Ali Imran, ayat 96-97

Sufyan ibnu Husain, Sulaiman ibnu Kasir, Abdul Jalil ibnu Humaid, dan Muhammad ibnu Abu Hafsah meriwayatkan dari Az-Zuhri, dari Abu Sinan Ad-Duali (yang namanya adalah Yazid ibnu Umayyah), dari Ibnu Abbas r.a. yang menceritakan bahwa Rasulullah Saw. berkhotbah kepada kami yang isinya mengatakan:

“يَأيُّهَا النَّاسُ، إنَّ اللهَ كَتَبَ عَلَيْكُم الحَجَّ”. فَقَامَ الْأَقْرَعُ بْنُ حَابِسٍ فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَفِي كُلِّ عَامٍ؟ قَالَ: “لَوْ قُلْتُهَا، لَوَجَبَتْ، ولَوْ وَجَبَتْ لَمْ تَعْمَلُوا بِهَا، وَلَمْ تَسْتَطِيعُوا أنْ تَعْمَلُوا بِهَا؛ الحَجُّ مَرَّةً، فَمَنْ زَادَ فَهُوَ تَطَوُّعٌ”.

“Hai manusia, sesungguhnya Allah telah mewajibkan atas kalian ibadah haji.” Maka berdirilah Al-Aqra’ ibnu Habis, lalu bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah untuk setiap tahun?” Nabi Saw. bersabda, “Seandainya aku mengatakannya, niscaya akan diwajibkan; dan seandainya diwajibkan, niscaya kalian tidak dapat mengerjakannya dan kalian tidak akan dapat melakukannya. Ibadah haji adalah sekali; maka barang siapa yang lebih dari sekali, maka hal itu haji sunat.”

Hadis diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Imam Abu Daud, Imam Nasai, dan Imam Ibnu Majah serta Imam Hakim melalui hadis Az-Zuhri dengan lafaz yang sama. Syarik meriwayatkannya melalui Sammak, dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas dengan lafaz yang semakna. Hal ini diriwayatkan pula melalui hadis Usamah ibnu Zaid.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Mansur ibnu Wardan, dari Abdul A’la ibnu Abdul A’la, dari ayahnya, dari Al-Bukhturi, dari Ali r.a. yang mengatakan bahwa ketika ayat berikut diturunkan, yaitu firman-Nya: mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah. (Ali Imran: 97) Mereka bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah untuk setiap tahun?” Rasulullah Saw. diam. Mereka bertanya lagi, “Wahai Rasulullah, apakah untuk setiap tahun?” Nabi Saw. menjawab: “Tidak, seandainya aku katakan, ‘Ya,’ niscaya diwajibkan (setiap tahunnya).” Maka Allah Swt. menurunkan firman-Nya: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian menanyakan (kepada Nabi kalian) hal-hal yang jika diterangkan kepada kalian niscaya menyusahkan kalian. (Al-Maidah: 101 )

Hal yang sama diriwayatkan oleh Imam Turmuzi, Ibnu Majah, dan Imam Hakim melalui hadis Mansur ibnu Wardan. Kemudian Imam Turmuzi mengatakan bahwa hadis ini hasan garib. Akan tetapi, apa yang dikatakan oleh Imam Turmuzi itu masih perlu dipertimbangkan, mengingat Imam Bukhari mengatakan bahwa Abul Bukhturi belum pernah mendengar dari sahabat Ali r.a.

قَالَ ابْنُ مَاجَهْ: حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ نُمَيْر، حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ أَبِي عُبَيدة، عَنْ أَبِيهِ، عَنِ الْأَعْمَشِ، عَنْ أَبِي سُفْيَانَ، عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ: قَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ، الْحَجُّ فِي كُلِّ عَامٍ؟ قَالَ: “لَوْ قُلْتُ: نَعَمْ، لوجَبَتْ، وَلَوْ وَجَبَتْ لَمْ تَقُومُوا بِهَا، ولَوْ لَمْ تَقُومُوا بِهَا لَعُذِّبتُمْ”

Ibnu Majah mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Abdullah ibnu Numair, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Abu Ubaidah, dari ayahnya, dari Al-A’masy ibnu Abu Sufyan, dari Anas ibnu Malik yang menceritakan: Mereka (para sahabat) bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah ibadah haji itu setiap tahun?” Nabi Saw. menjawab, “Seandainya aku kalakan, ‘Ya,’ niscaya diwajibkan. Dan seandainya diwajibkan, niscaya kalian tidak dapat melakukannya; dan seandainya kalian tidak dapat melakukannya, niscaya kalian akan tersiksa.

Di dalam kitab Sahihain disebutkan sebuah hadis melalui Ibnu Juraij, dari Ata, dari Jabir, dari Suraqah ibnu Malik yang mengatakan:

يَا رَسُولَ اللَّهِ، مُتْعَتنا هَذِهِ لِعَامِنَا هَذَا أَمْ لِلْأَبَدِ؟ قَالَ: “لَا بَلْ لِلأبَدِ”. وَفِي رِوَايَةٍ: “بَلْ لأبَد أبَدٍ”

“Wahai Rasulullah, apakah engkau mengajak kami ber-tamattu’ hanya untuk tahun kita sekarang ini, ataukah untuk selama-lamanya?” Nabi Saw. menjawab, “Tidak, bahkan untuk selamanya.” Menurut riwayat yang lain disebutkan, “Bahkan untuk selama-lamanya.”

Di dalam kitab Musnad Imam Ahmad dan kitab Sunan Abu Daud dinyatakan melalui hadis Waqid ibnu Abu Waqid Al-Laisi, dari ayahnya, bahwa Rasulullah Saw. dalam hajinya itu berkata kepada istri-istrinya,

“هَذِه ثُمَّ ظُهُورَ الحُصْر”

“Kemudian mereka (kaum wanita) menetapi tikar hamparannya,”

maksudnya tetaplah kalian pada tikar kalian dan janganlah kalian keluar dari rumah.

Adapun mengenai istita’ah (yakni berkemampuan), hal ini terdiri atas berbagai macam, adakalanya seseorang mempunyai kemampuan pada dirinya, dan adakalanya pada yang lainnya, seperti yang ditetapkan di dalam kitab yang membahas masalah hukum.

قَالَ أَبُو عِيسَى التِّرْمِذِيُّ: حَدَّثَنَا عَبْدُ بْنُ حُمَيْدٍ، أَخْبَرَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ، أَخْبَرَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ يَزِيدَ قَالَ: سَمِعْتُ محمَّد بْنَ عَبَّاد بْنِ جَعْفَرٍ يُحَدِّثُ عَنِ ابْنِ عُمَرَ قَالَ: قَامَ رَجُلٌ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وسلم فَقَالَ: مَن الْحَاجُّ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ: “الشَّعثُ التَّفِل” فَقَامَ آخَرُ فَقَالَ: أَيُّ الْحَجِّ أَفْضَلُ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ: “العَجُّ والثَّجُّ”، فَقَامَ آخَرُ فَقَالَ: مَا السَّبِيلُ يَا رَسُولَ الله ؟ قال: “الزَّادُ والرَّاحِلَة”.

Abu Isa At-Turmuzi mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abdu ibnu Humaid, telah menceritakan kepada kami Abdur Razzaq, telah menceritakan kepada kami Ibrahim ibnu Yazid yang mengatakan bahwa ia pernah mendengar Muhammad ibnu Abbad ibnu Ja’far menceritakan sebuah hadis dari Ibnu Umar r.a.: Seorang lelaki menghadap kepada Rasulullah Saw., lalu bertanya, “Wahai Rasulullah, siapakah orang yang berhaji sesungguhnya?” Rasulullah Saw. menjawab, “Orang yang rambutnya awut-awutan dan kusut pakaiannya (karena lama dalam perjalanannya).” Lalu ada lelaki lain menghadap dan bertanya, “Wahai Rasulullah, haji apakah yang lebih utama?” Rasulullah Saw. menjawab, “Mengeraskan bacaan talbiyah dan berkelompok-kelompok.” Lalu datang lagi lelaki yang lainnya dan bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah yang dimaksud dengan as-sabil itu?” Rasulullah Saw. menjawab, “Bekal dan kendaraan.”

Hal yang sama diriwayatkan oleh Ibnu Majah melalui hadis Ibrahim ibnu Yazid (yaitu Al-Jauzi). Imam Turmuzi mengatakan, tiada yang me-rafa’-kan hadis ini kecuali hanya melalui hadisnya (Ibrahim ibnu Yazid). Akan tetapi, sebagian dari ahlul ‘ilmi meragukan perihal kekuatan hafalannya.

Demikianlah menurut apa yang dikatakan oleh Imam Turmuzi dalam bab ini. Di dalam Kitabul Haj ia mengatakan bahwa hadis ini hasan, tidak diragukan bahwa sanad ini para perawinya semua terdiri atas orang-orang yang Siqah selain Al-Jauzi. Mereka membicarakan perihalnya demi hadis ini, tetapi ternyata jejaknya itu diikuti oleh orang lain.

Untuk itu Ibnu Abu Hatim mengatakan:

حَدَّثَنَا أَبِي، حَدَّثَنَا عَبْدُ الْعَزِيزِ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ الْعَامِرِيُّ، حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُبَيْدِ بْنِ عُمَيْرٍ اللَّيْثِيُّ، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَبَّادِ بْنِ جَعْفَرٍ قَالَ: جَلَسْتُ إِلَى عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ قَالَ: جَاءَ رَجُلٌ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ لَهُ: مَا السَّبِيلُ؟ قَالَ: “الزَّادُ والرِّحْلَة”.

telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Abdul Aziz ibnu Abdullah Al-Amiri, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Abdullah ibnu Ubaid ibnu Umair Al-Laisi, dari Muhammad ibnu Abbad ibnu Ja’far yang menceritakan bahwa ia duduk di majelis Abdullah Ibnu Umar, lalu Ibnu Umar menceritakan bahwa ada seorang lelaki datang kepada Nabi Saw., lalu bertanya kepadanya, “Apakah arti sabil itu?” Nabi Saw. menjawab: Bekal dan kendaraan.

Tulisan ini dimuat dalam Tafsir Ibnu Katsir.