Al-Isra, ayat 15

Allah lebih mengetahui apa yang bakal mereka kerjakan.

Hal yang sama disebutkan pula dalam kitab Sahihain melalui hadis Az-Zuhri, dari Ata ibnu Yazid, dari Abu Salamah, dari Abu Hurairah, dari Nabi Saw. Bahwa Nabi Saw. pernah ditanya mengenai anak-anak kaum musyrik, maka beliau Saw. menjawab: Allah lebih mengetahui apa yang bakal mereka kerjakan.

Akan tetapi, di antara ulama ada yang berpendapat bahwa mereka dijadikan oleh Allah untuk menghuni Al-A’raf (tembok-tembok yang tinggi yang membatasi antara surga dan neraka). Pendapat ini merujuk kepada pendapat yang mengatakan bahwa mereka termasuk ahli surga, karena sesungguhnya Al-A’raf bukanlah tempat untuk menetap; dan tempat kembali para penduduknya tiada lain adalah surga, seperti apa yang telah dijelaskan di dalam tafsir surat Al-A’raf.

Sebuah pasal

Perlu diketahui bahwa perbedaan pendapat ini menyangkut anak-anak kaum musyrik. Adapun anak-anak orang-orang mukmin, tidak ada perbe­daan pendapat di kalangan mereka mengenainya, seperti yang diceritakan oleh Abu Ya’la ibnul Farra Al-Hambali, dari Imam Ahmad yang mengata­kan bahwa tidak ada perbedaan pendapat di kalangan para ulama tentang anak-anak kaum muslim, semua bersepakat bahwa mereka termasuk ahli surga. Pendapat inilah yang terkenal di kalangan orang-orang banyak, dan pendapat ini pulalah yang dapat kita buktikan kebenarannya.

Adapun mengenai apa yang disebutkan oleh Syekh Abu Umar ibnu Abdul Bar dari sebagian ulama, bahwa mereka bersikap abstain mengenai masalah ini dan menyerahkan nasib mereka kepada kehendak Allah Swt., Abu Umar mengatakan bahwa pendapat ini dikatakan oleh sejumlah ulama dari kalangan ahli fiqih dan ahli hadis, antara lain Hammad ibnu Zaid, Hammad ibnu Salamah, Ibnul Mubarak, Ishak ibnu Rahawaih, dan lain-lainnya. Mereka mengatakan bahwa pendapat ini mirip dengan apa yang digambarkan oleh Imam Malik di dalam kitab Muwatta ‘-nya dalam Abwabul Qadar, yakni hadis-hadis yang diketengahkannya dalam hal ini.

Pendapat ini pulalah yang dijadikan pegangan oleh murid-muridnya, padahal tiada suatu nas pun yang bersumber dari Imam Malik mengenai­nya. Akan tetapi, kalangan ulama terkemudian dari kalangan pengikutnya berpendapat bahwa anak-anak dari kaum muslim berada di dalam surga, sedangkan anak-anak kaum musyrik khususnya berada dalam kehendak Allah. Demikianlah menurut Abu Umar, dan pendapat ini dinilai garib sekali.

Abu Abdullah Al-Qurtubi mengatakan hal yang semisal dengan pendapat di atas dalam kitabnya At-Tazkirah.

Dalam masalah ini mereka menyebutkan pula hadis Aisyah binti Talhah, dari Aisyah Ummul Mu’minin yang menceritakan bahwa:

دُعِيَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَى جِنَازَةِ صَبِيٍّ مِنَ الْأَنْصَارِ، فَقُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، طُوبَى لَهُ عُصْفُورٌ مِنْ عَصَافِيرِ الْجَنَّةِ لَمْ يَعْمَلِ السُّوءَ وَلَمْ يُدْرِكْهُ، فَقَالَ: “أَوَ غَيْرَ ذَلِكَ يَا عَائِشَةُ، إِنَّ اللَّهَ خَلَقَ الْجَنَّةَ وَخَلَقَ لَهَا أَهْلًا وَهُمْ فِي أَصْلَابِ آبَائِهِمْ، وَخَلَقَ النَّارَ وَخَلَقَ لَهَا أَهْلًا وَهُمْ فِي أَصْلَابِ آبائهم”

Nabi Saw. diundang untuk mengurusi jenazah seorang anak dari kalangan Ansar. Maka saya (Aisyah) berkata, “Wahai Rasulullah, beruntunglah anak ini, dia menjadi seekor burung pipit surga, tidak pernah melakukan suatu dosa dan tidak pula menjumpainya.” Maka Nabi Saw. bersabda: Hai Aisyah, tidaklah demikian keadaannya. Sesungguhnya Allah menciptakan surga dan menciptakan pula penduduknya, sedangkan mereka masih berada di dalam tulang sulbi bapak-bapak mereka. Dan Allah menciptakan neraka serta mencipta­kan pula penduduknya, sedangkan mereka masih berada di dalam tulang sulbi bapak-bapak mereka.

Hadis riwayat Muslim, Ahmad, Abu Daud, Nasai, dan Ibnu Majah.

Mengingat pembahasan dalam masalah ini memerlukan dalil-dalil yang sahih lagi baik — sedangkan orang-orang banyak yang meng­utarakan pendapatnya mengenai masalah ini, padahal mereka tidak mempunyai pengetahuan dari pentasyri’ mengenainya—maka sejumlah ulama memakruhkan pembahasan masalah ini.

Hal ini diriwayatkan dari Ibnu Abbas, Al-Qasim ibnu Muhammad ibnu Abu Bakar As-Siddiq, Muhammad ibnul Hanafiyah, dan yang lainnya.

Ibnu Hibban di dalam kitab sahihnya telah mengetengahkan sebuah hadis dari Jarir ibnu Hazim; ia pernah mendengar Abu Raja Al-Utaridi mengatakan bahwa ia pernah mendengar Ibnu Abbas r.a. berkhotbah di atas mimbarnya seraya mengeluarkan hadis berikut, bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda:

“لَا يَزَالُ أَمْرُ هَذِهِ الْأُمَّةِ مُوَاتِيًا -أَوْ مُقَارِبًا-مَا لَمْ يَتَكَلَّمُوا فِي الوِلْدان والقَدَر”.

Perkara umat ini tetap dalam keadaan lancar atau mendekati (kebenaran) selama mereka tidak membicarakan masalah wildan dan takdir.

Ibnu Hibban mengatakan, yang dimaksud dengan wildan ialah anak-anak kaum musyrik. Hal yang sama telah diriwayatkan oleh Abu Bakar Al-Bazzar melalui jalur Jarir ibnu Hazm dengan sanad yang sama, kemudian ia mengatakan bahwa hadis ini telah diriwayatkan pula oleh jama’ah melalui Abu Raja, dari Ibnu Abbas secara mauquf

Tulisan ini dimuat dalam Tafsir Ibnu Katsir.