Al-Fath, ayat 25-26

Tidak lama kemudian datanglah Abu Busair, lalu berkata, “Wahai Rasulullah, demi Allah, sungguh Allah telah melunaskan tanggunganmu, engkau telah mengembalikan aku kepada mereka, kemudian Allah menyelamatkan diriku dari mereka.” Nabi Saw. bersabda, “Celakalah dia, dia menyalakan api peperangan, sekiranya saja dia bersama seseorang lagi.” Ketika Abu Busair mendengar sabda Nabi Saw. yang demikian, maka dia mengetahui bahwa beliau pasti akan mengembalikannya kepada mereka.

Maka Abu Busair keluar (melarikan diri) hingga sampai di tepi laut, dan Abu Jandal ibnu Suhail melarikan diri pula dari mereka, lalu bergabung bersama Abu Busair. Maka sejak saat itu tidak sekali-kali ada seseorang lelaki dari Quraisy yang telah Islam melarikan diri melainkan ia bergabung bersama dengan Abu Busair, hingga terbentuklah segerombolan orang-orang. Maka demi Allah, tidak sekali-kali mereka mendengar akan ada kafilah Quraisy yang keluar menuju negeri Syam, melainkan mereka rampok dan mereka bunuh orang-orangnya serta mereka jarah harta bendanya.

Mengalami gangguan ini orang-orang Quraisy kewalahan, lalu mereka mengirimkan utusan kepada Rasulullah Saw. seraya meminta kepadanya demi nama Allah dan pertalian kekeluargaan agar sudilah Nabi Saw. mengirimkan utusan kepada gerombolan Abu Busair itu supaya menghentikan kegiatan mereka. Bahwa barang siapa dari mereka yang kembali pulang , maka keamanannya akan dijamin. Lalu Nabi Saw. mengirimkan utusan kepada mereka, dan Allah Swt. menurunkan firman-Nya: Dan Dialah yang menahan tangan mereka dari (membinasakan) kamu dan menahan tangan kamu dari (membinasakan) mereka di tengah kota Mekah. (Al-Fath: 24) sampai dengan firman-Nya: (yaitu) kesombongan Jahiliah. (Al-Fath: 26)

Tersebutlah pula bahwa kesombongan mereka ialah tidak mau mengakui bahwa Muhammad itu utusan Allah, dan tidak mau mengakui bahwa Allah Maha Pemurah lagi Maha Penyayang, dan mereka menghalang-halangi kaum muslim untuk dapat sampai ke Baitullah.

Demikianlah menurut apa yang diketengahkan oleh Imam Bukhari dalam bab ini. Ia telah mengetengahkannya pula di dalam kitab tafsir, pada Bab “Umrah Hudaibiyah” dan Bab “Haji” serta bab-bab lainnya melalui hadis Ma’mar dan Sufyan ibnu Uyaynah, keduanya menerima hadis ini dari Az-Zuhri dengan teks yang sama.

Tetapi di bagian yang lain disebutkan dari Az-Zuhri, dari Urwah ibnu Marwan dan Al-Miswar, dari beberapa orang sahabat Nabi hal yang semisal dengan hadis di atas; dan riwayat ini lebih mendekati kepada kebenaran; hanya Allah-lah Yang Maha Mengetahui. Imam Bukhari tidak mengetengahkan hadis ini sepanjang apa yang tertera di dalam kitab ini; antara teks yang dikemukakannya dengan teks yang dikemukakan oleh ibnu Ishaq terdapat perbedaan di beberapa bagian. Tetapi padanya terdapat banyak keterangan yang bermanfaat. Karena itulah maka sebaiknya dihimpunkan dengan apa yang tertera dalam kitab ini, sebab itulah maka keduanya dikemukakan. Hanya kepada Allah-lah memohon pertolongan dan hanya kepada-Nya-lah bertawakal, tiada daya dan tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.

Imam Bukhari mengatakan di dalam Kitab Tafsir, telah menceritakan kepada kami Ahmad ibnu Ishaq As-Sulami, telah menceritakan kepada kami Ya’la, telah menceritakan kepada kami Abdul Aziz ibnu Siyah, dari Habib ibnu Abu Sabit yang menceritakan bahwa ia pernah datang kepada Abu Wa’il untuk bertanya kepadanya. Maka Abu Wa’il bercerita, ‘Ketika kami berada di Siffin, ada seorang lelaki berkata, ‘Tidakkah engkau lihat orang-orang yang menyeru (kita) kepada KitabullahT Maka Ali r.a. menjawab, ‘Ya.’ Sahl ibnu Hanif mengatakan, ‘Salahkanlah diri kalian sendiri, sesungguhnya ketika kami berada di hari Hudaibiyah —yakni Perjanjian Hudaibiyah yang dilakukan antara Nabi Saw. dengan kaum musyrik— seandainya kami memilih berperang, niscaya kami akan berperang.’ Maka datanglah Umar r.a., lalu bertanya, ‘Bukankah kita berada di pihak yang benar dan mereka berada di pihak yang batil? Bukankah orang-orang yang gugur dari kalangan kita dimasukkan ke dalam surga dan orang-orang yang gugur dari kalangan mereka dimasukkan ke dalam neraka?’ Nabi Saw. menjawab, ‘Benar.’ Umar bertanya, ‘Lalu mengapa kita harus mengalah dalam membela agama kita, lalu kita kembali (ke Madinah), padahal Allah masih belum memutuskan (kemenangan) di antara kita?’ Rasulullah Saw. menjawab: Hai Ibnul Khattab, sesungguhnya aku adalah utusan Allah, Allah selamanya tidak akan menyia-nyiakan diriku.

Maka Umar mundur dengan hati yang tidak puas, dan ia tidak tahan, lalu datanglah ia kepada Abu Bakar r.a. dan berkata kepadanya, ‘Hai Abu Bakar, bukankah kita berada di pihak yang benar dan mereka berada di pihak yang batil?’ Abu Bakar menjawab, ‘Hai Ibnul Khattab, sesungguhnya dia adalah utusan Allah, Allah tidak akan menyia-nyiakan selamanya,’ lalu turunlah surat Al-Fath.”

Imam Bukhari telah meriwayatkan pula hadis ini di tempat yang lain, juga Imam Muslim serta Imam Nasai melalui berbagai jalur yang lain dari Abu Wa’il alias Sufyan ibnu Salamah, dari Sahl ibnu Hanif dengan sanad yang sama. Dan menurut sebagian lafaznya, disebutkan bahwa Sahl ibnu Hanif mengatakan, “Hai manusia, curigailah pendapat (usulan) itu, karena sesungguhnya ketika di hari peristiwa yang dialami oleh Abu Jandal, seandainya aku mempunyai kekuatan untuk mengembalikan kepada Rasulullah Saw. akan urusannya, tentulah aku akan mengembalikannya.” Di dalam riwayat lain disebutkan bahwa lalu turunlah surat Al-Fath, maka Rasulullah Saw. memanggil Umar ibnul Khattab dan membacakan surat itu kepadanya.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Affan, telah menceritakan kepada kami Hammad, dari Sabit, dari Anas r.a. y ang menceritakan bahwa sesungguhnya orang-orang Quraisy berdamai dengan Nabi Saw. dan di kalangan mereka terdapat Suhail ibnu Amr. Maka Nabi Saw. memerintahkan kepada Ali r.a.: Tulislah ‘Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang’.

Sahl memotong, “Kami tidak mengenal apakah Bismillahir Rahmanir Rahim itu, tetapi tulislah ‘Dengan nama Engkau ya Allah’.” Rasulullah Saw. bersabda lagi: Tulislah dari Muhammad utusan Allah. Suhail kembali memprotes, “Seandainya kami meyakini bahwa engkau adalah utusan Allah, tentulah kami mengikutimu, tetapi tulislah namamu dan nama ayahmu.”

Maka Nabi Saw. memerintahkan (kepada Ali r.a.): Tulislah ‘Dari Muhammad putra Abdullah’. Lalu mereka (orang-orang musyrik) membebankan syarat-syarat kepada Nabi Saw yang isinya ialah bahwa orang yang datang dan kalangan kamu maka kami akan mengembalikannya kepadamu; dan orang yang datang kepadamu dari kami, kalian harus mengembalikannya kepada kami. Ali bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah kami harus menulisnya?” Nabi Saw. bersabda: Ya, sesungguhnya orang yang pergi kepada mereka dari kalangan kami, maka semoga Allah menjauhkannya.

Imam Muslim meriwayatkan hadis ini melalui Hammad ibnu Salamah dengan sanad yang sama.

Imam Ahmad mengatakan pula, telah menceritakan kepada kami Abdur Rahman ibnu Mahdi, dari Ikrimah ibnu Ammar yang mengatakan bahwa Sammak pernah menceritakan kepadanya dan Abdullah ibnu Abbas r a yang menceritakan bahwa ketika golongan orang-orang Haruriyah mengadakan pemberontakan, mereka memisahkan dirinya. Maka kukatakan kepada mereka, bahwa sesungguhnya Rasulullah Saw. di hari Hudaibiyah berdamai dengan kaum musyrik. Lalu beliau Saw. bersabda kepada Ali r.a.: hai Ali, tulislah ‘Ini adalah perjanjian damai yang dilakukan oleh Muhammad utusan Allah’. Orang-orang musyrik menyanggah, “Seandainya kami meyakini bahwa engkau adalah utusan Allah, tentulah kami tidak akan memerangimu.” Maka Rasulullah Saw. bersabda, “Hai Ali, hapuslah. Ya Allah, sesungguhnya Engkau mengetahui bahwa aku adalah utusan-Mu. Hapuskanlah, hai Ali, dan tulislah ‘Ini adalah perjanjian damai yang dilakukan oleh Muhammad putra Abdullah’.” Ibnu Abbas melanjutkan, “Demi Allah, sungguh Rasulullah lebih baik daripada Ali dan beliau telah menghapus kedudukan dirinya dalam tulisan itu, tetapi penghapusan itu tidaklah melenyapkan kenabiannya. Apakah golongan Haruriyah itu termasuk ke dalam perumpamaan ini?” Mereka menjawab, “Ya.”

Tulisan ini dimuat dalam Tafsir Ibnu Katsir.