Al-Ahqaf, ayat 29-32

Al-Hafiz Abu Bakar Al-Baihaqi mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Amr ibnu Abdullah Al-Adib, telah menceritakan kepada kami Abu Bakar Al-Ismaili, telah menceritakan kepada kami Al-Hasan ibnu Sufyan, telah menceritakan kepadaku Suwaid ibnu Sa’id, telah menceritakan kepada kami Amr ibnu Yahya, dari kakeknya (yakni Sa’id ibnu Amr) yang telah mengatakan bahwa Abu Hurairah r.a. pernah mengikuti Rasulullah Saw. seraya membawa wadah untuk air wudunya dan keperluannya. Dan pada suatu hari Abu Hurairah r.a. menyusul Nabi Saw., lalu bertanya, “Siapa Anda?” Abu Hurairah menjawab, “Saya Abu Hurairah.” Maka Rasulullah Saw. bersabda, “Berikanlah kepadaku beberapa buah batu untuk dipakai istinja (bersuci), tetapi jangan kamu berikan kepadaku tulang dan jangan pula kotoran unta yang telah kering.” Abu Hurairah mengatakan bahwa lalu ia mencari batu-batuan, kemudian dimasukkan ke dalam kainnya dan ia letakkan batu-batuan itu di dekat Nabi Saw. Setelah Nabi Saw. selesai dari bersucinya dan bangkit, maka aku (Abu Hurairah) mengikutinya, lalu aku bertanya, “Wahai Rasulullah, mengapa dengan tulang dan kotoran hewan yang sudah kering (tidak boleh dipakai untuk beristinja)?” Rasulullah Saw. bersabda:

أَتَانِي وَفْدُ جِنِّ نَصِيبِينَ، فَسَأَلُونِي الزَّادَ، فَدَعَوْتُ اللَّهَ لَهُمْ أَلَّا يَمُرُّوا بِعَظْمٍ وَلَا بِرَوْثَةٍ إِلَّا وَجَدُوهُ طَعَامًا”

Telah datang kepadaku utusan jin dari Nasibin. mereka meminta bekal kepadaku, maka aku berdoa kepada Allah Swt. Untuk mereka, bahwa semoga tidak sekali-kali mereka menjumpai kotoran hewan dan tidak pula tulang hewan melainkan mereka menjumpai makanan padanya.

Imam Bukhari mengetengahkan hadis ini di dalam kitab sahihnya dari Musa ibnu Ismail, dari Amr ibnu Yahya berikut sanadnya mirip dengan hadis di atas. Hal ini menunjukkan di samping hadis yang di atas, bahwa mereka (jin) mengirimkan delegasi sesudah itu kepada Nabi Saw. Dan nanti akan kami kemukakan hal-hal yang menunjukkan tentang adanya delegasi jin yang berkali-kali menemui beliau Saw.

Telah diriwayatkan dari Ibnu Abbas r.a. selain riwayatnya yang telah disebutkan di atas melalui berbagai jalur yang baik. Untuk itu Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Kuraib, telah menceritakan kepada kami Abdul Hamid Al-Hammani, telah menceritakan kepada kami An-Nadr ibnu Arabi, dari Ikrimah, dari ibnu Abbas r.a. sehubungan dengan makna firman-Nya: Dan (ingatlah) ketika Kami hadapkan kepadamu serombongan jin. (Al-Ahqaf: 29), hingga akhir ayat.

Ibnu Abbas mengatakan bahwa jumlah mereka ada tujuh jin dari penduduk Nasibin, lalu Rasulullah Saw. mengangkat mereka menjadi utusannya kepada kaum masing-masing. Hal ini menunjukkan bahwa Ibnu Abbas r.a. telah meriwayatkan dua kisah yang berlainan kejadiannya.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ali ibnul Husain, telah menceritakan kepada kami Suwaid ibnu Abdul Aziz, telah menceritakan kepada kami seorang lelaki yang senama dengannya, dari Ibnu Juraij, dari Mujahid sehubungan dengan firman-Nya: Dan (ingatlah) ketika Kami hadapkan kepadamu serombongan jin. (Al-Ahqaf: 29), hingga akhir ayat. Mujahid mengatakan bahwa mereka terdiri dari tujuh jin; tiga jin di antara mereka dari Harran, dan empat jin dari mereka dari Nasibin. Nama mereka adalah Hissi, Hasa, Mansa, Sasir, Nasir, Al-Ardubian, dan Al-Ahtam.

Abu Hamzah As-Samali menyebutkan bahwa rombongan jin ini dikenal dengan sebutan Bani Syisban, mereka adalah jin yang paling banyak bilangannya dan paling terhormat nasabnya; bala tentara iblis sebagian besarnya terdiri dari kalangan mereka.

Sufyan Asu-Sauri telah meriwayatkan dari Asim, dariZar, dari Ibnu Mas’ud r.a., bahwa mereka terdiri dari sembilan jin, yang salah satunya adalah (berupa) Zauba ‘ah (angin puyuh) yang mendatangi Nabi Saw. dari pohon kurma.

Dalam riwayat terdahulu telah disebutkan bahwa mereka berjumlah lima belas jin. Menurut riwayat yang lainnya, jumlah mereka enam puluh jin yang berkendaraan unta. Dalam riwayat terdahulu telah disebutkan bahwa nama pemimpin mereka adalah Wardan. Menurut pendapat yang lainnya lagi mereka terdiri dari tiga ratus jin. Dan dalam riwayat yang lalu dari Ikrimah dikatakan bahwa jumlah mereka adalah dua belas ribu jin. Barangkali perbedaan riwayat ini menunjukkan adanya kejadian yang berulang-ulang dalam pengiriman delegasi mereka kepada Rasulullah Saw.

Hal yang menunjukkan adanya pengulangan tersebut adalah apa yang dikatakan oleh Imam Bukhari di dalam kitab sahihnya, bahwa telah menceritakan kepada kami Yahya ibnu Sulaiman, telah menceritakan kepadaku Ibnu Wahb, telah menceritakan kepadaku Umar ibnu Muhammad yang mengatakan bahwa Salim pernah bercerita kepadanya dari Abdullah ibnu Umar r.a. yang mengatakan, “Tidak sekali-kali aku mendengar Umar r.a. (ayahnya) mengatakan sesuatu yang menurut dugaanku berpendapat lain kecuali keadaan hal itu sesuai dengan apa yang dikatakannya.” Ketika Umar r.a. sedang duduk, tiba-tiba lewatlah seorang lelaki yang tampan, lalu Umar berkata, “Kalau tidak salah, lelaki ini dahulu di masa Jahiliah memeluk Islam atau dia adalah tukang tenung (peramal) mereka. Panggillah lelaki itu untuk menghadap kepadaku!”

Maka lelaki itu dipanggil ke hadapannya dan mengatakan perihal dirinya di masa silam, lalu berkata, “Aku belum pernah merasa bahagia seperti sekarang sebagai seorang muslim.” Umar berkata, “Aku akan menahanmu kecuali jika engkau bercerita kepadaku tentang masa lalumu.”

Lelaki itu bercerita, “Aku dahulu di masa Jahiliah menjadi tukang tenung mereka.” Umar bertanya, “Apakah hal yang sangat menakjub-kanmu yang didatangkan oleh jin yang menjadi temanmu?” Lelaki itu menjawab, “Ketika aku sedang berada di pasar di suatu hari, tiba-tiba jin datang kepadaku dengan roman muka yang ketakutan, lalu berkata: ‘Tidakkah engkau melihat kejahatan dan keputusasaan jin setelah dijungkirkan ia lari terbirit-birit memacu unta kendaraannya’?”

Umar berkata, “Dia benar.” (Lelaki itu melanjutkan), “Ketika aku sedang tidur di dekat berhala-berhala mereka, tiba-tiba datanglah seorang lelaki membawa anak sapi, lalu ia menyembelihnya (sebagai kurban berhala-berhala mereka), dan terdengarlah suarajeritan dari anak sapi itu, jeritan sangat keras yang belum pernah kudengar sebelumnya. Jeritan itu mengatakan, ‘Hai Julaih, suatu perkara yang hebat telah terjadi, yaitu seorang lelaki yang fasih mengucapkan kalimat tidak ada Tuhan yang berhak disembah melainkan Allah’.”

Maka kaum yang ada bangkit, dan aku sendiri berkata, “Aku tidak akan pergi sebelum mengetahui dengan jelas hal yang melatarbelakangi kejadian ini.” Kemudian terdengar lagi seruan yang mengatakan, “Hai Julaih, suatu urusan besar terjadi.” Seorang lelaki fasih mengatakan , “Tidak ada Tuhan yang berhak disembah melainkan Allah.” Maka tidak lama kemudian dikatakan bahwa telah ada seorang nabi. Demikianlah menurut teks hadis yang diketengahkan oleh Imam Bukhari.

Imam Baihaqi meriwayatkan hadis ini melalui Ibnu Wahb dengan lafaz yang semisal. Kemudian Imam Baihaqi mengatakan bahwa riwayat ini mengandung takwil bahwa Umar sendirilah yang mendengar suara jeritan dari anak lembu itu yang disembelih. Hal yang sama disebutkan pula dengan jelas di dalam suatu riwayat yang bersumber dari Umar r.a. Tetapi kebanyakan riwayat menyebutkan bahwa si tukang tenunglah yang menceritakan hal tersebut mengenai kisah mimpinya dan apa yang didengarnya; hanya Allah-lah Yang Maha Mengetahui.

Tulisan ini dimuat dalam Tafsir Ibnu Katsir.