Thaha, ayat 36-40

Seandainya dia benar-benar tuhan, tentulah nasibnya tidak akan demikian. Akhirnya kaum Bani Israil sadar bahwa diri mereka tertimpa fitnah, dan mereka iri kepada orang-orang yang sependapat dengan Harun.

Maka mereka berkata kepada golongannya, “Hai Musa, mintakanlah kepada Tuhanmu agar Dia membukakan pintu tobat buat kami. Kami akan bertobat dan Dia akan menghapuskan dosa perbuatan kami.” Maka Musa memilih tujuh puluh orang dari kaumnya untuk tujuan tersebut, mereka adalah dari kalangan orang-orang Bani Israil yang terpilih dan tidak ikut musyrik menyembah anak lembu. Kemudian Musa membawa mereka pergi untuk meminta tobat, tetapi bumi berguncang sehingga Musa merasa malu terhadap kaumnya dan delegasi yang dibawanya saat mereka mendapat balasan seperti itu. Maka Musa berkata, seperti yang disebutkan oleh firman-Nya:

{رَبِّ لَوْ شِئْتَ أَهْلَكْتَهُمْ مِنْ قَبْلُ وَإِيَّايَ أَتُهْلِكُنَا بِمَا فَعَلَ السُّفَهَاءُ مِنَّا}

Ya Tuhanku, kalau Engkau kehendaki, tentulah Engkau membinasa­kan mereka dan aku sebelum ini. Apakah Engkau membinasakan kami karena perbuatan orang-orang yang kurang akalnya di antara kami. (Al-A’raf: 155)

Di antara mereka terdapat orang yang isi hatinya dirasuki oleh kecintaan menyembah anak lembu dan beriman kepadanya, karena itulah bumi berguncang menggoyahkan mereka. Maka Allah Swt. berfirman:

{وَرَحْمَتِي وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍ فَسَأَكْتُبُهَا لِلَّذِينَ يَتَّقُونَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَالَّذِينَ هُمْ بِآيَاتِنَا يُؤْمِنُونَ الَّذِينَ يَتَّبِعُونَ الرَّسُولَ النَّبِيَّ الأمِّيَّ الَّذِي يَجِدُونَهُ مَكْتُوبًا عِنْدَهُمْ فِي التَّوْرَاةِ وَالإنْجِيل}

dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu. Maka akan Aku tetapkan rahmat-Ku untuk orang-orang yang bertakwa, yang menunaikan zakat dan orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami. (Yaitu) orang-orang yang mengikut Rasul, Nabi yang ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil. (Al-A’raf: 156-157)

Musa berkata, “Ya Tuhanku, aku memohon kepada-Mu tobat bagi umatku, tetapi Engkau berfirman,’Sesungguhnya rahmat-Ku, Aku tetapkan untuk orang-orang selain dari kaumku.’ Maka mengapa tidak Engkau tangguhkan kemunculanku hingga tiba masanya umat lelaki tersebut yang dirahmati, lalu baru Engkau memunculkan diriku?” Allah berfirman kepada mereka, bahwa sesungguhnya cara tobat mereka ialah hendaknya setiap lelaki dari mereka membunuh lelaki lainnya yang dijumpainya, baik ia sebagai orang tua atau pun anaknya; dan hendaklah ia membunuh­nya dengan pedang, tanpa memperdulikan siapa yang dibunuhnya di tempat itu; juga menerima tobat orang-orang yang tersembunyi dari pengetahuan Musa dan Harun, tetapi Allah mengetahui mereka. Mereka mengakui dosanya dan mengerjakan apa yang diperintahkan kepada mereka, akhirnya Allah mengampuni orang yang membunuh dan orang yang terbunuh (dari kalangan mereka).

Selanjutnya Musa membawa mereka menuju ke arah Baitul Maqdis; Musa memungut kembali luh-luh-nya sesudah amarahnya reda, lalu Musa memerintahkan kepada mereka agar mengerjakan tugas-tugas yang telah diperintahkan oleh Allah melaluinya agar disampaikan kepada mereka. Akan tetapi, hal itu terasa berat oleh mereka. Akhirnya rfiereka menolak, tidak mau mengakuinya. Maka Allah menjebol sebuah gunung dan mengangkatnya di atas mereka, sehingga gunung itu seakan-akan menjadi naungan yang mahabesar, lalu didekatkan kepada mereka sehingga mereka takut tertimpa gunung itu. Akhirnya mereka terpaksa memegang Al-Kitab itu dengan tangan kanan mereka sebagai pertanda bahwa mereka mau mengamalkannya, sedangkan mata mereka tertuju kepada gunung itu. Kitab itu mereka pegang di tangan mereka sambil menjauhkan diri dari gunung tersebut karena khawatir akan menimpa mereka, setelah itu mereka melanjutkan perjalanannya.

Setelah sampai di Baitul Maqdis, mereka menjumpai bahwa kota tersebut telah dikuasai oleh kaum yang berlaku sewenang-wenang; dan bentuk tubuh mereka sangatlah besar, sehingga disebutkan bahwa buah-buahan yang dimakan oleh mereka bukan main besarnya.

Kaum Bani Israil berkata, “Hai Musa, sesungguhnya di dalam kota Baitul Maqdis terdapat suatu kaum yang berlaku sewenang-wenang, tiada kekuatan bagi kami untuk melawan mereka. Kami tidak berani memasukinya selagi mereka masih ada di dalamnya; kecuali jika mereka pergi meninggalkannya, maka barulah kami mau memasukinya.”

Dua orang lelaki dari kalangan kaum yang ditakuti oleh mereka itu —yang ketika ditanyakan kepada Yazid siapa mereka itu, maka Yazid menjawab bahwa mereka dari kalangan kaum yang sewenang-wenang tersebut— berkata,” Kami beriman kepada Musa.”

Keduanya keluar dari kota itu dan menuju ke tempat Musa, lalu berkata kepadanya, “Kami lebih mengetahui tentang kaum kami. Kalian ini hanyalah memandang dari segi postur tubuh mereka yang besar-besar, juga peralatan perang mereka, sehingga kalian takut kepada mereka. Padahal sesungguhnya hati mereka pengecut dan tidak mempunyai kekuatan bela diri. Maka masuklah kalian dari pintu gerbangnya; jika kalian memasukinya, sesungguhnya kalian akan beroleh kemenangan atas mereka.”

Sebagian orang berpendapat bahwa kedua orang tersebut adalah dari kalangan kaum Musa sendiri. Kemudian orang-orang yang merasa takut dari kalangan kaum Bani Israil mengatakan, seperti yang disebutkan oleh Firman-Nya:

{ [قَالُوا] يَا مُوسَى إِنَّا لَنْ نَدْخُلَهَا أَبَدًا مَا دَامُوا فِيهَا فَاذْهَبْ أَنْتَ وَرَبُّكَ فَقَاتِلا إِنَّا هَاهُنَا قَاعِدُونَ}

Mereka berkata ‘ Hai Musa, kami sekali-kali tidak akan memasukinya selama-lamanya, selagi mereka ada di dalamnya. Karena itu, pergilah kamu bersama Tuhanmu; dan berperanglah kamu berdua, sesung­guhnya kami hanya duduk menanti di sini saja.”(Al-Maidah: 24)

Hal itu membuat Musa murka. Maka ia berdoa kepada Allah untuk kebinasaan mereka yang membangkang, dan dalam doanya Musa menyebutkan bahwa mereka adalah orang-orang fasik (pembangkang). Sebelumnya Musa tidak pernah mendoakan buat kebinasaan mereka, hal itu dilakukannya setelah ia melihat kedurhakaan mereka dan sikap mereka yang jahat pada hari itu. Allah memperkenankan permohonan Musa dan menamakan mereka dengan sebutan yang telah diberikan oleh Musa, yaitu bahwa mereka adalah orang-orang fasik. Dan Allah mengharamkan Baitul Maqdis bagi mereka selama empat puluh tahun; yang selama itu mereka tersesat di muka bumi tanpa mengetahui jalan pulang. Setiap harinya mereka selalu berjalan mencari jalan untuk kembali, tidak pernah menetap di suatu tempat pun.

Di Padang Tih mereka tersesat, dan awan selalu menaungi mereka (dari sengatan matahari yang terik); lalu Allah menurunkan kepada mereka Manna dan Salwa, serta menjadikan pakaian mereka tidak pernah kumal dan tidak pernah kotor. Allah menjadikan sebuah batu segi empat di hadapan mereka, lalu memerintahkan kepada Musa agar memukulnya dengan tongkatnya. Maka mengalirlah darinya dua belas mata air; setiap sisi dari batu segi empat itu memancarkan tiga mata air.

Musa memberitahukan kepada tiap-tiap kabilah dari kaumnya akan tempat minumnya masing-masing (mereka semua terdiri atas dua belas kabilah). Tidak sekali-kali mereka berangkat dari suatu tempat untuk mencari jalan keluar dari padang Tih itu. melainkan menjumpai batu segi empat itu berada di hadapan mereka lagi dan di tempat yang sama dengan kemarinnya.

Ibnu Abbas me-rafa’-kan hadis ini sampai kepada Nabi Saw. Dan sebagai buktinya, menurutku ialah bahwa pada suatu hari Mu’awiyah mendengar sahabat Ibnu Abbas menceritakan hadis ini. Lalu Mu’awiyah mengingkarinya sehubungan dengan peristiwa orang Qibti yang menceritakan rahasia Musa di hadapan Fir’aun tentang peristiwa pembunuhan tersebut. Mu’awiyah mengatakan, ‘”Mana mungkin si orang Qibti itu yang membeberkan rahasia Musa, padahal dia tidak mengetahui peristiwa itu dan dia tidak ada di tempat saat kejadiannya selain orang Bani Israil dan orang Qibti yang dibunuh oleh Musa.”

Tulisan ini dimuat dalam Tafsir Ibnu Katsir.