Al-Ahqaf, ayat 29-32

Analisis yang dikemukakan oleh Imam Baihaqi ini cukup beralasan, dan lelaki tersebut adalah Sawad ibnu Qarib. Saya telah menyebutkan perihalnya di dalam Sirah Umar r.a. Bagi yang menginginkan keterangan yang lebih lengkap dipersilahkan untuk merujuk ke kitab tersebut.

Imam Baihaqi mengatakan bahwa hadis yang menceritakan tentang Sawad ibnu Qarib mirip dengan lelaki tukang tenung ini yang tidak disebutkan namanya dalam hadis sahih, telah menceritakan kepada kami Abul Qasim Al-Hasan ibnu Muhammad ibnu Habib yang menafsirkan sumber pendengarannya, telah menceritakan kepada kami Abu Abdullah Muhammad ibnu Abdullah As-Saffar Al-Asbahani yang membacakan hadis ini kepadanya, telah menceritakan kepada kami Abu Ja’far Ahmad ibnu Musa Al-Hammar Al-Kufi di Kufah, telah menceritakan kepada kami Ziad ibnu Yazid ibnu Badawaih, telah menceritakan kepada kami Abu Bakar Al-Qasri, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Nuwwas Al-Kufi, telah menceritakan kepada kami Abu Bakar ibnu Iyasy, dari Abu Ishaq, dari Al-Barra r.a. yang menceritakan bahwa ketika Umar ibnul Khattab r.a. sedang berkhotbah kepada kaum muslim di atas mimbar Rasulullah Saw., tiba-tiba ia berkata, “Hai manusia, apakah di antara kalian terdapat Sawad ibnu Qarib?”

Tiada seorang pun yang menjawabnya di tahun itu, dan dalam peristiwa yang sama di tahun berikutnya kembali Umar r.a. berkata, “Hai manusia, apakah di antara kalian terdapat Sawad ibnu Qarib?” Al-Barra bertanya, “Hai Amirul Mu’minin, siapakah Sawad ibnu Qarib itu?” Umar r.a. menjawab, “Sesungguhnya Sawad ibnu Qarib mempunyai kisah yang menakjubkan menyangkut permulaan dia masuk Islam.”

Ketika kami sedang dalam keadaan demikian, tiba-tiba muncullah Sawad ibnu Qarib, lalu Umar berkata kepadanya, “Hai Sawad, ceritakanlah kepada kami kisah permulaanmu masuk Islam.” Sawad r.a. menceritakan bahwa sesungguhnya ketika ia tinggal di India, dia mempunyai teman jin. Sawad melanjutkan kisahnya, “Ketika aku sedang tidur di suatu malam, tiba-tiba teman jinku datang kepadaku dalam mimpiku, lalu berkata kepadaku, ‘Bangunlah dan pahami serta pikirkanlah. Jika engkau berakal, sesungguhnya telah diutus seorang rasul dari keturunan Lu’ay ibnu Galib’. Lalu jin itu mengucapkan syair berikut, ‘Aku merasa heran dengan jin dan gerakannya dalam mempersiapkan unta kendaraannya, lalu memacunya menuju ke Mekah mencari petunjuk.

Tiadalah jin yang baik itu sama dengan jin yang jahat. Maka bangkitlah kamu menuju ke manusia yang terpilih dari kalangan Bani Hasyim, dan perhatikanlah apa yang diajarkannya.’

Kemudian jin itu menyadarkanku dan membuatku terkejut, lalu berkata, ‘Hai Sawad ibnu Qarib, sesungguhnya Allah telah mengutus seorang nabi, maka bangkitlah kamu menemuinya, niscaya engkau mendapat petunjuk dan bimbingan”. Pada malam kedua dia datang lagi dan membangunkan diriku seraya mengucapkan, ‘Aku heran dengan jin dan pencariannya, dia mempersiapkan kendaraannya dan memacunya menuju ke Mekah mencari petunjuk, tiadalah kedua telapak kakinya sama dengan ekornya. Maka bangkitlah kamu menemui orang pilihan dari Bani Hasyim, tiadalah jin yang beriman itu sama dengan jin yang kafir.’

Dengan berulang-ulangnya kejadian itu terhadap diriku, maka timbullah dalam hatiku rasa cinta kepada Islam dan ingin tahu akan Rasulullah Saw. menurut apa yang dikehendaki oleh Allah Swt. Maka aku berangkat dengan mengendarai unta kendaraanku yang telah kupersiapkan untuk itu.

Setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh, sampailah aku kepada Rasulullah Saw. yang saat itu beliau di Mekah, sedangkan orang-orang yang mengelilinginya masih belum begitu banyak. Ketika Nabi Saw. melihatku, maka beliau bersabda, ‘Selamat datang denganmu, hai Sawad ibnu Qarib, kami telah mengetahui apa yang telah disampaikan olehnya.’

Aku berkata, ‘Wahai Rasulullah, saya telah menggubah syair. Maka dengarkanlah syair saya ini.’ Rasulullah Saw. bersabda, ‘Bacakanlah, hai Sawad!’ Maka aku membacakan syairku:

Jin temanku telah datang di malam hari sewaktu tidur, dan apa yang kualami dalam tidurku itu bukanlah dusta. Tiga malam berturut-turut dia datang dengan mengucapkan, ‘Telah datang kepadamu seorang Rasul dari Bani Lu’ay ibnu Galib. ‘ Maka kusingsingkan kainku dan kukendarai unta kendaraanku menempuh padang pasir, dan aku bersaksi bahwa Allah tiada Tuhan selain Dia (yang berhak disembah), dan bahwa engkau adalah orang yang tepercaya terhadap semua yang gaib. Dan bahwa engkau adalah rasul yang paling dekat hubungannya dengan Allah, hai putra orang-orang yang mulia lagi baik. Maka perintahkanlah kepadaku sesuai dengan apa yang disampaikan kepadamu, wahai sebaik-baik rasul, sekalipun memerintahkan kami untuk memasuki sarang serigala. Semoga engkau menjadi syafaatku kelak di hari yang tiada pemberi syafaat kepada Sawad ibnu Qarib selain engkau.

Setelah mendengar syair itu Rasulullah Saw. tertawa sehingga kelihatan gigi serinya, dan berkata kepadaku, ‘Engkau beruntung, hai Sawad’.”

Lalu Umar r.a. bertanya kepadanya, “Apakah teman jinmu itu masih juga datang kepadamu?” Sawad menjawab, “Sejak aku membaca Al-Qur’an, dia tidak pernah lagi datang kepadaku, dan sebaik-baik pengganti adalah Kitabullah.” Kemudian Imam Baihaqi menyandarkan hadis ini melalui dua jalur yang lain.

Termasuk dalil yang menunjukkan bahwa ada delegasi jin yang datang kepada Rasulullah Saw. sesudah beliau hijrah ke Madinah adalah hadis yang diriwayatkan oleh Al-Hafiz Abu Na’im di dalam kitab Dalailun Nubuwwah-nya. Disebutkan bahwa telah menceritakan kepada kami sulaiman ibnu Ahmad, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Abdah Al-Masisi, telah menceritakan kepada kami Abu Taubah Ar-Rabi’ ibnu Nafi’, telah menceritakan kepada kami Mu’awiyah ibnu Salam, dari Zaid ibnu Aslam; ia pernah mendengar Abu Salam mengatakan bahwa telah menceritakan kepadaku seseorang yang telah menceritakan hadis berikut dan Amr ibnu Gailan As-Saqafi yang mengatakan bahwa ia datang kepada Ibnu Mas’ud r.a., lalu bertanya kepadanya, “Aku mendapat berita bahwa engkau ikut bersama Rasulullah Saw. di malam pertemuannya dengan jin?” Ibnu Mas’ud menjawab, “Benar.” Aku berkata, “Ceritakanlah kepadaku bagaimanakah kejadiannya.”

Ibnu Mas’ud menceritakan, “Sesungguhnya masing-masing orang membawa seorang ahlusuffah untuk memberinya makan malam, tetapi aku ditinggalkan, tiada seorang pun dari mereka (penduduk Madinah) yang membawaku makan malam. Lalu Rasulullah Saw. lewat di hadapanku dan bertanya (karena gelapnya malam hari), ‘siapakah orang uu?’ Aku menjawab, ‘Aku Ibnu Mas’ud.’ Rasulullah Saw. bertanya, ‘Apakah tiada seorang pun yang membawamu makan malam ‘ Aku’ menjawab, ‘Tidak ada.’ Rasulullah Saw. bersabda, ‘Marilah kita pergi, barangkah aku dapat menjumpai sesuatu makanan untukmu.’

Maka kami pergi hingga sampailah Rasulullah Saw. di rumah Ummu Salamah r.a., lalu beliau membiarkan aku berdiri di pintu, sedangkan beliau masuk menemui keluarganya. Kemudian keluarlah seorang budak perempuan dan berkata, ‘Hai Ibnu Mas’ud, sesungguhnya Rasulullah Saw. tidak mendapatkan makanan buat makan malammu, beliau memerintahkan kepadamu untuk kembali ke tempat kamu tidur.”

Lalu aku kembali ke masjid, dan aku kumpulkan batu kerikil dan kubungkus dengan bajuku untuk dijadikan bantal, tetapi tidak lama kemudian budak perempuan itu datang kepadaku dan berkata, ‘Kamu dipanggil oleh Rasulullah.’ Maka aku mengikutinya dengan harapan dapat memperoleh makan malam. Ketika aku telah sampai di depan pintu rumah Rasulullah Saw. keluar menyambutku, sedangkan di tangan beliau terdapat setan dan buah kurma. Lalu beliau menyerahkannya kepadaku dan bersabda, ‘Kamu ikut denganku ke mana aku pergi.’ Aku mengucapkan ‘Masya Allah; dan beliau mengulangi sabdanya sebanyak tiga kali. Setiap kali beliau bersabda, aku ucapkan, ‘Masya Allah:

Tulisan ini dimuat dalam Tafsir Ibnu Katsir.