Al-Ahqaf, ayat 29-32

Kemudian Rasulullah Saw. bertanya, “Apakah engkau melihat sesuatu?” Aku menjawab, “Ya, aku melihat banyak kaum lelaki yang hitam mengenakan pakaian yang putih-putih.” Rasulullah Saw. bersabda:

“أُولَئِكَ جِنُّ نَصِيبِينَ سَأَلُونِي الْمَتَاعَ -وَالْمَتَاعُ: الزَّادُ-فَمَتَّعْتُهُمْ بِكُلِّ عَظْمٍ حَائِلٍ، أَوْ بَعْرَةٍ أَوْ رَوْثَةٍ”

Mereka adalah jin dari Nasibin, mereka meminta kepadaku perbekalan, maka aku beri mereka bekal dengan tulang yang menghalang-halangi (jalan) atau kotoran (kambing) atau kotoran (unta).

Aku bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah itu dapat mencukupi kebutuhan mereka?” Rasulullah Saw. menjawab:

“إِنَّهُمْ لَا يَجِدُونَ عَظْمًا إِلَّا وَجَدُوا عَلَيْهِ لَحْمَهُ يَوْمَ أُكِلَ، وَلَا رَوْثًا إِلَّا وَجَدُوا فِيهَا حَبَّهَا يَوْمَ أُكِلَتْ، فَلَا يَسْتَنْقِيَنَّ أَحَدٌ مِنْكُمْ إِذَا خَرَجَ مِنَ الْخَلَاءِ بِعَظْمٍ وَلَا بَعْرَةٍ وَلَا رَوْثَةٍ”

Sesungguhnya mereka tidaklah menemukan tulang, melainkan mereka menemukan daging padanya saat memakannya; dan tidaklah pula kotoran hewan, melainkan mereka menemukan padanya biji-bijian sebagaimana yang dimakan oleh hewan itu. Maka jangan sekali-kali kalian bersuci saat selesai dari membuang air dengan tulang atau dengan kotoran (kambing yang sudah kering), atau dengan tahi (unta yang sudah kering).

Jalur lain. Al-Hafiz Abu Bakar Al-Baihaqi mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Abdur Rahman As-Sulami dan Abu Nasr ibnu Qatadah, bahwa telah menceritakan kepada kami Abu Muhammad alias Yahya ibnu Mansur Al-Qadi, telah menceritakan kepada kami Abu Abdullah alias Muhammad ibnu Ibrahim Al-Busyanji, telah menceritakan kepada kami Rauh ibnu Saleh, telah menceritakan kepada kami Musa ibnu Ali ibnu Rabah, dari ayahnya Abdullah ibnu Mas’ud r.a. yang mengatakan bahwa Rasulullah Saw. membawaku pergi, lalu bersabda:

“إِنَّ نَفَرًا مِنَ الْجِنِّ -خَمْسَةَ عَشَرَ بَنِي إِخْوَةٍ وَبَنِي عَمٍّ-يَأْتُونَنِي اللَّيْلَةَ، فَأَقْرَأُ عَلَيْهِمُ الْقُرْآنَ”

Sesungguhnya segolongan jin berjumlah lima belas jin, mereka adalah anak-anak saudara dan anak-anak sepaman (di kalangan mereka) telah datang kepadaku tadi malam (meminta) agar aku mengajarkan Al-Qur’an kepada mereka.

Maka aku berangkat bersama beliau Saw. ke suatu tempat yang dituju, lalu beliau membuat sebuah garis untukku dan menyuruhku duduk di dalam garis itu serta bersabda:

“لَا تَخْرُجْ مِنْ هَذَا”.

Janganlah kamu keluar dari garis ini.

Aku semalaman di dalam garis itu hingga Rasulullah Saw. datang menemuiku bersamaan dengan datangnya waktu sahur, sedangkan di tangan beliau terdapat tulang yang masih terbungkus daging dan kotoran ternak yang telah kering, serta arang. Lalu beliau Saw. bersabda:

“إِذَا ذَهَبْتَ إِلَى الْخَلَاءِ فَلَا تَسْتَنْجِ بِشَيْءٍ مِنْ هَؤُلَاءِ”

Apabila kamu pergi ke tempat buang air, janganlah kamu bersuci dengan memakai sesuatu pun dari benda-benda tadi.

Dan pada pagi harinya aku berkata, “Aku benar-benar akan memeriksa tempat Rasulullah Saw. tadi malam, lalu aku pergi ke tempat itu dan kulihat padanya bekas tempat mendekamnya enam puluh ekor unta.

Jalur lain. Imam Baihaqi mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Abdullah Al-Hafiz, telah menceritakan kepada kami Abul Abbas Al-Asam, telah menceritakan kepada kami Al-Abbas ibnu Muhammad Ad-Dauri, telah menceritakan kepada kami Usman ibnu Umar, dari Asy-Syamir ibnur Rayyan, dari Abul Jauza, dari Abdullah ibnu Mas’ud r.a. yang telah menceritakan bahwa ia pergi bersama Rasulullah Saw. di malam pertemuannya dengan jin. Hingga ketika sampai di Al-Hujun, beliau membuat garis untukku sebagai pembatas. Kemudian beliau Saw. maju menemui mereka (para jin), maka mereka pun berdesak-desakan mengerumuni Nabi Saw. Lalu pemimpin mereka yang dikenal dengan nama Wazdan berkata, “Aku akan membubarkan mereka darimu.” Nabi Saw. bersabda, “Sesungguhnya aku tiada seorang pun yang dapat melindungiku dari Allah.”

Jalur lain.

قَالَ الْإِمَامُ أَحْمَدُ: حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ، حَدَّثَنَا سُفْيَانُ، عَنْ أَبِي فَزَارَةَ الْعَبْسِيِّ، حَدَّثَنَا أَبُو زَيْدٍ -مَوْلَى عَمْرِو بْنِ حُرَيْثٍ-عَنِ ابْنِ مَسْعُودٍ قَالَ: لَمَّا كَانَ لَيْلَةُ الْجِنِّ قَالَ لِيَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “أَمَعَكَ مَاءٌ؟ ” قُلْتُ: لَيْسَ مَعِيَ مَاءٌ، وَلَكِنَّ مَعِيَ إِدَاوَةً فِيهَا نَبِيذٌ. فَقَالَ النَّبِيُّ: “تَمْرَةٌ طَيِّبَةٌ وَمَاءٌ طَهُورٌ” فَتَوَضَّأَ.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abdur Razzaq, telah menceritakan kepada kami Sufyan, dari Abu Fazzarah Al-Absi, telah menceritakan kepada kami Abu Zaid maula Amr ibnu Hurayyis, dari Ibnu Mas’ud r.a. yang mengatakan bahwa di malam pertemuan dengan jin, Nabi Saw. bersabda kepadanya: “Apakah kamu membawa air?” Aku menjawab, “Aku tidak punya air, tetapi aku membawa wadah yang berisikan minuman perasan anggur.” Maka Nabi Saw. bersabda, “Itu adalah buah yang baik dan air yang suci.”

Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Abu Daud dan Imam Turmuzi serta Imam Ibnu Majah melalui Ibnu Zaid dengan sanad yang sama.

Jalur lain.

قَالَ أَحْمَدُ: حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ إِسْحَاقَ، أَخْبَرَنَا ابْنُ لَهِيعَةَ، عَنْ قَيْسِ بْنِ الْحَجَّاجِ، عَنْ حَنَشٍ الصَّنْعَانِيِّ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ؛ أَنَّهُ كَانَ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَيْلَةَ الْجِنِّ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ: “يَا عَبْدَ اللَّهِ، أَمَعَكَ مَاءٌ؟ ” قَالَ: مَعِيَ نَبِيذٌ فِي إِدَاوَةٍ، فَقَالَ اصْبُبْ عَلَيَّ”. فَتَوَضَّأَ، فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “يَا عَبْدَ اللَّهِ شَرَابٌ وَطَهُورٌ”

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Yahya ibnu Ishaq, telah menceritakan kepada kami Ibnu Lalai’ah, dari Qais ibnul Hajjaj, dari Hanasy As-San’ani, dari Ibnu Abbas, dari Abdullah ibnu Mas’ud r.a. yang mengatakan bahwa ia bersama Rasulullah Saw. di malam pertemuannya dengan jin. Lalu Rasulullah Saw. bertanya, “Hai Abdullah, apakah engkau membawa air?” Abdullah ibnu Mas’ud r.a. menjawab, “Aku hanya membawa minuman perasan anggur di dalam wadahku.” Nabi Saw. bersabda, “tuangkanlah kepadaku,” lalu beliau berwudu dengannya. Setelah itu Nabi Saw. bersabda: Hai Abdullah, ini adalah minuman dan penyuci.

Imam Ahmad meriwayatkan hadis ini secara munfarid(sendirian) melalui jalur ini; Imam Daruqutni telah meriwayatkan hadis ini melalui jalur lain dari Ibnu Mas’ud r.a. dengan lafaz yang sama.

Jalur lain.

قَالَ الْإِمَامُ أَحْمَدُ: حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ، أَخْبَرَنِي أَبِي عَنْ مِينَاءَ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ: كُنْتُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَيْلَةَ وَفْدِ الْجِنِّ، فَلَمَّا انْصَرَفَ تَنَفَّسَ، فَقُلْتُ: مَا شَأْنُكَ؟ قَالَ: “نُعِيَتْ إِلَيَّ نَفْسِي يَا ابْنَ مَسْعُودٍ”.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abdur Razzaq, telah menceritakan kepadaku ayahku dari Maina, dari Abdullah r.a. yang mengatakan bahwa ia bersama Rasulullah Saw. di malam pertemuannya dengan delegasi jin. Setelah pulang, Rasulullah Saw. bernapas lega. Maka aku bertanya, “Mengapa engkau?” Beliau menjawab, “Telah diucapkan belasungkawa atas diriku, hai Ibnu Mas’ud.”

Demikianlah yang kulihat di dalam kitab Al-Musnad secara ringkas. Tetapi Al-Hafiz Abu Na’im telah meriwayatkannya di dalam kitab Dala’ilun Nubuwwah; untuk itu ia mengatakan bahwa telah menceritakan kepada kami Sulaiman ibnu Ahmad ibnu Ayyub, telah menceritakan kepada kami Ishaq ibnu Ibrahim dan telah menceritakan kepada kami Abu Bakar ibnu Malik, telah menceritakan kepada kami Abdullah ibnu Ahmad ibnu Hambal, telah menceritakan kepada kami ayahku, keduanya mengatakan bahwa telah menceritakan kepada kami Abdur Razzaq, dari ayahnya, dari Maina, dari Ibnu Mas’ud r.a. yang mengatakan bahwa aku bersama Rasulullah Saw. di malam delegasi jin, lalu beliau bernapas, maka aku bertanya, “Mengapa engkau, ya Rasulullah?” Beliau saw. menjawab: Telah diucapkan belasungkawa terhadap diriku, hai Ibnu Mas’ud. Ibnu Mas’ud berkata, “Angkatlah seorang khalifah pengganti.” Nabi Saw. bertanya, “Siapa yang pantas?’ Ibnu Mas’ud menjawab, “Abu Bakar.” Nabi Saw. diam, kemudian meneruskan perjalanan sesaat, lalu menarik napas lagi, dan aku bertanya, “Demi ayah dan ibuku yang menjadi tebusanmu, mengapa engkau, ya Rasulullah?’ Beliau menjawab, “Telah diucapkan belasungkawa terhadap diriku, hai Ibnu Mas’ud.” Aku berkata, “Kalau begitu, angkatlah seorang khalifah pengganti.” Nabi Saw. bertanya,’ “Siapa?” Aku menjawab, “Umar.” Nabi Saw. diam dan melanjutkan perjalanannya sesaat, lalu menarik napas lagi, maka aku bertanya “Mengapa engkau?” Nabi Saw. menjawab, “Telah diucapkan belasungkawa terhadap diriku.” Aku berkata, “Kalau begitu, angkatlah khalifah pengganti.” Nabi Saw. bertanya, “Siapa?” Aku menjawab, “Ali ibnu Abu Talib.” Nabi Saw. bersabda:

Tulisan ini dimuat dalam Tafsir Ibnu Katsir.