Abdu ibnu Humaid mengatakan, telah menceritakan kepada kami Yahya ibnu Abdul Hamid, telah menceritakan kepada kami Husain ibnu Umar, telah menceritakan kepada kami Mukhariq, dariTariq ibnu Sahl, dari Syihab, dari Umar ibnul Khattab yang menceritakan bahwa pernah beberapa orang Yahudi datang kepada Rasulullah Saw., lalu mereka bertanya, “Hai Muhammad, apakah di dalam surga terdapat buah-buahan?” Rasulullah Saw. menjawab: Ya. di dalam surga terdapat buah-buahan, dan buah kurma serta buah delima. Mereka bertanya, “Apakah mereka (penghuni surga) makan sebagaimana penduduk dunia makan?” Rasulullah Saw. menjawab: Ya. dan berkali-kali lipat banyaknya. Mereka bertanya, “Kalau begitu, mereka menunaikan hajatnya pula (buang air besar dan air kecil)?” Rasulullah Saw. menjawab: Tidak, tetapi mereka hanya berkeringat dan beringus, maka Allah melenyapkan gangguan yang ada pada perut mereka.
Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Al-Fadl ibnu Dakin. telah menceritakan kepada kami Sufyan, dari Hammad, dari Sa’id ibnu Jubair, dari Ibnu Abbas yang mengatakan bahwa kurma surga dedaunannya adalah pakaian ahli surga dan darinya perhiasan mereka dibuat; dedaunannya adalah emas yang merah, dan batangnya adalah zamrud hijau, sedangkan buahnya lebih manis daripada madu dan lebih lembut daripada mentega serta tidak berbiji.
وَحَدَّثَنَا أَبِي: حَدَّثَنَا مُوسَى بْنُ إِسْمَاعِيلَ، حَدَّثَنَا حَمَّادُ -هُوَ ابْنُ سَلَمَةَ-عَنْ أَبِي هَارُونَ، عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: “نَظَرْتُ إِلَى الْجَنَّةِ فَإِذَا الرُّمَّانَةُ مِنْ رُمَّانِهَا كَمِثْلِ الْبَعِيرِ المُقْتَب”
Telah menceritakan pula kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Musa ibnu Ismail, telah menceritakan kepada kami Hammad ibnu Salamah, dari Abu Harun, dari Abu Sa’id Al-Khudri, bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda: Aku melihat surga dan ternyata buah delimanya besar-besar seperti unta.
*******************
Kemudian disebutkan dalam firman berikutnya:
{فِيهِنَّ خَيْرَاتٌ حِسَانٌ}
Di dalam surga-surga itu ada bidadari-bidadari yang baik-baik lagi cantik-cantik. (Ar-Rahman: 70)
Menurut suatu pendapat, makna yang dimaksud ialah banyak bidadari yang baik-baik lagi cantik-cantik di dalam surga, menurut Qatadah.
Menurut pendapat yang lain, khairat adalah bentuk jamak dari khairah artinya wanita yang saleh, baik akhlaknya serta cantik rupanya, menurut jumhur ulama.
Telah diriwayatkan pula secara marfu’ dari Ummu Salamah sebuah hadis lain yang akan kami kemukakan di dalam tafsir surat Al-Waqi’ah nanti, yang antara lain menyebutkan bahwa bidadari-bidadari itu bernyanyi seraya mengatakan, “Kami adalah wanita-wanita yang baik-baik lagi cantik-cantik, kami diciptakan untuk suami-suami yang mulia.” Karena itulah maka ada sebagian ulama yang membacanya dengan bacaan memakai tasydid pada lafaz ya-nya, hingga menjadi khayyiratun, bukan khairatun. Di dalam surga-surga itu ada bidadari-bidadari yang baik-baik lagi cantik-cantik. Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan? (Ar-Rahman: 70-71)
*******************
Kemudian disebutkan dalam firman selanjutnya:
{حُورٌ مَقْصُورَاتٌ فِي الْخِيَامِ}
(Bidadari-bidadari) yang jelita, putih bersih dipingit dalam rumah. (Ar-Rahman: 72)
Sedangkan dalam kedua surga yang pertama disebutkan oleh firman-Nya:
{فِيهِنَّ قَاصِرَاتُ الطَّرْفِ}
Di dalam surga itu ada bidadari-bidadari yang sopan menundukkan pandangannya. (Ar-Rahman: 56)
Dan tidak diragukan lagi bahwa wanita yang menundukkan pandangannya dengan penuh ketaatan dan kesadaran lebih utama daripada wanita yang menundukkan pandangannya dengan paksa, walaupun semuanya bercadar.
Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Amr ibnu Abdullah Al-Audi, telah menceritakan kepada kami Waki’, dari Sufyan, dari Jabir, dari Al-Qasim ibnu Abu Buzzah, dari Abu Ubaid, dari Masruq, dari Abdullah ibnu Mas’ud yang mengatakan bahwa sesungguhnya bagi setiap orang muslim, seorang bidadari dan bagi seorang bidadari ada kemahnya tersendiri, dan bagi tiap kemah ada empat buah pintunya yang setiap harinya ada hadiah yang masuk melaluinya, kiriman, dan penghormatan untuk yang menghuninya. Padahal sebelum itu tidak diperlukan lagi adanya hiburan, tidak memerlukan lagi keinginan, dan tidak memerlukan lagi wewangian serta dupa. Kecantikan bidadari itu sama dengan mutiara yang tersimpan.
Sehubungan dengan firman-Nya:
{فِي الْخِيَامِ}
dalam rumah. (Ar-Rahman: 72)
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى، حَدَّثَنَا عَبْدُ الْعَزِيزِ بْنُ عَبْدِ الصَّمَدِ، حَدَّثَنَا أَبُو عِمْرَانَ الْجَوْنِيُّ، عَنْ أَبِي بَكْرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ قَيْسٍ، عَنْ أَبِيهِ؛ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عليه وسلم قال: “إِنَّ فِي الْجَنَّةِ خَيْمَةً مِنْ لُؤْلُؤَةٍ مُجَوَّفَةٍ، عَرْضُهَا سِتُّونَ مِيلًا فِي كُلِّ زَاوِيَةٍ مِنْهَا أهلٌ مَا يَرون الْآخَرِينَ، يَطُوفُ عَلَيْهِمُ الْمُؤْمِنُونَ”.
Imam Bukhari mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnul Musanna. telah menceritakan kepada kami Abdul Aziz ibnu Abdussamad, telah menceritakan kepada kami Abu Imran Al-Juni, dari Abu Bakar ibnu Abdullah ibnu Qais, dari ayahnya, bahwa Rasulullah Saw. telah bersabda: Sesungguhnya di dalam surga terdapat kemah (rumah) yang terbuat dari mutiara yang dilubangi, besarnya sama dengan jarak enam puluh mil, pada tiap-tiap sudut kemah itu ada penghuninya (penghuninya .yakni para bidadari) yang satu sama lainnya tidak saling melihat, dan orang-orang mukmin berkeliling menggilir mereka.
Imam Bukhari telah meriwayatkannya pula melalui hadis Abu Imran dengan sanad yang sama, dan disebutkan bahwa luas kemah itu adalah tiga puluh mil.
وَأَخْرَجَهُ مُسْلِمٌ مِنْ حَدِيثِ أَبِي عِمْرَانَ، بِهِ. وَلَفْظُهُ: “إِنَّ لِلْمُؤْمِنِ فِي الْجَنَّةِ لَخَيْمَةً مِنْ لُؤْلُؤَةٍ وَاحِدَةٍ مُجَوَّفَةٍ، طُولُهَا ستون ميلا لِلْمُؤْمِنِ فِيهَا أَهْلٌ يَطُوفُ عَلَيْهِمُ الْمُؤْمِنُ، فَلَا يَرَى بَعْضُهُمْ بَعْضًا”
Imam Muslim mengetengahkan hadis ini melalui hadis Abu Imran dengan sanad yang sama yang teksnya berbunyi seperti berikut: Sesungguhnya bagi seorang mukmin ada sebuah kemah di dalam surga terbuat dari sebuah mutiara yang dilubangi, panjangnya enam puluh mil, di dalamnya ia mempunyai banyak istri yang ia gillir, mereka dan sebagian dari mereka tidak dapat melihat sebagian yang lainnya.
Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Al-Hasan ibnu Abur Rabi’, telah menceritakan kepada kami Abdur Razzaq, telah menceritakan kepada kami Ma’mar, dari Qatadah, telah menceritakan kepadaku Khulaid Al-Asri, dari Abu Darda yang mengatakan bahwa kemah (di dalam surga) itu terbuat dari sebuah mutiara, yang padanya terdapat tujuh buah pintu terbuat dari intan.
Telah menceritakan pula kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Isa ibnu Abu Fatimah, telah menceritakan kepada kami Jarir, dari Hisyam, dari Muhammad ibnul Musanna, dari Ibnu Abbas sehubungan dengan firman Allah Swt.: (Bidadari-bidadari) yang jelita, putih bersih dipingit di dalam kemah-kemah. (Ar-Rahman: 72) Yakni kemah dari mutiara, di dalam surga terdapat kemah dari sebuah mutiara, dan satu buah mutiara besarnya sama dengan empat farsakh persegi, padanya terdapat empat ribu buah pintu terbuat dari emas.
قَالَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ وَهْبٍ: أَخْبَرَنَا عَمْرٌو أَنَّ دَرَّاجا أَبَا السَّمح حَدَّثَهُ، عَنْ أَبِي الْهَيْثَمِ، عَنْ أَبِي سَعِيدٍ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: “أَدْنَى أَهْلِ الْجَنَّةِ مَنْزِلَةً الَّذِي لَهُ ثَمَانُونَ أَلْفَ خَادِمٍ، وَاثْنَتَانِ وَسَبْعُونَ زَوْجَةً، وَتُنْصَبُ لَهُ قُبَّةٌ مِنْ لُؤْلُؤٍ وَزَبَرْجَدٍ وَيَاقُوتٍ، كَمَا بَيْنَ الْجَابِيَةِ وَصَنْعَاءَ”.