Al-Munafiqun, ayat 5-8

Yunus ibnu Bukair telah meriwayatkan dari Ibnu Ishaq, bahwa telah menceritakan kepadaku Muhammad ibnu Yahya ibnu Hibban dan Abdullah ibnu Abu Bakar dan Asim ibnu Umar ibnu Qatadah dalam kisah Banil Mustaliq, bahwa ketika Rasulullah Saw. berada di tempat Banil Mustaliq, Jahjah ibnu Sa’id Al-Gifari seorang pekerja Umar ibnul Khattab berkelahi dengan Sinan ibnu Yazid, karena memperebutkan air.

Ibnu Ishaq mengatakan, telah menceritakan kepadaku Muhammad ibnu Yahya ibnu Hibban, bahwa keduanya berdesakan untuk memperebutkan air dari suatu mata air, lalu keduanya berkelahi. Akhirnya Sinan berkata, “Hai orang-orang Ansar,” sedangkan Al-Jahjah berkata, “Hai orang-orang Muhajir.” Saat itu Zaid ibnu Arqam dan segolongan kaum Ansar berada bersama Abdullah ibnu Ubay ibnu Salul. Ketika Abdullah ibnu Ubay mendengar hal tersebut, maka ia memberikan komentarnya, “Sesungguhnya mereka telah berani mengadakan pemberontakan di negeri kita. Demi Allah, perumpamaan kita dan sempalan orang-orang Quraisy ini (yakni Muhajirin) sama dengan peribahasa yang mengatakan ‘gemukkanlah anjingmu, maka ia akan memakanmu’. Demi Allah, sungguh jika kita kembali ke Madinah, orang-orang yang kuat benar-benar akan mengusir orang-orang yang lemah daripadanya.” Kemudian dia menghadap kepada orang-orang yang ada di dekatnya dari kalangan kaumnya, lalu berkata kepada mereka, “Inilah akibat dari perbuatan kalian, kalian telah mengizinkan mereka menempati negeri kalian, dan kalian telah merelakan harta kalian berbagi dengan mereka. Ingatlah, demi Allah, sekiranya kalian menghindari mereka, niscaya mereka akan berpindah dari kalian menuju ke negeri lain.”

Kemudian perkataan Abdullah ibnu Ubay itu terdengar oleh Zaid ibnu Arqam r.a., maka ia melaporkannya kepada Rasulullah Saw. yang pada saat itu Zaid ibnu Arqam masih berusia remaja. Ketika ia sampai kepada Rasulullah Saw., di sisi beliau terdapat Umar ibnul Khattab r.a., lalu ia menceritakan kepada beliau apa yang telah dikatakan oleh Abdullah ibnu Ubay tadi. Maka Umar r.a. berkata, “Wahai Rasulullah, perintahkanlah kepada Abbad ibnu Bisyar agar memenggal kepala Ibnu Salul.” Rasulullah Saw. menjawab: Hai Umar, bagaimanakah jawabanmu apabila orang-orang mengatakan bahwa Muhammad telah membunuh temannya sendiri. Tidak, tetapi serukanlah, hai Umar, kepada orang-orang untuk segera berangkat (pulang).

Ketika hal itu sampai kepada Abdullah ibnu Ubay, maka ia mendatangi Rasulullah Saw. dan meminta maaf kepadanya serta bersumpah bahwa dia tidak mengatakannya, yakni tidak mengatakan seperti apa yang dilaporkan oleh Zaid ibnu Arqam. Sedangkan Abdullah ibnu Ubay adalah seorang lelaki yang mempunyai kedudukan yang tinggi di kalangan kaumnya, maka mereka mengatakan, “Wahai Rasulullah, barangkali anak remaja ini (yakni Zaid ibnu Arqam) hanya berilusi dan masih belum dapat menangkap pembicaraan yang dikatakan oleh seorang yang telah dewasa.” Tetapi Rasulullah Saw. pergi di tengah hari, yaitu di saat yang pada kebiasaannya beliau tidak pernah memerintahkan untuk berangkat. Lalu Usaid ibnu Hudair r.a. datang menjumpai beliau Saw. dan mengucapkan salam penghormatan kenabian kepada beliau Saw. Kemudian Usaid berkata, “Demi Allah, engkau memerintahkan berangkat di saat yang tidak disukai dan yang belum pernah* engkau lakukan sebelumnya.” Maka Rasulullah Saw. bersabda: Tidakkah engkau mendengar apa yang telah dikatakan oleh temanmu. Ibnu Ubay. Dia mengira bahwa apabila aku sampai di Madinah, maka orang yang kuat akan mengusir orang yang lemah daripadanya.

Usaid ibnu Hudair r.a. berkata, “Wahai Rasulullah, engkaulah orang yang kuat dan dia adalah orang yang hina (kalah).” Kemudian Usaid berkata pula, “Wahai Rasulullah, kasihanilah dia. Demi Allah, sesungguhnya ketika Allah mendatangkan engkau, sesungguhnya kami benar-benar telah menguntai manikam guna memahkotainya (menjadi pemimpin kami). Dan sesungguhnya dia memandang bahwa engkau telah merebut kerajaan itu dari tangannya.” Kemudian Rasulullah Saw. membawa pasukan kaum muslim berjalan hingga petang hari dan dilanjutkan pada malam harinya hingga pada pagi hari dan matahari meninggi hingga panasnya mulai terasa. Setelah itu beliau Saw. memerintahkan kepada pasukan kaum muslim untuk turun istirahat,aguna mengalihkan perhatian mereka dari topik pembicaraan yang sedang menghangat di kalangan mereka. Maka begitu orang-orang menyentuh tanah, mereka langsung tidur karena kecapaian, dan di tempat itulah diturunkan surat Al-Munafiqun.

Al-Hafiz Abu Bakar Al-Baihaqi mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Abdullah Al-Hafiz, telah menceritakan kepada kami Abu Bakar ibnu Ishaq, telah menceritakan kepada kami Bisyr ibnu Musa, telah menceritakan kepada kami Al-Humaidi, telah menceritakan kepada kami Sufyan, telah menceritakan kepada kami Amr ibnu Dinar bahwa ia pernah mendengar Jabir ibnu Abdullah mengatakan, “Ketika kami bersama Rasulullah Saw. dalam suatu peperangan, maka ada seorang lelaki dari kalangan Muhajirin mendorong seorang lelaki dari kalangan Ansar (karena memperebutkan sesuatu). Maka orang Ansar mengatakan, ‘Hai orang-orang Ansar!’ Sedangkan orang Muhajirin mengatakan, ‘Hai orang-orang Muhajirin!’ Yakni meminta bantuan kepada temannya masing-masing. Maka Rasulullah Saw. bersabda: ‘Mengapa seruan jahiliah itu muncul lagi?Tinggalkanlah oleh kalian, karena sesungguhnya seruan jahiliah itu sudah usang (busuk)’.”

Abdullah ibnu Ubay ibnu Salul berkata, “Ternyata mereka melakukan seruan jahiliah itu. Demi Allah, sesungguhnya jika kita kembali ke Madinah, benar-benar orang yang kuat akan mengusir orang-orang yang lemah daripadanya.”

Jabir melanjutkan bahwa jumlah orang-orang Ansar di Madinah jauh lebih banyak daripada orang-orang Muhajirin di saat Rasulullah Saw. baru tiba di Madinah, kemudian lama-kelamaan sesudah itu jumlah kaum Muhajirin bertambah banyak. Maka Umar berkata, “Biarkanlah aku memenggal batang leher si munafik ini.” Tetapi Rasulullah Saw. bersabda: Biarkanlah dia, agar orang-orang tidak membicarakan bahwa Muhammad membunuh temannya sendiri.

Imam Ahmad meriwayatkan hadis ini dari Husain ibnu Muhammad Al-Marwazi, dari Sufyan ibnu Uyaynah. Imam Bukhari meriwayatkannya pula dari Al-Humaidi, Imam Muslim meriwayatkannya dari Abu Bakar ibnu Abu Syaibah dan lain-lainnya, dari Sufyan dengan sanad dan lafaz yang semisal.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Ja’far, telah menceritakan kepada kami Syu’bah, dari Al-Hakam, dari Muhammad ibnu Ka’b Al-Qurazi, dari Zaid ibnu Arqam yang mengatakan bahwa aku bersama Rasulullah Saw. dalam Perang Tabuk, maka Abdullah ibnu Ubay ibnu Salul mengatakan, “Sesungguhnya jika kita kembali ke Madinah, benar-benar orang yang kuat akan mengusir orang yang lemah daripadanya.” Zaid ibnu Arqam melanjutkan kisahnya, bahwa lalu ia menceritakan hal itu kepada Nabi Saw

Maka Abdullah ibnu Ubay ibnu Salul bersumpah bahwa dirinya tidak mengatakan hal tersebut. Akhirnya kaum Zaid ibnu Arqam mencela dirinya, dan mereka mengatakan, “Apakah tujuanmu dengan hal tersebut? Zaid ibnu Arqam pergi, lalu tidur dalam keadaan bersedih hati. Tidak lama kemudian Rasulullah Saw. memanggilku dan bersabda kepadaku: Sesungguhnya Allah telah menurunkan wahyu yang memaafkanmu dan membenarkanmu. Zaid ibnu Arqam mengatakan bahwa ayat ini diturunkan, yaitu firman-Nya: Mereka orang-orang yang mengatakan (kepada orang-orang Ansar), “Janganlah kamu memberikan perbelanjaan kepada orang-orang (Muhajirin) yang ada di sisi Rasulullah supaya mereka bubar (meninggalkan Rasulullah).”(Al-Munafiqun: 7) Sampai dengan firman-Nya: Sesungguhnya jika kita telah kembali ke Madinah, benar-benar orang yang kuat akan mengusir orang-orang yang lemah daripadanya. (Al-Munafiqun: 8)

Tulisan ini dimuat dalam Tafsir Ibnu Katsir.