Al-Waqi’ah, ayat 75-82

Mereka mengatakan bahwa lafaz ayat merupakan kalimat berita, tetapi makna yang dimaksud ialah perintah. Dan mereka mengatakan bahwa yang dimaksud dengan Al-Qur’an adalah mushaf, sebagaimana yang disebutkan di dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim melalui Ibnu Umar, bahwa Rasulullah Saw. telah melarang bepergian membawa Al-Qur’an ke negeri musuh karena dikhawatirkan Al-Qur’an itu dirampas oleh musuh. Dan mereka menguatkan pendapatnya dengan hadis yang diriwayatkan oleh Imam Malik di dalam kitab Muwatta’-nya dari Abdullah ibnu Abu Bakar ibnu Muhammad ibnu Amr ibnu Hazm sehubungan dengan surat yang dikirim oleh Rasulullah Saw. ditujukan kepada Amr ibnu Hazm, bahwa tidak boleh menyentuh Al-Qur’an kecuali orang yang suci.

Abu Daud telah meriwayatkan di dalam himpunan hadis-hadis mursal-nya melalui Az-Zuhri yang mengatakan bahwa aku telah membaca lembaran yang ada pada Abdu Abu Bakar ibnu Muhammad ibnu Amr ibnu Hazm, bahwa Rasulullah Saw. telah bersabda:

“وَلَا يَمَسُّ الْقُرْآنَ إِلَّا طَاهِرٌ”

Tidak boleh menyentuh Al-Qur’an kecuali orang yang suci.

Ini merupakan alasan yang baik, telah dibaca oleh Az-Zuhri dan lain-lainnya, dan hal yang semisal dengan pendapat ini dianjurkan untuk dipakai.

Ad-Daruqutni telah mengisnadkannya dari Amr ibnu Hazm dan Abdullah ibnu Amr serta Usman ibnu Abul Asim, tetapi dalam sanad masing-masing dari keduanya perlu diteliti kembali; hanya Allah-lah Yang Maha Mengetahui.

*******************

Firman Allah Swt.:

{تَنزيلٌ مِنْ رَبِّ الْعَالَمِينَ}

Diturunkan dari Tuhan semesta alam. (Al-Waqi’ah: 80)

Artinya, Al-Qur’an ini diturunkan dari Allah Tuhan semesta alam, dan bukanlah seperti apa yang disangka oleh mereka bahwa Al-Qur’an adalah sihir, atau tenung atau syair, bahkan Al-Qur’an itu benar yang tiada keraguan padanya, dan tiadalah di baliknya perkara hak yang bermanfaat.

*******************

Firman Allah Swt.:

{أَفَبِهَذَا الْحَدِيثِ أَنْتُمْ مُدْهِنُونَ}

Maka apakah kamu menganggap remeh saja Al-Qur’an ini? (Al-Waqi’ah:81)

Al-Aufi telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas, bahwa mudhinun artinya mendustakan dan tidak membenarkan. Hal yang sama telah dikatakan oleh Ad-Dahhak, Abu Hirzah, dan As-Saddi. Mujahid mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya,”‘Mudhinun,” yakni berdiplomasi.

Firman Allah Swt.:

{وَتَجْعَلُونَ رِزْقَكُمْ أَنَّكُمْ تُكَذِّبُونَ}

kamu mengganti rezeki (yang Allah berikan) dengan mendustakan (Allah). (Al-Waqi’ah: 82)

Sebagian ulama mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: kamu mengganti rezeki (yang Allah berikan). (Al-Waqi’ah: 82) Yakni terima kasihmu ialah dengan mendustakan. Dengan kata lain, dapat disebutkan air susu dibalas dengan air tuba.

Telah diriwayatkan pula dari Ali dan Ibnu Abbas, bahwa keduanya membaca ayat ini dengan bacaan berikut: “Dan kamu ungkapkan rasa syukur kalian dengan mendustakan,” seperti yang akan dijelaskan kemudian.

Ibnu Jarir mengatakan bahwa telah diriwayatkan dari Al-Haisam ibnu Addi, bahwa menurut dialek kabilah Azd Syanu-ah bila disebutkan Razaqa Fulanun artinya si Fulan bersyukur.

وَقَالَ الْإِمَامُ أَحْمَدُ: حَدَّثَنَا حُسَيْنُ بْنُ مُحَمَّدٍ، حَدَّثَنَا إِسْرَائِيلُ، عَنْ عَبْدِ الأعلى، عن أبي عَبْدِ الرَّحْمَنِ، عَنْ عَلِيٍّ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: {وَتَجْعَلُونَ رِزْقَكُمْ} ، يَقُولُ: “شُكْرَكُمْ {أَنَّكُمْ تُكَذِّبُونَ} ، تَقُولُونَ: مُطِرْنَا بِنَوء كَذَا وَكَذَا، بِنَجْمِ كَذَا وَكَذَا”

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Husain ibnu Muhammad, telah menceritakan kepada kami Israil, dari Abdul Ala, dari Abu Abdur Rahman, dari Ali r.a. yang telah mengatakan bahwa Rasulullah Saw. telah bersabda sehubungan dengan makna firman-Nya: Kamu mengganti rezeki (yang Allah berikan).(Al-Waqi’ah: 82), maksudnya, kamu membalas rezeki yang Allah berikan dengan mendustakan-Nya; kamu katakan, “Kami telah diberi hujan oleh bintang anu dan oleh bintang anu.”

Hal yang sama telah diriwayatkan oleh Ibnu Abu Hatim, dari ayahnya, dari Mukhawwil ibnu Ibrahim An-Nahdi dan Ibnu Jarir, dari Muhammad ibnul Musanna, dari Ubaidillah ibnu Musa dan dari Ya’qub ibnu Ibrahim, dari Yahya ibnu Abu Bukair, ketiga-tiganya dari Israil dengan sanad yang semisal secara marfu’. Hal yang sama telah diriwayatkan oleh Imam Turmuzi, dari Ahmad ibnu Mani’, dari Husain ibnu Muhammad Al-Marwazi dengan sanad yang sama. Imam Turmuzi mengatakan bahwa hadis ini hasan garib. Sufyan As-Sauri telah meriwayatkannya dari Abdul A’ la dan tidak me-rafa’-kannya.

Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Basysyar, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Ja’far, telah menceritakan kepada kami Syu’bah, dari Abu Abu Bisyr, dari Sa’id ibnu Jubair, dari Ibnu Abbas yang mengatakan bahwa tidak sekali-kali suatu kaum diberi hujan melainkan pada pagi harinya sebagian dari mereka ada yang kafir; mereka mengatakan bahwa kami diberi hujan oleh bintang anu dan anu. Lalu Ibnu Abbas membacakan firman-Nya: kamu mengganti rezeki (yang Allah berikan) dengan mendustakan (Allah). (Al-Waqi’ah: 82)

Sanad asar ini sahih sampai kepada Ibnu Abbas.

وَقَالَ مَالِكٌ فِي الْمُوَطَّأِ، عَنْ صَالِحِ بْنِ كيْسَان، عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُتْبَةَ بْنِ مَسْعُودٍ، عَنْ زَيْدِ بْنِ خَالِدٍ الجُهَنّي أَنَّهُ قَالَ: صَلَّى بِنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عليه وسلم صلاة الصُّبْحِ بِالْحُدَيْبِيَةِ فِي أَثَرِ سَمَاءٍ كَانَتْ مِنَ اللَّيْلِ، فَلَمَّا انْصَرَفَ أَقْبَلَ عَلَى النَّاسِ فَقَالَ: “هَلْ تَدْرُونَ مَاذَا قَالَ رَبُّكُمْ؟ ” قَالُوا: اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ. “قَالَ: أَصْبَحَ مِنْ عِبَادِي مُؤْمِنٌ بِي وَكَافِرٌ، فَأَمَّا مَنْ قَالَ: مُطِرْنَا بِفَضْلِ اللَّهِ وَرَحْمَتِهِ، فَذَلِكَ مُؤْمِنٌ بِي كَافِرٌ بِالْكَوَاكِبِ. وَأَمَّا مَنْ قَالَ: مُطِرْنَا بِنَوْءِ كَذَا وَكَذَا. فَذَلِكَ كَافِرٌ بِي مُؤْمِنٌ بِالْكَوَاكِبِ”.

Malik telah meriwayatkan di dalam kitab Muwatta’, dari Saleh ibnu Kaisan, dari Ubaidillah ibnu Abdullah ibnu Atabah ibnu Mas’ud, dari Zaid ibnu Khalid Al-Juhani yang mengatakan bahwa kami salat Subuh bersama Rasulullah Saw. di Hudaibiyah, seusai turun hujan di malam harinya. Setelah selesai, beliau membalikkan tubuhnya menghadap kepada kami (para makmum), lalu bertanya, “Tahukah kalian, apakah yang dikatakan oleh Tuhan kalian?” Mereka menjawab, “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.” Rasulullah Saw. bersabda: Allah berfirman, “Di pagi hari ini ada sebagian hamba-hamba-Ku yang beriman kepada-Ku dan sebagian lainnya kafir. Adapun orang yang mengatakan, ‘Kami diberi hujan berkat karunia Allah dan rahmat-Nya, ” maka dia adalah orang yang beriman kepada-Ku dan kafir kepada bintang-bintang. Dan adapun orang yang mengatakan, ‘Kami diberi hujan oleh bintang anu dan anu, ” maka dia adalah orang yang kafir kepada-Ku dan percaya kepada bintang-bintang.”

Imam Bukhari dan Imam Muslim mengetengahkan hadis ini dan juga Abu Daud dan Nasai semuanya melalui hadis Malik dengan sanad yang sama.

قَالَ مُسْلِمٌ: حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ سَلَمَةَ الْمُرَادِيُّ، وعَمْرو بْنُ سَوّاد، حَدَّثَنَا عَبْدِ اللَّهِ بْنِ وَهْبٍ، عَنْ عَمْرُو بْنُ الْحَارِثِ؛ أَنَّ أَبَا يُونُسَ حَدَّثه، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ: “مَا أَنْزَلَ اللَّهُ مِنَ السَّمَاءِ مِنْ بَرَكَةٍ إِلَّا أَصْبَحَ فَرِيقٌ مِنَ النَّاسِ بِهَا كَافِرِينَ، يَنْزِلُ الْغَيْثُ، فَيَقُولُونَ: بِكَوْكَبِ كَذَا وَكَذَا”.

Tulisan ini dimuat dalam Tafsir Ibnu Katsir.