قَالَ أُسَامَةُ بْنُ شَرِيك: كُنْتُ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَجَاءَتْهُ الْأَعْرَابُ مِنْ كُلِّ مَكَانٍ، فَقَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ، مَا خَيْرُ مَا أُعْطِيَ الْإِنْسَانُ؟ قَالَ: “حُسْنُ الْخُلُقِ”
Usamah ibnu Syarik menceritakan bahwa ketika ia berada di sisi Rasulullah Saw., tiba-tiba datanglah orang-orang Badui dari setiap daerah pedalaman, lalu mereka bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah anugerah terbaik yang diperoleh manusia?” Maka Rasulullah Saw. menjawab: Akhlak yang baik.
Ya’la ibnu Samak telah meriwayatkan dari Ummu Darda, dari Abu Darda yang menyampaikan hadis ini, bahwa tiada sesuatu amal pun yang lebih berat dalam neraca timbangan amal perbuatan selain dari akhlak yang baik.
Hal yang sama telah diriwayatkan oleh Ata, dari Ummu Darda dengan sanad yang sama.
عَنْ مَسْرُوقٍ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو مَرْفُوعًا: “إِنَّ مِنْ خِيَارِكُمْ أَحَاسِنُكُمْ أَخْلَاقًا”
Telah diriwayatkan pula dari Masruq, dari Abdullah ibnu Amr secara marfu’: Sesungguhnya orang yang terbaik di antara kalian ialah orang yang paling baik akhlaknya.
حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ أَبِي بَدْرٍ، حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عُبَيْدٍ ، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ أَبِي سَارَةَ، عَنِ الْحَسَنِ بْنُ عَلِيٍّ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “إِنَّ اللَّهَ لَيُعْطِي الْعَبْدَ مِنَ الثَّوَابِ عَلَى حُسْنِ الْخُلُقِ، كَمَا يُعْطِي الْمُجَاهِدَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ، يَغْدُو عَلَيْهِ الْأَجْرُ وَيَرُوحُ”
Telah menceritakan kepada kami Abdullah ibnu Abud Badr, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Ubaid, dari Muhammad ibnu Abu Sarah, dari Al-Hasan ibnu Ali yang menceritakan bahwa Rasulullah Saw. telah bersabda: Sesungguhnya Allah benar-benar memberi seorang hamba pahala berkat kebaikan akhlaknya, sebagaimana Dia memberi pahala kepada seorang mujahid di jalan Allah; pahala berlimpahan baginya di setiap pagi dan petang.
عَنْ مَكْحُولٍ، عَنْ أَبِي ثَعْلَبَةَ مَرْفُوعًا: “إِنَّ أَحَبَّكُمْ إليَّ وَأَقْرَبَكُمْ مِنِّي مَجْلِسًا، أَحَاسِنَكُمْ أَخْلَاقًا، وَإِنَّ أَبْغَضَكُمْ إليَّ وَأَبْعَدَكُمْ مِنِّي مَنْزِلًا فِي الْجَنَّةِ مُسَاوِيكُمْ أَخْلَاقًا، الثَّرْثَارُونَ الْمُتَشَدِّقُونَ الْمُتَفَيْهِقُونَ”
Diriwayatkan dari Mak-hul, dari Abu Sa’labah secara marfu’: Sesungguhnya orang yang paling aku sukai dari kalian dan paling dekat kedudukannya denganku adalah orang-orang yang paling baik akhlaknya. Dan sesungguhnya orang yang paling aku benci dari kalian dan paling jauh kedudukannya dariku di surga nanti adalah orang-orang yang paling buruk akhlaknya, yaitu orang-orang yang banyak bicara, suka membual (menyakiti orang lain melalui lisannya), lagi angkuh.
عَنْ أَبِي أُوَيْسٍ، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ المنْكَدِر، عَنْ جَابِرٍ مَرْفُوعًا: “أَلَا أُخْبِرُكُمْ بِأَكْمَلِكُمْ إِيمَانًا، أحاسنكم أخلاقا، الموطؤون أَكْنَافًا، الَّذِينَ يُؤْلفون ويَأْلفون
Diriwayatkan dari Abu Uwais, dari Muhammad ibnul Munkadir, dari Jabir secara marfu’: Maukah aku beri tahukan kepada kalian tentang orang yang paling sempurna imannya dari kalian? Yaitu orang-orang yang paling baik akhlaknya, lagi rendah diri, yaitu orang-orang yang disukai dan menyukai.
قَالَ اللَّيْثِ، عَنْ يَزِيدَ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أُسَامَةَ، عَنْ بَكْرِ بْنِ أَبِي الْفُرَاتِ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “مَا حَسَّن اللَّهُ خَلْق رَجُلٍ وخُلُقه فَتَطْعَمَه النَّارُ”
Al-Lais telah meriwayatkan dari Yazid ibnu Abdullah ibnu Usamah, dari Bakr ibnu Abul Furat yang telah menceritakan bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda: Tidaklah Allah menjadikan baik bentuk dan akhlak seseorang, lalu membiarkannya dimakan api (neraka).
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ غَالِبٍ الحُدَّاني، عَنْ أَبِي سَعِيدٍ مَرْفُوعًا: “خَصْلَتَانِ لَا يَجْتَمِعَانِ فِي مُؤْمِنٍ: الْبُخْلُ، وَسُوءُ الْخُلُقِ”،
Diriwayatkan dari Abdullah ibnu Galib Al-Haddani, dari Abu Sa’id secara marfu’: Ada dua pekerti yang keduanya tidak dapat terhimpun di dalam diri seorang mukmin, yaitu kikir dan akhlak yang buruk.
وَقَالَ مَيْمُونُ بْنُ مِهْرَان، عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “مَا مِنْ ذَنْبٍ أَعْظَمُ عِنْدَ اللَّهِ مِنْ سُوءِ الْخُلُقِ؛ وَذَلِكَ أَنَّ صَاحِبَهُ لَا يَخْرُجُ مِنْ ذَنْبٍ إِلَّا وَقَعَ فِي آخَرَ”
Maimun ibnu Mahran telah meriwayatkan dari Rasulullah Saw.: Tiada suatu dosapun yang lebih besar di sisi Allah selain dari akhlak yang buruk. Dikatakan demikian karena pelakunya tidak sekali-kali terlepas dari suatu dosa, melainkan terjerumus ke dalam dosa itu di lain waktu.
حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ الْجَعْدِ، حَدَّثَنَا أَبُو الْمُغِيرَةِ الأحْمَسِيّ، حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ إِسْحَاقَ، عَنْ رَجُلٍ مِنْ قُرَيْشٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “مَا مِنْ ذَنْبٍ أَعْظَمُ عِنْدَ اللَّهِ مِنْ سُوءِ الْخُلُقِ؛ إِنَّ الْخُلُقَ الْحَسَنَ لَيُذِيبَ الذُّنُوبَ كَمَا تُذِيبُ الشَّمْسُ الْجَلِيدَ، وَإِنَّ الْخُلُقَ السَّيِّئَ لَيُفْسِدُ الْعَمَلَ كَمَا يُفْسِدُ الْخَلُّ الْعَسَلَ”
Dia mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ali ibnul Jahd, telah menceritakan kepada kami Abul Mugirah Al-Ahmasi, telah menceritakan kepada kami Abdur Rahman ibnu Ishaq, dari seorang lelaki dari kalangan kabilah Quraisy yang telah menceritakan bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda: Tiada Suatu Dosa yang besar disisi Allah selain dari akhlak yang buruk. Sesungguhnya akhlak yang baik itu benar-benar dapat melebur dosa-dosa, sebagaimana sinar mentari mencairkan salju. Dan sesungguhnya akhlak yang buruk itu benar-benar merusak amal (baik) sebagaimana cuka merusak madu.
قَالَ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ إِدْرِيسَ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ جَدِّهِ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ مَرْفُوعًا: ” إِنَّكُمْ لَا تَسَعُون النَّاسَ بِأَمْوَالِكُمْ، وَلَكِنْ يَسَعُهم مِنْكُمْ بَسْطُ وُجُوهٍ وَحُسْنُ خُلُقٍ”
Abdullah ibnu Idris telah meriwayatkan dari ayahnya, dari kakeknya, dari Abu Hurairah secara marfu’: Sesungguhnya kalian tidak akan dapat memikat hati manusia dengan harta kalian, tetapi kalian dapat memikat mereka dengan sikap wajah yang berseri dan akhlak yang baik.
Muhammad ibnu Sirin telah mengatakan bahwa akhlak yang baik menunjang agama
Sebuah Pasal mengenai Celaan terhadap Takabur
قَالَ عَلْقَمَةُ، عَنِ ابْنِ مَسْعُودٍ -رَفَعَهُ -: “لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ حَبَّةٍ مِنْ كِبْر، وَلَا يُدْخِلُ النَّارَ مَنْ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ حَبَّةٍ مِنْ إِيمَانٍ”
Alqamah telah meriwayatkan dari Ibnu Mas’ud yang me-rafa’-kan hadis berikut: Tidak dapat masuk surga seseorang yang di dalam hatinya terdapat sifat takabur seberat biji sawi, dan tidak dapat masuk neraka seseorang yang di dalam hatinya terdapat iman seberat biji sawi.
قَالَ إِبْرَاهِيمُ بْنُ أَبِي عَبْلَة، عَنْ أَبِي سَلَمَةَ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو مَرْفُوعًا: “مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ، أَكَبَّهُ اللَّهُ عَلَى وَجْهِهِ فِي النَّارِ”
Ibrahim ibnu Abu Ablah telah meriwayatkan dari Abu Salamah, dari Abdullah ibnu Amr secara marfu’: Barang siapa yang di dalam hatinya terdapat sifat takabur seberat biji sawi, Allah akan menjungkalkannya dengan muka di bawah ke dalam neraka.
حَدَّثَنَا إِسْحَاقُ بْنُ إِسْمَاعِيلَ، حَدَّثَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ، عَنْ عُمَرَ بْنِ رَاشِدٍ، عَنْ إِيَاسِ بْنِ سَلَمَةَ، عَنْ أَبِيهِ مَرْفُوعًا: “لَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَذْهَبُ بِنَفْسِهِ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ مِنَ الْجَبَّارِينَ، فَيُصِيبُهُ مَا أَصَابَهُمْ مِنَ الْعَذَابِ”
Telah menceritakan kepada kami Ishaq ibnu Ismail, telah menceritakan kepada kami Abu Mu’awiyah, dari Umar ibnu Rasyid, dari Iyas ibnu Salamah, dari ayahnya secara marfu’: Seseorang yang terus-menerus memperturutkan hawa nafsunya pada akhirnya ia akan dicatat di sisi Allah termasuk ke dalam orang-orang yang sewenang-wenang, kemudian dia akan ditimpa azab seperti azab yang menimpa mereka.