Al-Isra, ayat 15

Dalil ini memang sahih, tetapi hadis-hadis yang menyebutkan adanya ujian di hari kiamat lebih khusus lagi daripada dalil ini. Anak yang menurut ilmu Allah kelak akan menjadi orang yang taat, rohnya di alam Barzakh bersama Nabi Ibrahim dan anak-anak kaum muslim yang mati dalam keadaan fitrah (yakni masih anak-anak dan belum berusia balig). Dan anak yang menurut ilmu Allah kelak tidak taat, maka perkaranya diserah­kan kepada Allah Swt., dan kelak di hari kiamat ia akan di masukkan ke dalam neraka, seperti apa yang di tunjukkan oleh hadis-hadis imtihan (ujian) yang dinukil oleh Al-Asy’ari dari kalangan ulama ahli sunnah.

Kemudian mereka yang berpendapat bahwa anak-anak tersebut berada di dalam surga, di antara anak-anak tersebut ada yang di jadikan hidup bebas di dalam surga, dan di antara mereka ada yang dijadikan sebagai pelayan-pelayan ahli surga; seperti yang disebutkan di dalam hadis Ali ibnu Zaid, dari Anas yang ada pada Imam Abu Daud At-Tayalisi. Hadis ini daif.

Kedua, yaitu yang mengatakan bahwa anak-anak kaum musyrik tinggal bersama ayah-ayah mereka, yakni di dalam neraka. Pendapat ini berdalilkan kepada apa yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad ibnu Hambal melalui Abul Mugirah:

حَدَّثَنَا عُتْبَةُ بْنُ ضَمْرَةَ بْنِ حَبِيبٍ، حَدَّثَنِي عَبْدُ اللَّهِ بْنُ أَبَى قَيْسٍ مَوْلَى غُطَيْف، أَنَّهُ أَتَى عَائِشَةَ فَسَأَلَهَا عَنْ ذَرَارِيِّ الْكُفَّارِ فَقَالَتْ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “هُمْ تَبَعٌ لِآبَائِهِمْ”. فَقُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، بِلَا عَمَلٍ؟ فَقَالَ: “اللَّهُ أَعْلَمُ بِمَا كَانُوا عَامِلِينَ”

telah menceritakan kepada kami Atabah ibnu Damrah ibnu Habib, telah menceritakan kepadaku Abdullah ibnu Abu Qais maula Gatif, bahwa ia datang kepada Siti Aisyah, lalu bertanya kepadanya mengenai nasib anak-anak kaum Kuffar. Maka Siti Aisyah menjawabnya dengan hadis Rasul Saw. yang mengatakan: “Mereka mengikuti kepada ayah-ayah mereka.” Saya (Aisyah) bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah demikian sekalipun mereka tidak beramal?” Rasulullah Saw. menjawab, “Allah lebih mengetahui tentang apa yang bakal mereka amalkan (bila terus hidup).”

Imam Abu Daud mengetengahkan hadis ini melalui riwayat Muhammad ibnu Harb, dari Muhammad ibnu Ziyad Al-Ilhani; ia pernah mendengar Abdullah ibnu Abu Qais mengatakan bahwa ia pernah mendengar Siti Aisyah menceritakan hadis berikut:

سَأَلْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ ذَرَارِيِّ الْمُؤْمِنِينَ قَالَ: “هُمْ مِنْ آبَائِهِمْ”. قُلْتُ: فَذَرَارِيُّ الْمُشْرِكِينَ؟ قَالَ: “هُمْ مَعَ آبَائِهِمْ” قُلْتُ: بِلَا عَمَلٍ؟ قَالَ: “اللَّهُ أَعْلَمُ بِمَا كَانُوا عَامِلِينَ”

Saya pernah bertanya kepada Rasulullah Saw. tentang nasib anak-anak kaum mukmin. Maka beliau Saw. menjawab, “Mere­ka ada bersama ayah-ayah mereka (yakni di dalam surga).” Saya bertanya lagi, “Bagaimanakah dengan nasib anak-anak kaum musyrik?” Nabi Saw. menjawab, “Mereka tinggal bersama ayah-ayah mereka.” Saya bertanya, “Sekalipun tanpa amal?” Nabi Saw. menjawab, “Allah lebih mengetahui tentang apa yang bakal mereka kerjakan.”

Imam Ahmad telah meriwayatkan pula dari Waki’, dari Abu Uqail Yahya ibnul Mutawakkil yang hadisnya berpredikat matruk (tidak dapat dipakai), dari tuan perempuannya (yaitu Bahiyyah), dari Siti Aisyah, bahwa ia pernah menceritakan perihal anak-anak kaum musyrik kepada Rasulullah Saw. Maka Rasulullah Saw. bersabda:

“إِنْ شِئْتِ أَسْمَعْتُكِ تَضَاغِيَهُمْ فِي النَّارِ”

Jika engkau suka, aku akan memperdengarkan suara tangisan mereka sedang berada di dalam neraka kepadamu.

قَالَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ الْإِمَامِ أَحْمَدُ: حَدَّثَنَا عُثْمَانُ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ فُضَيْلِ بْنِ غَزْوَانَ، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عُثْمَانَ، عَنْ زَاذَانَ عَنْ عَلِيٍّ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ: سَأَلَتْ خَدِيجَةُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ وَلَدَيْنِ لَهَا مَاتَا فِي الْجَاهِلِيَّةِ فَقَالَ: “هُمَا فِي النَّارِ”. قَالَ: فَلَمَّا رَأَى الْكَرَاهِيَةَ فِي وَجْهِهَا [قَالَ] لَوْ رَأَيْتِ مَكَانَهُمَا لَأَبْغَضْتِهِمَا”. قَالَتْ: فَوَلَدِي مِنْكَ؟ قَالَ: [قَالَ: “فِي الْجَنَّةِ”. قَالَ: ثُمَّ قَالَ رَسُولُ الله صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ]. “إِنَّ الْمُؤْمِنِينَ وَأَوْلَادَهُمْ فِي الْجَنَّةِ، وَإِنَّ الْمُشْرِكِينَ وَأَوْلَادَهُمْ فِي النَّارِ” ثُمَّ قَرَأَ: {وَالَّذِينَ آمَنُوا وَاتَّبَعَتْهُمْ ذُرِّيَّتُهُمْ بِإِيمَانٍ [أَلْحَقْنَا بِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ]}

Abdullah ibnu Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Usman ibnu Abu Syaibah, dari Muhammad ibnu Fudail ibnu Gazwan, dari Muhammad ibnu Usman, dari Zazan, dari Ali r.a. yang menceritakan bahwa Siti Khadijah pernah bertanya kepada Rasulullah Saw. tentang anaknya yang mati di masa Jahiliah. Maka Nabi Saw. bersabda bahwa keduanya berada di dalam neraka. Ali r.a. melanjutkan kisahnya, bahwa setelah kelihatan muka Khadijah murung karena tidak suka, maka Rasulullah Saw. bersabda kepadanya, “Seandainya engkau aku perlihatkan kedudukan keduanya (bila telah besar), tentulah kamu akan membenci keduanya.” Siti Khadijah kembali bertanya, “Maka bagaimanakah nasib anakku yang lahir dari kamu?” Nabi Saw. menjawab: Sesungguhnya orang-orang mukmin dan anak-anak mereka berada di dalam surga, dan sesungguhnya orang-orang musy­rik dan anak-anak mereka berada di dalam neraka. Kemudian Rasulullah Saw. membacakan firman-Nya: Dan orang-orang yang beriman dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka. (Ath-Thur: 21)

Hadis ini garib, karena sesungguhnya di dalam sanadnya terdapat Muhammad ibnu Usman, sedangkan dia orangnya tidak dikenal; dan gurunya (yaitu Zazan) sesungguhnya tidak menjumpai masa sahabat Ali r.a.

Abu Daud telah meriwayatkan melalui hadis Ibnu Abu Zaidah, dari ayahnya, dari Asy-Sya’bi yang mengatakan bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda:

“الْوَائِدَةُ وَالْمَوْءُودَةُ فِي النَّارِ”.

Wanita yang menguburkan anak perempuannya hidup-hidup dan anaknya yang dikuburnya hidup-hidup, keduanya berada di dalam neraka.

Kemudian Asy-Sya’bi mengatakan, “Hadis ini telah diriwayatkan kepada­ku oleh Alqamah, dari Abu Wa-il, dari Ibnu Mas’ud.”

Hadis ini telah diriwayatkan pula oleh Jama’ah, dari Daud ibnu Abu Hindun, dari Asy-Sya’bi, dari Alqamah, dari Salamah ibnu Qais Al-Asyja’i yang mengata­kan, “Aku dan saudaraku datang kepada Nabi Saw., lalu kami bertanya, ‘ Sesungguhnya ibu kami telah meninggal dunia dimasa Jahiliah, padahal dahulu dia adalah seorang yang suka menghormati tamu, suka bersilatu­rahmi, tetapi ia pernah mengubur hidup-hidup saudara perempuannya yang belum balig di masa Jahiliah.’ Maka Rasulullah Saw. bersabda:

“الْوَائِدَةُ وَالْمَوْءُودَةُ فِي النَّارِ، إِلَّا أَنْ تُدْرِكَ الْوَائِدَةُ الْإِسْلَامَ، فَتُسْلِمَ”

‘Wanita yang mengubur hidup-hidup anak perempuan dan anak perempuan yang dikuburnya hidup-hidup (keduanya) berada di dalam neraka, terkecuali bila si wanita yang mengubur hidup-hidup anak perempuannya itu menjumpai masa Islam, lalu masuk Islam’.”

Sanad hadis ini hasan.

Pendapat terakhir mengatakan bahwa segala sesuatunya diserahkan kepada Allah. Dengan kata lain, mereka bersikap abstain, dan mereka melandasi pendapatnya dengan hadis Nabi Saw. yang mengatakan: Allah lebih mengetahui apa yang bakal mereka kerjakan.

Hal ini di dalam kitab Sahihuin disebutkan melalui hadis Ja’far ibnu Abu Iyas, dari Sa’id ibnu Jubair, dari Ibnu Abbas, bahwa Rasulullah Saw. pernah ditanya mengenai anak-anak kaum musyrik. Beliau Saw. menjawab:

“اللَّهُ أَعْلَمُ بِمَا كَانُوا عَامِلِينَ”

Tulisan ini dimuat dalam Tafsir Ibnu Katsir.