُ وَالْمَرْجَانُ}
Dari keduanya keluar mutiara dan marjan. (Ar-Rahman: 22)
Yakni salah satunya.
*******************
Kemudian Allah Swt. menerangkan adanya peringatan jin terhadap kaumnya melalui firman-Nya:
قَالُوا يَا قَوْمَنَا إِنَّا سَمِعْنَا كِتَابًا أُنزلَ مِنْ بَعْدِ مُوسَى
Mereka berkata, “Hai kaum kami, sesungguhnya kami telah mendengarkan kitab (Al-Qur’an) yang telah diturunkan sesudah Musa.” (Al-Ahqaf: 30)
Mereka tidak menyebutkan Isa karena Isa a.s. diturunkan kepadanya kitab Injil yang isinya hanya mengandung nasihat-nasihat, hal-hal keutamaan, tetapi sedikit mengandung perkara halal dan haram. Pada hakikatnya merupakan syariat yang menyempurnakan kitab Taurat, dan hal ini berarti yang dipegang adalah kitab Taurat. Karena itulah jin mengatakan, “Yang diturunkan sesudah Musa.”
Hal yang sama telah dikatakan oleh Waraqah ibnu Naufal ketika Nabi Saw. menceritakan kepadanya kisah turunnya Jibril a.s. pada yang pertama kali, lalu Waraqah ibnu Naufal berkata, “Beruntunglah, dia adalah An-Namus (malaikat) yang pernah datang kepada Musa. Aduhai, sekiranya diriku dapat hidup sampai di masa itu dan dalam keadaan kuat.”
{مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ}
yang membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya. (Al-Ahqaf: 30)
Yaitu kitab-kitab yang telah diturunkan kepada nabi-nabi sebelumnya.