{يَا أَيُّهَا الرَّسُولُ بَلِّغْ مَا أُنزلَ إِلَيْكَ مِنْ رَبِّكَ وَإِنْ لَمْ تَفْعَلْ فَمَا بَلَّغْتَ رِسَالَتَهُ وَاللَّهُ يَعْصِمُكَ مِنَ النَّاسِ}
Hai Rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu. Dan jika tidak kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu, berarti) kamu. tidak menyampaikan amanat-Nya. Allah memelihara kamu dari (gangguan) manusia. (Al-Maidah: 67)
Maka barulah beliau merasa tenang, pada mulanya beliau selalu dikawal hingga turun firman Allah Swt. yang mengatakan:
{وَاللَّهُ يَعْصِمُكَ مِنَ النَّاسِ}
Allah memelihara kamu dari (gangguan) manusia. (Al-Maidah: 67)
Pada saat itu tiada seorang pun dari kalangan Bani Hasyim yang lebih kuat imannya, lebih teguh keyakinannya, serta lebih membenarkan Rasulullah Saw. selain dari Ali r.a. Karena itulah maka Ali segera menyambut permintaan Rasulullah Saw. mendahului mereka semua saat beliau mengajukannya kepada mereka.
Seusai peristiwa tersebut —hanya Allah yang lebih mengetahui— beliau Saw. menyeru manusia dengan terang-terangan di atas Bukit Safa. Dan beliau memberikan peringatan kepada semua puak kabilah Qurai’sy secara umum dan khusus, sehingga beliau menyebut nama tiap-tiap orang dari kalangan paman-paman dan bibi-bibinya serta tidak ketinggalan pula putri-putri beliau sendiri, agar dipandang tidak pandang bulu. Dengan kata lain, dapat disebutkan bahwa sesungguhnya aku hanyalah seorang pemberi peringatan, sedangkan Allah-lah yang memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya ke jalan yang lurus.
وَقَدْ رَوَى الْحَافِظُ ابْنُ عَسَاكِرَ فِي تَرْجَمَةِ عَبْدِ الْوَاحِدِ الدِّمَشْقِيِّ -غَيْرِ مَنْسُوبٍ -مِنْ طَرِيقِ عَمْرِو بْنِ سَمُرَةَ، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ سُوقَةَ، عَنْ عَبْدِ الْوَاحِدِ الدِّمَشْقِيِّ قَالَ: رَأَيْتُ أَبَا الدَّرْدَاءِ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، يُحَدِّثُ النَّاسَ وَيُفْتِيهِمْ، وَوَلَدُهُ إِلَى جَنْبِهِ، وَأَهْلُ بَيْتِهِ جُلُوسٌ فِي جَانِبِ الْمَسْجِدِ يَتَحَدَّثُونَ، فَقِيلَ لَهُ: مَا بَالُ النَّاسِ يَرْغَبُونَ فِيمَا عِنْدَكَ مِنَ الْعِلْمِ، وَأَهْلُ بَيْتِكَ جُلُوسٌ لَاهِينَ؟ فَقَالَ: لِأَنِّي سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: “أَزْهَدُ النَّاسِ فِي الدُّنْيَا الْأَنْبِيَاءُ، وَأَشَدُّهُمْ عَلَيْهِمُ الْأَقْرَبُونَ”.
Al-Hafiz Ibnu Asakir di dalam biografi Abdul Wahid Ad-Dimasyqi telah meriwayatkan melalui jalur Amr ibnu Samurah, dari Muhammad ibnu Suqah, dari Abdul Wahid Ad-Dimasyqi yang telah menceritakan bahwa pada suatu hari ia melihat Abu Darda r.a. sedang memberi ceramah dan fatwanya kepada orang banyak, sedangkan anaknya berada di sebelahnya dan ahli baitnya sedang duduk-duduk mengobrol di serambi masjid. Maka dikatakan kepadanya, “Mengapa orang-orang begitu suka menimba ilmu darimu, padahal ahli bait (keluarga)mu sedang enak-enak duduk mengobrol?” Maka Abu Darda menjawab, bahwa sesungguhnya dia pernah mendengar Rasulullah Saw. bersabda: Orang yang paling berzuhud di dunia ini adalah para nabi, dan yang paling memusuhi mereka adalah kaum kerabat(nya).
Demikian itu terbukti melalui firman Allah Swt. yang mengatakan:
{وَأَنْذِرْ عَشِيرَتَكَ الأقْرَبِين}
Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat. (Asy-Syu’ara’: 214)
sampai dengan firman-Nya:
فَقُلْ إِنِّي بَرِيءٌ مِمَّا تَعْمَلُونَ
maka katakanlah, “Sesungguhnya aku tidak bertanggung jawab terhadap apa yang kalian kerjakan.” (Asy-Syu’ara’: 216)
******
Adapun firman Allah Swt.:
{وَتَوَكَّلْ عَلَى الْعَزِيزِ الرَّحِيمِ}
Dan bertawakallah kepada (Allah) Yang Mahaperkasa lagi Maha Penyayang. (Asy-Syu’ara’: 217)
Maksudnya, bertawakallah kepada Allah dalam semua urusanmu, karena sesungguhnya Dia pasti akan mendukungmu, memeliharamu, menolongmu, memenangkanmu, dan meninggikan kalimatmu.
Firman Allah Swt.:
{الَّذِي يَرَاكَ حِينَ تَقُومُ}
Yang melihat kamu ketika kamu berdiri (salat). (Asy-Syu’ara’: 21 8)
Yakni Dia selalu memperhatikanmu, semakna dengan apa yang disebutkan dalam ayat lain melalui firman-Nya:
{وَاصْبِرْ لِحُكْمِ رَبِّكَ فَإِنَّكَ بِأَعْيُنِنَا}
Dan bersabarlah dalam menunggu ketetapan Tuhanmu, maka sesungguhnya kamu berada dalam penglihatan Kami. (At-Tur: 48)
Ibnu Abbas mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: Yang melihat kamu ketika kamu berdiri (untuk salat). (Asy-Syu’ara’: 218) Artinya, melihatmu berdiri untuk salatmu.
Ikrimah mengatakan bahwa Allah melihat berdiri, rukuk, dan sujudnya.
Al-Hasan mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: Yang melihat kamu ketika kamu berdiri. (Asy-Syu’ara’: 218) Yakni manakala kamu salat sendirian.
Menurut Ad-Dahhak, Allah melihatmu ketika kamu bangun dari tempat tidurmu atau dari majelismu.
Qatadah mengatakan bahwa Allah melihatmu berdiri, duduk dan semua keadaanmu.
*****
Firman Allah Swt.:
{وَتَقَلُّبَكَ فِي السَّاجِدِينَ}
dan (melihat pula) perubahan gerak badanmu di antara orang-orang yang sujud. (Asy-Syu’ara’: 219)
Qatadah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: Yang melihat kamu ketika kamu berdiri, dan (melihat pula) perubahan gerak badanmu di antara orang-orang yang sujud. (Asy-Syu’ara’: 218-219) Maksudnya, dalam salatmu yang sendirian Allah melihatmu, begitu pula dalam salatmu bersama jamaah (salat berjamaah). Hal yang sama dikatakan oleh Ikrimah, Ata Al-Khurrasani, dan Al-Hasan Al-Basri.
Mujahid mengatakan bahwa Rasulullah Saw. dapat melihat belakangnya sama dengan beliau melihat depannya. Hal ini telah disebutkan oleh sebuah hadis sahih yang mengatakan:
“سَوّوا صُفُوفَكُمْ؛ فَإِنِّي أَرَاكُمْ مِنْ وَرَاءِ ظَهْرِي”
Luruskanlah saf kalian, karena sesungguhnya aku dapat melihat kalian dari arah belakangku.
Al-Bazzar dan Ibnu Abu Hatim telah meriwayatkan melalui dua jalur dari Ibnu Abbas, bahwa Ibnu Abbas pernah mengemukakan takwilnya sehubungan dengan makna ayat ini, bahwa makna yang dimaksud ialah perpindahan sulbi Nabi Saw. dari sulbi nabi ke sulbi nabi lainnya hingga Allah mewujudkannya ke dunia ini sebagai seorang nabi.
****
Firman Allah Swt.:
{إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ}
Sesungguhnya Dia adalah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (Asy-Syu’ara’: 220)
Yakni Maha Mendengar semua ucapan hamba-hamba-Nya, lagi Maha Mengetahui semua gerakan dan diamnya mereka. Semakna dengan apa yang disebutkan dalam ayat lain melalui firman-Nya:
{وَمَا تَكُونُ فِي شَأْنٍ وَمَا تَتْلُو مِنْهُ مِنْ قُرْآنٍ وَلا تَعْمَلُونَ مِنْ عَمَلٍ إِلا كُنَّا عَلَيْكُمْ شُهُودًا إِذْ تُفِيضُونَ فِيهِ}
Kamu tidak berada dalam suatu keadaan dan tidak membaca suatu ayat dari Al-Qur’an dan kalian tidak mengerjakan suatu pekerjaan, melainkan Kami menjadi saksi atas kalian di waktu kalian melakukannya. (Yunus: 61), hingga akhir ayat