Shad, ayat 34-40

Apabila Nabi Sulaiman hendak naik untuk duduk di atas singgasana­nya, maka ia menginjakkan kakinya di atas tangga naik bagian bawah maka berputarlah singgasananya bersama apa yang ada di sekitarnya patung singa merentangkan kaki kanannya, sedangkan burung garuda mengembangkan sayap kirinya. Apabila Nabi Sulaiman menginjakkan kakinya ke tangga yang kedua, maka patung singa itu merentangkan tangan kirinya, dan burung garuda merentangkan sayap kanannya.

Apabila Nabi Sulaiman telah menaiki tangga ketiganya, lalu duduk di atas singgasananya, maka patung burung garuda itu bergerak mengambil mahkota Nabi Sulaiman a.s., lalu meletakkannya di atas kepala Nabi Sulaiman. Dan apabila mahkota telah di letakkan di atas kepalanya, maka berputarlah singgasananya berikut semua yang ada padanya sebagaimana berputarnya kincir dengan putaran yang cepat.

Mu’awiyah berkata, “Lalu apakah yang menggerakkannya dapat berputar, hai Abu Ishak (nama julukan Ka’bul Ahbar)?” Ka’bul Ahbar menjawab, bahwa yang menggerakkannya adalah naga emas yang ada pada singgasananya. Naga itu merupakan suatu karya yang hebat dan buah tangan jin Sakhr.

Apabila tombol yang berupa naga itu diputar, maka berputarlah semua patung singa, patung garuda, dan patung merak yang berada di bawah singgasananya, sedangkan yang ada di atas tidak. Dan apabila tombol ditekan lagi, maka berhentilah semua patung itu dan berputarnya, sedangkan kepala mereka tertunduk berada di atas kepala Nabi Sulaiman a s. yang telah duduk di atas singgasananya. Kemudian patung-patung itu menyemprotkan semua parfum yang ada di dalam rongganya ke atas kepala Nabi Sulaiman a.s.

Kemudian burung merpati emas yang bertengger di atas tiang yang terbuat dari mutiara mengambil kitab Taurat, lalu meletakkannya di tangan Nabi Sulaiman a.s. Maka Nabi Sulaiman a.s. membacakannya kepada orang-orang. Kemudian Ka’bul Ahbar menceritakan kisah selanjutnya sampai akhir Kisah, tetapi kisah ini aneh sekali.

**************

{قَالَ رَبِّ اغْفِرْ لِي وَهَبْ لِي مُلْكًا لَا يَنْبَغِي لأحَدٍ مِنْ بَعْدِي إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ}

Ia berkata, “Ya Tuhanku, ampunilah aku dan anugerahkanlah kepadaku kerajaan yang tidak dimiliki oleh seorang jua pun sesudah-ku; sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Pemberi.” (Shad: 35)

Sebagian ulama tafsir mengatakan bahwa makna ayat ini ialah kerajaan yang tidak layak bagi seseorang merebutnya dariku sesudahku, seperti yang pernah terjadi dalam kasus setan jahat yang menguasai singgasana­nya itu. Dan bukan berarti Nabi Sulaiman menghalang-halangi orang-orangyang sesudahnya untuk mempunyai hal yang serupa dengan miliknya.

Akan tetapi, pendapat yang sahih mengatakan bahwa Nabi Sulaiman a.s. memohon kepada Allah suatu kerajaan yang tidak dimiliki oleh seorang manusia pun sesudahnya. Pengertian inilah yang terbaca dari makna lahiriah konteks ayat, dan pengertian ini pulalah yang disebutkan di dalam hadis-hadis sahih melalui berbagai jalur dari Rasulullah Saw.

قَالَ الْبُخَارِيُّ عِنْدَ تَفْسِيرِ هَذِهِ الْآيَةِ: حَدَّثَنَا إِسْحَاقُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ أَخْبَرَنَا رَوْحٌ وَمُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ عَنْ شُعْبَةَ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ زِيَادٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: “إِنَّ عِفْرِيتًا مِنَ الْجِنِّ تَفَلَّت عَلَيَّ الْبَارِحَةَ -أَوْ كَلِمَةً نَحْوَهَا-لِيَقْطَعَ عَلَيَّ الصَّلَاةَ فَأَمْكَنَنِي اللَّهُ مِنْهُ وَأَرَدْتُ أَنْ أَرْبِطَهُ إِلَى سَارِيَةٍ مِنْ سَوَارِي الْمَسْجِدِ حَتَّى تُصبحوا وَتَنْظُرُوا إِلَيْهِ كُلُّكُمْ فَذَكَرْتُ قَوْلَ أَخِي سُلَيْمَانَ: {رَبِّ اغْفِرْ لِي وَهَبْ لِي مُلْكًا لَا يَنْبَغِي لأحَدٍ مِنْ بَعْدِي} قَالَ رَوْحٌ: فَرَدَّهُ خَاسِئًا

Imam Bukhari sehubungan dengan tafsir ayat ini mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ishaq ibnu Ibrahim, telah menceritakan kepada kami Rauh dan Muhammad ibnu Ja’far, dari Syu’bah, dari Muhammad ibnu Ziad, dari Abu Hurairah r.a, dari Nabi Saw. yang telah bersabda: Sesungguhnya pernah ada Ifrit dari jin yang menampakkan dirinya kepadaku tadi malam —atau ungkapan yang semisal— untuk memutuskan salat yang sedang kukerjakan. Maka Allah Swt. memberikan kekuasaan kepadaku terhadapnya, dan aku berniat akan mengikatnya di salah satu tiang masjid hingga pagi hari, lalu kalian semua dapat melihatnya. Tetapi aku teringat akan ucapan saudaraku Sulaiman a.s. yang telah mengatakan, “Ya Tuhanku, ampunilah aku dan anugerahkanlah kepadaku kerajaan yang tidak dimiliki oleh seorang jua pun sesudahku.” ( Shad: 35). Rauh mengatakan bahwa lalu Nabi Saw. melepaskannya kembali dalam keadaan terhina.

Hal yang sama telah diriwayatkan oleh Imam Muslim dan Imam Nasai melalui Syu’bah dengan sanad yang sama.

قَالَ مُسْلِمٌ فِي صَحِيحِهِ: حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ سَلَمَةَ المُرَادي حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ وَهْبٍ عَنْ مُعَاوِيَةَ بْنِ صَالِحٍ حَدَّثَنِي رَبِيعَةَ بْنِ يَزيد عَنْ أَبِي إِدْرِيسَ الْخَوْلَانِيِّ عَنْ أَبِي الدَّرْدَاءِ قَالَ: قَامَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي فَسَمِعْنَاهُ يَقُولُ: “أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْكَ”. ثُمَّ قَالَ: “أَلْعَنُكَ بِلَعْنَةِ اللَّهِ” -ثَلَاثًا-وَبَسَطَ يَدَه كَأَنَّهُ يَتَنَاوَلُ شَيْئًا فَلَمَّا فَرَغَ مِنَ الصَّلَاةِ قُلْنَا: يَا رَسُولَ اللَّهِ، قَدْ سَمِعْنَاكَ تَقُولُ فِي الصَّلَاةِ شَيْئًا لَمْ نَسْمَعْكَ تَقُولُهُ قَبْلَ ذَلِكَ وَرَأَيْنَاكَ بَسَطَتْ يَدَكَ؟ قَالَ: “إِنَّ عَدُوَّ اللَّهِ إِبْلِيسَ جَاءَ بِشِهَابٍ مِنْ نَارٍ لِيَجْعَلَهُ فِي وَجْهِي فَقُلْتُ: أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْكَ -ثَلَاثَ مَرَّاتٍ-ثُمَّ قُلْتُ: أَلْعَنُكَ بِلَعْنَةِ اللَّهِ التَّامَّةِ. فَلَمْ يَسْتَأْخِرْ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ ثُمَّ أَرَدْتُ أخْذَه وَاللَّهِ لَوْلَا دَعْوَةُ أَخِينَا سُلَيْمَانَ لَأَصْبَحَ مُوثَقًا يَلْعَبُ بِهِ صِبْيَانُ أَهْلِ الْمَدِينَةِ”

Imam Muslim mengatakan di dalam kitab sahihnya, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Salamah Al-Muradi, telah menceritakan kepada kami Abdullah ibnu Wahb, dari Mu’awiyah ibnu Saleh, telah menceritakan kepadaku Rabi’ah ibnu Yazid, dari Abu Idris Al-Khaulani, dari Abu Darda r.a. yang mengatakan bahwa Rasulullah Saw. berdiri mengerjakan salatnya, lalu kami dengar beliau mengucapkan: Aku berlindung kepada Allah dari godaanmu —kemudian beliau mengucapkan pula— aku laknat engkau dengan laknat Allah. sebanyak tiga kali seraya mengulurkan tangannya seakan-akan seperti seseorang yang akan menangkap sesuatu. Setelah selesai dari salatnya, kami bertanya “Wahai Rasulullah, kami mendengar engkau mengucapkan sesuatu dalam salatmu yang belum pernah kami dengar engkau mengucapkannya sebelum itu, dan kami lihat engkau mengulurkan tanganmu?” Maka Rasulullah Saw. menjawab: Sesungguhnya iblis musuh Allah, datang dengan membawa obor api yang akan dia sundutkan ke mukaku, maka aku berkata, “Aku berlindung kepada Allah dari godaanmu,” sebanyak tiga kali. Kemudian kukatakan pula, “Aku laknat engkau dengan laknat Allah yang sempurna, ” sebanyak tiga kali pula, tetapi ia tidak mau mundur. Kemudian aku bermaksud untuk menangkapnya, tetapi demi Allah, seandainya tidak ada doa saudara kami Sulaiman, tentulah ia telah terikat di pagi harinya, dapat dijadikan main-mainan oleh anak-anak Madinah.

قَالَ الْإِمَامُ أَحْمَدُ: حَدَّثَنَا أَبُو أَحْمَدَ حَدَّثَنَا مَيْسَرَةُ بْنُ مَعْبَدٍ حَدَّثَنَا أَبُو عُبَيْدٍ حَاجِبُ سُلَيْمَانَ قَالَ: رَأَيْتُ عَطَاءَ بْنَ يَزِيدَ اللَّيْثِيَّ قَائِمًا يُصَلِّي، فَذَهَبْتُ أَمُرُّ بَيْنَ يَدَيْهِ فَرَدَّنِي ثُمَّ قَالَ حَدَّثَنِي أَبُو سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَامَ يُصَلِّي صَلَاةَ الصُّبْحِ وَهُوَ خَلْفُهُ فَقَرَأَ فَالْتَبَسَتْ عَلَيْهِ الْقِرَاءَةُ فَلَمَّا فَرَغَ مِنْ صِلَاتِهِ قَالَ: “لَوْ رَأَيْتُمُونِي وَإِبْلِيسَ فَأَهْوَيْتُ بِيَدِي فَمَا زِلْتُ أَخْنُقُهُ حَتَّى وَجَدْتُ بَرْدَ لُعَابِهِ بَيْنَ أُصْبُعَيَّ هَاتَيْنِ -الْإِبْهَامِ وَالَّتِي تَلِيهَا-وَلَوْلَا دَعْوَةُ أَخِي سُلَيْمَانَ لَأَصْبَحَ مَرْبُوطًا بِسَارِيَةٍ مِنْ سَوَارِي الْمَسْجِدِ، يَتَلَاعَبُ بِهِ صِبْيَانُ الْمَدِينَةِ فَمَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمْ أَلَّا يَحُولَ بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْقِبْلَةِ أَحَدٌ فَلْيَفْعَلْ”.

Tulisan ini dimuat dalam Tafsir Ibnu Katsir.