Shad, ayat 34-40

Firman Allah Swt.:

{حَيْثُ أَصَابَ}

menurut ke mana saja yang di kehendakinya. (Shad: 36)

Maksudnya, menurut tujuan yang dikehendaki Sulaiman a.s. ke negeri mana pun.

Firman Allah Swt.:

{وَالشَّيَاطِينَ كُلَّ بَنَّاءٍ وَغَوَّاصٍ}

dan (Kami tundukkan kepadanya) setan-setan semuanya ahli bangunan dan penyelam. (Shad: 37)

Yakni di antara setan-setan itu ada yang dipekerjakan membangun bangunan-bangunan raksasa, seperti membuat mihrab-mihrab, patung-patung, kuali-kuali yang besarnya seperti gunung, dan pekerjaan lainnya yang berat-berat yang tidak mampu dilakukan oleh manusia. Segolongan dari setan-setan itu ada yang dipekerjakan sebagai para penyelam di kedalaman lautan untuk mengeluarkan apa yang terkandung di dalamnya berupa mutiara-mutiara, permata-permata, dan berbagai macam permata yang tidak dijumpai kecuali di kedalaman laut.

{وَآخَرِينَ مُقَرَّنِينَ فِي الأصْفَادِ}

Dan setan yang lain terikat dalam belenggu. (Shad: 39 )

Mereka dibelenggu dan diikat karena membangkang, durhaka dan tidak mau bekerja, atau karena berbuat buruk dalam pekerjaannya dan menimbulkan kerusakan.

Firman Allah Swt.:

{هَذَا عَطَاؤُنَا فَامْنُنْ أَوْ أَمْسِكْ بِغَيْرِ حِسَابٍ}

Inilah anugerah Kami; maka berikanlah (kepada orang lain) atau tahanlah (untuk dirimu sendiri) dengan tiada pertanggungjawaban (Shad:39)

Yaitu apa yang telah Kami berikan kepadamu berupa kerajaan yang lengkap dan kekuasaan yang sempurna, sesuai dengan apa yang kamu minta, maka kamu dapat memberikannya kepada siapa yang kamu kehendaki, dan kamu haramkan ia atas siapa yang kamu kehendaki, tiada hisab bagimu. Dengan kata lain, apa saja yang kamu lakukan terhadapnya diperbolehkan: putuskanlah menurut yang kamu kehendaki, maka itu adalah yang benar.

Di dalam kitab Sahihain disebutkan bahwa Rasulullah Saw. ketika disuruh memilih antara menjadi seorang hamba lagi seorang rasul —yang artinya sebagai pelaksana dari apa yang diperintahkan kepadanya, dan sesungguhnya dia hanyalah sebagai pembagi yang membagi-bagikan di antara manusia sesuai dengan apa yang diperintahkan oleh Allah— dan antara menjadi nabi lagi seorang raja —yang dapat memberi siapa yang disukainya dan dapat mencegah terhadap siapa yang dikehendakinya, tanpa ada pertanggungjawaban dan juga tanpa dosa—, maka Rasulullah Saw. memilih pilihan yang pertama setelah bermusyawarah dengan Jibril a.s. Jibril mengatakan kepadanya, “Berendah dirilah!” Maka Rasulullah Saw. memilih pilihan pertama.

Demikian itu karena pilihan yang pertama lebih tinggi kedudukannya di sisi Allah Swt. dan lebih tinggi derajatnya kelak di hari kemudian, sekalipun pilihan yang kedua (yaitu kenabian dan kerajaan) termasuk hal yang agung pula di dunia dan akhirat. Karena itulah setelah menyebutkan tentang apa yang telah Allah berikan kepada Sulaiman a.s. di dunia ini, maka Allah mengingatkan bahwa Sulaiman adalah seorang yang mempunyai bagian yang besar di sisi Allah kelak di hari kiamat.

Allah Swt. berfirman:

{وَإِنَّ لَهُ عِنْدَنَا لَزُلْفَى وَحُسْنَ مَآبٍ}

Dan sesungguhnya dia mempunyai kedudukan yang dekat pada sisi Kami dan tempat kembali yang baik. (Shad: 40)

Yakni di negeri akhirat nanti.

Tulisan ini dimuat dalam Tafsir Ibnu Katsir.