Luqman, ayat 16-19

Dia telah meriwayatkan hal yang semisal dari Ishaq ibnu Bahlul, dari Ibnu Abu Fudaik, dari Muhammad ibnu Abdul Wahid Al-Akhnasi, dari Abdul Wahid ibnu Abu Kasir, dari Jabir ibnu Abdullah secara marfu’ dengan lafaz yang semisal.

Ia meriwayatkan pula dari Al-Hasan hal yang semisal. Maka dikatakan kepada Al-Hasan, “Bukankah engkau termasuk orang yang menjadi pusat perhatian orang banyak?” Maka Al-Hasan menjawab, bahwa sesungguhnya yang dimaksud dengan ketenaran yang tercela dalam hadis ini ialah orang yang tenar dengan bid’ahnya dalam agamanya dan fasik dalam masalah dunianya.

Diriwayatkan melalui Ali r.a., bahwa ia telah mengatakan, “Janganlah kamu berusaha untuk menjadi orang yang tenar, dan janganlah kamu angkat dirimu untuk menjadi buah bibir dan terkenal. Tetapi diamlah dan jangan banyak bicara, niscaya kamu selamat, maka kamu akan membuat senang orang-orang yang bertakwa dan menjengkelkan orang-orang yang durhaka.”

Ibrahim ibnu Adam telah mengatakan bahwa bukanlah termasuk orang yang percaya kepada Allah seseorang yang menyukai ketenaran.

Ayyub mengatakan, tidaklah seorang hamba percaya kepada Allah, melainkan bila ia merasa senang jika ia dijadikan orang yang tidak mengetahui kedudukan dirinya.

Muhammad ibnul Ala telah mengatakan bahwa barang siapa yang cinta kepada Allah, maka Allah menjadikannya orang yang suka bila tidak dikenal oleh orang banyak.

Sammak ibnu Salamah telah mengatakan, janganlah engkau menjadi orang yang mempunyai banyak teman dekat.

Aban ibnu Usman telah mengatakan bahwa jika kamu menginginkan agar selamat dalam memegang agamamu, maka persedikitlah kenalan-kenalanmu.

Disebutkan bahwa Abul Aliyah apabila duduk di majelisnya sebanyak tiga orang lebih, maka ia bangkit dan pergi meninggalkan mereka.

Telah menceritakan kepada kami Ali ibnul Ja’d, telah menceritakan kepada kami Syu’bah, dari Auf, dari Abu Raja yang menceritakan bahwa Talhah melihat suatu kaum berjalan bersamanya, maka ia berkata, “Mereka adalah para pemburu ketamakan dan bagaikan kupu-kupu yang menjerumuskan dirinya ke dalam api.”

Ibnu Idris telah meriwayatkan dari Harun ibnu Abu Isa, dari Salim ibnu Hanzalah yang menceritakan, “Ketika kami berada di sekeliling ayahku, tiba-tiba Umar ibnul Khattab memukulnya dengan cambuk seraya berkata, ‘Sesungguhnya keadaan seperti ini berakibat kehinaan bagi orang yang diikuti dan menjadi fitnah bagi orang yang mengikutinya’.”

Ibnu Aun telah meriwayatkan dari Al-Hasan, bahwa Ibnu Mas’ud keluar dan diikuti oleh sejumlah orang banyak. Maka Ibnu Mas’ud berkata, “Demi Allah, seandainya kalian mengetahui apa yang tersimpan di balik pintu rumahku yang terkunci, pasti tidak akan ada dua orang pun dari kalian yang mengikutiku.”

Abdur Razzaq telah meriwayatkan dari Ma’mar, bahwa Ayyub kelihatan memakai baju gamis yang berlengan panjang, maka ditanyakan kepadanya mengenai hal tersebut, lalu ia menjawab, “Sesungguhnya ketenaran di masa lalu terletak pada pakaian baju gamis yang berlengan panjang, tetapi sekarang terletak pada pakaian yang berlengan pendek.” Pada suatu waktu Ayyub membuat sepasang terompah yang serupa dengan terompah milik Nabi Saw., lalu ia memakainya selama beberapa hari, kemudian mencabutnya (menanggalkannya) dan mengatakan, “Aku tidak melihat ada orang lain yang memakai terompah seperti ini.”

Ibrahim An-Nakha’i telah mengatakan, “Janganlah kamu memakai pakaian yang membuat dirimu disangka sebagai orang-orang yang terkemuka, dan jangan pula kamu berpakaian yang membuat orang lain merendahkan dirimu.”

As-Sauri mengatakan bahwa di masa lalu orang-orang tidak menyukai pakaian yang bagus-bagus yang menyebabkan pemakainya terkenal dan menjadi pusat perhatian orang banyak, tidak pula menyukai pakaian jelek yang menyebabkan pemakainya dipandang hina dan penghayatan agamanya direndahkan.

Telah menceritakan kepada kami Khalid ibnu Khaddasy, telah menceritakan kepada kami Hammad, dari Abu Hasanah (teman Az-Ziyadi) yang telah menceritakan, “Ketika kami berada di majelis Abu Qilabah, tiba-tiba masuklah seorang lelaki yang berpakaian necis dan mewah, maka Abu Qilabah berkata, ‘Janganlah kalian meniru keledai yang banyak melengking ini’.”

Al-Hasan mengatakan, sesungguhnya ada suatu kaum yang di dalam kalbu mereka penuh dengan rasa takabur, dan pakaian mereka berpenampilan rendah diri (sederhana). Dalam keadaan seperti ini orang yang berpakaian sederhana lebih takabur ketimbang orang yang berpakaian mewah, tetapi tidak takabur hatinya.

Di dalam salah satu kisah terdahulu disebutkan bahwa Musa a.s. pernah berkata kepada kaum Bani Israil, “Mengapa kalian datang kepadaku dengan berpakaian seperti rahib, padahal hati kalian bagaikan hati serigala. Berpakaianlah seperti raja, tetapi lunakkanlah hati kalian dengan rasa takut (kepada Tuhan).

Sebuah Pasal tentang Akhlak yang Baik

قَالَ أَبُو الْتِّيَّاحِ: عَنْ أَنَسٍ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ أَحْسَنِ النَّاسِ خُلُقًا

Abut Tayyah telah meriwayatkan dari Anas r.a. hadis berikut: Rasulullah Saw. adalah orang yang paling baik akhlaknya.

وَعَنْ عَطَاءٍ، عَنِ ابْنِ عُمَرَ: قِيلَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَيُّ الْمُؤْمِنِينَ أَفْضَلُ؟ قَالَ: “أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا”

Diriwayatkan pula dari Ata, dari Ibnu Umar, bahwa pernah ditanyakan kepada Rasulullah Saw., “Wahai Rasulullah, manakah orang mukmin yang paling utama?” Rasulullah Saw. menjawab: Orang yang paling baik akhlaknya dari mereka.

عَنْ نُوحِ بْنِ عَبَّادٍ، عَنْ ثَابِتٍ، عَنْ أَنَسٍ مَرْفُوعًا: “إِنَّ الْعَبْدَ لَيَبْلُغُ بِحُسْنِ خُلُقِهِ دَرَجَاتِ الْآخِرَةِ وَشَرَفَ الْمَنَازِلِ، وَإِنَّهُ لَضَعِيفُ الْعِبَادَةِ. وَإِنَّهُ لَيَبْلُغُ بِسُوءِ خُلُقِهِ دَرَك جَهَنَّمَ وَهُوَ عَابِدٌ”

Diriwayatkan dari Nuh ibnu Abbad, dari Sabit, dari Anas secara marfu’: Sesungguhnya seorang hamba benar-benar dapat mencapai tingkatan yang tinggi di akhirat dan kedudukan yang mulia berkat akhlaknya yang baik, padahal sesungguhnya ia lemah dalam hal ibadah. Dan sesungguhnya dia benar-benar dijerumuskan ke dalam dasar Jahanam karena keburukan akhlaknya, walaupun dia adalah seorang ahli ibadah.

وَعَنْ سِنَان بْنِ هَارُونَ، عَنْ حُمَيْدٍ، عَنْ أَنَسٍ مَرْفُوعًا: “ذَهَبَ حُسْنُ الْخُلُقِ بِخَيْرِ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ”

Diriwayatkan dari Sinnan ibnu Harun, dari Humaid, dari Anas secara marfu’: Akhlak yang baik memborong semua kebaikan dunia dan akhirat.

وَعَنْ عَائِشَةَ مَرْفُوعًا: “إِنَّ الْعَبْدَ لَيَبْلُغُ بِحُسْنِ خُلُقِهِ دَرَجَةَ قَائِمِ اللَّيْلِ وَصَائِمِ النَّهَارِ”

Diriwayatkan dari Siti Aisyah secara marfu’: Sesungguhnya seorang hamba benar-benar dapat mencapai derajat orang yang selalu salat di malam hari dan puasa di siang harinya berkat kebaikan akhlaknya.

قَالَ ابْنُ أَبِي الدُّنْيَا: حَدَّثَنِي أَبُو مُسْلِمٍ عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ يُونُسَ، حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهُ بْنُ إِدْرِيسَ، أَخْبَرَنِي أَبِي وَعَمِّي، عَنْ جَدِّي، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: سُئل رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ أَكْثَرِ مَا يُدخلُ الناسَ الْجَنَّةَ، فَقَالَ: “تَقْوَى اللَّهِ وَحُسْنُ الْخُلُقِ”. وَسُئِلَ عَنْ أَكْثَرِ مَا يُدْخِلُ النَّاسُ النَّارَ، فَقَالَ: “الْأَجْوَفَانِ: الْفَمُ وَالْفَرْجُ”

Ibnu Abud Dunia mengatakan, telah menceritakan kepadaku Abu Muslim Abdur Rahman ibnu Yunus, telah menceritakan kepada kami Abdullah ibnu Idris, telah menceritakan kepadaku ayahku dan pamanku, dari kakekku, dari Abu Hurairah r.a., bahwa Rasulullah Saw. pernah ditanya tentang amal perbuatan yang banyak memasukkan orang ke dalam surga, maka beliau menjawab: Takwa kepada Allah dan akhlak yang baik. Beliau Saw. pernah pula ditanya tentang amal perbuatan yang paling banyak memasukkan manusia ke dalam neraka. Beliau Saw. menjawab: Dua lubang, yaitu mulut dan kemaluan.

Tulisan ini dimuat dalam Tafsir Ibnu Katsir.