Al-Waqi’ah, ayat 75-82

Muslim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Salamah Al-Muradi dan Amr ibnu Sawad, telah menceritakan kepada kami Abdullah ibnu Wahb, dari Amr ibnul Haris, bahwa Abu Yunus pernah menceritakan hadis berikut dari Abu Hurairah, dari Rasulullah Saw. yang telah bersabda: Tidak sekali-kali Allah menurunkan dari langit suatu berkah (hujan). melainkan pada pagi harinya ada segolongan manusia yang mengingkarinya. Hujan diturunkan dan mereka mengatakan bahwa itu berkat adanya bintang anu dan bintang anu.

Imam Muslim meriwayatkan hadis ini secara tunggal melalui jalur ini.

قَالَ ابْنُ جَرِيرٍ: حَدَّثَنِي يُونُسُ، أَخْبَرَنَا سُفْيَانُ، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ إِسْحَاقَ، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ إِبْرَاهِيمَ بْنِ الْحَارِثِ التَّيْمِيِّ، عَنْ أَبِي سَلَمَةَ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: “إِنَّ اللَّهَ لَيُصْبِحُ القومَ بِالنِّعْمَةِ أَوْ يُمسيهم بِهَا فَيُصْبِحُ بِهَا قَوْمٌ كَافِرِينَ يَقُولُونَ: مُطِرنا بِنَوْءِ كَذَا وَكَذَا”.

Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepadaku Yunus, telah menceritakan kepada kami Sufyan, dari Muhammad ibnu Ishaq, dari Muhammad ibnu Ibrahim ibnul Haris At-Taimi, dari Abu Salamah, dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah Saw. telah bersabda: Sesungguhnya Allah benar-benar mencurahkan nikmat kepada suatu kaum di pagi hari atau di petang hari, tetapi seusai itu kaum yang kafir (ingkar) kepada nikmat itu mengatakan bahwa kami telah diberi hujan oleh bintang anu dan bintang anu.

Muhammad ibnu Ibrahim mengatakan bahwa lalu ia menuturkan hadis ini kepada Sa’id ibnul Musayyab, maka ia menjawab bahwa kami pun telah mendengarnya dari Abu Hurairah.

Telah menceritakan pula kepadaku seseorang yang menyaksikan Umar ibnul Khattab r.a. melakukan istisqa, ketika ia membaca doa istisqa, ia berpaling ke arah Al-Abbas, lalu bertanya, “Hai Abbas, hai paman Rasulullah, berapa lama lagikah kemunculan bintang surayya?”

Para ulama mengatakan bahwa mereka menduga bahwa bintang surayya itu melintang di ufuk langit sesudah kejatuhannya selama tujuh hari. Kelanjutan asar di atas menyebutkan bahwa belum lagi tujuh hari berlalu, mereka diberi hujan.

Pertanyaan yang diajukan oleh Umar ini mengandung pengertian menanyakan kebiasaan waktu munculnya bintang tersebut yang biasanya dibarengi dengan turunnya hujan sebagai Sunnatullah. Tetapi bukan berarti bahwa bintang itulah yang menyebabkan turunnya hujan, karena keyakinan seperti ini jelas dilarang. Dan dalam pembahasan yang terdahulu telah dikemukakan sesuatu hal yang menyangkut hadis-hadis ini dalam tafsir firman Allah Swt.:

{مَا يَفْتَحِ اللَّهُ لِلنَّاسِ مِنْ رَحْمَةٍ فَلا مُمْسِكَ لَهَا}

Apa saja yang Allah anugerahkan kepada manusia berupa rahmat, maka tidak ada seorang pun yang dapat menahannya. (Fathir: 2)

وَقَالَ ابْنُ جَرِيرٍ: حَدَّثَنِي يُونُسُ، أَخْبَرَنَا سُفْيَانُ، عَنْ إِسْمَاعِيلَ بْنِ أُمَيَّةَ -أَحْسَبُهُ أَوْ غَيْرِهِ-أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَمِعَ رَجُلًا -وَمُطِرُوا-يَقُولُ: مُطِرنا بِبَعْضِ عَشَانين الْأَسَدِ. فَقَالَ: “كَذَبْتَ! بَلْ هُوَ رِزْقُ اللَّهِ”

Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepadaku Yunus, telah menceritakan kepada kami Sufyan, dari Ismail ibnu Umayyah menurut keyakinanku atau lainnya, bahwa Rasulullah Saw. mendengar seorang lelaki yang baru mendapat hujan di kalangan kaumnya mengatakan, “Kami diberi hujan oleh gugusan bintang Asad (Leo).” Maka Nabi Saw. bersabda menyangkalnya: Kamu dusta, bahkan hujan itu adalah rezeki dari Allah.

ثُمَّ قَالَ ابْنُ جَرِيرٍ: حَدَّثَنِي أَبُو صَالِحٍ الصِّرَارِيُّ، حَدَّثَنَا أَبُو جَابِرٍ مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ الْمَلِكِ الْأَزْدِيُّ ، حَدَّثَنَا جَعْفَرِ بْنِ الزُّبَيْرِ، عَنِ الْقَاسِمِ، عَنْ أَبِي أُمَامَةَ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: “مَا مُطِر قَوْمٌ مِنْ لَيْلَةٍ إِلَّا أَصْبَحَ قَوْمٌ بِهَا كَافِرِينَ”. ثُمَّ قَالَ: ” {وَتَجْعَلُونَ رِزْقَكُمْ أَنَّكُمْ تُكَذِّبُونَ} ، يَقُولُ قَائِلٌ: مُطِرنا بِنَجْمِ كَذَا وَكَذَا”

Kemudian Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepadaku Abu Saleh As-Sirari, telah menceritakan kepada kami Abu Jabir Muhammad ibnu Abdul Malik Al-Audi, telah menceritakan kepada kami Ja’far ibnuz Zubair, dari Al-Qasim, dari Abu Umamah, dari Nabi Saw. yang telah bersabda: Tidaklah suatu kaum diberi hujan di malam harinya melainkan pada pagi harinya kaum itu mengingkarinya. Kemudian Nabi Saw. membaca firman-Nya: kamu mengganti rezeki (yang Allah berikan) dengan mendustakan (Allah). (Al-Waqi’ah: 82) Seseorang dari mereka mengatakan bahwa kami diberi hujan oleh bintang anu dan anu.

Menurut hadis yang diriwayatkan dari Abu Sa’id secara marfu’ disebutkan:

“لَوْ قُحِطَ النَّاسُ سَبْعَ سِنِينَ ثُمَّ مُطِرُوا لَقَالُوا: مُطِرْنَا بِنَوْءِ المِجْدَح”

Seandainya manusia mengalami paceklik selama tujuh tahun, lalu diberi hujan, tentulah mereka mengatakan bahwa kami diberi hujan oleh bintang mujadda’.

Mujahid mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: kamu mengganti rezeki (yang Allah berikan) dengan mendustakan (Allah). (Al-Waqi’ah: 82) Yakni ucapan mereka tentang bintang-bintang itu. Mereka mengatakan.”Kami diberi hujan oleh bintang anu dan bintang anu.” Maka demikian pula dijawab, “Katakanlah oleh kalian bahwa hujan itu adalah dari sisi Allah dan rezeki dari-Nya.”

Hal yang’sama dikatakan oleh Ad-Dahhak dan lain-lainnya yang bukan hanya seorang.

Qatadah mengatakan bahwa Al-Hasan Al-Basri mengatakan bahwa seburuk-buruk apa yang diambil oleh suatu kaum buat diri mereka sendiri ialah tidaklah mereka diberi rezeki berupa Kitabullah, melainkan hanya mendustakannya. Makna yang dimaksud dari ucapan Al-Hasan ini ialah dan kalian jadikan bagian kalian dari Kitabullah ialah dengan mendustakannya. Karena itulah dalam ayat sebelumnya disebutkan: Maka apakah kamu menganggap remeh saja Al-Qur’an ini? Kamu mengganti rezeki (yang Allah berikan) dengan mendustakan (Allah). (Al-Waqi’ah: 81-82

Tulisan ini dimuat dalam Tafsir Ibnu Katsir.