Al-Qalam, ayat 48-52

Hadis Jabir.

قَالَ الْحَافِظُ أَبُو بَكْرٍ الْبَزَّارُ فِي مُسْنَدِهِ: حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ مَعْمَر، حَدَّثَنَا أَبُو دَاوُدَ، حَدَّثَنَا طَالِبُ بْنُ حَبِيبِ بْنِ عَمْرِو بْنِ سَهْلٍ الْأَنْصَارِيُّ -وَيُقَالُ لَهُ: ابْنُ الضَجِيع، ضَجِيعِ حَمْزَةَ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ-حَدَّثَنِي عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ، عَنْ أَبِيهِ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “أَكْثَرُ مَنْ يَمُوتُ مِنْ أُمَّتِي بَعْدَ كِتَابِ اللَّهِ وَقَضَائِهِ وَقَدْرِهِ بِالْأَنْفُسِ”

Al-Hafiz Abu Bakar Al-Bazzar mengatakan di dalam kitab musnadnya bahwa telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Ma’mar, telah menceritakan kepada kami Abu Daud, telah menceritakan kepada kami Talib ibnu Habib ibnu Amr ibnu Sahl Al-Ansari yang dikenal dengan sebutan Ibnud Daji’, yaitu Daji’ (teman sejawat dengan) Hamzah r.a., telah menceritakan kepadaku Abdur Rahman ibnu Jabir ibnu Abdullah, dari ayahnya yang mengatakan bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda: Kebanyakan orang yang mati dari kalangan umatku sesudah karena ketentuan Allah, ketetapan, dan takdir-Nya ialah karena ‘ain.

Al-Bazzar mengatakan bahwa lafaz al-anfus dalam hadis ini bermakna “ain (pandangan mata yang jahat). Selanjutnya Al-Bazzar mengatakan bahwa ia tidak mengetahui hadis ini diriwayatkan dari Nabi Saw. kecuali melalui sanad ini.

Menurut hemat kami, bahkan telah diriwayatkan pula hadis ini melalui jalur lain dari Jabir.

Al-Hafiz Abu Abdur Rahman alias Muhammad ibnul Munzir Al-Harawi yang dikenal dengan Basyukr telah mengatakan di dalam Kitabul ‘Ajaib yang di dalamnya terkandung banyak pembahasan yang besar faedahnya lagi menyendiri tiada pada kitab lainnya, bahwa:

حَدَّثَنَا الرَّهَاوِيُّ، حَدَّثَنَا يَعْقُوبُ بْنُ مُحَمَّدٍ، حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ أَبِي عَلِيٍّ الْهَاشِمِيُّ، حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ المُنكَدر، عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: “الْعَيْنُ حَقٌّ، لتُورِد الرَّجُلَ الْقَبْرَ، وَالْجَمَلَ القِدر، وَإِنَّ أَكْثَرَ هَلَاكِ أمتي في العين”

telah menceritakan kepada kami Ar-Rahawi, telah menceritakan kepada kami Ya’qub ibnu Muhammad, telah menceritakan kepada kami Ali ibnu Abu Ali Al-Hasyimi, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnul Munkadir, dari Jabir ibnu Abdullah, bahwa Rasulullah Saw. telah bersabda: ‘Ain itu hak (benar), sesungguhnya ia dapat menghantarkan seseorang ke kuburnya dan juga unta kepada takdirnya. Dan sesungguhnya kebanyakan binasanya umatku karena ‘ain.

Kemudian Abu Abdur Rahman alias Muhammad ibnul Munzir Al-Harawi meriwayatkannya dari Syu’aib ibnu Ayyub, dari Mu’awiyah ibnu Hisyam, dari Sufyan, dari Muhammad ibnul Munkadir, dari Jabir yang mengatakan bahwa Rasulullah Saw. telah bersabda:

“قَدْ تُدخل الرجلَ العينُ فِي الْقَبْرِ، وَتُدْخِلُ الْجَمَلَ الْقِدْرَ”

Adakalanya ‘ain itu dapat memasukkan seseorang ke dalam kuburnya dan juga memasukkan unta ke dalam takdir (yang telah ditetapkan bagi)nya.

Musnad hadis ini semua perawinya berpredikat. tsiqat, tetapi para ahli hadis tiada yang mengetengahkannya.

Hadis Abdullah ibnu Amr.

“قَالَ الْإِمَامُ أَحْمَدُ: حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ، حَدَّثَنَا رِشْدِينُ بْنُ سَعْدٍ، عَنِ الْحَسَنِ بْنِ ثَوْبَانَ، عَنْ هِشَامِ بْنِ أَبِي رُقية، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “لَا عَدْوَى وَلَا طيرةَ، وَلَا هَامة وَلَا حَسَد، وَالْعَيْنُ حَقٌّ”.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Qutaibah, telah menceritakan kepada kami Rasyidin ibnu Sa’d, dari Al-Hasan ibnu Sauban, dari Hisyam ibnu Abu Ruqyah, dari Abdullah ibnu Amr yang mengatakan bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda: Tiada penyakit, tiada tiyarah, tiada bisa, dan tiada kedengkian (yang membahayakan), tetapi ‘ain itu adalah hak (benar).

Hadis yang diriwayatkan dari Ali.

رَوَى الْحَافِظُ ابْنُ عَسَاكِرَ مِنْ طَرِيقِ خَيْثمة بْنِ سُلَيْمَانَ الْحَافِظِ: حَدَّثَنَا عُبَيْدُ بْنُ مُحَمَّدٍ الكَشَوري، حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَبْدِ رَبِّهِ الْبَصْرِيُّ، عَنْ أَبِي رَجَاءٍ، عَنْ شُعْبَةَ، عَنْ أَبِي إِسْحَاقَ، عَنِ الْحَارِثِ، عَنْ عَلِيٍّ؛ أَنَّ جِبْرِيلَ أَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَوَافَقَهُ مُغْتَمًّا، فَقَالَ: يَا مُحَمَّدُ، مَا هَذَا الْغَمُّ الَّذِي أَرَاهُ فِي وَجْهِكَ؟ قَالَ: “الْحَسَنُ وَالْحُسَيْنُ أَصَابَتْهُمَا عَيْنٌ”. قَالَ: صَدَق بِالْعَيْنِ، فَإِنَّ الْعَيْنَ حَقٌّ، أَفَلَا عَوَّذْتَهُمَا بِهَؤُلَاءِ الْكَلِمَاتِ؟ قَالَ: “وَمَا هُنَّ يَا جِبْرِيلُ؟ “. قَالَ: قُلِ: اللَّهُمَّ ذَا السُّلْطَانِ الْعَظِيمِ، ذَا الْمَنِّ الْقَدِيمِ، ذَا الْوَجْهِ الْكَرِيمِ، وَلِيَّ الْكَلِمَاتِ التَّامَّاتِ، وَالدَّعَوَاتِ الْمُسْتَجَابَاتِ، عَافِ الْحَسَنَ وَالْحُسَيْنَ مِنْ أَنْفُسِ الْجِنِّ، وَأَعْيُنِ الْإِنْسِ. فَقَالَهَا النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَامَا يَلْعَبَانِ بَيْنَ يَدَيْهِ. فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “عَوِّذوا أَنْفُسَكُمْ وَنِسَاءَكُمْ وَأَوْلَادَكُمْ بِهَذَا التَّعْوِيذِ، فَإِنَّهُ لَمْ يَتَعَوَّذِ الْمُتَعَوِّذُونَ بِمِثْلِهِ”.

Al-Hafiz ibnu Asakir telah meriwayatkan melalui jalur Khaisamah ibnu Sulaiman Al-Hafiz, bahwa telah menceritakan kepada kami Ubaid ibnu Muhammad Al-Kisywari, telah menceritakan kepada kami Abdullah ibnu Abdullah ibnu Abdu Rabbihi (anak hamba Tuhannya) Al-Basri, dari Abu Raja, dari Syu’bah, dari Abu Ishaq, dari Al-Haris, dari Ali r.a. bahwa Malaikat Jibril datang kepada Nabi Saw. yang ia jumpai sedang dalam keadaan berduka cita. Lalu Malaikat Jibril bertanya, “Hai Muhammad, apakah yang engkau risaukan sehingga aku melihat kesedihan itu pada roman mukamu?” Rasulullah Saw. menjawab, “Al-Hasan dan Al-Husain terkena penyakit ‘ain.” Jibril menjawab, “Percayalah dengan penyakit ‘ain itu.” Jibril melanjutkan, “Karena sesungguhnya penyakit ‘ain itu benar berpengaruh. Maukah engkau bila aku menjampinya dengan doa berikut?” Nabi Saw. bertanya, “Hai Jibril, bagaimanakah doanya?” Jibril berkata: Katakanlah, “Ya Allah, Yang memiliki Kekuasaan yang besar, anugerah yang kekal, Yang memiliki Zat Yang Mahamulia, Pemilik kalimat-kalimat yang sempurna dan doa-doa yang mustajab, sembuhkanlah Al-Hasan dan Al-Husain dari tiupan jin dan pandangan jahat manusia.” Maka Nabi Saw. membaca doa-doa tersebut, lalu dengan serta merta Al-Hasan dan Al-Husain bangkit dan bermain-main di hadapan Nabi Saw. Setelah itu Nabi Saw. bersabda: Bacakanlah doa penangkal ini kepada diri kalian, wanita-wanita kalian, dan anak-anak kalian. Karena sesungguhnya doa penangkal ini tiada tandingannya.

Al-Khatib Al-Bagdadi mengatakan bahwa hadis ini diriwayatkan secara tunggal (menyendiri) oleh Abu Raja alias Muhammad ibnu Ubaidillah Al-Hanati, dari ahli bait yang disembunyikan namanya oleh Ibnu Asakir dalam biografi Tarrad ibnul Husain, bagian dari kitab Tarikh-nya.

*******************

Firman Allah Swt.:

{وَيَقُولُونَ إِنَّهُ لَمَجْنُونٌ}

dan mereka berkata, “Sesungguhnya ia (Muhammad) benar-benar orang yang gila.” (Al-Qalam: 51)

Mereka memandang remeh dan hina kepada Nabi Muhammad Saw. dan menyakitinya dengan lisan (ucapan) mereka, yaitu dengan mengatakan bahwa Muhammad benar-benar orang gila karena dia telah mendatangkan Al-Qur’an. Maka Allah Swt. membantah ucapan mereka melalui firman berikutnya:

{وَمَا هُوَ إِلا ذِكْرٌ لِلْعَالَمِينَ}

Dan Al-Qur’an itu tidak lain hanyalah peringatan bagi seluruh umat. (Al-Qalam: 52)

Demikianlah akhir dari tafsir surat Al-Qalam, segala puji dan karunia adalah milik Allah semata.

Tulisan ini dimuat dalam Tafsir Ibnu Katsir.