Kemudian Rasulullah Saw. mengutus Khalid ibnul Walid untuk menghancurkan berhala itu, maka Khalid dan pasukannya menghancurkannya. Peristiwa ini diabadikan melalui perkataan Khalid dalam bait syairnya:
يَا عُزَّ، كُفْرَانَك لَا سُبْحَانَك … إِنِّي رَأَيْتُ اللَّهَ قَدْ أهَانَك …
Hai Uzza, aku ingkar kepadamu dan tidak menghormatimu, sesungguhnya aku melihat bahwa Allah telah menghinakanmu.
Imam Nasai mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ali ibnul Munzir, telah menceritakan kepada kami Ibnu Fudail, telah menceritakan kepada kami Al-Walid ibnu Jami’, dari AbutTufail yang mengatakan bahwa setelah Rasulullah Saw. membebaskan kota Mekah, maka beliau Saw. mengutus Khalid ibnul Walid ke Nakhlah; di Nakhlah terdapat berhala Uzza. Lalu Khalid mendatanginya dan tersebutlah bahwa berhala Uzza terletak di atas tiga buah pohon Samurah. Khalid ibnul Walid menebang ketiga pohon Samurah itu dan menghancurkan berhala yang ada di atasnya. Setelah itu Khalid ibnul Walid kembali kepada Rasulullah Saw. dan menceritakan semua kepada beliau. Maka beliau Saw. bersabda: Kembalilah kamu, karena sesungguhnya kamu masih belum berbuat sesuatu apa pun. Maka Khalid kembali lagi ke Nakhlah. Ketika para pelayan Uzza melihat kedatangan Khalid dan pasukannya, maka mereka memasang perangkap untuk menjebak Khalid dan pasukannya seraya berkata, “Hai Uzza, hai Uzza!” Maka Khalid mendatanginya, dan ternyata yang diseru oleh mereka adalah seorang wanita yang telanjang bulat dengan rambut yang terurai seraya menaburkan pasir di kepalanya. Maka Khalid pun membenamkan pedangnya ke tubuh wanita itu hingga mati wanita itu. Setelah itu Khalid kembali kepada Rasulullah Saw. dan menceritakan hal tersebut kepadanya, maka barulah Rasulullah Saw. bersabda: Itulah Uzza (yang sebenarnya).
Ibnu Ishaq mengatakan bahwa Lata adalah sesembahan orang-orang Saqif diTaif, sedangkan yang menjadi para pelayan dan juru kuncinya adalah Bani Mu’tib.
Rasulullah Saw. mengutus Al-Mugirah ibnu Syu’bah dan Abu Sufyan ibnu Sakhr ibnu Harb untuk menghancurkannya, maka keduanya menghancurkan berhala Lata itu dan menjadikan masjid di tempatnya sebagai gantinya, yaitu di Taif.
Ibnu Ishaq mengatakan bahwa berhala Manat adalah milik orang-orang Aus dan Khazraj dan orang-orang yang mengikuti agama mereka dari kalangan penduduk Yas’rib yang berada di pantai ke arah Al-Musyallal, yaitu di Qadid. Maka Rasulullah Saw. mengutus Abu Sufyan ibnu Harb untuk menghancurkannya; menurut pendapat lain, menyebutkan bahwa yang dikirim oleh Rasulullah Saw. untuk menghancurkannya adalah Ali ibnu Abu Talib.
Ibnu Ishaq mengatakan pula bahwa berhala Zul Khalasah adalah sesembahan orang-orang Daus, Khas’am dan Bajilah, serta orang-orang Arab Badui yang ada bersama mereka di Tabalah.
Zul Khalasah dikenal pula di masa Jahiliah dengan nama Ka’bah Yamaniyyah, sedangkan Ka’bah yang ada di Mekah mereka sebut dengan Ka’bah Syamiyyah. Maka Rasulullah Saw. mengirimkan Jarir ibnu Abdullah Al-Bajali untuk menghancurkannya, dan perintah itu dilaksanakan dengan baik oleh Jarir ibnu Abdullah. Berhala Qais adalah milik orang-orang Tayyi’ dan orang-orang yang ada di sekitar mereka di Gunung Tayyi’ yang terletak di antara Salma dan Aja. Ibnu Hisyam mengatakan bahwa sebagian ahlul ‘ilmi menceritakan kepadanya bahwa Rasulullah Saw. mengirimkan Ali ibnu Abu Talib r.a. untuk menghancurkannya. Dan Ali r.a. berhasil memboyong dua bilah pedang darinya yang diberi nama Rasub dan Mikhzam, lalu Rasulullah Saw. menghadiahkan pedang itu kepada Ali sehingga kedua pedang itu menjadi miliknya.
Ibnu Ishaq mengatakan bahwa orang-orang Himyar dan penduduk Yaman mempunyai rumah penyembahan berhala diSan’a yang dikenal dengan nama Riyam. Menurut suatu pendapat, di dalam rumah itu terdapat seekor anjing hitam; dan bahwa dua orang pendeta Yahudi yang pergi bersama Tubba’ mengeluarkan anjing hitam itu, lalu membunuhnya dan menghancurkan rumah tersebut.
Ibnu Ishaq mengatakan bahwa Rada adalah sebuah rumah penyembahan berhala milik Bani Rabi’ah ibnu Ka’b ibnu Sa’d ibnu Zaid yang pemimpinnya adalah Manat Ibnu Tamim. Al-Mustaugir ibnu Rabi’ah ibnu Ka’b ibnu Sa’d ketika menghancurkannya di masa Islam mengatakan:
وَلَقَدْ شَدَدْتُ عَلَى رُضَاء شَدّةً … فَتَرَكْتُها قَفْرًا بِقَاع أسحَمَا …
Sesungguhnya aku benar-benar telah menghancurkan Rada dengan sehancur-hancurnya, maka kutinggalkan ia menjadi puing-puing dan rata dengan tanah.
Ibnu Hisyam mengatakan bahwa Al-Mustaugir berusia sangat panjang hingga mencapai tiga ratus tiga puluh tahun. Al-Mustaugirlah orang yang mengatakan bait-bait syair berikut:
وَلَقَد سَئِمْتُ مِنَ الحيَاةِ وَطُولِهَا … وَعُمّرْتُ منْ عَدَد السّنِينَ مِئِينَا …
مائَةً حَدّتها بَعْدَها مائَتَان لِي … وَازْدَدْتُ مِنْ عَدَد الشُّهُورِ سِنِينَا …
هَلْ مَا بَقِي إِلَّا كَمَا قَدْ فَاتَنَا … يَومٌ يَمُرُّ وَلَيلةٌ تَحْدُونَا …
Sesungguhnya aku telah bosan dengan hidup ini dan masanya yang sangat panjang, aku telah diberi usia beratus-ratus tahun. Seratus tahun telah kujalani dan berikutnya dua ratus tahun; usiaku sama dengan bilangan bulan-bulan selama satu tahun, yang perharinya menjadi satu tahun. Tiadalah yang tersisa melainkan hanya seperti hari-hari yang telah berlalu, yaitu tinggal menunggu hari dan malam yang akan mengakhiri usiaku.
Ibnu Ishaq mengatakan bahwa Zul Ka’bat adalah berhala milik orang-orang Bakar dan Taglab; keduanya adalah keturunan dari Wa-il dan Iyad, yaitu di Sindad. Sehubungan dengan keberadaan berhala ini A’sya ibnu Qais ibnu Sa’labah mengatakan,
بَيْنَ الخَوَرْنَق والسَّدير وَبَارقٍ … والبيت ذو الكَعَبَات مِنْ سَنْدَاد
“Di antara Khawarnaq dan Sadir serta Bariq terdapat Bait yang diberi nama Zul Ka’bat, yaitu di Sindad.”
Karena itulah maka Allah Swt. berfirman:
{أَفَرَأَيْتُمُ اللاتَ وَالْعُزَّى. وَمَنَاةَ الثَّالِثَةَ الأخْرَى}
Maka apakah patut kamu (hai orang-orang musyrik) menganggap Al-Lata dan Al-Uzza dan Manat yang ketiga, yang paling terkemudian (sebagai anak perempuan Allah)? (An-Najm: 19-20)
Kemudian dalam firman berikutnya disebutkan:
{أَلَكُمُ الذَّكَرُ وَلَهُ الأنْثَى}
Apakah (patut) untuk kamu (anak) laki-laki dan untuk Allah (anak) perempuan? (An-Najm: 21)
Yakni apakah kalian menganggap bahwa Allah beranak dan anak itu adalah perempuan, sedangkan kalian memilih untuk diri kalian sendiri anak laki-laki. Seandainya kalian berbagi dengan sesama kalian dengan cara pembagian seperti ini, tentulah pembagian tersebut adalah:
{قِسْمَةٌ ضِيزَى}
suatu pembagian yang tidak adil. (An-Najm: 22)
Yaitu pembagian yang tidak jujur dan batil. Lalu mengapa kalian berbagi dengan Tuhan kalian dengan pembagian cara ini; yang sekiranya hal ini dilakukan terhadap sesama kalian, tentulah merupakan pembagian yang tidak adil dan berat sebelah.
Kemudian Allah Swt. berfirman, menyanggah kedustaan dan kebohongan yang mereka buat-buat serta kekafiran, seperti menyembah berhala dan menjadikannya tuhan yang banyak.
{إِنْ هِيَ إِلا أَسْمَاءٌ سَمَّيْتُمُوهَا أَنْتُمْ وَآبَاؤُكُمْ}
Itu tidak lain hanyalah nama-nama yang kamu dan bapak-bapak kamu mengada-adakannya. (An-Najm: 23)
Yakni, dari diri kamu sendiri.
{مَا أَنزلَ اللَّهُ بِهَا مِنْ سُلْطَانٍ}
Allah tidak menurunkan suatu keterangan pun untuk (menyembah)nya. (An-Najm: 23)
Artinya, tiada suatu keterangan pun yang memerintahkan mereka berbuat demikian.