Ikrimah dan Ibnu Zaid serta selain keduanya mengatakan bahwa ketika orang-orang (pasukan kaum muslim) kembali ke Madinah, maka Abdullah ibnu Abdullah ibnu Ubay ibnu Salul berdiri di depan pintu gerbang kota Madinah seraya menghunus pedangnya, dan orang-orang pun melewatinya. Tetapi ketika ayahnya (yaitu Abdullah ibnu Ubay) datang, maka ia berkata kepadanya, “Mundurlah, hai ayah!” Ayahnya bertanya, “Celakalah kamu, mengapa kamu bersikap seperti itu.”
Abdullah ibnu Abdullah ibnu Ubay berkata, “Demi Allah, engkau tidak boleh melewati pintu gerbang ini sebelum Rasulullah Saw. mengizinkan dirimu masuk, karena sesungguhnya dialah orang yang menang dan engkau adalah orang yang kalah.” Ketika Rasulullah Saw. datang karena beliau berada di barisan belakang sebagai penggiring pasukan, maka Abdullah ibnu Ubay mengadu kepada beliau tentang perlakuan putranya. Dan Abdullah putranya berkata, “Demi Allah, wahai Rasulullah, dia tidak boleh masuk sebelum engkau mengizinkannya masuk.” Maka Rasulullah Saw. mengizinkannya untuk memasuki Madinah. Dan putranya berkata, “Sekarang Rasulullah telah memberimu izin untuk masuk, maka silakan masuk.”
Abu Bakar alias Abdullah ibnuz Zubair Al-Humaidi telah mengatakan di dalam kitab musnadnya, telah menceritakan kepada kami Sufyan ibnu Uyaynah, telah menceritakan kepada kami Abu Harun Al-Madani, bahwa Abdullah berkata kepada ayahnya, “Demi Allah, engkau tidak boleh masuk Madinah sebelum engkau katakan bahwa Rasulullah Saw. adalah orang yang kuat dan aku adalah orang yang kalah.”
Dan Abdullah datang menghadap kepada Rasulullah Saw., lalu bertanya, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya telah sampai kepadaku suatu berita yang mengatakan bahwa engkau hendak membunuh ayahku. Maka demi Tuhan yang telah mengutusmu dengan hak, aku belum pernah menatap wajah ayahku karena segan kepadanya. Tetapi sesungguhnya jika engkau menghendaki agar aku mendatangkan kepalanya ke hadapanmu, aku sanggup membawakannya ke hadapanmu (dalam keadaan telah terpenggal). Karena sesungguhnya aku tidak suka melihat orang lain membunuh ayahku.