85. SURAT AL-BURUJ

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Ahmad ibnu Abdur Rahman Ad-Dusytuki, telah menceritakan kepada kami Abdullah ibnu Abu Ja’far, dari ayahnya, dari Ar-Rabi’ ibnu Anas sehubungan dengan makna firman-Nya: Binasa dan terlaknatlah orang-orang yang membuat parit. (Al-Buruj:4)

Kami telah mendengar bahwa mereka adalah suatu kaum yang ada di masa fatrah. Ketika mereka melihat fitnah dan kejahatan yang melanda manusia di masa mereka yang membuat mereka menjadi bergolong-golongan, dan masing-masing golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongannya sendiri, maka mereka memisahkan diri ke sebuah kampung, lalu mereka di dalam kampung itu menegakkan ibadah kepada Allah dengan memurnikan ketaatan hanya kepada-Nya, mereka mendirikan salat dan menunaikan zakat.

Demikianlah yang mereka lakukan selama beberapa waktu hingga perihal mereka terdengar oleh seorang raja yang angkara murka dan sewenang-wenang. Maka terjadilah peristiwa yang menimpa mereka, yang bermula raja memanggil mereka dan memerintahkan kepada mereka untuk menyembah berhala-berhala yang disembah oleh raja dan orang-orangnya. Orang-orang yang beriman itu menolak dan mengatakan, “Kami tidak mau menyembah selain hanya kepada Allah semesta, tiada sekutu bagi-Nya.”

Raja berkata kepada mereka, “Jika kamu tidak mau menyembah sembahan-sembahan ini yang kami puja-puja, maka sesungguhnya aku akan membunuh kamu semuanya’ Mereka tetap menolak kehendak rajanya, maka raja itu membuat parit-parit yang di dalamnya dinyalakan api. Kemudian si raja berkata kepada para prajuritnya, “Perintahkanlah mereka supaya berdiri di pinggir parit itu dan suruhlah mereka memilih antara masuk ke dalam parit itu atau mau menyembah berhala-berhala kita.”

Orang-orang yang beriman itu menjawab, “Parit ini lebih kami sukai daripada menuruti kehendakmu.” Sedangkan di antara mereka terdapat kaum wanita dan anak-anak, maka anak-anak mereka merasa takut dengan api itu. Lalu orang-orang tua mereka berkata kepada mereka, “Hai anak-anakku, tiada api lagi sesudah hari ini.” Maka mereka memasukkan dirinya ke dalam parit itu yang penuh dengan api, dan arwah mereka telah dicabut sebelum tubuh mereka tersentuh oleh panasnya api.

Setelah itu api yang ada dalam parit itu keluar dari tempatnya dan mengamuk mengepung orang-orang yang sewenang-wenang tersebut dan Allah Swt. membakar mereka dengan api itu. Berkenaan dengan kisah inilah Allah Swt. menyebutkannyadi dalam firman-Nya: Binasa dan terlaknatlah orang-orang yang membuat parit yang berapi (dinyalakan dengan) kayu bakar, ketika mereka duduk di sekitarnya, sedangkan mereka menyaksikan apa yang mereka perbuat terhadap orang-orang yang beriman. Dan mereka tidak menyiksa orang-orang mukmin itu melainkan karena orang-orang mukmin itu beriman kepada Allah Yang Mahaperkasa lagi Maha Terpuji. Yang mempunyai kerajaan langit dan bumi dan Allah Maha Menyaksikan segala sesuatu. (Al-Buruj : 4-9)

Ibnu Jarir meriwayatkannya dari Ammar, dari Abdullah ibnu Abu Ja’far dengan sanad dan lafaz yang semisal.

*******************

Firman Allah Swt.:

{إِنَّ الَّذِينَ فَتَنُوا الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ}

Sesungguhnya orang-orang yang mendatangkan cobaan kepada orang-orang yang mukmin laki-laki dan perempuan. (Al-Buruj: 10)

Yakni yang membakar mereka, menurut Ibnu Abbas, Mujahid, Qatadah, Ad-Dahhak, serta Ibnu Abza.

{ثُمَّ لَمْ يَتُوبُوا}

kemudian mereka tidak bertobat. (Al-Buruj: 10)

Yaitu tidak mau menghentikan perbuatannya yang sewenang-wenang itu dan tidak menyesali apa yang telah mereka lakukan.

{فَلَهُمْ عَذَابُ جَهَنَّمَ وَلَهُمْ عَذَابُ الْحَرِيقِ}

maka bagi mereka azab Jahanam dan bagi mereka azab (neraka) yang membakar. (Al-Buruj: 10)

Demikian itu karena pembalasan disesuaikan dengan jenis perbuatan (pelanggaran)nya. Al-Hasan Al-Basri mengatakan bahwa perhatikanlah olehmu kemuliaan dan kemurahan ini, mereka telah membunuh kekasih-kekasih-Nya. Walaupun demikian, Dia menyeru mereka untuk bertobat dan meraih ampunan-Nya

Tulisan ini dimuat dalam Tafsir Ibnu Katsir.