Imam Bukhari meriwayatkan hadis ini dalam tafsir ayat ini melalui Adam ibnu Abu Iyas, dari Syu’bah. Kemudian ia mengatakan bahwa Ibnu Abu Zaidah telah meriwayatkan dari Al-A’masy, dari Amr, dari Ibnu Abu Laila, dari Zaid, dari Nabi Saw. Dan Imam Turmuzi serta Imam Nasai meriwayatkan hadis ini sehubungan dengan tafsir ayat ini melalui hadis Syu’bah dengan sanad yang sama.
Jalur lain dari Zaid ibnu Arqam. Imam Ahmad rahimahullah mengatakan bahwa telah menceritakan kepada kami Yahya ibnu Adam dan Yahya ibnu Abu Bukair. Keduanya mengatakan, telah menceritakan kepada kami Israil, dari Abu Ishaq, bahwa ia pernah mendengar Zaid ibnu Arqam. Dan Abu Bukair telah meriwayatkan dari Zaid ibnu Arqam. Disebutkan bahwa aku (Zaid ibnu Arqam) berangkat bersama pamanku di suatu peperangan, lalu aku mendengar Abdullah ibnu Ubay ibnu Salul mengatakan kepada teman-temannya, “Janganlah kamu membelanjakan hartamu kepada orang-orang yang ada di sisi Rasulullah Saw. Dan sesungguhnya j ika kita kembali ke Madinah, benar-benar orang yang kuat akan mengusir orang-orang yang lemah daripadanya.” Kemudian aku ceritakan hal itu kepada pamanku, dan pamanku melaporkannya kepada Rasulullah Saw. Maka Rasulullah Saw. memanggilku dan aku ceritakan hal tersebut kepadanya. Lalu Rasulullah Saw. memanggil Abdullah ibnu Ubay ibnu Salul dan teman-temannya, tetapi mereka bersumpah dengan nama Allah bahwa mereka tidak mengatakannya. Akhirnya Rasulullah Saw. tidak mempercayaiku dan membenarkan Ibnu Ubay, maka hal itu merupakan suatu pukulan yang berat bagiku yang tidak pernah kualami sebelumnya, hingga aku terpaksa menetap di dalam rumah, dan pamanku berkata, “Tiada yang engkau hasilkan selain dari ketidakpercayaan Rasulullah Saw. kepadamu dan kemarahan beliau kepadamu.” Lalu Allah Swt. menurunkan firman-Nya: Apabila orang-orang munafik datang kepadamu. (Al-Munafiqun: 1) hingga akhir surat, lalu Rasulullah Saw. memanggilku dan membacakan surat Al-Munafiqun kepadaku, kemudian beliau Saw. bersabda: Sesungguhnya Allah telah membenarkanmu.
Kemudian Imam Ahmad mengatakan pula, telah menceritakan kepada kami Hasan ibnu Musa, telah menceritakan kepada kami Zuhair, telah menceritakan kepada kami Abu Ishaq, bahwa ia pernah mendengar Zaid ibnu Arqam mengatakan bahwa kami berangkat bersama Rasulullah Saw. dalam suatu perjalanan, dan dalam perjalanan itu orang-orang mengalami keadaan yang genting. Maka Abdullah ibnu Ubay berkata kepada teman-temannya, “Janganlah kamu membelanjakan harta kepada orang-orang yang ada di sisi Rasulullah supaya mereka bubar meninggalkannya.” Dan Ibnu Ubay mengatakan pula, bahwa sesungguhnya jika kita kembali ke Madinah, benar-benar orang yang kuat akan mengusir orang-orang yang lemah daripadanya. Maka aku datang kepada Nabi Saw. dan menceritakan hal itu kepadanya, lalu beliau memanggil Abdullah ibnu Ubay dan menanyainya, tetapi Abdullah ibnu Ubay menyangkalnya dengan sumpah yang sekuatnya bahwa dia tidak mengatakan hal itu. Dan mereka berkata, “Si Zaid itu dusta, wahai Rasulullah.” Maka hatiku berduka cita karena ucapan mereka itu, dan Allah Swt. menurunkan wahyu yang membenarkan diriku, yaitu: Apabila orang-orang munafik datang kepadamu. (Al-Munafiqun: 1) Kemudian Rasulullah Saw. memanggil mereka untuk memintakan ampunan kepada Allah bagi mereka, tetapi mereka memalingkan mukanya (menolak).
Firman Allah Swt.:
{كَأَنَّهُمْ خُشُبٌ مُسَنَّدَةٌ}
Mereka adalah seakan-akan kayu yang tersandar. (Al-Munafiqun: 4)
Bahwa mereka adalah orang-orang yang berpenampilan sangat baik.
Pendapat ini telah diriwayatkan oleh Imam Bukhari, Imam Muslim, dan Imam Nasai melalui hadis Zuhair.
Imam Bukhari telah meriwayatkannya pula, begitu juga Imam Turmuzi melalui hadis Israil, keduanya dari Abu Ishaq alias Amr ibnu Abdullah As-Subai’i Al-Hamdani Al-Kufi, dari Zaid dengan sanad yang sama.
Jalur lain dari Zaid. Abu Isa At-Turmuzi mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abdu ibnu Humaid, telah menceritakan kepada kami Ubaidillah ibnu Musa, dari Israil, dari As-Saddi, dari Abu Sa’d Al-Azdi, bahwa telah menceritakan kepada kami Zaid ibnu Arqam yang mengatakan bahwa kami ikut bersama Rasulullah Saw. dalam suatu peperangan. Bersama kami terdapat sejumlah orang Arab Badui, kami berebutan mengambil air dari mata air, dan orang-orang Badui itu mendahului kami menuju air mata air tersebut. Salah seorang dari Arab Badui itu mendahului teman-temannya untuk membuat kolam dan memenuhinya dengan air, serta menambak sekeliling kolam dengan batu, lalu memasang kuda-kuda untuk tempat timba di atasnya sambil menunggu kedatangan teman-temannya. Kemudian datanglah seorang lelaki dari kalangan Ansar ke tempat lelaki Badui itu, dan orang Ansar itu langsung menundukkan tali kendali unta kendaraannya dengan maksud agar untanya dapat minum dari air kolam tersebut. Akan tetapi, lelaki Badui itu menolaknya. Maka orang Ansar itu merasa jengkel, lalu ia membedah salah satu batu penahan kolam itu hingga airnya mengalir ke luar. Maka orang Badui itu mengangkat batang kayu miliknya dan memukulkannya ke kepala orang Ansar itu hingga membuatnya berdarah dan luka. Kemudian lelaki Ansar itu mendatangi Abdulllah ibnu Ubay dan menceritakan hal tersebut kepadanya, sedangkan dia adalah salah seorang dari teman Abdullah ibnu Ubay. Maka Abdullah ibnu Ubay marah dan berkata, “Janganlah kamu membelanjakan hartamu kepada orang-orang yang ada di sisi Rasulullah Saw. supaya mereka bubar meninggalkannya,” Yang dia maksudkan adalah orang-orang Badui yang membantu Rasulullah Saw. Merekalah yang menyediakan makanan buat Rasulullah Saw. Abdullah ibnu Ubay berkata kepada teman-temannya, bahwa apabila mereka bubar dari sisi Rasulullah, maka datanglah kalian kepada Muhammad dengan membawa makanan, agar dia dan sahabat-sahabatnya makan. Kemudian Abdullah ibnu Ubay mengatakan pula, bahwa sesungguhnya jika kamu kembali ke Madinah, benar-benar orang yang kuat akan mengusir orang yang lemah daripadanya. Zaid ibnu Arqam mengatakan bahwa saat itu ia membonceng pamannya. Dan ia mendengar apa yang telah dikatakan oleh Abdullah ibnu Ubay kepada teman-temannya itu, lalu ia menceritakan hal itu kepada pamannya. Maka pamannya berangkat dan menceritakan hal itu kepada Rasulullah Saw., lalu Rasulullah Saw. memanggil Abdullah ibnu Ubay, tetapi Abdullah ibnu Ubay mengingkari perkataannya dan bersumpah bahwa dia tidak mengatakannya. Rasulullah Saw. membenarkan dia dan mendustakan aku. Pamanku datang, lalu berkata kepadaku, “Tiada lain yang kamu hasilkan selain kemurkaan Rasulullah Saw. Beliau mendustakanmu dan juga kaum muslim.” Hal itu membuat diriku merasa berduka cita yang sangat mendalam dan belum pernah kurasakan hal sesedih itu. Dan ketika aku sedang berjalan bersama Rasulullah Saw. dalam suatu perjalanan, sedangkan kepalaku masih pusing disebabkan kesusahan itu, tiba-tiba Rasulullah Saw. datang mendekatiku dan menjewer telingaku seraya tersenyum memandang wajahku. Hal tersebut membuat diriku meledak gembira, dan ingin rasanya kebahagiaan ini kekal dalam kehidupan duniaku. Kemudian sahabat Abu Bakar menyusulku dan mengatakan, “Apakah yang dikatakan oleh Rasulullah Saw. kepadamu?” Aku menjawab, “Beliau tidak mengatakan apa pun kepadaku, hanya beliau menjewer telingaku dan tersenyum seraya memandang wajahku.” Maka Abu Bakar berkata, “Bergembiralah kamu.” Lalu Umar menyusulku dan menanyaiku, maka kukatakan kepadanya seperti apa yang kukatakan kepada Abu Bakar. Dan pada pagi harinya Rasulullah Saw. membacakan kepada kami surat Al-Munafiqun.