Al-Qalam, ayat 48-52

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Sufyan, dari Amr ibnu Dinar, dari Urwah ibnu Amir, dari Ubaid ibnu Rifa’ah Az-Zurqi yang menceritakan bahwa Asma pernah bertanya, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya Bani Ja’far terkena penyakit ‘ain, maka bolehkah aku meminta pengobatan secara ruqyah buat mereka?” Rasulullah Saw. menjawab: Ya, seandainya ada sesuatu yang dapat mendahului takdir, niscaya ‘ain dapat mendahuluinya.

Hal yang sama telah diriwayatkan oleh Imam Turmuzi dan Ibnu Majah melalui hadis Sufyan ibnu Uyaynah dengan sanad yang sama. Imam Turmuzi telah meriwayatkannya pula —-juga Imam Nasai— melalui hadis Abdur Razzaq, dari Ma’mar, dari Ayyub, dari Amr ibnu Dinar, dari Urwah ibnu Amir, dari Ubaid ibnu Rifa’ah, dari Asma binti Umais dengan sanad yang sama, dan Imam Turmuzi mengatakan bahwa hadis ini hasan sahih.

Hadis Aisyah r.a.

قَالَ ابْنُ مَاجَهْ: حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ أَبِي الخَصِيب، حَدَّثَنَا وَكِيع، عَنْ سُفْيَانَ، ومِسْعَر، عَنْ مَعْبَدِ بْنِ خَالِدٍ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ شَدَّاد، عَنْ عَائِشَةَ؛ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَمَرَهَا أَنْ تَسْتَرِقِيَ مِنَ الْعَيْنِ

Ibnu Majah mengatakan bahwa telah menceritakan kepada kami Ali ibnu Abul Khasib, telah menceritakan kepada kami Waki’, dari Sufyan dan Mis’ar, dari Ma’bad ibnu Khalid, dari Abdullah ibnu Syaddad, dari Aisyah r.a., bahwa Rasulullah Saw. pernah menyuruhnya mencari ruqyah karena penyakit ‘ain.

Imam Bukhari meriwayatkannya melalui Muhammad ibnu Kasir, dari Sufyan, dari Ma’bad ibnu Khalid dengan sanad yang sama. Imam Muslim mengetengahkannya melalui hadis Sufyan dan Mis’ar, keduanya dari Ma’bad dengan sanad yang sama.

ثُمَّ قَالَ ابْنُ مَاجَهْ: حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ، حَدَّثَنَا أَبُو هِشَامٍ الْمَخْزُومِيُّ، حَدَّثَنَا وُهَيب، عَنْ أَبِي وَاقِدٍ، عَنْ أَبِي سَلَمَةَ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ، عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “اسْتَعِيذُوا بِاللَّهِ فَإِنَّ النَّفْسَ حَقٌّ”.

Kemudian Ibnu Majah mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Basysyar, telah menceritakan kepada kami Abu Hisyam Al-Makhzumi, telah menceritakan kepada kami Wahib, dari Abu Waqid, dari Abu Salamah ibnu Abdur Rahman, dari Aisyah yang mengatakan bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda: Mohonlah perlindungan kepada Allah karena sesungguhnya penyakit jiwa itu benar.

Imam Ibnu Majah meriwayatkan hadis ini secara tunggal.

Abu Daud berkata: bahwa telah menceritakan kepada kami Usman ibnu Abu Syaibah, telah menceritakan kepada kami Jarir, dari Al-A’masy, dari Ibrahim, dari Musa dan Husain ibnu Muhammad ibnu Sinan, bahwa Ibnu Hasanah pernah menceritakan kepadanya dari ayahnya, dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda:

«لَا بأس في الهام الْهَامِّ، وَالْعَيْنُ حَقٌّ وَأَصْدَقُ الطِّيرَةِ الْفَأْلُ»

Tiada mengapa (berobat karena) binatang beracun, dan ‘ain itu adalah benar, dan tiyarah yang paling benar adalah rasa optimis.

Hadis Sahl ibnu Hanif.

قَالَ الْإِمَامُ أَحْمَدُ: حَدَّثَنَا حُسَين بْنُ مُحَمَّدٍ، حَدَّثَنَا أَبُو أُوَيْسٍ حَدَّثَنَا الزُّهْرِيِّ، عَنْ أَبِي أُمَامَةَ بْنِ سَهل بْنِ حُنَيف: أَنَّ أَبَاهُ حَدَّثَهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَرَجَ وَسَارُوا مَعَهُ نَحْوَ مَكَّةَ، حَتَّى إِذَا كَانُوا بِشِعْبِ الخَرَار -مِنَ الْجُحْفَةِ-اغْتَسَلَ سهلُ بْنُ حُنَيف -وَكَانَ رَجُلًا أَبْيَضَ حَسن الْجِسْمِ وَالْجِلْدِ-فَنَظَرَ إِلَيْهِ عَامِرُ بْنُ رَبِيعَةَ، أَخُو بَنِي عَدِيِّ بْنِ كَعْبٍ، وَهُوَ يَغْتَسِلُ، فَقَالَ: مَا رَأَيْتُ كَالْيَوْمِ وَلَا جِلْدَ مُخَبَّأة. فلُبِطَ سَهْلٌ، فَأَتَى رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقِيلَ لَهُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، هَلْ لَكَ فِي سَهْلٍ. وَاللَّهِ مَا يَرْفَعُ رَأْسَهُ وَلَا يُفيق. قَالَ: “هَلْ تَتَّهِمُونَ فِيهِ مِنْ أَحَدٍ؟ “. قَالُوا: نَظَرَ إِلَيْهِ عَامِرُ بْنُ رَبِيعَةَ. فَدَعَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَامِرًا، فَتَغَيَّظَ عَلَيْهِ، وَقَالَ: “عَلَامَ يَقْتُلُ أَحَدُكُمْ أَخَاهُ، هَلَّا إِذَا رَأَيْتَ مَا يُعْجِبُكَ بَركت؟ “. ثُمَّ قَالَ لَهُ: “اغْتَسِلْ لَهُ” -فَغَسَلَ وَجْهَهُ وَيَدَيْهِ وَمَرْفِقَيْهِ وَرُكْبَتَيْهِ وَأَطْرَافَ رِجْلَيْهِ ودَاخلَة إِزَارِهِ فِي قَدح-ثُمَّ صُب ذَلِكَ الْمَاءَ عَلَيْهِ. يَصُبَه رَجُلٌ عَلَى رَأْسِهِ وَظَهْرِهِ مِنْ خَلْفِهِ، ثُمَّ يُكْفَأُ. الْقَدَحُ وَرَاءَهُ. فَفَعَلَ ذَلِكَ، فَرَاحَ سَهْلٌ مَعَ النَّاسِ، لَيْسَ بِهِ بَأْسٌ

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Husain ibnu Muhammad, telah menceritakan kepada kami Abu Uwais, telah menceritakan kepada kami Az-Zuhri, dari Abu Umamah ibnu Sahl ibnu Hanif, ayahnya pernah menceritakan kepadanya bahwa Rasulullah Saw. keluar melakukan perjalanan bersama para sahabatnya menuju Mekah. Ketika sampai di Lereng Al-Khazzar di Juhfah, Sahl ibnu Hanif mandi. Dia adalah seorang lelaki yang berkulit putih dan memiliki tubuh dan warna kulit yang bagus. Maka Amir ibnu Rabi’ah saudara Bani Addi ibnu Ka’b memergokinya ketika ia mandi, lalu Amir berkata, “Aku belum pernah melihat pemandangan seperti hari ini, tiada selembar kain pun yang menutupi kulitnya yang bagus itu.” Maka saat itu juga Sahl jatuh pingsan, lalu dibawa ke hadapan Rasulullah Saw. dan dikatakan kepada beliau, “Wahai Rasulullah, maukah engkau mengobati Sahl. Dia, demi Allah, tidak sadarkan dirinya dan masih dalam keadaan pingsan.” Rasulullah Saw. bertanya, “Apakah kalian mencurigai seseorang yang menjadi penyebabnya?” Mereka menjawab, “‘Ini karena Amir memandangnya saat ia lagi mandi.” Maka Rasulullah Saw. memanggil Amir dan memarahinya seraya bersabda: Teganya seseorang dari kalian mengganggu saudaranya. Mengapa engkau tidak mendoakan keberkatan baginya jika engkau lihat darinya hal yang manakjubkan dirimu?. Kemudian Rasulullah Saw. bersabda, memerintahkan kepada Amir, “Mandilah kamu untuknya.” Maka Amir membasuh mukanya, kedua tangannya, kedua sikunya, kedua lututnya dan ujung-ujung jari kedua kakinya serta bagian dalam kainnya dari setimba air, kemudian sisanya disiramkan oleh seseorang ke kepalanya dan punggungnya dari arah belakangnya, yaitu dengan menumpahkan sisa air timba itu. Setelah hal tersebut dilakukan, maka Sahl sadar kembali dan bergabung bersama orang-orang tanpa mengalami sedikit gangguan pun dan sehat wal afiat seperti sediakala.

Hadis Amir ibnu Rabi ‘ah.

قَالَ الْإِمَامُ أَحْمَدُ فِي مُسْنَدِ عَامِرٍ: حَدَّثَنَا وَكِيع، حَدَّثَنَا أَبِي، حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عِيسَى، عَنْ أمَيّة بْنِ هِنْدِ بْنِ سَهْلِ بْنِ حُنَيْف، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَامِرٍ قَالَ: انْطَلَقَ عَامِرُ بْنُ رَبِيعَةَ وَسَهْلُ بْنُ حَنِيفٍ يُرِيدَانِ الْغُسْلَ، قَالَ: فَانْطَلَقَا يَلْتَمِسَانِ الخمرَ -قَالَ: فَوَضْعَ عَامِرٌ جُبَّة كَانَتْ عَلَيْهِ مِنْ صُوفٍ، فَنَظَرْتُ إِلَيْهِ فَأَصَبْتُهُ بِعَيْنِي فَنَزَلَ الْمَاءَ يَغْتَسِلُ. قَالَ: فَسَمِعْتُ لَهُ فِي الْمَاءِ فَرْقَعَةً، فَأَتَيْتُهُ فَنَادَيْتُهُ ثَلَاثًا فَلَمْ يُجِبْنِي. فَأَتَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَخْبَرْتُهُ. قَالَ: فَجَاءَ يَمْشِي فَخَاضَ الْمَاءَ كَأَنِّي أَنْظُرُ إِلَى بَيَاضِ سَاقَيْهِ، قَالَ: فَضَرَبَ صَدْرَهُ بِيَدِهِ ثُمَّ قَالَ: “اللَّهُمَّ اصْرِفْ عَنْهُ حَرَّهَا وَبَرْدَهَا وَوَصَبَهَا”. قَالَ: فَقَامَ. فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “إِذَا رَأَى أَحَدُكُمْ مِنْ أَخِيهِ، أَوْ مِنْ نَفْسِهِ أَوْ مِنْ مَالِهِ، مَا يُعْجِبُهُ، فَليُبَرِّك، فَإِنَّ الْعَيْنَ حَقٌّ”

Imam Ahmad mengatakan di dalam kitab musnadnya, telah menceritakan kepada kami Waki’, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Abdullah ibnu Isa, dari Umayyah ibnu Hindun, dari Sahl ibnu Hanif, dari Ubaidillah ibnu Amir yang mengatakan bahwa Amir ibnu Rabi’ah dan Sahl ibnu Hanif pergi dengan tujuan akan mandi. Lalu keduanya berangkat mencari kain penutup, dan Sahl menanggalkan kain jubahnya yang terbuat dari bulu domba. Maka aku memandangnya, dan ternyata pandangan mataku mengenainya, lalu Sahl turun ke air untuk mandi. Kemudian kudengar suara air seakan-akan dia terjatuh ke dalamnya, maka kudekati tempat mandinya dan kupanggil-panggil dia sebanyak tiga kali, tetapi dia tidak menjawab. Setelah itu aku datang kepada Nabi Saw. dan menceritakan hal tersebut kepada beliau Saw. Maka Rasulullah Saw. datang dengan jalan kaki dan memasuki air untuk menolongnya, dan aku sempat melihat kedua betisnya yang putih. Lalu Rasulullah Saw. memukul dada Sahl seraya berdoa: Ya Allah, lenyapkanlah darinya pengaruh panas, dingin, dan penyakit ‘ain yang menimpanya. Maka dengan serta merta Sahl bangkit berdiri dalam keadaan sehat, lalu Rasulullah Saw. bersabda: Apabila seseorang dari kamu melihat pada diri saudaranya atau pada harta bendanya hal-hal yang mengagumkannya, hendaklah ia mendoakan keberkatan baginya, karena sesungguhnya ‘ain (pandangan) itu hak (benar).

Tulisan ini dimuat dalam Tafsir Ibnu Katsir.