“أَمَّا وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، لَئِنْ أَطَاعُوهُ ليدخلن الجنة أجمعين أكتعين
Ingatlah, demi Tuhan yang jiwaku berada di dalam kekuasaanNya; sesungguhnya jika kalian menaatinya, niscaya kalian semua benar-benar akan masuk surga.
Hadis ini garib sekali dan sudah selayaknya bila tidak dikenal; dan bila diumpamakan bahwa hadis ini sahih, maka pengertian lahiriahnya menunjukkan bahwa peristiwa ini terjadi sesudah kedatangan mereka di Madinah kepada Rasulullah Saw., seperti yang akan kami jelaskan kemudian. Karena sesungguhnya di masa itulah akhir dari urusan ini, yaitu setelah Mekah ditaklukkan dan manusia serta jin masuk ke dalam agama Allah dengan berbondong-bondong, dan turunlah firman-Nya:
{إِذَا جَاءَ نَصْرُ اللَّهِ وَالْفَتْحُ. وَرَأَيْتَ النَّاسَ يَدْخُلُونَ فِي دِينِ اللَّهِ أَفْوَاجًا. فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَاسْتَغْفِرْهُ إِنَّهُ كَانَ تَوَّابًا}
Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan, dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong, maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima tobat. (An-Nasr: 1-3)
Surat inilah yang memberitahukan akan dekatnya masa kewafatan beliau, seperti yang disebutkan oleh Ibnu Abbas r.a. dalam pendapatnya, lalu disetujui oleh khalifah Umar r.a. Sehubungan dengan peristiwa ini ada sebuah hadis yang menerangkannya, yang akan kami sebutkan dalam tafsir surat yang bersangkutan. Hanya Allah-lah Yang Maha Mengetahui.
Abu Na’im telah meriwayatkan pula hadis ini dari At-Tabrani, dari Muhammad ibnu Abdullah Al-Hadrami, dari Ali ibnul Husain ibnu Abu Burdah, dari Yahya ibnu Sa’id Al-Aslami, dari Harb ibnu Sabih, dari Sa’id ibnu Salamah, dari Abu Murrah As-San’ani, dari Abu Abdullah Al-Jadali, dari Ibnu Mas’ud r.a. Di dalam riwayat ini disebutkan kisah tentang pengangkatan khalifah; sanad hadis ini garib dan teksnya aneh.
Jalur lain. Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Sa’ id, telah menceritakan kepada kami Hammad ibnu Salamah,dari Ali ibnu Zaid, dari Abu Rafi’, dari Ibnu Mas’ud, bahwa Rasulullah Saw. membuat lingkaran garis disekitarnya, dan tersebutlah bahwa seseorang dari jin itu besarnya sama dengan bayangan sebuah pohon kurma. Lalu Nabi Saw. bersabda kepadanya: Janganlah kamu tinggalkan tempat ini dan ajarilah mereka (jin-jin) itu Kitabullah. Ketika Nabi Saw. melihat sekumpulan ternak, yang menurut Ibnu Mas’ud seakan-akan itu adalah mereka (jin), dan Nabi Saw. bersabda, “Apakah kamu membawa air?” Aku menjawab, “Tidak.” Nabi Saw. bertanya, “Apakah kamu membawa perasan anggur?” Aku menjawab, “Ya.” lalu beliau berwudu dengannya.
Jalur lain yang mursal.
Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Abdullah At-Tabrani, telah menceritakan kepada kami Hafs ibnu Umar Al-Adni, telah menceritakan kepada kami Al-Hakam ibnu Aban, dari Ikrimah sehubungan dengan makna firman Allah Swt.: Dan (ingatlah) ketika Kami hadapkan serombongan jin kepadamu. (Al-Ahqaf: 29) Ikrimah mengatakan bahwa mereka berjumlah dua belas ribu jin, yang datang dari Al-Mausul. Maka Nabi Saw. bersabda kepada Ibnu Mas’ud r.a., “Tunggulah aku hingga aku datang kepadamu,” lalu beliau Saw. membuat lingkaran garis dan bersabda, “Janganlah kamu tinggalkan tempat ini hingga aku kembali kepadamu.” Ketika Ibnu Mas’ud r.a. merasa takut dengan mereka, hampir saja ia beranjak dari tempat itu kalau tidak ingat akan pesan Nabi Saw. Akhirnya ia menahan diri dan tidak meninggalkan tempat yang bergaris itu. Dan seusainya Nabi Saw. bersabda kepadanya: Seandainya engkau pergi, niscaya kita tidak akan bersua lagi sampai hari kiamat.
Jalur lain yang juga berpredikat mursal.
Sa’id ibnu Abu Arubah telah meriwayatkan dari Qatadah sehubungan dengan firman Allah Swt.: Dan (ingatlah) ketika Kami hadapkan serombongan jin kepadamu yang mendengarkan Al-Qur’an. (Al-Ahqaf: 29) Telah diceritakan kepada kami bahwa mereka (jin) itu diberangkatkan untuk menemui Nabi Saw. dari Nainawi. Dan Nabi Saw. bersabda (kepada para sahabatnya): Sesungguhnya aku diperintahkan untuk membacakan Al-Qur’an kepada jin, maka siapakah di antara kalian yang mau ikut denganku? Mereka menundukkan kepalanya, lalu Nabi Saw. menawari mereka dan mereka hanya menundukkan kepalanya, kemudian ketiga kalinya Nabi Saw. menawari mereka tetapi mereka menundukkan kepalanya. Maka seorang lelaki berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya orang itu (Ibnu Mas’ud) mau menemanimu,” Maka Ibnu Mas’ud r.a. saudara Huzail mengikutinya. Nabi Saw. sampai di sebuah lereng yang dikenal dengan nama Lereng Al-Hujun, lalu membuat garis lingkaran sekitar Ibnu Mas’ud r.a. agar Ibnu Mas’ud tetap berada di dalamnya. Ibnu Mas’ud r.a. mengatakan bahwa lalu ia merasa takut dan melihat bayangan seperti burung elang berjalan (dalam jumlah yang banyak), dan ia mendengar suara kegaduhan yang keras, hingga ia merasa khawatir dengan keselamatan Nabi Saw., kemudian Nabi Saw. terdengar membaca Al-Qur’an. Ketika Rasulullah Saw. kembali kepadanya, ia bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah suara ribut-ribut yang kudengar tadi?” Rasulullah Saw. menjawab: Mereka bersengketa sehubungan dengan kasus pembunuhan, maka diputuskan di antara mereka dengan benar (adil).
Hadis ini diriwayatkan pula oleh Ibnu Jarir dan Ibnu Abu Hatim.
Semua jalur yang telah disebutkan di atas menunjukkan bahwa Rasulullah Saw. pergi menemui jin dengan sengaja, lalu membacakan (mengajarkan) Al-Qur’an kepada mereka, dan menyeru mereka untuk menyembah Allah Swt. Dan Allah mensyariatkan bagi mereka melalui lisan Nabi Saw. semua ketentuan hukum yang diperlukan oleh mereka pada masa itu.
Dapat pula ditakwilkan bahwa pada permulaan kejadiannya mereka mendengar bacaan Al-Qur’an yang dilakukan oleh Nabi Saw., sedangkan beliau sendiri tidak menyadari kehadiran mereka, seperti yang disebutkan di dalam riwayat Ibnu Abbas r.a. Kemudian sesudah itu mereka mengirimkan delegasinya kepada Rasulullah Saw., seperti yang disebutkan di dalam riwayat Ibnu Mas’ud r.a.
Adapun sahabat Ibnu Mas’ud r.a. tidaklah bersama Rasulullah Saw. saat beliau berbicara dengan jin dan menyeru mereka untuk menyembah Allah, melainkan ia berada jauh dari Nabi Saw. Dan tiada seorang pun yang menemani Rasulullah Saw. selain dia sendiri, sekalipun demikian ia tidak menyaksikan saat pembicaraan Rasulullah Saw. dengan mereka . Demikianlah menurut analisis yang dikemukakan oleh Imam Baihaqi.
Dapat pula ditakwilkan bahwa pada permulaannya beliau berangkat menemui mereka tanpa ditemani oleh seorang pun, baik Ibnu Mas’ud maupun yang lainnya, seperti yang tertangkap dari makna lahiriah hadis yang disebutkan dalam riwayat pertama melalui Imam Ahmad dan ada pada Imam Muslim. Kemudian sesudah itu beliau Saw. keluar bersama Ibnu Mas’ud di malam yang lain, seperti yang disebutkan dalam riwayat Ibnu Abu Hatim pada tafsir firman-Nya: Katakanlah (hai Muhammad), “Telah diwahyukan kepadaku ” (Al-Jin: 1) Melalui hadis Ibnu Juraij, hanya Allah-lah Yang Maha Mengetahui.
Ibnu Juraij mengatakan, Abdul Aziz ibnu Umar telah mengatakan bahwa adapun jin yang menemui Nabi Saw. di Nakhlah, maka mereka dari Nainewi, dan jin yang menemui beliau di Mekah (Al-Hujun) berasal dari Nasibin. Lalu ditakwilkan oleh Imam Baihaqi bahwa Abdul Aziz ibnu Umar mengatakan, “Maka kami jalani malam ini dengan perasaan yang tidak menentu yang pernah dialami oleh suatu kaum (karena merasa kehilangan Nabi Saw.).” Berlainan dengan apa yang disebutkan oleh Ibnu Mas’ud r.a. dan yang lainnya yang mengetahui keluarnya Nabi Saw. untuk menemui jin; tetapi takwil ini jauh dari kenyataan, hanya Allah-lah Yang Maha Mengetahui.