Yasin, ayat 8-12

{إِنَّا جَعَلْنَا فِي أَعْنَاقِهِمْ أَغْلالا فَهِيَ إِلَى الأذْقَانِ فَهُمْ مُقْمَحُونَ (8) وَجَعَلْنَا مِنْ بَيْنِ أَيْدِيهِمْ سَدًّا وَمِنْ خَلْفِهِمْ سَدًّا فَأَغْشَيْنَاهُمْ فَهُمْ لَا يُبْصِرُونَ (9) وَسَوَاءٌ عَلَيْهِمْ أَأَنْذَرْتَهُمْ أَمْ لَمْ تُنْذِرْهُمْ لَا يُؤْمِنُونَ (10) إِنَّمَا تُنْذِرُ مَنِ اتَّبَعَ الذِّكْرَ وَخَشِيَ الرَّحْمَنَ بِالْغَيْبِ فَبَشِّرْهُ بِمَغْفِرَةٍ وَأَجْرٍ كَرِيمٍ (11) إِنَّا نَحْنُ نُحْيِي الْمَوْتَى وَنَكْتُبُ مَا قَدَّمُوا وَآثَارَهُمْ وَكُلَّ شَيْءٍ أحْصَيْنَاهُ فِي إِمَامٍ مُبِينٍ (12) }

Sesungguhnya Kami telah memasang belenggu di leher mereka, lalu tangan mereka (diangkat) ke dagu, maka karena itu mereka tertengadah. Dan Kami adakan di hadapan mereka dinding dan di belakang mereka dinding (pula) dan Kami tutup (mata) mereka sehingga mereka tidak dapat melihat. Sama saja bagi mereka apakah kamu memberi peringatan kepada mereka ataukah kamu tidak memberi peringatan kepada mereka, mereka tidak akan beriman. Sesungguhnya kamu hanya memberi peringatan kepada orang-orang yang mau mengikuti peringatan dan yang takut kepada Tuhan Yang Maha Pemurah, walaupun dia tidak melihatnya. Maka berilah mereka kabar gembira dengan ampunan dan pahala yang mulia. Sesungguhnya Kami menghidupkan orang-orang mati dan Kami menuliskan apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan. Dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam Kitab induk yang nyata (Lauh Mahfuz).

Allah Swt. berfirman, “Sesungguhnya Kami menjadikan perumpamaan mereka yang telah dipastikan oleh Kami sebagai orang-orang yang celaka dalam hal mencapai petunjuk, sama dengan orang yang lehernya dibelenggu, lalu kedua tangannya disatukan dengan lehernya dalam belenggu itu sehingga kepalanya terangkat dan tidak dapat berbuat sesuatu apa pun.” Karena itulah disebutkan oleh firman-Nya:

{فَهُمْ مُقْمَحُونَ}

maka karena itu mereka tertengadah. (Yasin: 8)

Al-muqmah artinya orang yang terangkat kepalanya, seperti yang dikatakan oleh Ummu Zari’ dalam ucapannya, “Saya minum dengan menengadahkan kepala,” maksudnya dia minum hingga kenyang dengan menengadahkan kepalanya agar air mudah masuk dan menyegarkan. Dan sudah dianggap cukup hanya menyebut ‘belenggu pada leher’ tanpa menyebut ‘kedua tangan’, sekalipun pada kenyataannya kedua tangan pun dibelenggu pula menjadi satu dengan leher. Sebagaimana pengertian yang terdapat di dalam perkataan seorang penyair, yaitu:

فَمَا أدْري إذَا يَمَّمْتُ أرْضًا … أُرِيدُ الخَيْرَ أَيُّهُمَا يَليني …

أالْخَيْرُ الَّذِي أنَا أبْتَغيه … أَمِ الشَّرّ الَّذِي لَا يَأتَليني …

Aku mengetahui bila menuju suatu tempat untuk mencari kebaikan, manakah di antara keduanya (baik atau buruk) yang akan kuperoleh.

Apakah kebaikan yang menjadi tujuanku yang akan kuperoleh ataukah keburukan yang tidak kuinginkan yang akan kuperoleh.

Dalam bait pertama hanya disebutkan kebaikan, tanpa menyebutkan keburukan, dan sudah cukup dimengerti dari konteks kalimatnya. Demikian pula halnya pengertian dalam ayat ini, mengingat belenggu itu hanya dipakai untuk mengikat kedua tangan bersama dengan leher, maka dianggap cukup hanya dengan menyebutkan leher saja tanpa kedua tangan, karena pengertiannya sudah termasuk di dalamnya.

Al-Aufi telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas r.a. sehubungan dengan makna firman-Nya: Sesungguhnya Kami telah memasang belenggu di leher mereka, lalu tangan mereka (diangkat) ke dagu, maka karena itu mereka tertengadah. (Yasin: 8) Bahwa ayat ini semakna dengan ayat lain yang mengatakan: Dan janganlah kamu jadikan tanganmu terbelenggu pada lehermu. (Al-Isra: 29) Yakni tangan mereka terikat ke leher mereka sebagai kata kiasan yang menunjukkan bahwa tangan mereka tidak mau diulurkan untuk memberi kebaikan.

Mujahid mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: maka karena itu mereka tertengadah. (Yasin: 8) Mereka menengadahkan kepalanya, sedangkan tangan mereka diletakkan di mulut mereka dan mereka terbelenggu tidak mendapatkan kebaikan apa pun.

************

Firman Allah Swt.:

{وَجَعَلْنَا مِنْ بَيْنِ أَيْدِيهِمْ سَدًّا}

Dan Kami adakan di hadapan mereka dinding dan di belakang mereka dinding. (Yasin: 9)

Menurut Mujahid, dinding itu menutupi mereka dari kebenaran sehingga mereka kebingungan, yang menurut Qatadah disebutkan berada dalam kesesatan.

Firman Allah Swt.:

{فَأَغْشَيْنَاهُمْ}

dan kami tutup (mata) mereka. (Yasin: 9)

Yakni Kami tutup mata mereka dari kebenaran.

{فَهُمْ لَا يُبْصِرُونَ}

sehingga mereka tidak dapat melihat. (Yasin: 9)

Maksudnya, tidak dapat mengambil manfaat dari kebaikan dan tidak mendapat petunjuk untuk menempuh jalan kebaikan.

Ibnu Jarir mengatakan, telah diriwayatkan seterusnya dari Ibnu Abbas, bahwa ia membaca ayat ini dengan bacaan “فَأَعْشَيْنَاهُمْ” dengan memakai huruf ‘ain bukan gin, berasal dari akar kata al-asya yang artinya suatu penyakit yang mengenai mata.

Abdur Rahman ibnu Zaid ibnu Aslam mengatakan bahwa Allah Swt. menjadikan dinding ini antara mereka dan Islam serta iman, karenanya mereka tidak dapat menembusnya. Lalu Abdur Rahman ibnu Zaid ibnu Aslam membaca firman-Nya:

{إِنَّ الَّذِينَ حَقَّتْ عَلَيْهِمْ كَلِمَةُ رَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ وَلَوْ جَاءَتْهُمْ كُلُّ آيَةٍ حَتَّى يَرَوُا الْعَذَابَ الألِيمَ}

Sesungguhnya orang-orang yang telah pasti terhadap mereka kalimat Tuhanmu, tidaklah akan beriman, meskipun datang kepada mereka segala macam keterangan, hingga mereka menyaksikan azab yang pedih. (Yunus: 96-97)

Kemudian ia mengatakan bahwa orang yang telah dicegah oleh Allah Swt. pasti tidak mampu.

Ikrimah mengatakan, bahwa Abu Jahal pernah berkata, “Sekiranya aku melihat Muhammad, sungguh aku akan melakukan anu dan anu.” Maka turunlah firman Allah Swt.: Sesungguhnya Kami telah memasang belenggu di leher mereka (Yasin: 8) sampai dengan firman-Nya: sehingga mereka tidak dapat melihat. (Yasin: 9). Ikrimah melanjutkan, bahwa mereka mengatakan, “Inilah Muhammad.” Tetapi Abu Jahal bertanya, Mana dia, mana dia ?” Ternyata dia tidak dapat melihatnya. Demikianlah menurut riwayat Ibnu Jarir.

Muhammad ibnu Ishaq mengatakan, telah menceritakan kepadaku Yazid ibnu Ziad dari Muhammad ibnu Ka’b yang mengatakan, bahwa Abu Jahal pernah berkata saat mereka sedang duduk, “Sesungguhnya Muhammad mengira bahwa jika kalian mengikutinya, pastilah kalian akan menjadi raja-raja. Dan apabila kalian telah mati, maka kelak akan dibangkitkan hidup kembali sesudah mati kalian, lalu kalian akan mendapatkan taman-taman surga yang lebih baik daripada taman-taman negeri Yordan. Dan jika kalian menentangnya, maka kalian akan disembelih olehnya (yakni dibunuh), kemudian kalian dibangkitkan sesudah mati kalian dan kalian akan mendapat neraka tempat kalian disiksa di dalamnya. Lalu Rasulullah Saw. saat itu keluar menyambut mereka, sedangkan di tangan beliau Saw. terdapat segenggam pasir, dan Allah Swt. telah menutup pandangan mereka dari Nabi Saw., maka Nabi Saw. menabur­kan pasir itu di atas kepala mereka seraya membaca firman-Nya Ya sin. Demi Al-Qur’an yang penuh hikmah. (Yasin: 1-2) sampai dengan firman-Nya: Dan Kami adakan di hadapan mereka dinding dan di belakang mereka dinding (pula), dan Kami tutup (mata) mereka sehingga mereka tidak dapat melihat. (Yasin: 9); Sedangkan Rasulullah Saw. pergi menunaikan keperluannya, dan mereka semalaman mengincar keluarnya Nabi Saw. di depan pintu rumahnya, sehingga keluarlah seseorang sesudah itu dari pintu yang dipakai keluar oleh Nabi Saw. dari rumah beliau Saw., lalu orang itu bertanya keheranan, “Sedang apa kalian di sini?” Mereka menjawab, “Kami sedang menunggu Muhammad.” Orang tersebut menjawab, “Dia telah keluar melalui kalian, dan tiada seorang pun dari kalian, melainkan Nabi Saw. telah meletakkan pasir di atas kepalanya, lalu beliau pergi menuju ke tempat keperluannya.” Maka tiap-tiap orang dari mereka menepiskan debu dari kepalanya. Ikrimah melanjutkan kisahnya, bahwa akhirnya sampai kepada Nabi Saw. perkataan Abu Jahal tersebut. Maka beliau bersabda:

Tulisan ini dimuat dalam Tafsir Ibnu Katsir.