Al-Isra, ayat 15

Al-Hafiz Abu Bakar Al-Bazzar telah meriwayatkan hal yang semisal dari Yusuf ibnu Musa, dari Jarir ibnu Abdul Hamid dengan sanad yang sama.

Hadis keempat, diriwayatkan melalui Al-Barra ibnu Azib r.a.

قَالَ الْحَافِظُ أَبُو يَعْلَى الْمَوْصِلِيُّ فِي مُسْنَدِهِ أَيْضًا: حَدَّثَنَا قَاسِمُ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ، حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ.

-يَعْنِي ابْنَ دَاوُدَ-عَنْ عُمَرَ بْنِ ذَرٍّ، عَنْ يَزِيدَ بْنِ أُمَيَّةَ، عَنِ الْبَرَاءِ قَالَ: سُئل رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ أَطْفَالِ الْمُسْلِمِينَ قَالَ: “هُمْ مَعَ آبَائِهِمْ”. وَسُئِلَ عَنْ أَوْلَادِ الْمُشْرِكِينَ فَقَالَ: “هُمْ مَعَ آبَائِهِمْ”. فَقِيلَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، مَا يَعْمَلُونَ؟ قَالَ: “اللَّهُ أَعْلَمُ بِهِمْ”

Abu Ya’la Al-Mausuli di dalam kitab Musnad-nya mengatakan, telah menceri­takan kepada kami Qasim ibnu Abu Syaibah, telah menceritakan kepada kami Abdullah (yakni Ibnu Daud), dari Umar ibnu Zar, dari Yazid ibnu Umayyah, dari Al-Barra yang menceritakan bahwa Rasulullah Saw. pernah ditanya tentang anak-anak orang-orang muslim, maka beliau Saw. menjawab, “Mereka akan bersama-sama dengan ayah-ayahnya.” Dan beliau ditanya tentang anak-anak kaum musyrik, maka beliau Saw. menja­wab, “Mereka akan bersama-sama dengan ayah-ayahnya.” Ketika ditanyakan, “Wahai Rasulullah, anak-anak kaum musyrik itu masih belum beramal?” Rasulullah Saw. menjawab, “Allah lebih mengetahui tentang mereka.”

Umar ibnu Zar telah meriwayatkannya dari Yazid ibnu Umayyah, dari seorang lelaki, dari Al-Barra, dari Aisyah, lalu ia menuturkan hadis ini.

Hadis kelima, diriwayatkan melalui Sauban.

قَالَ الْحَافِظُ أَبُو بَكْرٍ أَحْمَدُ بْنُ عَمْرٍو بْنِ عَبْدِ الْخَالِقِ الْبَزَّارُ فِي مُسْنَدِهِ: حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ سَعِيدٍ الْجَوْهَرِيُّ، حَدَّثَنَا رَيْحَانُ بْنُ سَعِيدٍ، حَدَّثَنَا عَبَّادُ بْنُ مَنْصُورٍ، عَنْ أَيُّوبَ، عَنْ أَبِي قِلابة، عَنْ أَبِي أَسْمَاءَ، عَنْ ثَوْبَانَ؛ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عظَّم شَأْنَ الْمَسْأَلَةِ، قَالَ: “إِذَا كَانَ يَوْمُ الْقِيَامَةِ، جَاءَ أَهْلُ الْجَاهِلِيَّةِ يَحْمِلُونَ أَوْثَانَهُمْ عَلَى ظُهُورِهِمْ فَيَسْأَلُهُمْ رَبُّهُمْ، فَيَقُولُونَ: رَبَّنَا لَمْ تُرْسِلْ إِلَيْنَا رَسُولًا وَلَمْ يَأْتِنَا لَكَ أَمْرٌ، وَلَوْ أَرْسَلْتَ إِلَيْنَا رَسُولًا لَكُنَّا أَطْوَعَ عِبَادِكَ، فَيَقُولُ لَهُمْ رَبُّهُمْ: أَرَأَيْتُمْ إِنْ أَمَرْتُكُمْ بِأَمْرٍ تُطِيعُونِي؟ فَيَقُولُونَ: نَعَمْ، فَيَأْمُرُهُمْ أَنْ يَعْمِدُوا إِلَى جَهَنَّمَ فَيَدْخُلُوهَا، فَيَنْطَلِقُونَ حَتَّى إِذَا دَنَوْا مِنْهَا وَجَدُوا لَهَا تَغَيُّظًا وَزَفِيرًا، فَرَجَعُوا إِلَى رَبِّهِمْ فَيَقُولُونَ: رَبَّنَا أَخْرِجْنَا -أَوْ: أَجِرْنَا-مِنْهَا، فَيَقُولُ لَهُمْ: أَلَمْ تَزْعُمُوا أَنِّي إِنْ أَمَرْتُكُمْ بِأَمْرٍ تُطِيعُونِي؟ فَيَأْخُذُ عَلَى ذَلِكَ مَوَاثِيقَهُمْ. فَيَقُولُ: اعْمَدُوا إِلَيْهَا، فَادْخُلُوهَا. فَيَنْطَلِقُونَ حَتَّى إِذَا رَأَوْهَا فَرِقوا وَرَجَعُوا، فَقَالُوا: رَبَّنَا فَرِقنا مِنْهَا، وَلَا نَسْتَطِيعُ أَنْ نَدْخُلَهَا فَيَقُولُ: ادْخُلُوهَا دَاخِرِينَ”. فَقَالَ نَبِيُّ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “لَوْ دَخَلُوهَا أَوَّلَ مَرَّةٍ كَانَتْ عَلَيْهِمْ بَرْدًا وَسَلَامًا”.

Al-Hafiz Abu Bakar Ahmad ibnu Amr ibnu Abdul Khaliq Al-Bazzar di dalam kitab Musnad-nya mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ibrahim ibnu Sa’id Al-Jauhari, telah menceritakan kepada kami Raihan ibnu Sa’id, telah menceritakan kepada kami Abbad ibnu Mansur, dari Ayyub, dari Abu Qilabah, dari Abu Asma, dari Sauban, bahwa Nabi Saw. memberatkan masalah ini. Maka beliau Saw. bersabda: Apabila hari kiamat tiba, orang-orang Jahiliyah datang dengan membawa dosa-dosa mereka di punggungnya. Lalu Tuhan menanyai mereka, dan mereka menjawab, “Wahai Tuhan kami. Engkau tidak mengutus seorang rasul pun kepada kami, dan tidak pernah pula datang suatu perintah pun dari Engkau. Seandainya Engkau mengutus kepada kami seorang rasul, tentulah kami akan menjadi seorang yang paling taat di antara hamba-hamba-Mu.” Allah berfirman kepada mereka, “Bagaimanakah pendapat kalian jika Aku perintahkan kalian suatu perintah? Apakah kalian mau taat kepada-Ku?” Mereka menjawab, “Ya.” Maka Allah memerintahkan kepada mereka untuk berangkat menuju neraka Jahannam dan memasukinya. Tetapi ketika mereka telah berada di dekat neraka Jahannam. mereka menjumpainya sedang bergejolak dan bersuara gemuruh, akhirnya mereka kembali kepada Tuhannya. Dan mereka mengatakan, “Wahai Tuhan kami, keluarkanlah kami,” atau “Lindungi­lah kami dari neraka Jahannam.” Allah berfirman kepada mereka.”Bukankah tadi kalian mengatakan bahwa jika Aku perintahkan sesuatu kepada kalian, maka kalian akan taat kepada-Ku?” Maka Allah mengambil janji dari mereka untuk hal tersebut, lalu berfirman, “Pergilah kalian ke neraka dan masuklah ke dalamnya!” Maka mereka pun berangkat. Dan ketika mereka melihat neraka, rasa takut menimpa mereka, lalu mereka kembali dan berkata, “Wahai Tuhan kami, kami takut kepada neraka, dan kami tidak mampu memasukinya.” Lalu Allah berfirman, “Masuklah kalian ke dalam neraka dengan hina dina!’ Nabi Saw. melanjutkan sabdanya: Seandainya mereka masuk ke dalam neraka pada yang pertama kali, tentulah neraka menjadi dingin dan menjadi keselamatan bagi mereka.

Kemudian Al-Bazzar mengatakan bahwa matan (teks) hadis ini tidak dikenal terkecuali melalui jalur ini. Mereka tidak meriwayatkannya dari Ayyub selain dari Abbad, tidak pula dari Abbad selain Raihan ibnu Sa’id.

Menurut kami, Ibnu Hibban telah menyebutnya di antara golongan orang-orang yang siqah dalam kitab siqah-nya. Yahya ibnu Mu’in dan Imam Nasai mengatakan bahwa dia (Raihan ibnu Sa’id) orangnya tidak tercela, tetapi Imam Abu Daud tidak suka kepadanya. Abu Hatim menga­takan, Raihan ibnu Sa’id adalah seorang syekh (guru) yang hadisnya boleh ditulis, tetapi tidak dapat dijadikan sebagai hujah.

Hadis keenam, diriwayatkan melalui Abu Sa’id alias Sa’d Ibnu Malik Ibnu Sinan Al-Khudri.

قَالَ الْإِمَامُ مُحَمَّدُ بْنُ يَحْيَى الذُّهَلي: حَدَّثَنَا سَعِيدُ بْنُ سُلَيْمَانَ، عَنْ فُضَيْلِ بْنِ مَرْزُوقٍ، عَنْ عَطِيَّةَ، عَنْ أَبِي سَعِيدٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “الْهَالِكُ فِي الْفَتْرَةِ وَالْمَعْتُوهُ والمولود: يقول الهالك فِي الْفَتْرَةِ: لَمْ يَأْتِنِي كِتَابٌ، وَيَقُولُ الْمَعْتُوهُ: رَبِّ، لَمْ تَجْعَلْ لِي عَقْلًا أَعْقِلُ بِهِ خَيْرًا وَلَا شَرًّا، وَيَقُولُ الْمَوْلُودُ: رَبِّ لَمْ أُدْرِكِ الْعَقْلَ فَتُرْفَعُ لَهُمْ نَارٌ فَيُقَالُ لَهُمْ: رِدُوهَا”، قَالَ: فَيَرِدُهَا مَنْ كَانَ فِي عِلْمِ اللَّهِ سَعِيدًا لَوْ أَدْرَكَ الْعَمَلَ، وَيُمْسِكُ عَنْهَا مَنْ كَانَ فِي عِلْمِ اللَّهِ شَقِيًّا لَوْ أَدْرَكَ الْعَمَلَ، فَيَقُولُ: إِيَّايَ عَصَيْتُمْ، فَكَيْفَ لَوْ أَنَّ رُسُلِي أَتَتْكُمْ؟ “.

Imam Muhammad ibnu Yahya Az Zuhali mengatakan, telah menceritakan kepada kami Sa’id ibnu Sulaiman, dari Fudail ibnu Marzuq, dari Atiyyah, dari Abu Sa’id yang mengatakan bahwa Rasulullah Saw, pernah bersabda: Orang yang mati di masa fatrah dan orang yang akalnya kurang (sangat idiot) serta anak yang baru lahir (mengadu). Orang yang mati di masa fatrah berkata, “Tiada suatu kitab pun yang didatangkan kepadaku.” Orang yang dungu berkata, “Wahai Tuhanku, Engkau tidak membekaliku dengan akal yang dengannya saya dapat membedakan hal yang baik dan hal yang buruk.” Anak yang baru lahir berkata, “Wahai Tuhanku, saya masih belum mencapai usia balig.” Lalu diangkatlah neraka dari mereka, kemudian dikatakan kepada mereka, “Masuklah kalian ke dalam neraka!” Maka dihindarkanlah dari neraka orang-orang yang tercatat di dalam ilmu Allah menjadi orang-orang yang berbahagia seandainya dia sempat beramal. Dan dibiarkan di neraka orang-orang yang menurut ilmu Allah menjadi orang yang celaka seandainya dia sempat beramal. Dan Allah berfirman (kepada yang masuk neraka), “Kalian durhaka kepada-Ku, maka bagaimanakah kalian (jadinya) bila utusan-utusan-Ku datang kepada kalian?”

Tulisan ini dimuat dalam Tafsir Ibnu Katsir.