Al-Fath, ayat 25-26

Muhammad ibnu Ishaq mengatakan bahwa Az-Zuhri telah mengatakan bahwa Bani Khuza’ah dikenal di kalangan mereka (Quraisy) sebagai orang-orang yang bersikap oposisi. Mereka bersikap mengharapkan kebaikan bagi Rasulullah Saw., baik dari mereka yang musyrik maupun yang telah Islam. Mereka sama sekali tidak pernah menyembunyikan suatu berita pun yang terjadi di Mekah terhadap Rasulullah Saw. Maka orang-orang Quraisy mengatakan, “Jika memang dia datang hanya untuk itu, demi Allah, dia tidak akan memasuki kota kami dengan paksa selama-lamanya, dan orang-orang Arab pun tidak akan membicarakannya.” Kemudian mereka (kaum Quraisy) mengirim salah seorang Bani Amr ibnu Lu’ay, yaitu Mukarriz ibnu Hafs. Ketika Rasulullah Saw. melihatnya, bersabdalah beliau, “Orang ini adalah lelaki yang ingkarjanji.” Ketika Mukarriz sampai di hadapan Rasulullah Saw., maka beliau berbicara terus terang kepadanya seperti pembicaraan beliau kepada teman-temannya. Lalu Mukarriz kembali kepada kaum Quraisy dan menceritakan kepada mereka apa yang telah dikatakan oleh Rasulullah Saw. kepadanya. Lalu kaum Quraisy mengutus kepada Nabi Saw. Al-Hulais ibnu Alqamah Al-Kannani yang saat itu menjadi pemimpin orang-orang Habsyah. Ketika Rasulullah Saw. melihatnya, maka bersabdalah beliau: Orang ini dari kaum yang bertuhan, maka giringkanlah hewan-hewan hadyu itu! Ketika Al-Hulais melihat hewan-hewan kurban bergerak menuju ke arahnya dari tengah lembah yang semuanya telah diberi kalung tanda hadyu, sedangkan hewan-hewan hadyu itu telah memakan bulunya sendiri karena lamanya ditahan di tempat tersebut, maka kembalilah Al-Hulais kepada orang-orang Quraisy tanpa menemui Rasulullah Saw. karena merasa percaya dengan pemandangan yang dilihatnya. Lalu Al-Hulais berkata kepada kaum Quraisy, “Hai orang-orang Quraisy, sesungguhnya aku telah melihat suatu pemandangan yang tidak memperkenankan bagi kamu sekalian menahan hewan-hewan hadyu yang telah diberi kalung pertanda korban untuk sampai ke tempatnya, sebab hewan-hewan hadyu itu telah memakan bulunya sendiri karena terlalu lama di tahan dari tempat yang sebenarnya.”

Mereka (Quraisy) berkata, “Duduklah kamu, sesungguhnya kamu ini hanyalah seorang Badui yang tidak mempunyai pengetahuan.” Maka mereka mengutus kepada Rasulullah Saw. Urwah ibnu Mas’ud As-Saqafi. Urwah berkata kepada orang-orang Quraisy, “Hai orang-orang Quraisy, sesungguhnya aku telah melihat apa yang dialami oleh orang-orang yang kalian utus kepada Muhammad, semuanya kembali dengan mendapat perlakuan yang kasar dan perkataan yang buruk. Dan kalian telah mengetahui bahwa kalian bagiku adalah orang tua dan aku bagaikan anak kalian. Dan sesungguhnya aku telah mendengar apa yang telah dialami oleh kalian. Maka aku mengumpulkan orang-orang yang taat kepadaku dari kaumku, lalu aku datang kepada kalian untuk mendukung kalian dengan segala kemampuanku.” Mereka menjawab, “Kamu benar, engkau bukanlah orang yang dicurigai di kalangan kami.”

Urwah berangkat hingga sampailah di hadapan Rasulullah Saw., lalu ia duduk di hadapan beliau dan berkata, “Hai Muhammad, sesungguhnya aku telah mengumpulkan orang-orang Habsyah, lalu aku datangkan mereka ke hadapanmu untuk menyampaikan tugasnya. Sesungguhnya orang-orang Quraisy telah keluar dengan semua kekuatannya, mereka mengenakan kulit macan tutul, mereka telah bersumpah kepada Allah bahwa engkau tidak boleh masuk ke kota mereka dengan paksa selamanya. Dan demi Allah, seakan-akan aku melihat mereka dapat memukulmu mundur besok.”

Saat itu Abu Bakar r.a. sedang duduk di belakang Rasulullah Saw., maka ia menjawab, “Isaplah itil Lata (mu), apakah kami akan membiarkan beliau terpukul mundur?” Urwah bertanya, “Hai Muhammad, siapakah orang ini?” Rasulullah Saw. menjawab, “Dia adalah anak Abu Quhafah.”

Urwah berkata, “Demi Allah, sekiranya tidak ada perjanjian pakta antara engkau dan aku, tentulah aku akan membalasmu. Tetapi biarlah dan sebagai jawabannya adalah ini,” lalu ia memegang jenggot Rasulullah Saw. Sedangkan Al-Mugirah ibnu Syu’bah r.a. berdiri di samping Rasulullah Saw. memegang besi. Lalu ia gunakan besi itu untuk memukul tangan Urwah (agar jangan memegang jenggot Rasulullah Saw.), seraya berkata, “Tahanlah tanganmu dari jenggot Rasulullah, jangan sampai jenggot beliau tersentuh olehmu.” Urwah berkata, “Celakalah engkau, alangkah kasar dan kerasnya sikapmu.”

Menyaksikan hal itu Rasulullah Saw. tersenyum, lalu Urwah bertanya, “Hai Muhammad, siapakah orang ini?” Rasulullah Saw. menjawab, “Dia adalah anak saudaramu, Al-Mugirah ibnu Syu’bah.” Urwah berkata, “Celakalah engkau, kamu ini adalah anak baru kemarin sore.”

Maka Rasulullah Saw. berbicara dengan Urwah dengan pembicaraan yang sama seperti yang beliau katakan kepada teman-temannya (utusan Quraisy sebelumnya), dan beliau Saw. menceritakan kepadanya bahwa kedatangannya kali ini bukan untuk tujuan berperang.

Maka Urwah bangkit meninggalkan Rasulullah Saw., sedangkan ia telah menyaksikan apa yang telah dilakukan oleh para sahabat kepada beliau Saw. Tidak sekali-kali Nabi Saw. berwudu, melainkan mereka berebutan mengambil sisanya; dan tidak sekali-kali beliau meludah, melainkan mereka berebutan mengambilnya; dan tidaklah rontok sehelai rambut pun dari rambut beliau, melainkan mereka mengambilnya.

Maka kembalilah Urwah kepada orang-orang Quraisy, lalu berkata kepada mereka: Hai orang-orang Quraisy, sesungguhnya aku telah datang kepada Kisra dalam kerajaannya, dan aku telah datang pula kepada Kaisar dan Najasyi dalam kerajaannya. Akan tetapi, demi Allah, aku belum pernah melihat suatu kerajaan pun yang semisal dengan apa yang dimiliki oleh Muhammad terhadap sahabat-sahabatnya. Sesungguhnya aku telah menyaksikan suatu kaum (yakni para sahabat) yang tidak akan menyerahkan dia karena sesuatu untuk selamanya. Maka persetanlah dengan pendapat kalian.

Az-Zuhri melanjutkan kisahnya, bahwa sebelum itu Rasulullah Saw. telah mengirimkan Khirasy ibnu Umayyah Al-Khuza’i ke Mekah yang berangkat dengan memakai unta kendaraan beliau yang diberi nama Sa’lab. Ketika ia memasuki kota Mekah, orang-orang Quraisy menyembelih unta kendaraannya dan hampir saja mereka membunuh Khirasy. Tetapi orang-orang Habsyah menahan mereka dan memulangkan Khirasy kepada Rasulullah Saw.

Maka Rasulullah Saw. memanggil Umar r.a. dengan maksud akan menjadikannya sebagai utusan beliau Saw. ke Mekah. Tetapi Umar berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku merasa khawatir akan keselamatanku dalam menghadapi orang-orang Quraisy. Karena di Mekah tiada seorang pun dari kalangan Bani Addi yang dapat melindungiku. Dan orang-orang Quraisy telah mengetahui betapa permusuhanku terhadap mereka dan kekasaranku terhadap mereka. Tetapi aku akan menunjukkan kepadamu seseorang yang lebih mereka hormati daripada diriku, dialah Usman ibnu Affan r.a.”

Maka Rasulullah Saw. memanggil Usman dan menjadikannya sebagai utusan beliau Saw. (ke Mekah) untuk memberitahukan kepada penduduknya bahwa beliau datang bukan untuk memerangi siapa pun, melainkan datang untuk menziarahi Baitullah dan menghormati kesuciannya.

Usman r.a. berangkat, dan ketika sampai di Mekah ia disambut oleh Aban ibnu Sa’id ibnul Ash, lalu Aban turun dari unta kendaraannya dan menaiki unta kendaraan Usman r.a. yang diboncengnya sebagai pertanda bahwa dia melindunginya hingga Usman dapat menyampaikan pesan dari Rasulullah Saw.

Usman r.a. berangkat menemui Abu Sufyan dan para pembesar Quraisy, lalu ia menyampaikan kepada mereka pesan yang diamanatkan oleh Rasulullah Saw. kepadanya. Maka mereka berkata, “Jika kamu menghendaki, kamu boleh melakukan tawaf di Baitullah.” Tetapi Usman menjawab, “Aku tidak mau melakukannya sebelum Rasulullah Saw. tawaf padanya.’Akhirnya Usman r.a. ditahan oleh kaum Quraisy hingga ia tidak dapat kembali. Tetapi lain halnya dengan berita yang sampai kepada Rasulullah Saw. Berita itu menyebutkan bahwa Usman r.a. telah dibunuh.

Tulisan ini dimuat dalam Tafsir Ibnu Katsir.