Luqman, ayat 16-19

حَدَّثَنَا الْوَلِيدُ بْنُ شُجَاعٍ، حَدَّثَنَا عَثَّام بْنُ عَلِيٍّ، عَنْ حُمَيْدِ بْنِ عَطَاءٍ الْأَعْرَجِ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الْحَارِثِ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: “رُبَّ ذِي طِمْرَيْنِ لَا يُؤبَه لَهُ، لَوْ أَقْسَمَ عَلَى اللَّهِ لَأَبَرَّهُ، لَوْ قَالَ: اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْجَنَّةَ لَأَعْطَاهُ الْجَنَّةَ، وَلَمْ يُعْطِهُ مِنَ الدُّنْيَا شَيْئًا”

Telah menceritakan kepada kami Al-Walid ibnu Syuja’, telah menceritakan kepada kami Ganam ibnu Ali, dari Humaid ibnu Ata Al-A’raj, dari Abdullah ibnul Haris, dari Abdullah ibnu Mas’ud r.a., dari Nabi Saw. yang telah bersabda: Banyak dijumpai orang yang berpakaian tambal sulam tidak diindahkan. Seandainya dia berdoa kepada Allah, niscaya Allah mengabulkannya. Seandainya dia berdoa, “Ya Allah, sesungguhnya saya memohon kepada-Mu surga, “niscaya Allah akan memberinya surga, tetapi Allah tidak memberinya bagian dari duniawi barang sedikit pun.

قَالَ أَيْضًا: حَدَّثَنَا إِسْحَاقُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ، حَدَّثَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ، عَنِ الْأَعْمَشِ، عَنْ سَالِمِ بْنِ أَبِي الْجَعْدِ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “إِنَّ مِنْ أُمَّتِي مَنْ لَوْ أَتَى بَابَ أَحَدِكُمْ يَسْأَلُهُ دِينَارًا أَوْ دِرْهَمًا أو فِلْسًا لَمْ يُعْطَهُ، وَلَوْ سَأَلَ اللَّهَ الْجَنَّةَ لَأَعْطَاهُ إِيَّاهَا، وَلَوْ سَأَلَهُ الدُّنْيَا لَمْ يُعْطِهِ إِيَّاهَا، وَلَمْ يَمْنَعْهَا إِيَّاهُ لِهَوَانِهِ عَلَيْهِ، ذُو طِمْرَيْنِ لَا يُؤْبَهُ لَهُ، لَوْ أَقْسَمَ عَلَى اللَّهِ لَأَبَرَّهُ”

Abu Bakar ibnu Sahl At-Tamimi mengatakan pula, telah menceritakan kepada kami Ishaq ibnu Ibrahim, telah menceritakan kepada kami Abu Mu’awiyah, dari Al-A’masy,dari Salim ibnu Abul Ja’d yang mengatakan bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda: Sesungguhnya di antara umatku terdapat seseorang yang seandainya dia mendatangi pintu rumah seseorang dari kalian untuk meminta dinar atau dirham atau uang recehan, pastilah dia tidak diberi. Dan seandainya dia meminta surga kepada Allah, tentulah Allah akan memberinya surga. Dan seandainya dia meminta bagian duniawi kepada-Nya, Allah tidak akan memberinya; dan tiadalah Allah menolaknya meminta dunia, melainkan karena duniawi itu tiada arti baginya. Dia berpakaian tambal sulam lagi tidak diindahkan (tidak dikenal); seandainya dia bersumpah atas nama Allah, tentulah dia menunaikannya.

Ditinjau dari segi sanadnya hadis ini berpredikat mursal.

قَالَ أَيْضًا: حَدَّثَنَا إِسْحَاقُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ، أَخْبَرَنَا جَعْفَرُ بْنُ سُلَيْمَانَ، حَدَّثَنَا عَوْف قَالَ: قَالَ أَبُو هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “إِنَّ مِنْ مُلُوكِ الْجَنَّةِ مَنْ هُوَ أَشْعَثُ أَغْبَرُ ذُو طِمْرَيْنِ لَا يُؤبَه لَهُ، الَّذِينَ إِذَا اسْتَأْذَنُوا عَلَى الْأُمَرَاءِ لَمْ يُؤْذَنْ لَهُمْ، وَإِذَا خَطَبُوا النِّسَاءَ لَمْ يُنْكَحُوا، وَإِذَا قَالُوا لَمْ يُنصَت لَهُمْ، حَوَائِجُ أَحَدِهِمْ تَتَجَلْجَلُ فِي صَدْرِهِ، لَوْ قُسِّمَ نُورُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ بَيْنَ النَّاسِ لَوَسِعَهُمْ”

Dia mengatakan pula, telah menceritakan kepada kami Ishaq ibnu Ibrahim, telah menceritakan kepada kami Ja’far ibnu Sulaiman, telah menceritakan kepada kami Auf yang mengatakan bahwa Abu Hurairah r.a. pernah mengatakan bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda: Sesungguhnya di antara raja-raja surga terdapat (dari kalangan) orang (yang sewaktu di dunia) rambutnya awut-awutan lagi berdebu, berpakaian tambal sulam, lagi tidak dikenal. Yaitu mereka yang apabila meminta izin untuk menemui amir pasti tidak diberi izin masuk, dan apabila melamar wanita pasti tidak diterima, dan apabila berbicara ucapannya tidak didengar; kebutuhan seseorang dari mereka bertumpang tindih tersimpan dalam hatinya. Seandainya cahaya dia kelak di hari kiamat dibagikan kepada semua manusia, niscaya dapat memuat mereka.

Dia mengatakan bahwa Umar ibnu Syaibah telah mengucapkan bait-bait syair berikut dari Ibnu Aisyah yang mengatakan bahwa Abdullah ibnul Mubarak pernah berkata dalam bait syairnya:

أَلَا رُبّ ذِي طمْرَين فِي مَنزل غَدًا … زَرَابِيه مَبْثُوثةً ونَمَارقُه …

قَد اطَّرَدَتْ أَنْهَارُهُ حَوَل قَصْره … وَأشرَقَ والتفَّتْ عَلَيه حَدَائقُه

Ingatlah, banyak didapati orang yang berpakaian tambal sulam, besok (pada hari kiamat) bertempat tinggal di gedung yang permadani-permadaninya terhampar dan bantal-bantalnya (yang tersusun), cahayanya menyinari sekitar gedung tempat tinggalnya dengan cahaya yang cemerlang, dan dikelilingi oleh taman-taman yang indah-indah di sekitarnya.

وَرُوِيَ -أَيْضًا -مِنْ حَدِيثِ عُبَيد اللَّهِ بْنِ زَحْر، عَنْ عَلِيِّ بْنِ زَيْدٍ، عَنِ الْقَاسِمِ، عَنْ أَبِي أُمَامَةَ مَرْفُوعًا: “قَالَ اللَّهُ: مِنْ أَغْبَطِ أَوْلِيَائِي عِنْدِي: مُؤْمِنٌ خَفِيفُ الْحَاذِ، ذُو حَظٍّ مِنْ صَلَاةٍ، أَحْسَنَ عِبَادَةَ رَبِّهِ، وَأَطَاعَهُ فِي السِّرِّ، وَكَانَ غَامِضًا فِي النَّاسِ، لَا يُشَارُ إِلَيْهِ بِالْأَصَابِعِ. إِنْ صَبَرَ عَلَى ذَلِكَ”. قَالَ: ثُمَّ نَقَد رَسُولُ اللَّهِ بِيَدِهِ وَقَالَ: “عُجّلت مَنِيَّتُهُ، وَقَلَّ تُرَاثَهُ، وَقَلَّتْ بَوَاكِيهِ”

Abu Bakar ibnu Sahl At-Tamimi telah meriwayatkan pula melalui hadis Ubaidillah Ibnu Zahr, dari Ali ibnu Zaid, dari Al-Qasim, dari Abu Umamah secara marfu’: Allah SWT berfirman, “Di antara kekasih-kekasih-Ku yang paling disukai di sisi-Ku ialah orang mukmin yang rendah diri, banyak mengerjakan salat, beribadah kepada Tuhannya dengan baik dan taat kepada-Nya secara sembunyi-sembunyi, dan tidak dikenal di kalangan manusia, bukan termasuk orang yang menjadi perhatian orang banyak,” jika dia sabar dalam melakukan hal tersebut. Kemudian Rasulullah Saw. berisyarat dengan tangannya dan bersabda: Maut datang cepat menjemputnya, ahli warisnya sedikit dan sedikit pula orang yang menangisi kepergiannya.

Diriwayatkan dari Abdullah ibnu Amr yang mengatakan bahwa hamba yang paling disukai oleh Allah ialah orang-orang yang terasing. Ketika ditanyakan, “Siapakah yang dimaksud dengan orang-orang yang terasing itu?” Abdullah ibnu Amr menjawab, “Orang-orang yang lari menyelamatkan agamanya, kelak mereka dihimpunkan di hari kiamat bersama Isa putra Maryam.”

Al-Fudail ibnu Iyad mengatakan, “Telah sampai kepadaku suatu berita yang mengatakan bahwa kelak di hari kiamat Allah Swt. berfirman kepada hamba-Nya, ‘Bukankah Aku telah menyenangkanmu, bukankah Aku telah memberimu, bukankah Aku telah menutupimu, dan bukankah Aku telah menjadikan baik sehutanmu?’.” Kemudian Al-Fudail mengatakan, “Jika engkau mampu untuk tidak dikenal, lakukanlah. Tidaklah membahayakan dirimu bila dirimu tidak dipuji, dan tidaklah membahayakanmu bila kamu dicela di mata manusia, tetapi disukai di sisi Allah.”

Ibnu Muhairiz sering mengatakan dalam doanya, “Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu untuk tidak dikenal.”

Khalil ibnu Ahmad sering mengucapkan doa berikut, “Ya Allah, jadikanlah diriku di sisi-Mu termasuk orang yang paling tinggi di kalangan makhluk-Mu, dan jadikanlah aku menurut pandangan diriku termasuk orang yang paling rendah di kalangan makhluk-Mu, dan menurut pandangan orang lain termasuk orang yang paling pertengahan di kalangan makhluk-Mu.

Bab Hadis-Hadis yang Membahas tentang Syuhrah (ketenaran)

حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ عِيسَى الْمِصْرِيُّ، حَدَّثَنَا ابْنُ وَهْبٍ، عَنْ عُمَرَ بْنِ الْحَارِثِ وَابْنِ لَهِيعة، عَنْ يَزِيدَ بْنِ أَبِي حَبِيبٍ، عَنْ سِنَان بْنِ سَعْدٍ، عَنْ أَنَسٍ، عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ: “حَسْبُ امرئ من الشَّرِّ -إِلَّا مَنْ عَصَمَ اللَّهُ -أَنْ يُشِيرَ النَّاسُ إِلَيْهِ بِالْأَصَابِعِ فِي دِينِهِ وَدُنْيَاهُ، وَإِنَّ اللَّهَ لَا يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَلَكِنْ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ”

Abu Bakar ibnu Sahl At-Tamimi mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ahmad ibnu Isa Al-Masri, telah menceritakan kepada kami Ibnu Wahb, dari Umar ibnul Haris dan Ibnu Lahi’ah, dari Yazid ibnu Abu Habib, dari Sinan ibnu Sa’d, dari Anas, dari Rasulullah Saw. yang telah bersabda: Cukuplah keburukan bagi seseorang, terkecuali orang yang dipelihara oleh Allah, bila ia menjadi seorang yang menjadi pusat perhatian orang-orang lain dalam hal agama dan dunianya. Dan sesungguhnya Allah tidak akan memandang kepada rupa kalian, tetapi kepada hati dan amal perbuatan kalian.

Tulisan ini dimuat dalam Tafsir Ibnu Katsir.