85. SURAT AL-BURUJ

Kemudian si raja berkata kepada temannya yang tadinya buta itu, “Tinggalkanlah agamamu!” Ia menolak, maka diletakkan pula gergaji di atas kepalanya, lalu tubuhnya dibelah menjadi dua dan jatuh ke tanah. Raja berkata kepada si pemuda, “Tinggalkanlah agamamu itu.” Si pemuda menolak, maka raja menyuruh sejumlah orang untuk membawanya ke atas sebuah gunung, dan berpesan kepada mereka, “Apabila kamu telah mencapai puncaknya, ancamlah dia. Maka jika dia mau meninggalkan agamanya, biarkanlah. Tetapi jika menolak. lemparkanlah ia dari puncaknya.”

Maka mereka membawa si pemuda itu. Dan ketika mereka telah sampai di puncak gunung tersebut bersama si pemuda itu, maka si pemuda berdoa, “Ya Allah, selamatkanlah aku dari mereka dengan cara yang Engkau kehendaki.” Maka dengan tiba-tiba bumi mengalami gempa sangat kuat mengguncangkan mereka, sehingga mereka semuanya terjatuh dari puncak gunung itu.

Kemudian si pemuda itu datang kembali kepada raja. Setelah mendapat izin masuk, lalu pemuda itu menemui raja, dan raja bertanya kepadanya, “Apakah yang telah dilakukan oleh orang-orang yang membawamu?” Si pemuda menjawab, “Allah Swt. telah menyelamatkan aku dari mereka.” Lalu raja mengirim sejumlah orang untuk membawa pemuda itu ke laut, seraya berpesan kepada mereka, “Jika kalian telah sampai di tengah laut, dan ternyata dia mau meninggalkan agamanya, maka biarkanlah dia. Tetapi jika ia tetap membangkang, maka lemparkanlah dia ke laut.” Lalu mereka menempuh jalan laut dengan membawa si pemuda itu. Ketika sampai di tengah laut, si pemuda berdoa, “Ya Allah, selamatkanlah aku dari mereka dengan cara yang Engkau sukai.” Maka mereka semua tenggelam ke dalam laut itu.

Pemuda itu kembali datang dan menghadap kepada’raja, dan raja bertanya, “Apakah yang telah dilakukan oleh orang-orang yang membawamu?” Pemuda itu menjawab, “Allah Swt. telah menyelamatkan diriku dari mereka.”

Kemudian si pemuda itu berkata lagi kepada si raja, “Sesungguhnya engkau tidak akan dapat membunuhku sebelum melakukan apa yang akan kuperintahkan kepadamu. Jika engkau lakukan apa yang kuperintahkan kepadamu, niscaya engkau dapat membunuhku; dan jika tidak, maka selamanya engkau tidak akan dapat membunuhku.”

Raja bertanya, “Bagaimanakah caranya?” Pemuda itu menjawab, “Engkau kumpulkan semua manusia di suatu lapangan, kemudian engkau salib aku di atas balok kayu dan engkau ambil sepucuk anak panah dari wadah anak panahku, kemudian ucapkanlah, “Dengan menyebut nama Allah, Tuhan si pemuda ini.” Maka sesungguhnya jika engkau lakukan hal itu, barulah engkau dapat membunuhku.”

Raja melakukan apa yang disarankan oleh si pemuda itu dan memasang anak panah pemuda itu di busurnya, kemudian ia bidikkan ke arah pemuda tersebut dengan mengucapkan, “Dengan menyebut nama Allah, Tuhan si pemuda ini.” Maka panah melesat dan mengenai pelipisnya, lalu si pemuda memegang pelipisnya yang terkena panah itu dan meninggal dunia saat itu juga.

Maka semua orang yang hadir berkata, “Kami beriman kepada Allah, Tuhan si pemuda ini.” Dan dikatakan kepada raja.”Sekarang engkau baru menyaksikan apa yang engkau sangat mengkhawatirkannya.

Sesungguhnya, demi Allah, kamu telah dikalahkan karena semua orang telah beriman.” Raja sangat berang, lalu ia memerintahkan agar di tengah jalan dibuat galian parit yang cukup dalam dan dinyalakanlah api di dalam parit itu. Lalu raja berkata, “Barang siapa yang mau meninggalkan agamanya, biarkanlah dia. Dan jika tidak ada, maka masukkanlah mereka semuanya ke dalam parit itu.”

Tersebutlah bahwa mereka berlari-lari menuju ke parit itu dan saling berdesakan untuk paling dahulu masuk ke dalamnya. Dan datanglah seorang ibu yang membawa anak laki-laki yang masih disusuinya, maka seakan-akan si ibu enggan untuk menjatuhkan dirinya ke dalam parit yang penuh dengan api itu. Maka bayi yang digendongnya itu berkata.”Hai Ibu, bersabarlah karena sesungguhnya engkau berada di jalan yang benar.”

Hal yang sama telah diriwayatkan oleh Imam Muslim di akhir kitab sahihnya, dari Hudbah ibnu Khalid, dari Hammad ibnu Salamah dengan sanad dan lafaz yang semisal.

Imam Nasai meriwayatkannya dari Ahmad ibnu Salman, dari Usman ibnu Hammad ibnu Salamah dan melalui jalur Hammad ibnu Zaid; keduanya dari Sabit dengan sanad yang sama, tetapi mereka meringkas bagian pertama hadis.

Al-Imam Abu Isa At-Turmuzi telah meriwayatkannya dengan predikat yang baik di dalam tafsir surat ini dari Mahmud ibnu Gailan dan Abdu ibnu Humaid, —tetapi maknanya sama—, keduanya mengatakan bahwa telah menceritakan kepada kami Abdur Razzaq, dari Ma’mar, dari Sabit Al-Bannani, dari Abdur Rahman ibnu Abu Laila, dari Suhaib yang mengatakan bahwa Rasulullah Saw. bila telah salat Asar kelihatan sekan-akan berbisik-bisik, yang menurut istilah sebagian dari mereka, makna yang dimaksud ialah beliau Saw. menggerak-gerakkan kedua bibirnya seakan-akan sedang berbicara. Maka ditanyakan kepada beliau, “Wahai Rasulullah, apabila engkau salat Asar kelihatan engkau menggerakkan kedua bibirmu.” Rasulullah Saw. menjawab, bahwa dahulu ada seorang nabi yang merasa bangga dengan umatnya, ia mengatakan, “Siapa yang dapat menandingi mereka?” Maka Allah menurunkan wahyu kepada nabi itu, “Suruhlah mereka untuk memilih apakah Aku yang mengazab mereka ataukah Aku jadikan mereka dikuasai oleh musuhnya?” Akhirnya mereka memilih lebih suka dihukum oleh Allah Swt. Maka Allah Swt. menguasakan kepada mereka kematian, sehingga matilah dari mereka dalam sehari sebanyak tujuh puluh ribu orang.

Suhaib melanjutkan kisahnya, bahwa Rasulullah apabila menceritakan kisah ini, maka beliau mengisahkan pula kisah lainnya yang menyangkut pemuda itu. Rasulullah Saw. bersabda, “Dahulu ada seorang raja yang mempunyai seorang tukang tenung yang bekerja untuk raja dengan ilmu tenungnya. Maka tukang tenung itu berkata, ‘Berikanlah kepadaku seorang pemuda yang pandai atau cerdik dan cerdas, aku akan mengajarkan kepadanya ilmuku ini.”

Kemudian kisah ini disebutkan dengan lengkap yang di akhirnya disebutkan bahwa Allah Swt. berfirman: Binasa dan terlaknatlah orang-orang yang membuat parit, yang berapi (dinyalakan dengan) kayu bakar. (Al-Buruj :4-5) sampai dengan firman-Nya: Yang Mahaperkasa lagi Maha Terpuji. (Al-Buruj:8)

Adapun si pemuda itu telah dikebumikan, dan disebutkan bahwa di masa pemerintahan Khalifah Umar r.a. pemuda itu dikeluarkan dari kuburnya, sedangkan telunjuknya berada di pelipisnya seperti sedia kala saat dia terbunuh. Kemudian Imam Turmuzi mengatakan bahwa hadis ini hasan garib, dan konteks hadis ini tidak mengandung keterangan yang jelas yang membuktikan bahwa konteks kisah ini dari perkataan Nabi Saw. Guru kami Al-Hafiz Abul Hajjaj Al-Mazi telah mengatakan bahwa barangkali lafaz ini dari perkataan Suhaib Ar-Rumi, karena sesungguhnya dia mempunyai pengetahuan tentang berita-berita kaum Nasrani; hanya Allah-lah Yang Maha Mengetahui.

Muhammad ibnu Ishaq ibnu Yasar telah mengetengahkan kisah ini di dalam kitab sirahnya dengan konteks yang lain yang berbeda dengan sebelumnya. Untuk itu dia mengatakan, telah menceritakan kepadaku Yazib ibnu Ziyad, dari Muhammad ibnu Ka’b Al-Qurazi; telah menceritakan pula kepadaku sebagian ulama Najran, dari para pemilik kisah. Bahwa dahulu penduduk negeri Najran adalah para penyembah berhala, yaitu ahli syirik. Dan tersebutlah bahwa di salah satu dari kawasan kota Najran yang sangat besar itu lagi memiliki berbagai bagian kota, dan kepadanyalah dinisbatkan semua penduduk negeri itu, terdapat seorang tukang sihir yang mengajari sihir para pemuda Najran.

Tulisan ini dimuat dalam Tafsir Ibnu Katsir.