An-Najm, ayat 19-26

{إِنْ يَتَّبِعُونَ إِلا الظَّنَّ وَمَا تَهْوَى الأنْفُسُ}

Mereka tidak lain hanyalah mengikuti sangkaan-sangkaan, dan apa yang diingini oleh hawa nafsu mereka. (An-Najm: 23)

Yakni tiada sandaran selain dari prasangka baik mereka terhadap bapak moyang mereka yang menempuh jalan yang batil itu sebelum mereka; dan jika tidak demikian, berarti mereka hanya menginginkan agar tetap menjadi pemimpin dan mengagung-agungkan bapak moyang mereka yang terdahulu.

{وَلَقَدْ جَاءَهُمْ مِنْ رَبِّهِمُ الْهُدَى}

dan sesungguhnya telah datang petunjuk kepada mereka dari Tuhan mereka. (An-Najm: 23)

Sesungguhnya Allah telah mengutus kepada mereka rasul-rasul dengan membawa kebenaran yang menerangi dan keterangan yang jelas, tetapi sekalipun demikian mereka tidak mau mengikuti apa yang disampaikan oleh rasul-rasul Allah itu dan tidak mau pula tunduk kepada-Nya.

*******************

Firman Allah Swt.:

{أَمْ لِلإنْسَانِ مَا تَمَنَّى}

Atau apakah manusia akan mendapat segala yang dicita-citakannya. (An-Najm: 24)

Maksudnya, tidak semua orang yang mengharapkan kebaikan dapat memperolehnya.

{لَيْسَ بِأَمَانِيِّكُمْ وَلا أَمَانِيِّ أَهْلِ الْكِتَابِ}

(Pahala dari Allah) itu bukanlah menurut angan-anganmu yang kosong dan bukan (pula) menurut angan-angan Ahli Kitab. (An-Nisa: 123)

Yakni tidaklah semua orang yang mengakui bahwa dirinya mendapat petunjuk sesuai dengan apa yang dikatakannya, tidak pula semua orang yang mengharapkan sesuatu dapat meraihnya.

قَالَ الْإِمَامُ أَحْمَدُ: حَدَّثَنَا إِسْحَاقُ، حَدَّثَنَا أَبُو عَوَانة، عَنْ عُمَرَ بْنِ أَبِي سَلَمَةَ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “إِذَا تَمَنَّى أَحَدُكُمْ فَلْيَنْظُرْ مَا يَتَمَنَّى، فَإِنَّهُ لَا يَدْرِي مَا يُكْتَبُ لَهُ مِنْ أُمْنِيَتِهِ”.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ishaq, telah menceritakan kepada kami Abu Uwwanah, dari Umar ibnu Abu Salamah, dari ayahnya, dari Abu Hurairah yang mengatakan bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda: Apabila seseorang di antara kalian mempunyai cita-cita, hendaklah ia memikirkan terlebih dahulu apa yang dicitakannya, karena sesungguhnya dia tidak mengetahui apa yang akan ditetapkan baginya dari cita-citanya itu.

Imam Ahmad meriwayatkan hadis ini secara munfarid.

*******************

Firman Allah Swt.:

{فَلِلَّهِ الآخِرَةُ وَالأولَى}

(Tidak), maka hanya bagi Allah kehidupan akhirat dan kehidupan dunia. (An-Najm: 25)

Yakni sesungguhnya semua urusan itu hanyalah milik Allah, Raja di dunia dan akhirat dan Yang mengatur di dunia dan di akhirat. Dialah yang atas kehendak-Nya sesuatu menjadi ada dan apa yang tidak dikehendaki-Nya pasti tiada.

Firman Allah Swt.:

{وَكَمْ مِنْ مَلَكٍ فِي السَّمَوَاتِ لَا تُغْنِي شَفَاعَتُهُمْ شَيْئًا إِلا مِنْ بَعْدِ أَنْ يَأْذَنَ اللَّهُ لِمَنْ يَشَاءُ وَيَرْضَى}

Dan berapa banyaknya malaikat di langit, syafaat mereka sedikit pun tidak berguna kecuali sesudah Allah mengizinkan bagi orang yang dikehendaki dan diridai-(Nya). (An-Najm: 26)

Semakna dengan apa yang disebutkan dalam ayat lain melalui firman-Nya:

{مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلا بِإِذْنِهِ}

Tiada yang dapat memberi syafaat di sisi Allah tanpa izin-Nya. (Al-Baqarah: 255)

Dan firman Allah Swt.:

{وَلا تَنْفَعُ الشَّفَاعَةُ عِنْدَهُ إِلا لِمَنْ أَذِنَ لَهُ}

Dan tiadalah berguna syafaat di sisi Allah melainkan bagi orang yang telah diizinkan-Nya memperoleh syafaat itu. (Saba’: 23)

Apabila persyaratan ini ditetapkan terhadap para malaikat yang terdekat (dengan Allah), maka mengapa kalian orang-orang yang bodoh mengharapkan syafaat dari berhala-berhala dan sekutu-sekutu itu di sisi, Allah Swt., sedangkan Allah Swt. tidak memerintahkan penyembahannya dan tidak pula mengizinkan meminta syafaat darinya, bahkan Allah Swt. melarang melakukan penyembahan terhadap berhala-berhala dan sekutu-sekutu itu melalui lisan para rasul, juga larangan mengenai hal tersebut telah termaktub di dalam semua kitab-kitab yang diturunkan-Nya

Tulisan ini dimuat dalam Tafsir Ibnu Katsir.