Al-Isra, ayat 15

Di antara ulama ada yang tidak mengemukakan tanggapannya tentang mereka, yakni perkaranya terserah kepada Allah, karena berdasarkan hadis kedelapan.

Ada pula ulama yang menetapkan bahwa mereka masuk surga karena berdasarkan hadis Samurah ibnu Jundub di dalam kitab Sahih Bukhari yang menyebutkan tentang hadis mimpi Nabi Saw. Antara lain disebutkan di dalamnya bahwa ketika Nabi Saw. bersua dengan orang tua yang berada di bawah sebuah pohon, sedangkan di sekitarnya terdapat banyak anak-anak. Maka Malaikat Jibril berkata kepada Nabi Saw., “Ini adalah Ibrahim a.s., sedang mereka (anak-anak) itu adalah anak-anak kaum muslim dan anak-anak kaum musyrik.” Mereka (para sahabat) bertanya, “Wahai Rasulullah, termasuk juga anak-anak kaum musyrik?” Rasulullah Saw. menjawab, “Ya, termasuk pula anak-anak kaum musyrik.”

Di antara ulama ada yang memastikan bahwa anak-anak kaum musyrik dimasukkan ke dalam neraka, karena berdasarkan kepada sabda Nabi Saw. yang mengatakan: Mereka (anak-anak kaum musyrik) tinggal bersama orang tua-orang tuanya (yakni di dalam neraka).

Sebagian ulama berpendapat bahwa anak-anak kaum musyrik pada hari kiamat kelak diuji di tempat penantian. Barang siapa yang taat, masuk surga, lalu dibukakan ilmu Allah tentang mereka yang di dalamnya tercatat kebahagiaan bagi mereka. Dan barang siapa yang durhaka, masuk neraka, lalu dibukakan ilmu Allah tentang nasib mereka di masa mendatang yang di dalamnya tercatat bahwa mereka termasuk orang-orang yang celaka (masuk neraka).

Pandapat terakhir ini merupakan kesimpulan dari gabungan semua dalil mengenainya. Hal ini telah dijelaskan oleh hadis-hadis tadi yang sebagian darinya memperkuat sebagian yang lain dan sekaligus sebagai bukti yang menguatkannya. Pendapat inilah yang diceritakan oleh Syekh Abul Hasan Ali ibnu Ismail Al-Asy’ari, dari ulama ahli sunnah wal jama’ah. Dan pendapat ini pula yang didukung oleh Al-Hafiz, Abu Bakar Al-Baihaqi di dalam Kitabul ‘Itiqad; begitu pula oleh yang lainnya dari kalangan ahli tahqiq, huffaz, dan para kritikus.

Tetapi Syekh Abu Umar ibnu Abdul Bar An-Namiri sesudah mengetengahkan hadis-hadis mengenai ujian tadi mengatakan bahwa hadis-hadis mengenai bab ini kurang kuat dan tidak dapat dijadikan sebagai hujah. Ahlul ‘ilmi jelas menolak pendapat ini karena sesungguhnya kampung akhirat itu adalah kampung pembalasan, bukan kampung amal, bukan pula kampung ujian. Maka mana mungkin mereka dipaksa untuk masuk neraka, padahal hal ini di luar kemampuan semua makhluk; dan tidak sekali-kali Allah membebankan kepada seseorang melainkan menurut kemampuannya.

Dari keterangan di atas dapat disimpulkan bahwa hadis-hadis menge­nai masalah ini sebagian di antaranya ada yang sahih, seperti yang dinas-kan oleh kebanyakan para imam dan ulama. Di antaranya ada yang berpredikat hasan, ada juga yang berpredikat daif, tetapi menjadi kuat karena ada hadis sahih yang semakna dengannya atau hadis hasan.

Apabila hadis-hadis dalam satu bab berkaitan dan saling menguatkan satu sama lainnya sesuai dengan kriteria di atas; maka hadis-hadis tersebut dapat dijadikan sebagai hujah menurut orang-orang yang merenungkannya secara mendalam.

Adapun mengenai alasan yang mengatakan bahwa kampung akhirat adalah kampung pembalasan, tiada seorang pun yang meragukannya sebagai kampung pembalasan. Tetapi hal ini tidaklah bertentangan dengan adanya beban taklif di tempat penantian sebelum masuk surga atau masuk neraka, seperti yang diriwayatkan oleh Syekh Abul Hasan Al-Asy’ari dari kalangan mazhab ahli sunnah wal jama’ah yang mengatakan bahwa adanya ujian bagi anak-anak. Allah Swt. telah berfirman:

{يَوْمَ يُكْشَفُ عَنْ سَاقٍ وَيُدْعَوْنَ إِلَى السُّجُودِ}

Pada hari betis disingkapkan dan mereka dipanggil untuk ber­sujud, (Al-Qalam: 42), hingga akhir ayat.

Di dalam kitab-kitab sahih dan kitab-kitab lainnya disebutkan bahwa pada hari kiamat kelak orang-orang mukmin bersujud kepada Allah. Dan bahwa orang-orang munafik tidak mampu melakukannya, melainkan punggungnya kembali tegak menjadi seperti sebuah papan yang berdiri tegak. Setiap kali ia hendak melakukan sujud, maka punggungnya menolak dan kembali menjadi tegak, sejajar dengan tengkuknya.

Di dalam kitab Sahihain disebutkan tentang seorang lelaki penghuni neraka yang paling akhir dikeluarkan dari neraka; Allah mengambil janji sumpahnya, bahwa ia tidak boleh meminta selain dari apa yang diberikan kepadanya. Hal ini terjadi berkali-kali. Akhirnya Allah berfirman, “Hai anak Adam, betapa ingkar janjinya kamu.” Lalu Allah mengizinkannya untuk masuk surga.

Adapun mengenai pendapat yang mengatakan bahwa mana mungkin Allah memerintahkan kepada mereka untuk masuk neraka, padahal hal itu di luar kemampuan mereka. Maka sesungguhnya hal ini tidaklah bertentangan dengan kesahihan hadis mengenainya, karena sesungguhnya pada hari kiamat nanti Allah memerintahkan kepada hamba-hamba-Nya untuk melewati sirat. Sirat adalah sebuah jembatan yang terletak di atas neraka Jahannam, yang bentuknya lebih kecil daripada sebilah rambut dan lebih tajam daripada pedang.

Orang-orang mukmin melewatinya sesuai dengan amal perbuatan masing-masing, ada yang seperti kilat dan angin yang menyambar, ada yang cepatnya seperti kuda dan kendaraan yang sangat kencang, ada yang cepatnya seperti unta berjalan; dan di antara mereka ada yang berjalan kaki, ada pula yang berjalan biasa. Di antara mereka ada yang merangkak, ada pula yang merayap dengan tubuh yang penuh luka, lalu masuk ke dalam neraka.

Apa yang disebutkan di dalam hadis mengenai mereka yang diperin­tahkan untuk memasuki neraka bukanlah tidak lebih berat daripada apa yang disebutkan dalam hadis di atas. Bahkan apa yang disebutkan oleh hadis mengenai sirat jauh lebih mengerikan dan lebih berat.

Di dalam sunnah pun telah disebutkan bahwa kelak Dajjal membawa surga dan nerakanya sendiri. Pentasyri’ memerintahkan kepada orang-orang yang beriman yang menjumpai masanya, agar seseorang dari mereka meminum dari tempat yang kelihatannya seperti neraka; karena sesungguhnya kelak neraka itu akan menjadi dingin dan menjadi keselamatan baginya. Apa yang disebutkan dalam hadis ini semisal dengan hadis tadi yang menyebutkan bahwa Allah memerintahkan kepada mereka untuk masuk neraka.

Allah juga pernah memerintahkan kepada kaum Bani Israil untuk saling membunuh di antara sesama mereka. Lalu mereka saling membunuh, sebagian dari mereka membunuh sebagian yang lainnya hingga matilah semua orang yang diperintahkan untuk membunuh itu. Menurut suatu pendapat, dalam masa sehari telah terbunuh tujuh puluh ribu orang. Seorang lelaki membunuh ayahnya dan saudaranya karena mereka berada dalam cuaca gelap gulita akibat mendung yang dikirimkan oleh Allah kepada mereka. Demikian itu terjadi atas mereka sebagai hukuman terhadap mereka yang menyembah berhala anak sapi. Hal ini pun sangat berat dilakukannya, dan kenyataan ini tidaklah terbatas hanya pada hadis yang telah disebutkan di atas (mengenai perintah masuk neraka).

Sebuah pasal

Apabila hal ini telah jelas, sesungguhnya para ulama masih memperselisihkan tentang anak-anak kaum musyrik. Ada dua pendapat di kalangan mereka.

Pertama, pendapat yang mengatakan bahwa mereka dimasukkan ke dalam surga. Orang-orang yang berpendapat demikian beralasan dengan hadis Samurah yang mengatakan bahwa Nabi Saw. (dalam perjalanan Isra-nya) melihat anak-anak kaum muslim dan kaum musyrik ada bersama Nabi Ibrahim. Juga beralasan dengan hadis yang diriwayat­kan oleh Ahmad melalui Khansa, dari pamannya yang mengatakan bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda: Anak yang baru lahir berada di dalam surga.

Tulisan ini dimuat dalam Tafsir Ibnu Katsir.