“إِنَّ سُلَيْمَانَ لَمَّا بَنَى بَيْتَ الْمَقْدِسِ سَأَلَ رَبَّهُ عَزَّ وَجَلَّ خِلَالًا ثَلَاثًا … ” وَذَكَرَهُ
Sesunguhnya Sulaiman a.s. setelah membangun Baitul Maqdis memohon kepada Allah Swt. tiga perkara, (hingga akhir hadis)
Telah diriwayatkan pula melalui hadis Rafi’ ibnu Umair r.a. dengan sanad dan konteks yang kedua-duanya garib.
فَقَالَ الطَّبَرَانِيُّ: حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْحَسَنِ بْنِ قُتَيْبة الْعَسْقَلَانِيُّ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ أَيُّوبَ بْنِ سُوَيْد حَدَّثَنِي أَبِي حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ أَبِي عَبْلَة عَنْ أَبِي الزَّاهِرِيَّةِ عَنْ رَافِعِ بْنِ عُمَيْرٍ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: “قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ لِدَاوُدَ عَلَيْهِ السَّلَامُ: ابْنِ لِي بَيْتًا فِي الْأَرْضِ. فَبَنَى دَاوُدُ بَيْتًا لِنَفْسِهِ قَبْلَ الْبَيْتِ الَّذِي أُمِرَ بِهِ فَأَوْحَى اللَّهُ إِلَيْهِ: يَا دَاوُدُ نَصَبْتَ بَيْتَكَ قَبْلَ بَيْتِي؟ قَالَ: يَا رَبِّ هَكَذَا قَضَيْتَ مَنْ مَلَكَ اسْتَأْثَرَ ثُمَّ أَخَذَ فِي بِنَاءِ الْمَسْجِدِ فَلَمَّا تَمَّ السُّورَ سَقَطَ ثَلَاثًا فَشَكَا ذَلِكَ إِلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ فَقَالَ: يَا دَاوُدُ إِنَّكَ لَا تَصْلُحُ أَنْ تَبْنِيَ لِي بَيْتًا قَالَ: وَلِمَ يَا رَبِّ؟ قَالَ: لِمَا جَرَى عَلَى يَدَيْكَ مِنَ الدِّمَاءِ. قَالَ: يَا رَبِّ أَوْ مَا كَانَ ذَلِكَ فِي هَوَاكَ وَمَحَبَّتِكَ؟ قَالَ: بَلَى وَلَكِنَّهُمْ عِبَادِي وَأَنَا أَرْحَمُهُمْ فَشَقَّ ذَلِكَ عَلَيْهِ فَأَوْحَى اللَّهُ إِلَيْهِ: لَا تَحْزَنْ فَإِنِّي سَأَقْضِي بِنَاءَهُ عَلَى يَدَيِ ابْنِكَ سُلَيْمَانَ. فَلَمَّا مَاتَ دَاوُدُ أَخْذَ سُلَيْمَانُ فِي بِنَائِهِ فَلَمَّا تَمَّ قَرَّبَ الْقَرَابِينَ وَذَبَحَ الذَّبَائِحَ وَجَمَعَ بَنِي إِسْرَائِيلَ فَأَوْحَى اللَّهُ إِلَيْهِ: قَدْ أَرَى سرورَك بِبُنْيَانِ بَيْتِي فَسَلْنِي أُعْطِكَ. قَالَ: أَسْأَلُكَ ثَلَاثَ خِصَالٍ حُكْمًا يُصَادِفُ حُكْمَكَ وَمُلْكًا لَا يَنْبَغِي لِأَحَدٍ مِنْ بَعْدِي وَمَنْ أَتَى هَذَا الْبَيْتَ لَا يُرِيدُ إلا الصلاة فيه خَرَجَ مِنْ ذُنُوبِهِ كَيَوْمِ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ”. قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “أما ثِنْتَانِ فَقَدْ أُعْطِيَهُمَا وَأَنَا أَرْجُو أَنْ يَكُونَ قَدْ أُعْطِيَ الثَّالِثَةَ”
Imam Tabrani mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnul Hasan ibnu Qutaibah Al-Asqalani, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Ayyub ibnu Suwaid, telah menceritakan kepadaku ayahku, telah menceritakan kepada kami Ibrahim ibnu Abu Ablah, dari Abuz Zahiriyah, dari Rafi’ ibnu Umair yang mengatakan bahwa ia pernah mendengar Rasulullah Saw. menceritakan kisah berikut: Allah Swt. berfirman kepada Daud a.s, “Buatkanlah sebuah rumah (peribadatan) untuk-Ku di bumi. Maka Daud a.s. membangun sebuah rumah ibadah untuk dirinya sebelum membangun bait (rumah ibadah) yang di perintahkan agar ia membangunnya. Maka Allah menurunkan wahyu kepadanya, “Hai Daud, engkau telah bangun rumah peribadatan untukmu sebelum engkau bangun rumah peribadatan untuk-Ku.” Daud menjawab, “Wahai Tuhanku, memang ini menurut naluriku sebagai seorang raja yang egois.” Kemudian Daud membangun masjid yang dimaksud, dan setelah temboknya berdiri ambruk —hal ini terjadi tiga kali— akhirnya Daud mengadu kepada Allah Swt. Maka Allah Swt. berfirman, “Hai Daud, sesunguhnya kamu tidak layak untuk membangun rumah (peribadatan) untuk-Ku.” Daud bertanya’, “Mengapa, wahai Tuhanku?” Allah Swt. menjawab, Karena banyak darah yang dialirkan oleh kedua tanganmu.” Daud berkata, “Wahai Tuhanku, bukankah hal itu terjadi demi kecintaan dan kesukaanku kepada Engkau?” Allah Swt. berfirman, “Bukan begitu, tetapi mereka juga adalah hamba-hamba-Ku, Aku kasihan kepada mereka.” Maka hal tersebut memberatkan Daud, lalu Allah Swt. berfirman melalui wahyu-Nya, “Janganlah engkau bersedih hati, karena sesungguhnya Aku telah menetapkan pembangunannya di tangan anak laki-lakimu, yaitu Sulaiman.” Setelah Daud a.S. meninggal dunia, putranya (Sulaiman) membangun masjid tersebut. Setelah pembangunan masjid selesai, Sulaiman menghadiahkan kurban dan menyembelih banyak hewan sembelihan, lalu ia mengumpulkan semua kaum Bani Israil. Maka Allah menurunkan wahyu-Nya kepada Sulaiman, “Aku telah melihat kegembiraanmu dengan selesainya perhbangunan bait-Ku, maka mintalah kepada-Ku, Aku akan memberimu.” Sulaiman berkata, “Aku memohon kepada-Mu tiga perkara, yaitu hukum yang sesuai dengan hukum-Mu, kerajaan yang tidak layak dimiliki oleh seorang pun sesudahku; dan barang siapa yang datang ke masjid ini dengan niat tiada lain kecuali melakukan salat di dalamnya, maka bersihlah ia dari dosa-dosanya sebagaimana pada hari ia dilahirkan oleh ibunya.” Maka Rasulullah Saw. bersabda: Adapun yang dua perkara Sulaiman telah diberinya; dan aku berharap semoga yang ketiga itu diberikan kepadaku.
قَالَ الْإِمَامُ أَحْمَدُ: حَدَّثَنَا عَبْدُ الصَّمَدِ حَدَّثَنَا عُمَر بْنُ رَاشِدٍ الْيَمَامِيُّ، حَدَّثَنَا إِيَاسُ بْنُ سَلَمَةَ بْنِ الْأَكْوَعِ عَنْ أَبِيهِ قَالَ: مَا سَمِعْتَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَعَا دُعَاءً إِلَّا اسْتَفْتَحَهُ بِـ “سُبْحَانَ اللَّهِ رَبِّي الْأَعْلَى الْعَلِيِّ الْوَهَّابِ”
Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abdus Samad, telah menceritakan kepada kami Umar ibnu Rasyid Al-Yamami, telah menceritakan kepada kami Iyas ibnu Salamah ibnul Akwa, dari ayahnya yang mengatakan bahwa tidak sekali-kali ia mendengar Rasulullah Saw. berdoa melainkan membukanya dengan bacaan: Mahasuci Allah, Tuhanku Yang Mahatinggi, Yang Maha Tertinggi lagi Maha Pemberi.
Abu Ubaidah mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ali ibnu Sabit, dari Ja’far ibnu Barqan, dari Saleh ibnu Mismar yang menceritakan bahwa ketika Nabi Daud a.s. meninggal dunia, Allah menurunkan wahyu kepada putranya (Sulaiman a.s.), “Mintalah kepada-Ku keperluanmu.” Sulaiman menjawab, “Aku memohon kepada-Mu hendaklah Engkau jadikan kalbuku takut kepada Engkau sebagaimana kalbu ayahku. Dan hendaklah Engkau jadikan kalbuku mencintai-Mu sebagaimana kalbu ayahku mencintai-Mu.” Maka Allah Swt. berfirman, “Aku telah mengirimkan utusan kepada hamba-Ku untuk menanyakan keperluannya, dan ternyata keperluannya ialah hendaklah Aku menjadikan kalbunya takut kepada-Ku dan menjadikannya cinta kepada-Ku. Sungguh Aku benar-benar akan menganugerahkan kepadanya suatu kerajaan yang tidak layak dimiliki oleh seorang pun sesudahnya.” Allah Swt. berfirman: Kemudian Kami tundukkan kepadanya angin berembus dengan baik menurut perintahnya ke mana saja yang dikehendakinya. (Shad: 36) Dan ayat-ayat yang sesudahnya.
Saleh ibnu Mismar mengatakan bahwa lalu Allah memberi Sulaiman segala sesuatu yang Dia berikan kepadanya, sedangkan di akhirat tiada hisab atas diri Sulaiman terhadap semuanya itu.
Hal yang sama telah dikemukakan oleh Abul Qasim ibnu Asakir dalam autobiografi Sulaiman a.s. yang ada di dalam kitab berikutnya.
Sebagian ulama Salaf mengatakan bahwa ia pernah mendengar kisah yang menyebutkan bahwa Daud a.s. pernah berdoa, “Ya Tuhanku, jadikanlah bagi Sulaiman sebagaimana yang telah Engkau berikan kepadaku.” Lalu Allah menurunkan wahyu-Nya kepada Daud,” Katakanlah kepada Sulaiman, “Hendaknya dia menjadikan untuk-Ku sebagaimana yang telah engkau lakukan kepada-Ku, maka Aku akan menjadikannya sebagaimana apa yang telah Kulakukan bagimu.”
************
Firman Allah Swt.:
{فَسَخَّرْنَا لَهُ الرِّيحَ تَجْرِي بِأَمْرِهِ رُخَاءً حَيْثُ أَصَابَ}
Kemudian Kami tundukkan kepadanya angin berembus dengan baik menurut perintahnya ke mana saja yang dikehendakinya. (Shad: 36)
Al-Hasan Al-Basri rahimahullah mengatakan bahwa setelah Sulaiman menyembelih semua kuda miliknya karena marah demi Allah Swt, maka Allah menggantinya dengan sesuatu yang jauh lebih baik dan jauh lebih cepat daripada kuda-kuda itu. Yaitu angin yang perjalanannya di waktu pagi sama dengan perjalanan satu bulan, dan perjalanannya di waktu petang sama dengan perjalanan satu bulan.