An-Najm, ayat 5-18

{عَلَّمَهُ شَدِيدُ الْقُوَى (5) ذُو مِرَّةٍ فَاسْتَوَى (6) وَهُوَ بِالأفُقِ الأعْلَى (7) ثُمَّ دَنَا فَتَدَلَّى (8) فَكَانَ قَابَ قَوْسَيْنِ أَوْ أَدْنَى (9) فَأَوْحَى إِلَى عَبْدِهِ مَا أَوْحَى (10) مَا كَذَبَ الْفُؤَادُ مَا رَأَى (11) أَفَتُمَارُونَهُ عَلَى مَا يَرَى (12) وَلَقَدْ رَآهُ نزلَةً أُخْرَى (13) عِنْدَ سِدْرَةِ الْمُنْتَهَى (14) عِنْدَهَا جَنَّةُ الْمَأْوَى (15) إِذْ يَغْشَى السِّدْرَةَ مَا يَغْشَى (16) مَا زَاغَ الْبَصَرُ وَمَا طَغَى (17) لَقَدْ رَأَى مِنْ آيَاتِ رَبِّهِ الْكُبْرَى (18) }

yang diajarkan kepadanya oleh (Jibril) yang sangat kuat, yang mempunyai akal yang cerdas; dan (Jibril itu) menampakkan diri dengan rupa yang asli, sedangkan dia berada di ufuk yang tinggi. Kemudian dia mendekat, lalu bertambah dekat lagi, maka jadilah dia dekat (pada Muhammad sejarak) dua ujung busur panah atau lebih dekat (lagi). Lalu dia menyampaikan kepada hamba-Nya (Muhammad) apa yang telah Allah wahyukan. Hatinya tidak mendustakan apa yang telah dilihatnya. Maka apakah kamu (musyrik Mekah) hendak membantahnya tentang apa yang telah dilihatnya? Dan sesungguhnya Muhammad telah melihat Jibril itu’ (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain, (yaitu) di Sidratil Muntaha. Di dekatnya ada surga tempat tinggal, (Muhammad melihat Jibril) ketika Sidratil Muntaha diliputi oleh sesuatu yang meliputinya. Penglihatannya (Muhammad) tidak berpaling dari yang dilihatnya itu dan tidak (pula) melampauinya. Sesungguhnya dia telah melihat sebagian tanda-tanda Tuhannya yang paling besar.

Allah Swt. berfirman, menceritakan tentang hamba dan Rasul-Nya, yaitu Nabi Muhammad Saw. Bahwa Jibril telah mengajarkan kepadanya apa yang harus ia sampaikan kepada manusia.

{شَدِيدُ الْقُوَى}

yang sangat kuat. (An-Najm: 5)

Yakni malaikat yang sangat kuat, yaitu Malaikat Jibril a.s. Ayat ini semakna dengan apa yang disebutkan dalam ayat lain melalui firman-Nya:

{إِنَّهُ لَقَوْلُ رَسُولٍ كَرِيمٍ. ذِي قُوَّةٍ عِنْدَ ذِي الْعَرْشِ مَكِينٍ. مُطَاعٍ ثَمَّ أَمِينٍ}

Sesungguhnya Al-Qur’an itu benar-benar firman (Allah yang dibawa oleh) utusan yang mulia (Jibril), yang mempunyai kekuatan, yang mempunyai kedudukan tinggi di sisi Allah yang mempunyai Arasy yang ditaati di sana (di alam malaikat) lagi dipercaya. (At-Takwir: 19-21)

Dan di dalam surat ini disebutkan melalui firman-Nya:

{ذُو مِرَّةٍ}

Yang mempunyai akal yang cerdas. (An-Najm: 6)

Yaitu yang mempunyai kekuatan, menurut Mujahid, Al-Hasan, dan Ibnu Zaid.

Ibnu Abbas r.a. mengatakan bahwa makna yang dimaksud ialah yang mempunyai penampilan yang bagus.

Qatadah mengatakan yang mempunyai bentuk yang tinggi lagi bagus.

Pada hakikatnya tiada pertentangan di antara kedua pendapat di atas karena sesungguhnya Jibril a.s. itu mempunyai penampilan yang baik, mempunyai kekuatan yang hebat.

Di dalam sebuah hadis yang diriwayatkan melalui Ibnu Umar dan Abu Hurairah r.a. dengan sanad yang sahih disebutkan bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda:

“لَا تَحِلُّ الصَّدَقَةُ لغنيٍّ، وَلَا لِذِي مِرَّةٍ سَوِيّ”

Sedekah (zakat) itu tidak halal bagi orang yang berkecukupan dan tidak halal (pula) bagi orang yang mempunyai kekuatan yang sempurna.

*******************

Firman Allah Swt.:

{فَاسْتَوَى}

dan (Jibril itu) menampakkan diri dengan rupa yang asli. (An-Najm: 6)

Yang dimaksud ialah Jibril a.s. menurut Al-Hasan, Mujahid, Qatadah, dan Ar-Rabi’ ibnu Anas.

{وَهُوَ بِالأفُقِ الأعْلَى}

sedangkan dia berada di ufuk yang tinggi. (An-Najm: 7)

Yakni Jibril bertengger di ufuk yang tinggi, menurut Ikrimah dan lain-lainnya yang bukan hanya seorang.

Ikrimah mengatakan bahwa ufuk atau cakrawala yang tertinggi adalah tempat yang datang darinya cahaya subuh.

Mujahid mengatakan tempat terbitnya matahari.

Qatadah mengatakan tempat yang darinya siang datang. Hal yang sama dikatakan oleh Ibnu Zaid dan lain-lainnya

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Zar’ah, telah menceritakan kepada kami Masraf ibnu Amr Al-Yami Abul Qasim, telah menceritakan kepada kami Abdur Rahman ibnu Muhammad ibnu Talhah ibnu Masraf, telah menceritakan kepadaku ayahku, dari Al-Walid ibnu Qais, dari Ishaq ibnu Abul Kahtalah, yang tiada diragukan lagi ia menerimanya dari Ibnu Mas’ud, bahwa Rasulullah Saw. tidak melihat rupa asli Malaikat Jibril kecuali sebanyak dua kali. Dan pertama kalinya beliau Saw. meminta Jibril untuk memperlihatkan rupa aslinya kepada beliau, maka ternyata rupa asli Jibril a.s. menutupi semua cakrawala. Dan yang kedua kalinya di saat beliau Saw. naik bersamanya, hal inilah yang disebutkan oleh firman-Nya: sedangkan dia berada di ufuk yang tinggi. (An-Najm: 7)

Ibnu Jarir sehubungan dengan ayat ini mengemukakan suatu pendapat yang tidak pernah dikatakan oleh seorang pun selain dia, yang kesimpulannya menyebutkan bahwa malaikat yang sangat kuat lagi mempunyai akal yang cerdas ini, dia bersama-sama dengan Nabi Muhammad Saw. bertengger di ufuk cakrawala bersama-sama, yaitu dalam malam Isra. Demikianlah bunyi teks pendapat Ibnu Jarir, tetapi tiada seorang ulama pun yang setuju dengan pendapatnya ini. Selanjutnya Ibnu Jarir mengemukakan alasan pendapatnya ditinjau dari segi bahasa Arab. Dia mengatakan bahwa ayat ini mempunyai makna yang sama dengan apa yang disebutkan oleh firman-Nya:

{أَئِذَا كُنَّا تُرَابًا وَآبَاؤُنَا}

Apakah setelah kita menjadi tanah dan (begitu pula) bapak-bapak kita. (An-Naml: 67)

Lafaz al-aba di-ataf-kan kepada damir yang terkandung di dalam kunna tanpa menampakkan nahnu. Begitu pula halnya dengan ayat ini disebutkan oleh firman-Nya, “Fastawa, wahuwa,” maka Jibril dan dia bertengger di cakrawala yang tertinggi.

Ibnu Jarir mengatakan bahwa Imam Al-Farra telah meriwayatkan dari sebagian orang Arab Badui yang telah mengatakan dalam suatu bait syairnya:

أَلَمْ تَرَ أَنَّ النبعَ يَصْلُبُ عُودُه … وَلَا يَسْتَوي والخرْوعُ المُتَقصِّفُ

Tidakkah kamu lihat bahwa kayu naba’ (untuk busur) kuat lagi liat batangnya, tetapi tidak sama dengan kayu khuru’ yang mudah patah.

Alasan yang dikemukakan oleh Ibnu Jarir dari segi bahasa cukup membantunya, tetapi tidak dapat membantunya bila ditinjau dari segi konteksnya. Karena sesungguhnya penglihatan Nabi Saw. terhadap bentuk asli Malaikat Jibril bukan terjadi di malam Isra, melainkan sebelumnya. Yaitu saat Rasulullah Saw. sedang berada di bumi (bukan di langit), lalu Jibril turun menemuinya, lalu mendekatinya hingga berada dekat sekali dengannya, sedangkan ia dalam rupa aslinya seperti pada saat diciptakan oleh Allah Swt., yaitu mempunyai enam ratus sayap. Kemudian Nabi Saw. melihatnya lagi di lain waktu di dekat Sidratil Muntaha, yaitu di malam Isra.

Penglihatan pertama terjadi, pada masa permulaan beliau Saw. diangkat menjadi utusan, yaitu pada saat pertama kalinya Malaikat Jibril datang menemuinya, lalu Allah Swt. mewahyukan kepadanya permulaan surat Al-‘Alaq, setelah itu wahyu mengalami fatrah (kesenjangan), yang di masa-masa itu acapkali Nabi Saw. pergi ke puncak bukit untuk menjatuhkan diri dari atas. Tetapi setiap kali beliau Saw. hendak menjatuhkan dirinya, Jibril memanggilnya dari angkasa, “Hai Muhammad, engkau adalah utusan Allah, dan aku Malaikat Jibril!”

Tulisan ini dimuat dalam Tafsir Ibnu Katsir.