Al-Hafiz Abu Bakar Al-Baihaqi mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ali ibnu Ahmad ibnu Abdan, telah menceritakan kepada kami Ahmad ibnu Ubaidus Saffar, telah menceritakan kepada kami Hisyam, telah menceritakan kepada kami Al-Hasan ibnu Basyir, telah menceritakan kepada kami Al-Hakam ibnu Abdul Malik, dari Qatadah, dari Anas ibnu Malik r.a. yang menceritakan bahwa ketika Rasulullah Saw. memerintahkan kaum muslim untuk melakukan baiat Ridwan, sahabat Usman r.a. sedang menjadi utusan Rasulullah Saw. kepada penduduk Mekah. Maka kaum muslim melakukan baiatnya, dan Rasulullah Saw. bersabda: Ya Allah, sesungguhnya Usman sedang menjalankan tugas Allah dan tugas Rasul-Nya. Kemudian beliau Saw. memukulkan salah satu tangannya ke tangan yang lain (sebagai ganti dari baiat Usman yang tidak dapat hadir saat itu). Dan tangan Rasulullah Saw. untuk Usman r.a. lebih baik daripada tangan mereka untuk diri mereka sendiri.
Ibnu Hisyam mengatakan, ‘Telah menceritakan kepadaku seseorang yang aku percayai dari seseorang yang telah menceritakan hadis berikut kepadanya dengan sanadnya dari Ibnu Abu Mulaikah, dari Ibnu Umar r.a. yang mengatakan bahwa Rasulullah Saw. berbaiat untuk Usman r.a. Maka beliau memukulkan salah satu tangannya ke tangan yang lainnya.”
Abdul Malik ibnu Hisyam An-Nahwi mengatakan bahwa Waki’ telah menceritakan dari Ismail ibnu Abu Khalid, dari Asy-Sya’bi yang mengatakan bahwa sesungguhnya orang yang mula-mula mengucapkan janji setia (baiat) kepada Rasulullah Saw. dalam berbaiat Ridwan adalah Abu Sinan Al-Asadi.
Abu Bakar alias Abdullah ibnuz Zubair Al-Humaidi mengatakan, telah menceritakan kepada kami Sufyan, telah menceritakan kepada kami Ibnu Abu Khalid, dari Asy-Sya’bi yang menceritakan bahwa ketika Rasulullah Saw. menyeru manusia untuk berbaiat kepadanya, maka orang yang mula-mula sampai kepada beliau adalah Abu Sinan Al-Asadi Maka Abu S inan berkata, “Ulurkanlah tanganmu, aku akan berbaiat kepadamu.” Nabi Saw. bertanya, “Untuk apa engkau berbaiat kepadaku?” Abu Sinan menjawab, “Untuk membela agama yang engkau ajarkan.” Abu Sinan ini adalah Abu Sinan ibnu Wahb Al-Asadi r.a.
Imam Bukhari mengatakan, telah menceritakan kepada kami Syuja’ ibnul Walid; ia pernah mendengar An-Nadr ibnu Muhammad mengatakan, telah menceritakan kepada kamiSakhr ibnur Rabi’, dari Nafi’ r.a. yang mengatakan, “Sesungguhnya orang-orang telah mengatakan bahwa Ibnu Umar r.a. terlebih dahulu masuk Islam sebelum Umar, padahal tidaklah demikian. Tetapi Umar r.a. di hari terjadinya perjanjian Hudaibiyah menyuruh Abdullah ibnu Umar untuk mencari kuda untuknya yang ada pada seorang lelaki dari kalangan Ansar, Supaya Ibnu Umar membawa kuda itu karena akan ia gunakan untuk perang. Dan saat itu Rasulullah Saw. mengadakan baiat di bawah pohon tersebut terhadap kaum muslim, sedangkan Umar tidak mengetahui kejadian itu. Maka Abdullah ibnu Umar r.a. terlebih dahulu berbaiat kepada Rasulullah Saw., kemudian ia pergi mencari kuda untuk ayahnya dan ia mendatangkannya kepada ayahnya (Umar). Saat itu Umar sedang bersiap-siap untuk perang, maka Ibnu Umar menceritakan kepadanya bahwa Rasulullah Saw. sedang membaiat orang-orang di bawah sebuah pohon. Maka Umar berangkat dengan membawa dia (Ibnu Umar) hingga Umar pun berbaiat kepada Rasulullah Saw. Peristiwa inilah yang menjadi bahan pembicaraan orang-orang, bahwa Ibnu Umar masuk Islam sebelum Umar.”
Kemudian Imam Bukhari mengatakan bahwa Hisyam ibnu Ammar telah mengatakan pula, telah menceritakan kepada kami Hisyam ibnu Ammar, telah menceritakan kepada kami Al-Walid ibnu Muslim, telah menceritakan kepada kami Amr ibnu Muhammad Al-Umari, telah menceritakan kepadaku Nafi’, dari Ibnu Umar r.a. yang mengatakan bahwa sesungguhnya orang-orang (kaum muslim) pada mulanya berpencar-pencar di bawah naungan pepohonan, kemudian mereka berkumpul kepada Nabi Saw. Maka Umar bertanya, “Hai Abdullah, lihatlah apakah yang dilakukan oleh orang-orang itu hingga mereka berkumpul mengelilingi Rasulullah Saw.” Ibnu Umar menjumpai mereka sedang berbaiat kepadanya, maka ia pun ikut berbaiat. Setelah itu ia kembali kepada ayahnya dan menceritakan hal itu kepadanya, lalu Umar datang dan ikut berbaiat.
Imam Baihaqi telah menyandarkan hadis ini kepada Abu Amr Al-Adib, dari Abu Bakar Al-Ismaili, dari Al-Hasan ibnu Sufyan, dari Dahim, bahwa telah menceritakan kepadaku Al-Walid ibnu Muslim, kemudian disebutkan hal yang semisal.
Al-Lais telah meriwayatkan dari Abuz Zubair, dari Jabir r.a. yang telah menceritakan bahwa kami di hari Hudaibiyah berjumlah seribu empat ratus orang, lalu kami mengucapkan janji setia kepada beliau Saw., sedangkan Umar r.a. memegang tangan beliau Saw. di bawah pohon itu, yakni pohon samurah. Jabir mengatakan, “Kami berjanji setia kepada beliau untuk tidak akan lari (dari medan perang), bukan berjanji setia untuk mati.” Imam Muslim meriwayatkan hadis ini dari Qutaibah, dari Jabir.
Imam Muslim telah meriwayatkan dari Yahya, dari Yazid ibnu Zurai’, dari Khalid, dari Al-Hakam ibnu Abdullah Al-Araj, dari Ma’qal ibnu Yasar r.a. yang mengatakan, “Sesungguhnya di hari baiat di bawah pohon aku melihat Nabi Saw. sedang membaiat kaum muslim, sedangkan aku mengangkat salah satu dari rantingnya agar tidak mengenai kepala Nabi Saw. Kami saat itu berjumlah seribu empat ratus orang.” Ma’qal ibnu Yasar mengatakan pula, “Kami membaiat beliau bukan untuk siap mati, melainkan kami berbaiat kepada beliau untuk tidak akan lari (dari medan perang).”
Imam Bukhari mengatakan, telah menceritakan kepada kami Al-Makki ibnu Ibrahim, dari Yazid ibnu Abu Ubaid, dari Salamah ibnul Akwa” r.a. yang menceritakan, “Aku berjanji setia kepada Rasulullah di bawah sebuah pohon.”
Yazid ibnu Abu Ubaid bertanya, “Hai Abu Maslamah, janji setia apakah yang kamu ucapkan kepada beliau pada hari itu?” Salamah r.a. menjawab, “Untuk siap mati membela beliau.”
Imam Bukhari mengatakan pula, telah menceritakan kepada kami Abu Asim, telah menceritakan kepada kami Yazid ibnu Abu Ubaid, dari Salamah r.a. yang mengatakan, “Aku berjanji setia kepada Rasulullah Saw. pada hari Hudaibiyah, setelah itu aku menjauh. Maka Nabi Saw. bertanya, ‘Hai Salamah, tidakkah engkau berbaiat?’ Aku menjawab, ‘Aku telah berbaiat.’ Nabi Saw. bersabda, ‘Kemarilah dan berbaiatlah.’Maka mereka (kaum muslim) mendekat kepada beliau dan aku mengucapkan janji setia kepada beliau Saw. Aku (Yazid) bertanya, ‘Hai Salamah, janji setia apakah yang engkau ucapkan kepada beliau?’ Salamah menjawab, ‘Untuk siap mati (demi membelanya)’.”
Imam Muslim telah mengetengahkan hadis ini melalui jalur lain, dari Yazid ibnu Ubaid. Hal yang sama telah diriwayatkan oleh Imam Bukhari melalui Abbad ibnu Tamim, bahwa mereka berjanji setia kepada Nabi Saw. untuk siap mati.
Imam Baihaqi mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Abdullah Al-Hafiz, telah menceritakan kepada kami Abul Fadl ibnu Ibrahim, telah menceritakan kepada kami Ahmad ibnu Salamah, telah menceritakan kepada kami Ishaq ibnu Ibrahim, telah menceritakan kepada kami ayahnya (yaitu Salamah ibnul Akwa’ r.a.) yang mengatakan, “Kami tiba di Hudaibiyah bersama Rasulullah Saw. Saat itu jumlah kami ada seribu empat ratus orang, sedangkan pada sumur Hudaibiyah terdapat air yang untuk minum lima puluh ekor kambing saja tidak dapat mencukupinya.