Ar-Rahman, ayat 62-78

Abdullah ibnu Wahb mengatakan, telah menceritakan kepada kami Amr, bahwa Darij alias Abus Samah pernah menceritakan kepadanya dari Abul Hais’am, dari Abu Sa’id, dari Nabi Saw. yang telah bersabda: Rumah yang paling sederhana bagi penduduk surga adalah rumah yang mempunyai delapan puluh ribu pelayan, tujuh puluh dua orang istri, dan dibuatkan baginya sebuah kubah (kemah) dari mutiara, zabarjad, dan yaqut yang besarnya sama dengan jarak antara Al-Jabiyah dan San ‘a.

Imam Turmuzi meriwayatkan hadis ini melalui Amr ibnul Haris dengan sanad yang sama.

*******************

Firman Allah Swt.:

{لَمْ يَطْمِثْهُنَّ إِنْسٌ قَبْلَهُمْ وَلا جَانٌّ}

Mereka tidak pernah disentuh oleh manusia sebelum mereka (penghuni-penghuni surga yang menjadi suami mereka) dan tidak pula oleh jin. (Ar-Rahman: 74)

Tafsir ayat ini telah disebutkan sebelumnya karena mempunyai makna yang sama, hanya saja pada gambaran yang pertama ditambahkan oleh firman-Nya mengenai sifat bidadari-bidadari itu, bahwa mereka:

{كَأَنَّهُنَّ الْيَاقُوتُ وَالْمَرْجَانُ. فَبِأَيِّ آلاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ}

Seakan-akan bidadari itu permata yaqut dan marjan. Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan? (Ar-Rahman: 58­-59)

Adapun firman Allah Swt.:

{مُتَّكِئِينَ عَلَى رَفْرَفٍ خُضْرٍ وَعَبْقَرِيٍّ حِسَانٍ}

Mereka bertelekan pada bantal-bantal yang hijau dan permadani-permadani yang indah. (Ar-Rahman: 76)

Ali ibnu Abu Talhah telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas, bahwa yang dimaksud dengan rafraf’ ialah seprei-seprei.

Hal yang sama telah dikatakan oleh Mujahid, Ikrimah, Al-Hasan, Qatadah, Ad-Dahhak, dan lain-lainnya, yaitu seprei (cover).

Al-Ala ibnu Zaid mengatakan bahwa rafraf ialah kain seprei atau cover untuk melapisi dipan dalam bentuk yang menjuntai.

Asim Al-Juhdari telah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: Mereka bertelekan pada bantal-bantal yang hijau. (Ar-Rahman: 76) Yakni bantal-bantal.

Pendapat ini dikatakan oleh Al-Hasan Al-Basri dalam suatu riwayat yang bersumber darinya.

Abu Daud At-Tayalisi telah meriwayatkan dari Syu’bah, dari Abu Bisyr, dari Sa’id ibnu Jubair sehubungan dengan makna firman-Nya: Mereka bertelekan pada bantal-bantal yang hijau (Ar-Rahman: 76) Bahwa yang dimaksud dengan rafraf ialah taman-taman surga.

*******************

Firman Allah Swt.:

{وَعَبْقَرِيٍّ حِسَانٍ}

dan permadani-permadani yang indah. (Ar-Rahman: 76)

Ibnu Abbas, Qatadah, Ad-Dahhak, dan As-Saddi mengatakan bahwa makna yang dimaksud ialah permadani-permadani. Menurut Sa’id ibnu Jubair, artinya permadani yang sangat baik. Dan menurut Mujahid Al-Abqari artinya sutra.

Al-Hasan Al-Basri pernah ditanya tentang makna firman-Nya: dan permadani-permadani yang indah. (Ar-Rahman: 76) Maka ia menjawab, “Itu adalah hamparan ahli surga, celakalah kalian, carilah ia.” Dan menurut riwayat lain yang bersumber dari Al-Hasan yaitu sarana. Zaid ibnu Aslam mengatakan bahwa permadani itu ada yang berwarna merah, kuning, dan hijau. Al-Ala ibnu Zaid pernah ditanya tentang makna ‘abqari, maka ia menjawab bahwa al- abqari adalah permadani yang berada di atas hamparan.

Abu Hirzah alias Ya’qub ibnu Mujahid mengatakan bahwa al-‘abqari adalah suatu jenis dari pakaian ahli surga, tiada seorang pun yang mengenalnya. Abul Aliyah mengatakan bahwa ‘abqari ialah hamparan yang tipis. Al-Qaisi mengatakan bahwa abqari adalah tiap-tiap pakaian yang dihiasi dengan bordiran, menurut orang Arab. Abu Ubaidah mengatakan, nama ‘abqari dinisbatkan kepada nama tempat yang membuat bordiran kain.

Imam Khalil ibnu Ahmad mengatakan bahwa segala sesuatu yang sangat berharga, baik berupa benda maupun manusia yang genius, dinamakan orang Arab dengan sebutan abqari. Sebagai dalilnya ialah antara lain sabda Nabi Saw. tentang Umar r.a.:

“فَلَمْ أَرَ عَبْقَرِيًّا يَفْرِي فَرِيَّهُ”

Aku belum pernah melihat seorang genius yang begitu cemerlang (selain dari Umar).

Pada garis besarnya semua pendapat di atas menunjukkan bahwa gambaran tentang kedua surga yang pertama lebih tinggi dan lebih mulia daripada yang dimiliki oleh kedua surga berikutnya. Karena sesungguhnya sehubungan dengan kedua surga yang pertama, Allah Swt. telah berfirman:

{مُتَّكِئِينَ عَلَى فُرُشٍ بَطَائِنُهَا مِنْ إِسْتَبْرَقٍ}

Mereka bertelekan di atas permadani yang sebelah dalamnya dari sutra. (Ar-Rahman: 54)

Allah Swt. hanya menyebutkan sifat bagian dalamnya saja, tidak menyebutkan sifat bagian luarnya, karena sudah dianggap cukup hanya dengan menyebutkan kemewahan bagian dalamnya, yang sudah barang tentu bagian luarnya tidak terperikan keindahan dan kemewahannya. Dan sifat ini diakhiri dengan firman-Nya yang menyebutkan:

{هَلْ جَزَاءُ الإحْسَانِ إِلا الإحْسَانُ}

Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan (pula). (Ar-Rahman: 60)

Para penghuninya disebutkan sebagai orang-orang yang ihsan; dan ini merupakan predikat yang tertinggi, sebagaimana yang disebutkan di dalam hadis Jibril, tatkala dia bertanya kepada Nabi Saw. tentang Islam, lalu iman, kemudian ihsan. Demikianlah segi-segi keutamaan yang dimiliki oleh kedua surga yang pertama atas kedua surga berikutnya. Dan kita memohon kepada Allah Swt. semoga Dia menjadikan kita termasuk penghuni-penghuni kedua surga yang pertama.

*******************

Kemudian Allah Swt. berfirman:

{تَبَارَكَ اسْمُ رَبِّكَ ذِي الْجَلالِ وَالإكْرَامِ}

Mahaagung nama Tuhanmu Yang Mempunyai kebesaran dan karunia. (Ar-Rahman: 78)

Dengan kata lain, dapat disebutkan bahwa Dia berhak untuk diagungkan dan karenanya tidak boleh durhaka terhadap-Nya. Dia Mahamulia dan karena itu Dia berhak untuk disembah. Dia berhak untuk disyukuri semua nikmat-Nya, maka tidak boleh diingkari, dan Dia berhak untuk selalu diingat dan tidak boleh dilupakan.

Ibnu Abbas telah mengatakan sehubungan dengan firman-Nya: Yang Mempunyai kebesaran dan karunia. (Ar-Rahman: 78) Yakni Yang mempunyai keagungan dan kebesaran.

قَالَ الْإِمَامُ أَحْمَدُ: حَدَّثَنَا مُوسَى بْنُ دَاوُدَ، حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ ثَابِتِ بْنِ ثَوْبَانَ، عَنْ عُمَيْرِ بْنِ هَانِئٍ، عَنْ أَبِي الْعَذْرَاءِ، عَنْ أَبِي الدَّرْدَاءِ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “أجِدّوا اللَّهَ يَغْفِرْ لَكُمْ”

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Musa ibnu Daud, telah menceritakan kepada kami Abdur Rahman ibnu Sabit ibnu Sauban, dari Umair ibnu Hani’, dari Abul Azra, dari Abu Darda yang mengatakan bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda: Agungkanlah Allah, niscaya kalian akan diberi ampunan.

Dalam hadis lain disebutkan:

“إِنَّ مِنْ إِجْلَالِ اللَّهِ إِكْرَامَ ذِي الشَّيْبَةِ الْمُسْلِمِ، وَذِي السُّلْطَانِ، وَحَامِلِ الْقُرْآنِ غَيْرِ الْغَالِي فِيهِ وَلَا الْجَافِي عَنْهُ”

Sesungguhnya termasuk mengagungkan Allah ialah memuliakan orang muslim yang beruban (berusia lanjut), penguasa, dan orang yang hafal Al-Qur’an, tetapi tidak mempunyai (pemahaman) yang berlebihan padanya dan tidak pula (berpemahaman) yang menjauh darinya.

قَالَ الْحَافِظُ أَبُو يَعْلَى: حَدَّثَنَا أَبُو يُوسُفَ الْجِيزِيُّ، حَدَّثَنَا مُؤَمَّلُ بْنُ إِسْمَاعِيلَ، حَدَّثَنَا حَمَّادٌ، حَدَّثَنَا حُمَيْدٌ الطَّوِيلُ، عَنْ أَنَسٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عليه وسلم قَالَ: “أَلِظُّوا بِيَا ذَا الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ”

Al-Hafiz Abu Ya’la mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Yusuf Al-Harbi, telah menceritakan kepada kami Mu’ammal ibnu Ismail, telah menceritakan kepada kami Hammad, telah menceritakan kepada kami Humaid At-Tawil, dari Anas, bahwa Rasulullah Saw. telah bersabda: Kobarkanlah (dirimu dengan banyak membaca) Ya Zal Jalali Wal Ikram (Ya Tuhan Yang mempunyai keagungan dan karunia).

Tulisan ini dimuat dalam Tafsir Ibnu Katsir.