Al-Qalam, ayat 48-52

Sufyan menceritakan bahwa Ma’mar telah meriwayatkan dari Az-Zuhri, bahwa lalu Rasulullah Saw. memerintahkan agar air yang tersisa di wadah itu disiramkan kepada Amir dari arah belakangnya.

Imam Nasai telah meriwayatkan hadis ini melalui Sufyan ibnu Uyaynah dan Malik ibnu Anas, keduanya dari Az-Zuhri dengan sanad yang sama.

Disebutkan pula melalui hadis Sufyan ibnu Uyaynah, dari Ma’mar, dari Az-Zuhri, dari Abu Umamah r.a., bahwa sisa air yang ada di wadah itu dituangkan ke tubuh Amir dari arah belakangnya.

Disebutkan pula hal yang sama dalam hadis Ibnu Abu Zi-b, dari Az-Zuhri, dari Abu Umamah alias As’ad ibnu Sahl ibnu Hanif, dari ayahnya dengan sanad yang sama. Juga di dalam hadis Malik, dari Muhammad ibnu Abu Umamah ibnu Sahl, dari ayahnya dengan sanad yang sama.

Hadis Abu Sa’id ‘Al-Khudri.

قَالَ ابْنُ مَاجَهْ: حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ، حَدَّثَنَا سَعِيدُ بْنُ سُلَيْمَانَ، حَدَّثَنَا عَبَّادٌ، عَنْ الْجُرَيْرِيُّ، عَنْ أَبِي نَضْرَةَ، عَنْ أَبِي سَعِيدٍ قَالَ: كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَتَعَوَّذُ مِنْ أَعْيُنِ الْجَانِّ وَأَعْيُنِ الْإِنْسِ. فَلَمَّا نَزَلَ الْمُعَوِّذَتَانِ أَخَذَ بهما وترك ما سوى ذلك

Ibnu Majah mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Bakar ibnu Abu Syaibah, telah menceritakan kepada kami Sa’id ibnu Sulaiman, telah menceritakan kepada kami Abbad, dari Al-Jariri, dari Abu Nadrah, dari Abu Sa’id Al-Khudri yang mengatakan: Dahulu Rasulullah Saw. sering membaca ta’awwuz (memohon perlindungan kepada Allah) dari gangguan pandangan mata jin dan manusia. Dan ketika diturunkan surat Mu’awwizatain (Al-Falaq dan An-Nas), maka beliau meninggalkan semua bacaan ta’awwuz selain kedua surat itu.

Imam Turmuzi dan Imam Nasai telah meriwayatkan hadis ini melalui Sa’id ibnu Abu Iyas, dari Abu Mas’ud Al-Jariri dengan sanad yang sama, dan Imam Turmuzi mengatakan bahwa hadis ini hasan.

Hadis lain.

قَالَ الْإِمَامُ أَحْمَدُ: حَدَّثَنَا عَبْدُ الصَّمَدِ بْنُ عَبْدِ الْوَارِثِ، حَدَّثَنِي أَبِي، حَدَّثَنِي عَبْدُ الْعَزِيزِ بْنُ صُهيب، حَدَّثَنِي أَبُو نَضْرَةَ، عَنْ أَبِي سَعِيدٍ: أَنَّ جِبْرِيلَ أَتَى رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: اشْتَكَيْتَ يَا مُحَمَّدُ؟ قَالَ: “نَعَمْ”. قَالَ بِاسْمِ اللَّهِ أَرْقِيكَ، مِنْ كُلِّ شَيْءٍ يُؤْذِيكَ، من شر كل نفس وعين يَشْفِيكَ، بِاسْمِ اللَّهِ أَرْقِيكَ

Imam Ahmad mengatakan bahwa telah menceritakan kepada kami Abdus Samad ibnu Abdul Waris, telah menceritakan kepadaku ayahku, telah menceritakan kepadaku Abdul Aziz ibnu Suhaib, telah menceritakan kepadaku Abu Nadrah, dari Abu Sa’id, bahwa Malaikat Jibril datang kepada Nabi Saw., lalu bertanya, “Hai Muhammad, apakah engkau sakit?” Nabi Saw. menjawab, “Ya.” Jibril menjampinya dengan doa berikut: Dengan nama Allah aku meruqyahmu (mengobatimu) dari semua penyakit yang mengganggumu, dari kejahatan setiap diri, dan dari pandangan mata yang dengki kepadamu, semoga Allah menyembuhkamu. Dengan nama Allah aku meruqyahmu.

Imam Ahmad telah meriwayatkannya pula dari Affan, dari Abdul Waris dengan lafaz yang semisal. Imam Muslim dan para pemilik kitab sunan kecuali Abu Daud meriwayatkannya melalui hadis Abdul Waris dengan sanad yang sama.

قَالَ الْإِمَامُ أَحْمَدُ أَيْضًا: حَدَّثَنَا عَفَّانُ، حَدَّثَنَا وُهَيْبٌ، حَدَّثَنَا دَاوُدُ، عَنْ أَبِي نَضرة، عَنْ أَبِي سَعِيدٍ -أَوْ: جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ؛ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اشْتَكَى، فَأَتَاهُ جِبْرِيلُ فَقَالَ: بِاسْمِ اللَّهِ أَرْقِيكَ، مِنْ كُلِّ شَيْءٍ يُؤْذِيكَ، مِنْ كل حاسد وعين والله يُشفيك

Imam Ahmad mengatakan pula, telah menceritakan kepada kami Affan, telah menceritakan kepada kami Wahib, telah menceritakan kepada kami Daud, dari Abu Nadrah, dari Abu Sa’id atau Jabir ibnu Abdullah, bahwa Rasulullah Saw. sakit, lalu didatangi oleh Malaikat Jibril. Maka Jibril menjampinya dengan doa berikut: Dengan menyebut nama Allah aku meruqyahmu dari segala penyakit yang mengganggumu dan dari setiap orang yang dengki serta dari pandangan mata (yang jahat), semoga Allah menyembuhkamu.

Imam Ahmad telah meriwayatkannya pula dari Muhammad ibnu Abdur Rahman At-Tafawi, dari Daud, dari Abu Nadrah, dari Abdul Aziz, dari Anas dengan lafaz yang semakna. Keduanya berpredikat sahih.

Hadis Abu Hurairah r.a.

قَالَ الْإِمَامُ أَحْمَدُ: حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ، أَنْبَأَنَا مَعْمَر، عَنْ هَمَّام بْنِ مُنَبِّه قَالَ: هَذَا مَا حَدَّثَنَا أَبُو هُرَيرة عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “إِنَّ الْعَيْنَ حَقٌّ”

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abdur Razzaq, telah menceritakan kepada kami Ma’mar, dari Hammam ibnu Munabbih yang mengatakan bahwa berikut ini adalah apa yang diceritakan kepada kami oleh Abu Hurairah, dari Rasulullah Saw. yang telah bersabda: Sesungguhnya ‘ain itu adalah hak (benar).

Imam Bukhari dan Imam Muslim mengetengahkannya melalui hadis Abdur Razzaq.

قَالَ ابْنُ مَاجَهْ: حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ، حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ بْنُ عُلَيَّة، عَنِ الجُرَيري، عَنْ مُضَارب بْنِ حَزن، عَنْ أَبِي هُرَيرة قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “الْعَيْنُ حَقٌّ”

Ibnu Majah mengatakan bahwa telah menceritakan kepada kami Abu Bakar ibnu Syaibah, telah menceritakan kepada kami Ismail ibnu Aliyyah, dari Al-Jariri, dari Mudarib ibnu Hazn, dari Abu Hurairah yang mengatakan bahwa Rasulullah Saw. telah bersabda: Sesungguhnya (penyakit) ‘ain itu adalah hak (benar).

Imam Ibnu Majah meriwayatkannya secara tunggal, dan Imam Ahmad meriwayatkannya dari Ismail ibnu Aliyyah, dari Sa’id Al-Jariri dengan sanad yang sama.

قَالَ الْإِمَامُ أَحْمَدُ حَدَّثَنَا ابْنُ نُمَيْرٍ، حَدَّثَنَا ثَوْرٌ -يَعْنِي ابْنَ يزيد-عن مكحول، عن أبي هُرَيرة قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ “الْعَيْنُ حَقٌّ، ويحضُرها الشيطانُ، وَحَسَدُ ابْنِ آدَمَ”

Imam Ahmad berkata, telah menceritakan kepada kami ibnu Namir telah menceritakan kepada kami Saur (yakni Ibnu Zaid), dari Mak-hul, dari Abu Hurairah yang mengatakan bahwa Rasulullah Saw. telah bersabda: Ain adalah benar dan ia dibarengi oleh setan dan kedengkian anak adam.

قَالَ أَحْمَدُ: حَدَّثَنَا خَلَفُ بْنُ الْوَلِيدِ، حَدَّثَنَا أَبُو مَعْشَرٍ، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ قيس: سُئل أبو هُرَيرة: هَلْ سَمِعْتَ رَسُولَ اللَّهِ يَقُولُ: الطِّيرَةُ فِي ثَلَاثٍ: فِي الْمَسْكَنِ وَالْفَرَسِ وَالْمَرْأَةِ؟ قَالَ: قُلْتُ: إِذًا أَقُولُ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا لَمْ يَقُلْ! وَلَكِنِّي سَمِعْتُ رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول: “أَصْدَقُ الطِّيرَةِ الفألُ، وَالْعَيْنُ حَقٌّ”

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Khalaf ibnul Walid, telah menceritakan kepada kami Abu Ma’syar, dari Muhammad ibnu Qais, bahwa Abu Hurairah pernah ditanya, “Apakah engkau pernah mendengar Rasulullah Saw. bersabda bahwa tiyarah (kesialan) terdapat pada tiga perkara, yaitu tempat tinggal (rumah), kuda (kendaraan), dan istri?” Maka Abu Hurairah menjawab bahwa jika aku katakan ya, berarti aku mengatakan terhadap Rasulullah Saw. Apa yang tidak dikatakannya. Tetapi aku pernah mendengar Rasulullah Saw. bersabda: Tiyarah yang paling benar ialah rasa optimis, dan ‘ain itu adalah benar.

Hadis Asma binti Umais.

قَالَ الْإِمَامُ أَحْمَدُ: حَدَّثَنَا سُفْيَانُ، عَنْ عَمْرِو بْنِ دِينَارٍ، عَنِ عُروةَ بْنِ عَامِرٍ، عَنْ عُبَيد بْنِ رَفَاعَةَ الزُرقي قَالَ: قَالَتْ أَسْمَاءُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِنَّ بَنِي جَعْفَرٍ تُصِيبُهُمُ الْعَيْنُ، أَفَأَسْتَرْقِي لَهُمْ؟ قَالَ: “نَعَمْ، فَلَوْ كَانَ شَيْءٌ يَسْبِقُ القدرَ لَسَبَقَتْهُ الْعَيْنُ”.

Tulisan ini dimuat dalam Tafsir Ibnu Katsir.